Langsung ke konten utama

Studi Tentang Yiguandao (Bagian 14) - Ajaran Yiguandao yang berasal dari Agama Lain

Ajaran Yiguandao yang berasal dari Agama Lain 

Berbeda dengan agama-agama lain di dunia, Yiguandao sering dikatakan tidak mempunyai kitab sucinya sendiri. Sebenarnya kalau mau ditelusuri secara mendalam Yiguandao bukannya tidak memiliki kitab suci. Sumber-sumber ajaran dari Yiguandao sudah saya bahas secara detail di postingan saya sebelumnya (bagi yang belum baca, silahkan baca Bagian 5). Pada dasarnya sebenarnya Yiguandao juga memiliki kitab sucinya sendiri. Tidak hanya ada, malah jumlahnya cukup banyak, antara lain sebagai berikut:

Kitab Suci Yiguandao

Namun, seperti yang pernah saya sampaikan di Bagian 5, bahwa karena tidak ada sistemasi dan standarisasi kitab suci di Yiguandao dan kurang terbukanya kelompok mereka terkait berbagai sejarah, informasi dan asal-usulnya, maka sebagian besar dari pengikut-pengikut Yiguandao bahkan tidak tahu kalau ternyata agama mereka memiliki kitab suci sendiri. Walaupun memang wajar jika ada banyak juga yang tidak menganggap kitab-kitab itu sebagai kitab suci karena beberapa dari kitab-kitab tersebut tidak jelas sumbernya atau penulisnya siapa.

Tapi kalau anda benar-benar pelajari secara mendalam isi dari kitab-kitab Yiguandao di atas, pada dasarnya isi-nya tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab lebih tua yang sudah ada sebelumnya. Kitab-kitab yang menjadi sumber dari isi kebanyakan kitab-kitab Yiguandao kebanyakan berasal dari kitab-kitab sektarian, yaitu kitab-kitab yang ditulis oleh para tokoh-tokoh pemimpin sekte-sekte agama yang bermunculan di Tiongkok berabad-abad yang lalu. Beberapa kitab-kitab agama yang pernah saya baca isinya dan inti ajarannya sama dengan yang diajarkan kitab-kitab Yiguandao:

Banyak isi dari kitab-kitab ini yang mempunyai kemiripan ajaran dengan ajaran Yiguandao yang tidak dapat ditemukan di kitab-kitab agama lain, antara lain adalah konsep mengenai Lao Mu, teori tiga masa pancaran, masa kehidupan manusia yang sudah 60.000 tahun, akan datangnya kiamat dalam waktu dekat, metode pembukaan pintu suci sebagai jalan keselamatan dan keyakinan Buddha Maitreya telah hadir di dunia menggantikan Buddha Sakyamuni. Bagi anda yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai kitab-kitab ini, bisa membaca buku seperti Precious Volumes An Introduction to Chinese Sectarian Scriptures from the Sixteenth and Seventeenth Centuries - Daniel OvermeyerPopular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert, Ma Xisha, dan The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan - David K Jordan, David L Overmyer atau coba mencarinya sendiri di internet bagi mereka yang menguasai bahasa Mandarin.

Walaupun sebagian besar isi dan inti ajaran Yiguandao berasal dari kitab-kitab ini, tapi tentu kita tidak akan pernah mendengar satu kali pun penceramah Yiguandao yang mengatakan "dikutip dari kitab Longhuajing", "Kitab Jiulian Baojuan mengatakan" atau "Dalam Kitab Huangji Jieguo Baojuan tertulis". Ada dua alasan mengapa hal itu bisa terjadi. Pertama, karena memang hampir semua penceramah Yiguandao tidak tahu mengenai adanya kitab-kitab ini. Kedua, kitab agama-agama ortodoks jelas jauh lebih punya karisma dan daya tarik yang lebih besar bagi para pendengar ceramah daripada kitab-kitab yang sama sekali tidak dikenal.

Maka dari itu sudah menjadi alamiah sifatnya bila para dianchuanshi atau penceramah Yiguandao lebih banyak menggunakan kutipan-kutipan dari kitab-kitab suci agama ortodoks yang memang sudah populer dan banyak dikenal di kalangan umat, seperti contohnya kitab-kitab Konfusius, kitab-kitab Taoisme, kitab-kitab Buddhisme, Alkitab ataupun Alquran. Yang sangat disayangkan adalah banyak pengambilan ayat2 kitab suci agama lain ini juga bersifat cherry picking dan banyak sekali cocoklogi. Yiguandao hanya mengambil sedikit dari isi kitab-kitab suci agama lain yang kebetulan cocok dengan teori dan ajaran mereka, sementara inti ajaran lainnya yang seharusnya lebih penting malah diabaikan dan tidak digunakan sama sekali. Praktek ini mengingatkan saya pada fenomena jaman modern di mana ada beberapa konten kreator yang suka memotong video dari sebuah video berdurasi panjang terus dibuatkan narasi sendiri sehingga menghasilkan pemahaman yang bisa sangat berbeda dengan video aslinya. Selain mengutip ayat-ayat dari kitab suci agama lain, tidak jarang juga Yiguandao mengubah sebagian isi dari teori dan konsep ajaran agama lain yang kemudian diklaim sebagai ajaran mereka. Yang bagi saya agak janggal adalah di vihara saya dulu, umat sering diperingatkan untuk tidak ke tempat ibadah lain dan mempelajari ajarannya, karena akan bisa tersesat. Sebenarnya bukankah terasa agak aneh, melarang orang belajar dari agama aslinya, tapi malah disuruh yakin dan percaya pada yang mencomot/meniru ajaran.

Di bagian ini, saya akan secara khusus membahas isi dari materi-materi ceramah dalam Yiguandao yang diambil dari ajaran agama lain, tapi mengalami pergeseran dan perubahan makna, atau bahkan isinya berubah sangat jauh dari ajaran aslinya. Sebenarnya beberapa perbedaan ajaran sudah saya bahas di bagian-bagian sebelumnya, antara lain:

  1. Pandangan adanya roh yang kekal bertentangan dengan ajaran Sang Buddha mengenai Anatta (Bagian 11)
  2. 4 Alam Kehidupan versi Yiguandao yang berbeda dengan konsep 31 Alam Kehidupan Buddhisme (Bagian 12)
  3. Perbedaan makna dari Tao antara Yiguandao dengan Taoisme (Bagian 6)
  4. Adanya sosok maha pencipta bernama Laomu yang bertentangan dengan ajaran Sang Buddha dan Isi dari Tao Te Ching (Bagian 6)
  5. Buddha Dipankara yang diceritakan hidup sekitar 5000 tahun yang lalu, di mana dalam kitab-kitab Buddha Dipankara itu hidup miliaran tahun yang lalu (Bagian 1)
  6. Bodhisatwa Maitreya yang diklaim sudah turun ke dunia, di mana di kitab-kitab Buddhisme disebutkan bahwa Bodhisatwa Maitreya masih di Surga Tushita (Bagian 2)
  7. 3 Masa Periode Dharma (正法 Zheng Fa, 像法 Xiang Fa dan 末法 Mo Fa), yang diubah menjadi Masa Pancaran Hijau, Merah dan Putih (Bagian 1)
  8. 6 Jalur Reinkarnasi yang berbeda dengan 6 Jalur Reinkarnasi Buddhisme (Bagian 12)
  9. Konsep Hukum Karma yang berbeda dengan Ajaran Buddhisme (Bagian 10)
  10. Konsep Mencapai Kebebasan / Kesempurnaan / Melampaui Tumimbal Lahir yang jauh berbeda dengan yang diajarkan Sang Buddha (Bagian 8)
  11. Sejarah dan Siklus Dunia versi Yiguandao yang tidak sesuai ilmu pengetahuan dan kitab Buddhisme (Bagian 3) 

Sebagai tambahan dari semua poin-poin di atas yang sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya, berikut ini adalah beberapa teori, doktrin dan ajaran Yiguandao yang diambil dari ajaran agama lain tapi mengalami pergeseran atau perubahan makna dan arti:

1. Kata-kata "الۤمّۤ  Alif, Lam, Nim (阿立甫、俩目、 敏目)" dalam Alquran

Makna pasti dari huruf-huruf ini tidak diketahui secara pasti dan telah menjadi bahan tafsir selama berabad-abad. Beberapa ulama dan mufasir memberikan beberapa pendapat mengenai arti dari Alif, Lam, Nim sebagai rahasia Allah atau mukjizat yang tidak dapat ditiru oleh manusia.

Yiguandao meyakini bahwa huruf Lam yang diterjemahkan menjadi 俩目 yang secara harafiah berarti dua mata adalah rahasia yang tersirat dalam Alquran yang menunjukkan keberadaan pintu suci (玄關). Seperti kita ketahui bahasa asli dari Alquran adalah bahasa Arab. Saya pribadi walaupun dulu masih aktif di Yiguandao, tidak pernah menyampaikan pandangan ini kepada para umat, karena memang agak sedikit janggal menafsirkan sesuatu hanya berdasarkan kata-kata terjemahannya, sementara di kitab aslinya tentu kata Lam artinya bukanlah dua mata. Pemilihan terjemahan dalam bahasa China murni adalah pilihan kata dari penerjemahnya, di mana kebetulan yang dipilih adalah kata liǎmù (俩目) agar bunyinya mirip dengan Lam. 

2. Ayat bab 6 dalam Tao Te Cing yaitu 道德經「谷神不死,是謂玄牝,玄牝之門,是謂天地根,綿綿若存,用之不勤。」

Ayat bab 6 dalam Tao Te Cing diartikan sebagai petunjuk rahasia dari Laozi mengenai keberadaan pintu suci gara-gara ada kata-kata 玄牝 (sosok perempuan misterius) dan 玄牝之門 (Pintu dari sosok perempuan misterius). 

Ayat ini sebenarnya mempunyai makna yang sangat mendalam. 玄牝 Xuán pìn (sosok perempuan yang misterius) adalah sebuah citra yang digambarkan oleh Lao Zi dalam semua bukunya yang menggambarkan Tao itu seperti sosok feminim misterius yang merupakan sumber dari segalanya. Tao digambarkan seperti sosok ibu yang melahirkan anak agar bisa lebih mudah dipahami untuk menjelaskan bahwa Tao adalah hukum alam yang menciptakan segala sesuatu. (Baca lebih detail mengenai penjelasan dari Ayat 6 ini di link ini)

Ayat ini diterjemahkan oleh Yiguandao sebagai bukti bahwa Laozi mencoba untuk menyampaikan bahwa Tao itu adalah Pintu Suci (玄關) karena ada huruf 玄 misterius dan 門 pintu .

3. Cerita Mengenai Buddha Sakyamuni yang memegang bunga teratai di depan Maha Kassapa

Cerita ini tidak ditemukan baik di kitab Tripitaka Pali maupun sutra-sutra Mahayana. Kisah ini muncul kemungkinan berasal dari teks-teks Buddhisme Zen yang muncul belakangan saat Buddhisme menyebar di Tiongkok. Pemberian dharma tanpa kata Siddharta kepada Maha Kassapa di salah satu kotbah dharma, mempunyai makna bahwa Maha Kassapa mengerti bahwa mencapai kesempurnaan itu adalah sudah terbebas dari segala kemelekatan, ibarat bunga itu bila yang belum tersadar bunga itu seperti tiada. Berikut sepenggal kisahnya:

『佛教』:佛在靈山莫遠求,靈山只在汝心頭,人人有個靈山塔,好向靈山塔下修.這暗喻著靈山就在自身,今天您可找著了.
"Buddhisme": Buddha tidak jauh dari Lingshan, Lingshan hanya ada di hatimu, setiap orang memiliki Pagoda Lingshan, sehingga mereka dapat memperbaiki di bawah Pagoda Lingshan. Ini menyiratkan bahwa Lingshan ada di dalam dirinya sendiri, dan Anda dapat menemukannya hari ini.
「吾有正法眼藏,涅槃妙心,實相無相,微妙法門,不立文字,教外別傳,付囑摩訶迦葉。」
Selama Khotbah Bunga, Buddha berkata:
"Saya memiliki ajaran sejati (Zen), yang merupakan kondisi nirwana yang menakjubkan, realitas tertinggi yang tak berbentuk, dan metode latihan yang mendalam. Ajaran ini tidak bergantung pada kata-kata dan merupakan transmisi dari hati ke hati yang tidak ada di kitab suci-kitab suci. Ini telah saya sampaikan kepada Mahākāśyapa."

Pemahaman mengenai Buddha yang memegang bunga dan mengacungkannya di hadapan para pendengarnya dan mengetahui bahwa Maha Kassapa telah mengerti, ini mengandung arti mendalam. 
Saat itu Buddha menjelaskan bahwa bunga teratai yang ada ditangannya itu adalah salah satu wujud keajaiban dan karunia yang luar biasa. Tapi banyak orang yang tidak merasakannya dan tidak menganggap bunga itu ada, karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri yang dipenuhi oleh berbagai kotoran-kotoran batin seperti keresahan, keserakahan, kebodohan, kemarahan, dan lain-lain. Hanya orang-orang dengan perhatian penuh yang telah mengerti 4 kebenaran mulia yang dapat hidup di saat ini dan menyadari bahwa kehidupan ini tidak hanya penuh dukha tapi juga dipenuhi berbagai keajaiban. Tapi inti kesadaran yang tertinggi atau yang disebut telah tersadar sempurna itu ketika orang telah menyadari bahwa semua itu adalah kosong (sunyata) dan memandang segala sesuatu itu secara netral. Sehingga dalam dirinya sudah tidak ada lagi kilesa-kilesa (kekotoran-kekotoran batin), kegandrungan dan kemelekatan sehingga tidak lagi punya keterikatan dengan apapun. Orang yang sudah berhasil mencapai tingkat kesadaran batin yang sudah tidak punya lagi nafsu keinginan dan kekotoran-kekotoran batin disebut telah tersadar/tercerahkan. Mengerti ini semua yang disebut sebagai transmisi hati ke hati.

Yiguandao menggunakan kisah ini dengan mengubah narasinya bahwa Sakyamuni saat itu sedang memelintirkan bunga tersebut di depan matanya seolah-olah sedang menunjuk titik suci (pintu suci) di antara matanya dengan bunga yang dipegangnya kepada Maha Kassapa.

4. 三人行,必有我师 "Di antara tiga orang, ada satu orang yang menjadi guru" - Konfusius. 

Makna sebenarnya dari kata-kata yang terdapat di Bab 7, Kitab Analek (论语, Lúnyǔ) adalah : Pasti ada sesuatu yang berharga untuk dipelajari dari perkataan dan perbuatan orang lain. Dari kedua orang tersebut, salah satunya pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilih orang yang punya kelebihan tertentu dan jadikanlah dia contoh buat diri anda untuk belajar, dan lihat orang yang punya kekurangan untuk merenungkan apakah Anda memiliki kekurangan yang sama, dan perbaiki jika Anda memilikinya. 

Di Yiguandao ini diubah menjadi itu petunjuk Pintu Suci. 3 orang adalah 2 mata + 1 pintu suci.

5. Tiga Mustika 

Tiga Mustika / Triratna menurut agama Buddha adalah : Buddha, Dharma, dan Sangha, merujuk pada tiga hal utama yang menjadi pusat perlindungan dan keyakinan bagi para pengikut ajaran Buddha. Ini tercatat di Dhammapada dan Digha Nikaya.

Di Yiguandao tiga mustika bukanlah Buddha, Dharma dan Shangha melainkan adalah pintu suci, ucapan suci, pertanda suci, di mana ketiganya dianggap sebagai Tao atau sejenis mujizat di mana itu adalah jalan pulang ke Surga / sebuah titik untuk mencapai kesucian.
Tiga mustika Buddhisme (Buddha, Dharma dan Shanga) kemudian diubah oleh Yiguandao menjadi Tiga yang tidak boleh ditinggalkan yaitu : Senior, Kitab Suci, Vihara (Buddha digantikan oleh Senior, Dharma digantikan oleh Kitab suci ciptaan mereka sendiri). 

6. Tiga Kendaraan (三乘)

Tiga Kendaraan menurut ajaran Buddha Mahayana atau disebut sebagai Triyana dibagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Śrāvakayāna (Kendaraan Para Pendengar, 声闻乘)
    Dijalani oleh para śrāvaka (pendengar) yang berfokus pada ajaran langsung Buddha.
    Tujuannya adalah mencapai Arhat, yaitu seseorang yang telah mengakhiri samsara melalui pemahaman Empat Kebenaran Mulia dan praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan.
  2. Pratyekabuddhayāna (Kendaraan Para Buddha untuk Diri Sendiri, 缘觉乘)
    Dijalani oleh Pratyekabuddha yang mencapai pencerahan tanpa bergantung pada guru atau membimbing orang lain.
    Mereka memahami Dharma melalui pengamatan langsung terhadap hukum sebab-akibat (Pratītyasamutpāda).
  3. Mahāyāna (Kendaraan Besar, 大乘)
    Bertujuan untuk mencapai Buddhahood demi menolong semua makhluk.
    Berpusat pada Bodhisattva, yaitu individu yang menunda Nirwana demi membimbing yang lain.
    Menekankan pada Prajñā (kebijaksanaan) dan Karunā (welas asih).
Yiguandao menggantinya menjadi:
  1. 小乘 Kendaraan tingkat kecil : Membaca parita, memperbaiki jembatan, menolong orang miskin, berbuat baik, tidak dapat menjadi Buddha, akan mendapatkan kehidupan yang berkelimpahan
  2. 中乘 Kendaraan tingkat tengah : Bermeditasi ala Zen, berkeyakinan pada Dharma Buddha dan mempraktikkan Dharma Buddha
  3. 上乘 Kendaraan tingkat atas : Memohon Tao 求道, mendapat 1 titik langsung langsung terentas dari tumimbal lahir

7. 4 Kesulitan (四難) 

4 Kesulitan (四難) yang ada pada ajaran Mahāyāna, terutama dalam tradisi Tan Luan (曇鸞, Tánluán) dan Jingtu (净土, Buddhisme Tanah Suci). Konsep ini menekankan betapa sulitnya memperoleh kondisi yang tepat untuk mempraktikkan Dharma, khususnya dalam mencapai kelahiran di Sukhavati (Alam Suci Amitabha).

Empat kesulitan tersebut adalah:
1. 人身難得 Sulit untuk bisa terlahir sebagai tubuh manusia
2. 正法難聞 Sulit untuk menemukan Ajaran Dharma Sejati
3. 中華難生 Sulit untuk terlahir di Tiongkok
4. 淨土難信 Alam Sukhavati sulit untuk dipercaya

Yiguandao mengubahnya menjadi:
1 、人身難得 Sulit Mendapatkan Tubuh Manusia
2 、三期難遇 Sulit Bertemu dengan Masa Ketiga
3 、中華難生 Sulit terlahir sebagai orang Tionghua
4 、真道難逢Sulit bertemu dengan Tao yang sejati

8. Tujuh Buddha dari Zaman Dahulu (Saptatathāgata)

Dalam tingkatan paling awal dari teks-teks Buddhis Pali, terutama dalam empat Nikaya pertama, salah satunya Dīgha Nikāya 14 – Mahāpadāna Sutta, disebutkan Tujuh Buddha Zaman Dahulu (Saptatathāgata), yang secara eksplisit disebutkan dan diberi nama (lihat contohnya SN 12.4 sampai SN 12.10). Empat di antaranya berasal dari kalpa saat ini (Pali: kappa, yang berarti kalpa atau “zaman”) yang disebut kalpa baik (bhaddakappa) dan tiga dari kalpa masa lampau.

Tujuh Buddha tersebut adalah:
1. Vipassī (hidup 91 kalpa yang lalu)
2. Sikhī (hidup 31 kalpa yang lalu)
3. Vessabhū (hidup 31 kalpa yang lalu pada kalpa yang sama dengan Sikhī)
4. Kakusandha (Buddha pertama pada kalpa baik saat ini)
5. Koṇāgamana (Buddha kedua pada kalpa saat ini)
6. Kassapa (Buddha ketiga pada kalpa saat ini)
7. Gotama (Buddha keempat pada kalpa saat ini)

Yiguandao mencontoh konsep 7 Buddha ini, dan mengubahnya menjadi versi mereka sendiri, di mana 7 Buddha tersebut adalah:
1. 赤愛佛  Chi Ai Fo
2. 生育佛 Shengyu Fo
3. 甲三春 Jiasanchun
4. 酉長庚 You changgeng
5. 空谷神 Konggu shen
6. 龍野氏 Longyeshi
7. 繼天佛 Jitian Fo

Ke tujuh Buddha ini hidup sekitar 50.000-5.000 tahun yang lalu. Saya tidak bisa menemukan literatur atau buku apapun yang menjelaskan nama-nama Buddha ini, selain dari teks-teks Yiguandao. Selain 7 Buddha, ada tambahan 3 Buddha yang menjadi penguasa Alam Semesta di Yiguandao yang membuatnya menjadi total 10 Buddha yang diutus oleh Lao Mu, yaitu:
- Buddha Dipankara
- Buddha Sakyamuni
- Buddha Maitreya

Semua Buddha versi Yiguandao ini hidup tidak lebih dari 60.000 tahun lalu. Sangat berbeda dengan ajaran Buddhisme di mana para Buddha zaman dulu hidup bermilyar-milyar atau bertriliun-trililun tahun yang lalu.

9. Jigong dan Guanggong yang Tidak Bervegetarian

Yiguandao biasanya mengklaim bahwa tokoh Guanyu (Guangong) dan Jigong itu sebenarnya adalah orang yang bervegetarian dan tidak minum arak semasa hidupnya. Dalam cerita-cerita di ceramah Yiguandao sering disebutkan berbagai cerita yang diketahui secara umum dianggap oleh Yiguandao sebagai versi yang tidak benar. Beberapa versi cerita biasanya akan punya berbagai versi penjelasan salah satunya adalah bahwa daging yang kelihatan dimakan dan arak yang diminum oleh keduanya itu sebenarnya hanyalah pura-pura atau bukan benar-benar daging. Tentu saja ini berlawanan dengan berbagai teks-teks sejarah yang secara jelas menyebutkan bahwa kedua tokoh tersebut memang bukan tokoh yang bervegetarian sepanjang hidupnya. Beberapa Jiangshi juga terkadang menyebut beberapa tokoh-tokoh agama yang terkenal juga bervegetarian, walaupun tidak ada bukti bahwa mereka bervegetarian.


10. Kisah Dewi Guanyin

Salah satu kisah yang sering diceritakan di Yiguandao adalah kisah Dewi Guanyin dalam mendapatkan Tao, seolah-olah itu adalah kejadian nyata di masa lalu. Dikisahkan di masa pembinaannya, Dewi Guanyin mendapatkan vas bunga, di mana suatu hari ada cahaya yang terang memancar dari tengah pot bunga itu sehingga Dewi Guanyin menyadari bahwa pintu suci ada di antara dua mata. Saat itulah Dewi Guanyin mendapatkan Tao.
Cerita mengenai sinar yang memancar di tengah pot di antara daun tidak pernah ada di cerita-cerita asli mengenai Putri Miaoshan. Cerita Dewi Guanyin sebagai putri Miaoshan sendiri sebenarnya juga bukanlah teks Buddhis, melainkan adalah cerita legenda rakyat yang menjadi populer di kalangan masyarakat Tiongkok. Cerita ini pertama kalinya muncul pada teks Gulungan Berharga Gunung Xiang (香山寶卷) yang tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali ditulis dan siapa penulisnya. Teks tersebut diketahui awal muncul pada tahun 1773. Berdasarkan kata pengantar dalam buku tersebut, cerita itu ditulis atas permintaan kepada salah seorang biksu dari Biara Tianzhu. Buddhisme berbagai aliran setuju bahwa Dewi Guanyin sebagai Putri Miaoshan bukanlah cerita betulan, melainkan hanyalah cerita rakyat dan cerita legenda yang memiliki nilai-nilai spiritual dan simbolis saja.

11. Buddha, Dewa dan Bodhisatwa

Dalam Buddhisme, yang disebut sebagai Buddha hanyalah Buddha Sakyamuni dan 27 Buddha-Buddha yang pernah hidup sebelumnya yang hidup berkalpa-kalpa yang lalu. Daftarnya bisa anda lihat di link berikut. Di aliran Mahayana, ada Buddha Amitabha sebagai tambahan. Hanya ini yang disebut sebagai Buddha. Di luar ini, tidak ada satupun sosok yang disebut sebagai Buddha, karena Buddha memang adalah sebutan untuk sammasambuddha, seseorang yang tercerahkan sendiri (tanpa guru) dan mengajarkan Dhamma yang telah ditemukan-Nya. Menurut ajaran Buddhisme, Buddha adalah tingkat pencapaian tertinggi, karena sudah mencapai Nibanna yang berarti terlepas dari samsara / perputaran roda tumimbal lahir. Istilah Buddha adalah kata dari bahasa Pali yang mempunyai arti "tersadar", dan Buddha memang bukanlah sebuah gelar atau kedudukan tertentu di surga, tapi adalah kata untuk menyebut seseorang yang batin-nya telah tersadar secara sempurna. Sedangkan calon sammāsambuddha disebut sebagai bodhisatta (Pāli) atau bodhisatwa (Sanskerta). Sosok-sosok seperti Avalokiteswara, Ksitigarbha, Akasagarbha, Manjusri, Maitreya, Vajrapani disebut sebagai Bodhisatwa (belum menjadi Buddha). Bodhisatwa adalah sebutan untuk seseorang calon Buddha yang bertekad untuk mencapai pencerahan dan sedang menyempurnakan pāramī / pāramitā sebelum menjadi Buddha yang tercerahkan sepenuhnya.

Sedangkan Yiguandao mempunyai keyakinan yang sama sekali berbeda dan mempunyai kemiripan dengan keyakinan dari agama-agama tradisi rakyat Tiongkok (folk religion) yang tidak tahu bedanya dewa, Bodhitsatwa dan Buddha. Bagi mereka semua nama-nama itu dianggap sebagai gelar yang diberikan di surga di mana itu diibaratkan seperti kedudukan atau pangkat yang tinggi dalam hirarki surga. Surga pun dianggap sama dengan Nirwana, sama seperti yang diyakini kebanyakan orang awam yang tidak mendalami Buddhisme. Di kalangan Yiguandao baik tokoh-tokoh Dewa, Bodhisatwa ataupun Buddha semuanya disebut sebagai Xianfo (仙佛). Sosok-sosok yang dianggap sebagai Xianfo (Buddha), antara lain adalah Mile yang disebut Mile Zhushi (disebut Buddha Maitreya), Bodhisatwa Guanyin / Avalokitesvara yang disebut Nanhai Gufo (Buddha Kuno Nanhai), Jigong yang disebut sebagai Jigong Huofo (Buddha Hidup Jigong), Dewa Guangong, Dizhang Gufo (Buddha Kuno Kṣitigarbha), Delapan Dewa, Nanji Laoren, Yesus, Muhammad, Laozi, Konfusius dan masih banyak sekali.

12. Penafsiran Sutra Hati (心經)

Salah satu sutra Mahayana yang mempunyai makna sangat mendalam adalah Sutra Hati (心經). Di dalamnya mengandung inti ajaran Buddha yaitu mengenai Kesunyataan (空). Inti dari Sutra Hati adalah kita mengembangkan Prajna Paramita (Kebijaksaan yang sempurna). Kalimat yang paling penting dalam sutra Hati adalah kata-kata bahwa Avalokitesvara mengerti bahwa Panca Kandha (Rupa/Badan Jasmani, Pikiran/Persepsi, Perasaan, Niat/Daya Upaya dan Kesadaran Indera) itu sebenarnya adalah kosong. Ini berarti bahwa manusia itu hanyalah bentuk dari gugusan-gugusan, yang pada intinya adalah kosong (tidak mempunyai inti). Setelah mengerti bahwa semuanya adalah kosong dan semua bersifat sementara, maka barulah seseorang bisa melepas semuanya. Melepas semuanya barulah tidak ada kemelekatan, tidak ada kemelekatan, maka tidak akan ada sebab, maka tidak lagi akan ada lagi akibat, orang yang sudah tersadar sempurna adalah yang bisa melepaskan semua yang mengikat. Inilah yang disebut sebagai kekosongan. Orang yang telah menyadari ini akan mencapai Nirwana. (Untuk terjemahan dan penjelasan lengkap dari saya mengenai Sutra Hati atau Xin Jing, anda dapat membacanya di postingan ini)

Sedangkan menurut Yiguandao, seperti contohnya yang dijelaskan di vihara saya dulu maupun yang ada dalam video ini. Kalimat-kalimat dalam sutra tersebut diartikan sangat jauh berbeda. Menurut keyakinan mereka, orang yang belum mendapat Tao (qiudao) maka tidak akan bisa mencapai nirwana. Qiudao itu diyakini Yiguandao akan membuka Hati Sejati/Hati Nurani (真心) yang ada dalam diri masing-masing, sehingga setelah qiudao, seharusnya orang sudah tidak mungkin akan berbuat jahat dan berbuat salah lagi. Dengan kata lain, Yiguandao meyakini bahwa orang yang diqiudao itu secara instan hatinya telah berubah menjadi bersih dan suci karena hati sejatinya telah terbuka. Semua tabiat-tabiat buruk yang dimiliki akan secara otomatis dihilangkan oleh hati sejati ini. Maka dari itu dalam ceramah-ceramahnya, umat Yiguandao sering disuruh untuk menggunakan hati sejati ini dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun Wu yun (五蘊)yaitu panca kandha (色受想行識 Rupa/Badan Jasmani, Kesadaran Indera, Perasaan, Daya Upaya/Kebiasaan/Niat dan Pikiran/Persepsi) itu tetap dijelaskan, tapi  Yiguandao menganggap kelimanya itu sebagai badan kasar yang palsu (kosong). Yiguandao menafsirkan ada satu gugusan tambahan yang dinamakan roh sejati di luar panca kandha itu. Badan kasar yang palsu disebutkan hanyalah dipinjam saja, dipinjam oleh siapa? Dipinjam oleh roh sejati tersebut. Jadi Yiguandao mempunyai anggapan bahwa dalam diri manusia ada roh yang kekal. Bahkan kata-kata "tidak muncul/lahir" (不生) dan "tidak lenyap / musnah" (不滅) yang ada pada kalimat selanjutnya dalam penafsiran Yiguandao mengacu pada roh sejati. Mereka mengabaikan kata-kata sebelumnya yaitu "semua fenomena pada dasarnya adalah kosong" (是諸法空相), dan langsung memberi penafsiran bahwa "tidak muncul/lahir, tidak lenyap / musnah" itu ditujukan pada roh sejati, sebuah gugusan tambahan yang bahkan tidak ada sama sekali dalam sutra hati tersebut.

Perbedaan mendasar antara penafsiran Sutra Hati dalam Buddhisme dengan Yiguandao, adalah di Buddhisme, anda harus benar-benar mengerti konsep kesunyataan dan menjadikan itu sebagai bahan pembelajaran dan renungan secara terus menerus untuk melatih batin. Meditasi yang dilakukan juga barulah akan efektif bila disertai dengan pemahaman-pemahaman ini. Semakin sering batin dilatih, maka prajna (kebijaksanan) akan semakin tinggi. Apa yang perlu dipahami? Memahami bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal. Memahami bahwa semuanya itu adalah kosong, semua itu adalah Sunyata, semua itu adalah Anatta (tiada inti). Batin dalam diri manusia yang sering disalah artikan orang awam sebagai roh tidak lain adalah empat dari panca kandha (agregat) yaitu Persepsi, Perasaan, Daya Upaya dan Kesadaran Indera. Badan Jasmani (Rupa) manusia adalah agregat yang kelima. Seorang manusia bisa hidup karena ada gabungan dari lima agregat tersebut. Dan sangat jelas dikatakan bahwa Panca Kandha itu adalah sesuatu yang kosong. Sementara itu Yiguandao malah menganggap Kesadaran Indera (受), Perasaan (想), Niat/Kebiasaan/Daya Upaya (行) dan Persepsi/Pikiran (識) itu dianggap termasuk dalam badan kasar (色), sementara itu ada tambahan roh sejati (真心) sebagai gugusan lain (gugusan ke-6) yang berdiri sendiri dan dianggap sebagai sesuatu yang kekal, dan sering dikatakan bahwa roh sejati inilah inti dari manusia yang menggerakkan semuanya. Padahal secara jelas, Sutra Hati ini cuma menuliskan bahwa hanya ada 5 gugusan (kandha) dalam diri manusia dan itu adalah kosong (tidak ada inti). Kata-kata ini secara jelas menegaskan bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bersifat kekal, termasuk dalam diri manusia. Memahami dharma yang sangat mendalam ini barulah kebijaksanaan baru benar-benar bisa dilatih. Memahami ini barulah segala kotoran batin bisa dilatih untuk dilenyapkan. Itulah yang dikatakan berlatih diri untuk mencapai kesucian. Sedangkan di Yiguandao, memohon Tao (qiudao) itu dianggap sebagai ritual yang membuka hati sejati manusia, atau dengan kata lain secara otomatis orang yang sudah qiudao itu tingkat kesuciannya sudah berbeda dengan orang biasa. Yang dituntut oleh penceramah-penceramah kemudian adalah umat disuruh untuk menggunakan hati nurani itu dalam kehidupan sehari-hari, di mana yang dimaksud menggunakan hati nurani itu sendiri seperti apa dan caranya bagaimana juga tidak jelas. Sebagai contoh, bila kita punya sifat buruk mudah sekali marah. Apa yang harus dilakukan agar tidak mudah marah? Bagaimana cara menggunakan hati nurani untuk meredam kemarahan tersebut? Inilah yang tidak ada penjelasannya di Yiguandao. Di Yiguandao sama sekali tidak ada latihan meditasi, tidak ada usaha perenungan atau pelatihan pikiran atau pemahaman apa-apa. Yang dipentingkan hanyalah rajin ke vihara dan mengikut semua aktivitas vihara. Inilah salah satu hal yang saya paling membingungkan saat dulu masih aktif di Yiguandao. Akibatnya banyak sekali kebiasaan-kebiasaan buruk saya yang sama sekali tidak berkurang walau sudah bertahun-tahun aktif di Yiguandao. Ada penceramah yang mengajarkan bahwa menggunakan hati sejati itu adalah dengan cara konsentrasi pada titik suci, yang bagi saya sama sekali tidak berdampak apa-apa pada hilangnya tabiat-tabiat buruk saya dan hilangnya kekotoran-kekotoran batin. Pelatihan batin atau kesucian jelas tidak mungkin bisa dilakukan kalau masih ada pandangan yang meyakini bahwa ada roh yang kekal dalam diri, karena keyakinan tersebut adalah pandangan salah yang sangat menguatkan ego pada diri manusia.

13. Pemahaman mengenai Nirwana dan Surga

Kalau mengacu pada ajaran Sang Buddha, terdapat perbedaan besar antara Surga dan Nirwana (Nibanna). Surga yang asal katanya sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta yaitu Svarga, adalah salah satu alam dari 31 alam kehidupan menurut ajaran Sang Buddha. Sementara Nirwana, yang berasal dari kata bahasa Sansekerta yaitu Nirvana atau kata bahasa Pali yaitu Nibanna artinya adalah pemadaman, yaitu kondisi batin yang sudah tercerahkan sepenuhnya, sudah terbebas dari segala kemelekatan sehingga terbebas dari 31 alam kehidupan (kebebasan dari samsara).

Di Yiguandao, baik surga maupun nirwana dianggap sama. Keduanya disebut sebagai Wuji Litian (無極理天), surga tertinggi bagi orang-orang yang sudah memohon Ketuhanan (qiudao). Ada kontradiksi dalam penjelasan Yiguandao mengenai Wuji Litian ini dan sudah pernah saya bahas di postingan ini (Bagian 12), di mana menurut kitab Penjelasan Jawaban pada Kebenaran 性理題釋 / Kitab Uraian Metafisika  dan Jawaban atas Keraguan dan Pertanyaan mengenai Yiguandao 一貫道疑問解答, Wuji Litian digambarkan tidak berwujud, tapi di referensi lain seperti 林篬庫壇主理靈遊天記述 Rekaman Perjalanan Roh Lin Cangku Tanzhu ke Alam Surga Abadi, Wuji Litian digambarkan memiliki wujud seperti alam manusia, di mana ada tembok berlapis emas, gerbang Surga, dan roh-roh yang bersembahyang menggunakan tata cara vihara Yiguandao seperti waktu di dunia dll.

14. Makna dari Patung Buddha

Perbedaan besar lain dari ajaran Yiguandao dengan ajaran Agama Buddha adalah mengenai makna dari rupang/patung Buddha. Patung Buddha di fotang Yiguandao dianggap sebagai perwakilan atau gambaran dari roh-roh para Buddha. Dalam keyakinan Yiguandao, roh-roh Buddha ini diyakini sering berada di vihara. Sering juga disebutkan bahwa bila kita sering datang ke vihara maka akan banyak terkena sinar Buddha dan akan mendapatkan banyak karunia. Dalam ritual sembahyangnya juga ada sesi doa di mana biasanya kita akan melakukan permohonan atau permintaan tertentu pada Lao Mu atau para Buddha yang diyakini sedang berada di fotang tempat kita hadir. Kepercayaan seperti ini sangat mirip dengan folk religion (tradisi kepercayaan Tionghua) yang biasanya meyakini adanya roh-roh yang mendiami sebuah patung baik di kelenteng atau tempat-tempat ibadah lain. 

Sementara itu di agama Buddha, sebuah rupang/patung Buddha itu tidak memiliki simbol-simbol seperti itu. Patung Buddha tidak dapat memberikan cahaya Buddha ataupun berkah apapun pada para umat yang dekat dengan patung. Buddhisme juga menolak pandangan bahwa masih ada roh Sang Buddha yang masih bisa mendengar, menuntun, membantu dan menjawab doa-doa manusia di dunia. Di ajaran agama Buddha, patung Buddha dianggap hanyalah sebagai simbol (sama seperti bendera yang melambangkan negara), di mana itu untuk mengingatkan kita akan sosok Buddha sehingga memberikan rasa syukur dan suatu semangat yang positif untuk mengikuti dan mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha. 

Ini perbedaan sangat mendasar antara makna Patung Buddha di Yiguandao dan ajaran Buddha.

15. Perbedaan Pemahaman tentang Loba, Dosa dan Moha

Salah satu pemahaman yang saya temukan berbeda antara ajaran Buddhisme dengan Yiguandao adalah penjelasan tentang Keserakahan (Loba), Kebencian (Dosa), Kebodohan (Moha). Tiga kebodohan batin ini dijelaskan di tripitaka khususnya di Aṅguttara Nikāya 3.69 (Akusala-mūla Sutta), Itivuttaka 50 (Tayo Dhamma Sutta), Dīgha Nikāya 15 (Mahā Nidāna Sutta), Majjhima Nikāya 9 (Sammādiṭṭhi Sutta), Majjhima Nikāya 2 (Sabbāsava Sutta) dan Saṃyutta Nikāya 12.38 (Lobha Sutta). Dalam tripitaka dijelaskan bahwa Loba, Dosa dan Moha adalah akar dari kejahatan dan semua perbuatan tidak baik. Ketiganya juga merupakan penyebab dari samsara (tumimbal lahir) akibat kemelekatan yang kuat pada apa yang ada di dunia. Selain itu juga dijelaskan bagaimana cara melenyapkan ketiganya yaitu dengan cara mendengar dharma, latihan spiritual dan meditasi untuk melatih kebijaksanaan. Tiga kotoran batin ini juga sangat erat kaitannya dengan pattica-sammuppada yang merupakan hukum sebab musabab yang saling bergantungan. Kebanyakan manusia bisa sangat melekat dan mengalami banyak dukkha akibat Avijja (Ketidaktahuan) yang identik dengan Moha (Kebodohan batin). Karena Avijja inilah, maka terbentuklah Sankhara (Formasi Batin/Niat) yang menimbulkan karma. Dan biasanya karena ketidaktahuan dan niat inilah maka timbullah kehausan/nafsu keinginan (Tanha) yang identik dengan Lobha. Karena Lobha inilah manusia mulai melekat pada apa yang diinginkan tersebut. Bila manusia tidak mendapatkan yang diinginkan, maka akan muncul kemarahan, kebencian (Dosa). Kebodohan batin yang dimaksud di sini adalah pandangan-pandangan salah / ketidaktahuan akibat tidak memahami ajaran kebenaran yang diungkap oleh Sang Buddha.

Sedangkan menurut Yiguandao, pemahaman tiga kekotoran batin yang sering hanya dikenal dalam Bahasa mandarinnya sebagai tān (), chēn (), chī (癡) bukanlah faktor yang saya anggap penting sebagai sesuatu yang harus dihilangkan dalam kehidupan ini. Salah satu alasannya adalah pemahaman yang keliru mengenai ketiganya, sehingga saya merasa dulu saya tidak memiliki tiga kotoran batin itu. Lagipula di Yiguandao yang lebih dipentingkan adalah sering datang dan banyak melintasi umat, bukan menghilangkan kotoran-kotoran batin tersebut kalaupun ada. Pemahaman mengenai Keserakahan, Dengki/Kebencian dan Kebodohan dipahami secara dangkal sama seperti yang dimengerti orang-orang yang tidak memahami ajaran Sang Buddha secara mendalam. Keserakahan dianggap sifat saat orang yang sudah memiliki harta atau sesuatu yang berlebih tapi ingin yang lebih lagi. Dengki dianggap sebagai sifat seseorang yang punya kebencian mendalam terhadap seseorang. Sedangkan kebodohan dianggap sebagai orang yang bodoh atau kurang bijaksana, tapi tidak mau menerima masukan dari orang lain. Dan jujur, selama puluhan tahun di Yiguandao, saya sangat yakin bahwa saya tidak memiliki ketiganya. Ini adalah pemahaman yang betul-betul dangkal, karena menurut Sang Buddha yang dimaksud dengan Loba, Moha, Dosa ternyata tidak sebatas itu saja. Bahkan setelah saya pelajari secara mendalam ternyata hampir semua manusia memiliki ketiganya, termasuk saya dan orang-orang yang dulunya saya anggap suci. Sebagai contoh: Loba/Keserakahan/Nafsu Keinginan. Hampir setiap manusia ingin hidup kaya, ingin selalu makan makanan enak, ingin bisa jalan-jalan ke luar negeri, ingin menjadi terkenal, ingin dipuji, ingin punya pasangan yang ideal, dan masih banyak sekali keinginan-keinginan. Semua bentuk keinginan yang kebanyakan adalah nafsu indrawi inilah yang disebut sebagai Loba / tān (). Bahkan di kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal yang merupakan loba juga, misalnya kita ingin melakukan aktivitas ini, tidak suka akan aktivitas itu, kita ingin ini dan itu. Ya. Secara tidak kita sadari, kita memiliki keinginan-keinginan yang mayoritas dari semuanya adalah nafsu-nafsu indrawi dan biasanya itu sangat kita harapkan dan kita ekspetasi untuk didapatkan. Akibatnya kita biasanya akan sangat melekat pada keinginan-keinginan itu, sehingga banyak juga yang sampai setiap hari sampai memikirkannya dan pikiran-pikiran itu terus menguasai batin kita secara terus menerus. Kita menjadi begitu melekat dengan apa yang diinginkan, sampai kadang-kadang bisa sangat stress atau sangat menderita saat tidak mendapatkannya. Setiap hari manusia memiliki ketiga kekotoran batin ini dan sangat-sangat melekat terhadap semuanya. Dan ternyata inilah yang menyebabkan orang tidak bisa lepas dari alam samsara. Tapi saat saya masih di Yiguandao, saya merasa bahwa diri saya tidak punya kekotoran batin, karena saya merasa saya tidak serakah, tidak dengki dan tidak bodoh. Apalagi saat di Yiguandao, disebutkan bahwa hati nurani kita sudah terbuka dan sudah bersih. Jadi kita menganggap bahwa diri kita ini sudah suci. Tapi saat saya mulai paham mengenai ajaran Sang Buddha, saya justru menyadari bahwa ternyata saya selama ini memiliki ketiganya dan bahkan masih sangat kuat. Saya juga tidak menyadari ternyata banyak sekali dukkha (penderitaan) yang saya alami ternyata berasal dari tanha-tanha (kehausan) ini. Saat saya mulai melatih diri untuk menguranginya, saya bisa merasakan dampak langsungnya, di mana batin saya menjadi jauh lebih tenang dan tidak selalu mencari keinginan-keinginan indrawi yang dulu selalu saya inginkan. Saya menjadi jauh lebih berpuas diri dan bisa menerima segala fenomena-fenomena kehidupan yang dulunya bisa membuat saya merasa sangat tidak nyaman (menderita) karena tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Dari hal kecil seperti inilah, saya benar-benar bisa merasakan bagaimana dalamnya ajaran Sang Buddha.


Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 13) : Qiudao
Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 15) : Apakah Yiguandao agama Buddha? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...