Ajaran Yiguandao yang berasal dari Agama Lain
Berbeda dengan agama-agama lain di dunia, Yiguandao sering dikatakan tidak mempunyai kitab sucinya sendiri. Sebenarnya kalau mau ditelusuri secara mendalam Yiguandao bukannya tidak memiliki kitab suci. Sumber-sumber ajaran dari Yiguandao sudah saya bahas secara detail di postingan saya sebelumnya (bagi yang belum baca, silahkan baca Bagian 5). Pada dasarnya sebenarnya Yiguandao juga memiliki kitab sucinya sendiri. Tidak hanya ada, malah jumlahnya cukup banyak, antara lain sebagai berikut:
- Surat dari Kampung Halaman Berisi 10 Petunjuk dari Wusheng Laomu (無生老母十指家書)
- Jawaban atas Keraguan dan Pertanyaan Mengenai Yi-guan Dao (一貫道疑問解答)
- Refleksi Mustika Silsilah Tao (道統寶鑑)
- Penjelasan Jawaban pada Kebenaran / Kitab Uraian Metafisika (性理題釋)
- Tujuan dari Tao (道之宗旨)
- Sutra Sejati Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan (彌勒救苦真經)
- Sutra Buddha Hidup Ci Kong Menyelamatkan Dunia (濟公活佛救世真經)
- Peraturan Buddha dari Ritual Sementara (暫訂佛規)
- Kisah Tujuh Pembina Sejati (七真史传)
- Kitab 100 Bakti (百孝經)
- Teks-teks hasil Fuji lainnya yang tidak terhitung jumlahnya, biasanya dicetak dalam buku-buku seperti Wejangan Bapak Guru (濟公活佛慈語), Wejangan Buddha, dan judul-judul lain.
![]() |
Kitab Suci Yiguandao |
Namun, seperti yang pernah saya sampaikan di Bagian 5, bahwa karena tidak ada sistemasi dan standarisasi kitab suci di Yiguandao dan kurang terbukanya kelompok mereka terkait berbagai sejarah, informasi dan asal-usulnya, maka sebagian besar dari pengikut-pengikut Yiguandao bahkan tidak tahu kalau ternyata agama mereka memiliki kitab suci sendiri. Walaupun memang wajar jika ada banyak juga yang tidak menganggap kitab-kitab itu sebagai kitab suci karena beberapa dari kitab-kitab tersebut tidak jelas sumbernya atau penulisnya siapa.
Tapi kalau anda benar-benar pelajari secara mendalam isi dari kitab-kitab Yiguandao di atas, pada dasarnya isi-nya tidak jauh berbeda dengan kitab-kitab lebih tua yang sudah ada sebelumnya. Kitab-kitab yang menjadi sumber dari isi kebanyakan kitab-kitab Yiguandao kebanyakan berasal dari kitab-kitab sektarian, yaitu kitab-kitab yang ditulis oleh para tokoh-tokoh pemimpin sekte-sekte agama yang bermunculan di Tiongkok berabad-abad yang lalu. Beberapa kitab-kitab agama yang pernah saya baca isinya dan inti ajarannya sama dengan yang diajarkan kitab-kitab Yiguandao:
- Huangji Jieguo Baojuan (皇極结果宝卷) / Gulungan Berharga tentang Buah Karma pada Periode Puncak Kekaisaran
- Wubuliuce (五部六册) / Lima Kitab dalam Enam Jilid - Luo Qing
- Jiulianjing (九蓮經) Sutra Teratai Berdaun Sembilan - Gongchang (弓長)
- Jiulian Baojuan (九莲宝卷) / Gulungan Berharga Teratai Berdaun Sembilan
- Longhua Jing (龍華經) / Kitab Bunga Naga
- Hunyuan Hongyang linfan Piaogao jing (混元弘陽臨凡飄高經)
- Jiuku Zhongxiao Yaowang Baojuan (救苦忠孝药王宝卷)
- Huangji Jingshi (皇極經世) - Shao Yong (邵雍)
- Liben (禮本)
- Yuanchan (愿懺)
- Gongguoge (功過格)
- Yuhuang Xinyin Jing (玉皇心印經)
- Poxie Zhongzhi (破邪宗旨)
- Bazi Jueyuan (八字覺源)
Banyak isi dari kitab-kitab ini yang mempunyai kemiripan ajaran dengan ajaran Yiguandao yang tidak dapat ditemukan di kitab-kitab agama lain, antara lain adalah konsep mengenai Lao Mu, teori tiga masa pancaran, masa kehidupan manusia yang sudah 60.000 tahun, akan datangnya kiamat dalam waktu dekat, metode pembukaan pintu suci sebagai jalan keselamatan dan keyakinan Buddha Maitreya telah hadir di dunia menggantikan Buddha Sakyamuni. Bagi anda yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai kitab-kitab ini, bisa membaca buku seperti Precious Volumes An Introduction to Chinese Sectarian Scriptures from the Sixteenth and Seventeenth Centuries - Daniel Overmeyer, Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert, Ma Xisha, dan The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan - David K Jordan, David L Overmyer atau coba mencarinya sendiri di internet bagi mereka yang menguasai bahasa Mandarin.
Walaupun sebagian besar isi dan inti ajaran Yiguandao berasal dari kitab-kitab ini, tapi tentu kita tidak akan pernah mendengar satu kali pun penceramah Yiguandao yang mengatakan "dikutip dari kitab Longhuajing", "Kitab Jiulian Baojuan mengatakan" atau "Dalam Kitab Huangji Jieguo Baojuan tertulis". Ada dua alasan mengapa hal itu bisa terjadi. Pertama, karena memang hampir semua penceramah Yiguandao tidak tahu mengenai adanya kitab-kitab ini. Kedua, kitab agama-agama ortodoks jelas jauh lebih punya karisma dan daya tarik yang lebih besar bagi para pendengar ceramah daripada kitab-kitab yang sama sekali tidak dikenal.
Maka dari itu sudah menjadi alamiah sifatnya bila para dianchuanshi atau penceramah Yiguandao lebih banyak menggunakan kutipan-kutipan dari kitab-kitab suci agama ortodoks yang memang sudah populer dan banyak dikenal di kalangan umat, seperti contohnya kitab-kitab Konfusius, kitab-kitab Taoisme, kitab-kitab Buddhisme, Alkitab ataupun Alquran. Yang sangat disayangkan adalah banyak pengambilan ayat2 kitab suci agama lain ini juga bersifat cherry picking dan banyak sekali cocoklogi. Yiguandao hanya mengambil sedikit dari isi kitab-kitab suci agama lain yang kebetulan cocok dengan teori dan ajaran mereka, sementara inti ajaran lainnya yang seharusnya lebih penting malah diabaikan dan tidak digunakan sama sekali. Praktek ini mengingatkan saya pada fenomena jaman modern di mana ada beberapa konten kreator yang suka memotong video dari sebuah video berdurasi panjang terus dibuatkan narasi sendiri sehingga menghasilkan pemahaman yang bisa sangat berbeda dengan video aslinya. Selain mengutip ayat-ayat dari kitab suci agama lain, tidak jarang juga Yiguandao mengubah sebagian isi dari teori dan konsep ajaran agama lain yang kemudian diklaim sebagai ajaran mereka. Yang bagi saya agak janggal adalah di vihara saya dulu, umat sering diperingatkan untuk tidak ke tempat ibadah lain dan mempelajari ajarannya, karena akan bisa tersesat. Sebenarnya bukankah terasa agak aneh, melarang orang belajar dari agama aslinya, tapi malah disuruh yakin dan percaya pada yang mencomot/meniru ajaran.
Di bagian ini, saya akan secara khusus membahas isi dari materi-materi ceramah dalam Yiguandao yang diambil dari ajaran agama lain, tapi mengalami pergeseran dan perubahan makna, atau bahkan isinya berubah sangat jauh dari ajaran aslinya. Sebenarnya beberapa perbedaan ajaran sudah saya bahas di bagian-bagian sebelumnya, antara lain:
- Pandangan adanya roh yang kekal bertentangan dengan ajaran Sang Buddha mengenai Anatta (Bagian 11)
- 4 Alam Kehidupan versi Yiguandao yang berbeda dengan konsep 31 Alam Kehidupan Buddhisme (Bagian 12)
- Perbedaan makna dari Tao antara Yiguandao dengan Taoisme (Bagian 6)
- Adanya sosok maha pencipta bernama Laomu yang bertentangan dengan ajaran Sang Buddha dan Isi dari Tao Te Ching (Bagian 6)
- Buddha Dipankara yang diceritakan hidup sekitar 5000 tahun yang lalu, di mana dalam kitab-kitab Buddha Dipankara itu hidup miliaran tahun yang lalu (Bagian 1)
- Bodhisatwa Maitreya yang diklaim sudah turun ke dunia, di mana di kitab-kitab Buddhisme disebutkan bahwa Bodhisatwa Maitreya masih di Surga Tushita (Bagian 2)
- 3 Masa Periode Dharma (正法 Zheng Fa, 像法 Xiang Fa dan 末法 Mo Fa), yang diubah menjadi Masa Pancaran Hijau, Merah dan Putih (Bagian 1)
- 6 Jalur Reinkarnasi yang berbeda dengan 6 Jalur Reinkarnasi Buddhisme (Bagian 12)
- Konsep Hukum Karma yang berbeda dengan Ajaran Buddhisme (Bagian 10)
- Konsep Mencapai Kebebasan / Kesempurnaan / Melampaui Tumimbal Lahir yang jauh berbeda dengan yang diajarkan Sang Buddha (Bagian 8)
- Sejarah dan Siklus Dunia versi Yiguandao yang tidak sesuai ilmu pengetahuan dan kitab Buddhisme (Bagian 3)
Sebagai tambahan dari semua poin-poin di atas yang sudah saya jelaskan di postingan sebelumnya, berikut ini adalah beberapa teori, doktrin dan ajaran Yiguandao yang diambil dari ajaran agama lain tapi mengalami pergeseran atau perubahan makna dan arti:
1. Kata-kata "الۤمّۤ Alif, Lam, Nim (阿立甫、俩目、 敏目)" dalam Alquran
2. Ayat bab 6 dalam Tao Te Cing yaitu 道德經「谷神不死,是謂玄牝,玄牝之門,是謂天地根,綿綿若存,用之不勤。」
Ayat ini sebenarnya mempunyai makna yang sangat mendalam. 玄牝 Xuán pìn (sosok perempuan yang misterius) adalah sebuah citra yang digambarkan oleh Lao Zi dalam semua bukunya yang menggambarkan Tao itu seperti sosok feminim misterius yang merupakan sumber dari segalanya. Tao digambarkan seperti sosok ibu yang melahirkan anak agar bisa lebih mudah dipahami untuk menjelaskan bahwa Tao adalah hukum alam yang menciptakan segala sesuatu. (Baca lebih detail mengenai penjelasan dari Ayat 6 ini di link ini)
Ayat ini diterjemahkan oleh Yiguandao sebagai bukti bahwa Laozi mencoba untuk menyampaikan bahwa Tao itu adalah Pintu Suci (玄關) karena ada huruf 玄 misterius dan 門 pintu .
3. Cerita Mengenai Buddha Sakyamuni yang memegang bunga teratai di depan Maha Kassapa
『佛教』:佛在靈山莫遠求,靈山只在汝心頭,人人有個靈山塔,好向靈山塔下修.這暗喻著靈山就在自身,今天您可找著了."Buddhisme": Buddha tidak jauh dari Lingshan, Lingshan hanya ada di hatimu, setiap orang memiliki Pagoda Lingshan, sehingga mereka dapat memperbaiki di bawah Pagoda Lingshan. Ini menyiratkan bahwa Lingshan ada di dalam dirinya sendiri, dan Anda dapat menemukannya hari ini.「吾有正法眼藏,涅槃妙心,實相無相,微妙法門,不立文字,教外別傳,付囑摩訶迦葉。」Selama Khotbah Bunga, Buddha berkata:"Saya memiliki ajaran sejati (Zen), yang merupakan kondisi nirwana yang menakjubkan, realitas tertinggi yang tak berbentuk, dan metode latihan yang mendalam. Ajaran ini tidak bergantung pada kata-kata dan merupakan transmisi dari hati ke hati yang tidak ada di kitab suci-kitab suci. Ini telah saya sampaikan kepada Mahākāśyapa."
Pemahaman mengenai Buddha yang memegang bunga dan mengacungkannya di hadapan para pendengarnya dan mengetahui bahwa Maha Kassapa telah mengerti, ini mengandung arti mendalam.
Saat itu Buddha menjelaskan bahwa bunga teratai yang ada ditangannya itu adalah salah satu wujud keajaiban dan karunia yang luar biasa. Tapi banyak orang yang tidak merasakannya dan tidak menganggap bunga itu ada, karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri yang dipenuhi oleh berbagai kotoran-kotoran batin seperti keresahan, keserakahan, kebodohan, kemarahan, dan lain-lain. Hanya orang-orang dengan perhatian penuh yang telah mengerti 4 kebenaran mulia yang dapat hidup di saat ini dan menyadari bahwa kehidupan ini tidak hanya penuh dukha tapi juga dipenuhi berbagai keajaiban. Tapi inti kesadaran yang tertinggi atau yang disebut telah tersadar sempurna itu ketika orang telah menyadari bahwa semua itu adalah kosong (sunyata) dan memandang segala sesuatu itu secara netral. Sehingga dalam dirinya sudah tidak ada lagi kilesa-kilesa (kekotoran-kekotoran batin), kegandrungan dan kemelekatan sehingga tidak lagi punya keterikatan dengan apapun. Orang yang sudah berhasil mencapai tingkat kesadaran batin yang sudah tidak punya lagi nafsu keinginan dan kekotoran-kekotoran batin disebut telah tersadar/tercerahkan. Mengerti ini semua yang disebut sebagai transmisi hati ke hati.
Yiguandao menggunakan kisah ini dengan mengubah narasinya bahwa Sakyamuni saat itu sedang memelintirkan bunga tersebut di depan matanya seolah-olah sedang menunjuk titik suci (pintu suci) di antara matanya dengan bunga yang dipegangnya kepada Maha Kassapa.
4. 三人行,必有我师 "Di antara tiga orang, ada satu orang yang menjadi guru" - Konfusius.
Makna sebenarnya dari kata-kata yang terdapat di Bab 7, Kitab Analek (论语, Lúnyǔ) adalah : Pasti ada sesuatu yang berharga untuk dipelajari dari perkataan dan perbuatan orang lain. Dari kedua orang tersebut, salah satunya pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pilih orang yang punya kelebihan tertentu dan jadikanlah dia contoh buat diri anda untuk belajar, dan lihat orang yang punya kekurangan untuk merenungkan apakah Anda memiliki kekurangan yang sama, dan perbaiki jika Anda memilikinya.Di Yiguandao ini diubah menjadi itu petunjuk Pintu Suci. 3 orang adalah 2 mata + 1 pintu suci.
5. Tiga Mustika
Di Yiguandao tiga mustika bukanlah Buddha, Dharma dan Shangha melainkan adalah pintu suci, ucapan suci, pertanda suci, di mana ketiganya dianggap sebagai Tao atau sejenis mujizat di mana itu adalah jalan pulang ke Surga / sebuah titik untuk mencapai kesucian.
Tiga mustika Buddhisme (Buddha, Dharma dan Shanga) kemudian diubah oleh Yiguandao menjadi Tiga yang tidak boleh ditinggalkan yaitu : Senior, Kitab Suci, Vihara (Buddha digantikan oleh Senior, Dharma digantikan oleh Kitab suci ciptaan mereka sendiri).
6. Tiga Kendaraan (三乘)
- Śrāvakayāna (Kendaraan Para Pendengar, 声闻乘)
Dijalani oleh para śrāvaka (pendengar) yang berfokus pada ajaran langsung Buddha.
Tujuannya adalah mencapai Arhat, yaitu seseorang yang telah mengakhiri samsara melalui pemahaman Empat Kebenaran Mulia dan praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan. - Pratyekabuddhayāna (Kendaraan Para Buddha untuk Diri Sendiri, 缘觉乘)
Dijalani oleh Pratyekabuddha yang mencapai pencerahan tanpa bergantung pada guru atau membimbing orang lain.
Mereka memahami Dharma melalui pengamatan langsung terhadap hukum sebab-akibat (Pratītyasamutpāda). - Mahāyāna (Kendaraan Besar, 大乘)
Bertujuan untuk mencapai Buddhahood demi menolong semua makhluk.
Berpusat pada Bodhisattva, yaitu individu yang menunda Nirwana demi membimbing yang lain.
Menekankan pada Prajñā (kebijaksanaan) dan Karunā (welas asih).
- 小乘 Kendaraan tingkat kecil : Membaca parita, memperbaiki jembatan, menolong orang miskin, berbuat baik, tidak dapat menjadi Buddha, akan mendapatkan kehidupan yang berkelimpahan
- 中乘 Kendaraan tingkat tengah : Bermeditasi ala Zen, berkeyakinan pada Dharma Buddha dan mempraktikkan Dharma Buddha
- 上乘 Kendaraan tingkat atas : Memohon Tao 求道, mendapat 1 titik langsung langsung terentas dari tumimbal lahir
7. 4 Kesulitan (四難)
Empat kesulitan tersebut adalah:
1. 人身難得 Sulit untuk bisa terlahir sebagai tubuh manusia
2. 正法難聞 Sulit untuk menemukan Ajaran Dharma Sejati
3. 中華難生 Sulit untuk terlahir di Tiongkok
4. 淨土難信 Alam Sukhavati sulit untuk dipercaya
Yiguandao mengubahnya menjadi:
1 、人身難得 Sulit Mendapatkan Tubuh Manusia
2 、三期難遇 Sulit Bertemu dengan Masa Ketiga
3 、中華難生 Sulit terlahir sebagai orang Tionghua
4 、真道難逢Sulit bertemu dengan Tao yang sejati
8. Tujuh Buddha dari Zaman Dahulu (Saptatathāgata)
Dalam tingkatan paling awal dari teks-teks Buddhis Pali, terutama dalam empat Nikaya pertama, salah satunya Dīgha Nikāya 14 – Mahāpadāna Sutta, disebutkan Tujuh Buddha Zaman Dahulu (Saptatathāgata), yang secara eksplisit disebutkan dan diberi nama (lihat contohnya SN 12.4 sampai SN 12.10). Empat di antaranya berasal dari kalpa saat ini (Pali: kappa, yang berarti kalpa atau “zaman”) yang disebut kalpa baik (bhaddakappa) dan tiga dari kalpa masa lampau.Tujuh Buddha tersebut adalah:
1. Vipassī (hidup 91 kalpa yang lalu)
2. Sikhī (hidup 31 kalpa yang lalu)
3. Vessabhū (hidup 31 kalpa yang lalu pada kalpa yang sama dengan Sikhī)
4. Kakusandha (Buddha pertama pada kalpa baik saat ini)
5. Koṇāgamana (Buddha kedua pada kalpa saat ini)
6. Kassapa (Buddha ketiga pada kalpa saat ini)
7. Gotama (Buddha keempat pada kalpa saat ini)
Yiguandao mencontoh konsep 7 Buddha ini, dan mengubahnya menjadi versi mereka sendiri, di mana 7 Buddha tersebut adalah:
1. 赤愛佛 Chi Ai Fo
2. 生育佛 Shengyu Fo
3. 甲三春 Jiasanchun
4. 酉長庚 You changgeng
5. 空谷神 Konggu shen
6. 龍野氏 Longyeshi
7. 繼天佛 Jitian Fo
Ke tujuh Buddha ini hidup sekitar 50.000-5.000 tahun yang lalu. Saya tidak bisa menemukan literatur atau buku apapun yang menjelaskan nama-nama Buddha ini, selain dari teks-teks Yiguandao. Selain 7 Buddha, ada tambahan 3 Buddha yang menjadi penguasa Alam Semesta di Yiguandao yang membuatnya menjadi total 10 Buddha yang diutus oleh Lao Mu, yaitu:
- Buddha Dipankara
- Buddha Sakyamuni
- Buddha Maitreya
9. Jigong dan Guanggong yang Tidak Bervegetarian
10. Kisah Dewi Guanyin
11. Buddha, Dewa dan Bodhisatwa
12. Penafsiran Sutra Hati (心經)
13. Pemahaman mengenai Nirwana dan Surga
14. Makna dari Patung Buddha
15. Perbedaan Pemahaman tentang Loba, Dosa dan Moha
Salah satu pemahaman yang saya temukan
berbeda antara ajaran Buddhisme dengan Yiguandao adalah penjelasan tentang
Keserakahan (Loba), Kebencian (Dosa), Kebodohan (Moha). Tiga kebodohan batin
ini dijelaskan di tripitaka khususnya di Aṅguttara Nikāya 3.69 (Akusala-mūla
Sutta), Itivuttaka 50 (Tayo Dhamma Sutta), Dīgha Nikāya 15 (Mahā
Nidāna Sutta), Majjhima Nikāya 9 (Sammādiṭṭhi Sutta), Majjhima
Nikāya 2 (Sabbāsava Sutta) dan Saṃyutta Nikāya 12.38 (Lobha Sutta).
Dalam tripitaka dijelaskan bahwa Loba, Dosa dan Moha adalah akar dari kejahatan
dan semua perbuatan tidak baik. Ketiganya juga merupakan penyebab dari samsara
(tumimbal lahir) akibat kemelekatan yang kuat pada apa yang ada di dunia. Selain
itu juga dijelaskan bagaimana cara melenyapkan ketiganya yaitu dengan cara mendengar
dharma, latihan spiritual dan meditasi untuk melatih kebijaksanaan. Tiga
kotoran batin ini juga sangat erat kaitannya dengan pattica-sammuppada yang merupakan
hukum sebab musabab yang saling bergantungan. Kebanyakan manusia bisa sangat
melekat dan mengalami banyak dukkha akibat Avijja (Ketidaktahuan) yang identik
dengan Moha (Kebodohan batin). Karena Avijja inilah, maka terbentuklah Sankhara
(Formasi Batin/Niat) yang menimbulkan karma. Dan biasanya karena ketidaktahuan
dan niat inilah maka timbullah kehausan/nafsu keinginan (Tanha) yang identik dengan
Lobha. Karena Lobha inilah manusia mulai melekat pada apa yang diinginkan
tersebut. Bila manusia tidak mendapatkan yang diinginkan, maka akan muncul
kemarahan, kebencian (Dosa). Kebodohan batin yang dimaksud di sini adalah
pandangan-pandangan salah / ketidaktahuan akibat tidak memahami ajaran
kebenaran yang diungkap oleh Sang Buddha.
Sedangkan menurut Yiguandao, pemahaman
tiga kekotoran batin yang sering hanya dikenal dalam Bahasa mandarinnya sebagai
tān (貪), chēn (瞋), chī (癡) bukanlah faktor yang
saya anggap penting sebagai sesuatu yang harus dihilangkan dalam kehidupan ini.
Salah satu alasannya adalah pemahaman yang keliru mengenai ketiganya, sehingga
saya merasa dulu saya tidak memiliki tiga kotoran batin itu. Lagipula di
Yiguandao yang lebih dipentingkan adalah sering datang dan banyak melintasi
umat, bukan menghilangkan kotoran-kotoran batin tersebut kalaupun ada.
Pemahaman mengenai Keserakahan, Dengki/Kebencian dan Kebodohan dipahami secara
dangkal sama seperti yang dimengerti orang-orang yang tidak memahami ajaran
Sang Buddha secara mendalam. Keserakahan dianggap sifat saat orang yang sudah
memiliki harta atau sesuatu yang berlebih tapi ingin yang lebih lagi. Dengki dianggap
sebagai sifat seseorang yang punya kebencian mendalam terhadap seseorang.
Sedangkan kebodohan dianggap sebagai orang yang bodoh atau kurang bijaksana,
tapi tidak mau menerima masukan dari orang lain. Dan jujur, selama puluhan
tahun di Yiguandao, saya sangat yakin bahwa saya tidak memiliki ketiganya. Ini
adalah pemahaman yang betul-betul dangkal, karena menurut Sang Buddha yang
dimaksud dengan Loba, Moha, Dosa ternyata tidak sebatas itu saja. Bahkan
setelah saya pelajari secara mendalam ternyata hampir semua manusia memiliki
ketiganya, termasuk saya dan orang-orang yang dulunya saya anggap suci. Sebagai
contoh: Loba/Keserakahan/Nafsu Keinginan. Hampir setiap manusia ingin hidup
kaya, ingin selalu makan makanan enak, ingin bisa jalan-jalan ke luar negeri,
ingin menjadi terkenal, ingin dipuji, ingin punya pasangan yang ideal, dan
masih banyak sekali keinginan-keinginan. Semua bentuk keinginan yang kebanyakan
adalah nafsu indrawi inilah yang disebut sebagai Loba / tān (貪). Bahkan di kehidupan sehari-hari, banyak hal-hal yang merupakan
loba juga, misalnya kita ingin melakukan aktivitas ini, tidak suka akan
aktivitas itu, kita ingin ini dan itu. Ya. Secara tidak kita sadari, kita
memiliki keinginan-keinginan yang mayoritas dari semuanya adalah nafsu-nafsu
indrawi dan biasanya itu sangat kita harapkan dan kita ekspetasi untuk
didapatkan. Akibatnya kita biasanya akan sangat melekat pada keinginan-keinginan
itu, sehingga banyak juga yang sampai setiap hari sampai memikirkannya dan pikiran-pikiran
itu terus menguasai batin kita secara terus menerus. Kita menjadi begitu
melekat dengan apa yang diinginkan, sampai kadang-kadang bisa sangat stress
atau sangat menderita saat tidak mendapatkannya. Setiap hari manusia memiliki
ketiga kekotoran batin ini dan sangat-sangat melekat terhadap semuanya. Dan
ternyata inilah yang menyebabkan orang tidak bisa lepas dari alam samsara. Tapi
saat saya masih di Yiguandao, saya merasa bahwa diri saya tidak punya kekotoran
batin, karena saya merasa saya tidak serakah, tidak dengki dan tidak bodoh.
Apalagi saat di Yiguandao, disebutkan bahwa hati nurani kita sudah terbuka dan
sudah bersih. Jadi kita menganggap bahwa diri kita ini sudah suci. Tapi saat
saya mulai paham mengenai ajaran Sang Buddha, saya justru menyadari bahwa
ternyata saya selama ini memiliki ketiganya dan bahkan masih sangat kuat. Saya juga tidak menyadari ternyata banyak sekali dukkha (penderitaan) yang saya alami ternyata berasal dari tanha-tanha (kehausan) ini. Saat saya mulai melatih diri untuk menguranginya, saya bisa merasakan dampak langsungnya, di mana batin saya menjadi jauh lebih tenang dan tidak selalu mencari keinginan-keinginan indrawi yang dulu selalu saya inginkan. Saya menjadi jauh lebih berpuas diri dan bisa menerima segala fenomena-fenomena kehidupan yang dulunya bisa membuat saya merasa sangat tidak nyaman (menderita) karena tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Dari hal kecil seperti inilah, saya benar-benar bisa merasakan bagaimana dalamnya ajaran Sang Buddha.
Komentar