Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan terjemahan sebuah sutra yang sangat populer baik di kalangan umat Buddhisme Mahayana dan juga sering di baca oleh kalangan non Buddhis seperti Yiguandao. Sutra ini dianggap sebagai sutra yang paling mendalam dalam tradisi Mahayana, karena di dalamnya mengandung intisari dari ajaran Sang Buddha. Saya menerjemahkan Sutra Hati (Boruo Boluomiduo Xinjing) ini mengacu pada teks Sansekerta-nya sebagai yang acuan utama. Saya menerjemahkannya menggunakan bantuan ChatGPT dengan mengartikannya kata per kata (bukan langsung per kalimat). Semua terjemahannya kemudian saya bandingkan dengan terjemahan teks mandarin-nya dan berbagai terjemahan dari beberapa penulis untuk benar-benar menghasilkan terjemahan yang tepat. Terjemahan mandarin yang saya pakai adalah terjemahan yang dibuat oleh biksu Xuanzang yang memang paling banyak digunakan oleh aliran Buddhisme di Tiongkok, karena memang hasil terjemahannya yang paling standar.

Oṃ
namo bhagavatyai ārya prajñāpāramitāyai! Ārya-avalokiteśvaro bodhisattvo
gambhīrāṃ prajñāpāramitā caryāṃ
caramāṇovyavalokayati
sma :Panca-skandhās tāṃś ca svābhava śūnyān paśyati sma.
觀自在菩薩,行深般若波羅蜜多時,照見五蘊皆空,度一切苦厄。
Guān zìzài púsà, xíng shēn
bōrě bōluómì duō shí, zhàojiàn wǔyùn jiē kōng, dù yīqiè kǔ è.
Om Terpujilah Yang Mulia Yang Tercerahkan yang telah
mencapai Prajna Paramita (Kebijaksanaan yang sempurna)! Yang Suci Bodhisatwa
Avalokitesvara selagi mempratekkan Kebijaksanaan Agung (Prajnaparamita) melihat
ke dalam 5 agregat (wujud/rupa, perasaan, persepsi/pikiran, kehendak/faktor
mental, kesadaran indera) sebagai kosong (sunyata).
Penjelasan:
Kata-kata awal yaitu Oṃ namo bhagavatyai ārya prajñāpāramitāyai! adalah bentuk penghormatan kepada Bodhisatwa Avalokitesvara sebagai bodhisatwa yang telah mencapai kesucian dan mencapai Prajna Paramita (般若波羅蜜多kebijaksanaan yang sempurna). Prajna (般若) di sini artinya kebijaksanaan. Paramita (波羅蜜多) di sini artinya adalah yang telah mencapai seberang, dalam arti lain sudah sempurna atau mencapai tingkat yang tertinggi.
Selanjutnya disebutkan bahwa pada saat Bodhisatwa Avalokiteswara sedang mempratekkan Prajna Paramita melihat bahwa 5 gugusan/agregat (panca kandha) yang ada dalam diri seorang manusia yaitu Rūpa (色, wujud/bentuk jasmani), Vedanā (受, perasaan), Saṃjñā (想, persepsi/pikiran), Saṃskāra (行, faktor mental/kehendak yang membentuk kebiasaan, keinginan, dan niat), Vijñāna (識, kesadaran indera) ternyata adalah kosong (sunyata) / tidak memiliki inti/esensi. Dalam hal ini lima gugusan/agregat itu adalah yang membentuk seorang manusia sehingga bisa hidup di dunia. Menurut ajaran Buddha, tidak ada yang disebut sebagai roh yang mengisi sebuah badan jasmani. Seorang manusia itu adalah kombinasi dari lima agregat ini. Tanpa adanya lima agregat ini maka tidak ada seorang mahluk hidup yang disebut sebagai manusia. Dan dikatakan di sini bahwa Lima Agregat tersebut adalah kosong. Untuk memahami ini lebih dalam, saya akan menggunakan sebuah contoh. Kita ambil contoh rumah. Sebuah rumah itu apakah ada yang disebut dengan inti rumah/pusat rumah/esensi dari rumah. Rumah itu terdiri dari genteng, tiang pancang, tembok, lantai, dst. Yang manakah dari elemen-elemen itu yang disebut intinya rumah? Apakah temboknya? Apakah gentengnya? Misalkan cuma ada lantai saja, apakah bisa disebut rumah? Kalau ada genteng saja, apakah bisa disebut rumah? Ya, kita tahu bahwa ternyata rumah itu tidak memiliki inti, alias kosong. Rumah itu hanyalah gabungan dari genteng, tiang pancang, tembok, lantai, dst. Kita ambil contoh kedua misalnya sapu lidi. Sapu lidi itu intinya yang mana? Apakah salah satu lidinya ada yang disebut pemilik atau intinya? Apakah tali pengikatnya disebut intinya? Tidak ada. Saat banyak lidi digabungkan dengan menggunakan tali pengikat barulah terbentuk sebuah sapu lidi. Tapi dalam sapu lidi itu tidak ada intinya. Tidak ada pemiliknya. Tidak ada esensinya. Manusia pun sama. Manusia hanyalah kombinasi dari lima agregat (badan jasmani, perasaan, persepsi/pikiran, faktor mental pembentuk, kesadaran indera). Tidak ada inti/esensi dalam diri manusia yang sering disalah mengerti orang sebagai roh. Manusia hanyalah gabungan lima agregat saja. Dan sama seperti contoh rumah dan sapu lidi tadi, manusia itu pada dasarnya juga kosong.
Inti dari pemahaman ini adalah bahwa untuk benar-benar tersadar kita harus benar-benar bisa memahami bahwa dalam diri kita itu tidak ada roh, tidak ada sesuatu yang kekal, tidak ada yang menjadi milik kita, dan segala yang kita kira milik kita itu ternyata adalah kosong, karena semuanya sifatnya hanya sementara saja. Kalau sudah memahami ini, maka kita akan mengerti dan memahami bahwa sebenarnya diri kita itu tidak penting-penting amat. Jadi berhentilah selalu memandang segala sesuatu dengan menganggap kita sebagai intinya/pusatnya.
Iha
śāriputra: rūpaṃ śūnyatā śūnyataiva rūpaṃ;
rūpān na pṛthak śūnyatā śunyatāyā napṛthag
rūpaṃ;
yad rūpaṃ sā śūnyatā; ya śūnyatā tad rūpaṃ.
Evam eva vedanā saṃjñāsaṃskāra vijñānaṃ.
舍利子!色不異空,空不異色;色即是空,空即是色,受想行識亦復如是。
Shèlì zi! Sè bù yì kōng, kōng bù yìsè;
sèjíshìkōng, kōngjíshìsè, shòu xiǎng xíng shí yì fù rúshì.
Sariputra! Wujud adalah kosong, kosong adalah wujud, wujud
tidak terpisah dari kosong, kosong tidak terpisah dari wujud. Begitu juga
Perasaan, Persepsi, Kehendak, Kesadaran.
Penjelasan:
Bodhisatwa Avalokitesvara berkata kepada Sariputra, Wujud itu adalah kosong, dan sebaliknya kosong itu adalah wujud. Perkataan ini mempunyai arti bahwa segala sesuatu yang berwujud itu pada dasarnya kosong. Seperti contoh sebelumnya yaitu rumah, saat komponen-komponen rumah seperti tembok, tiang pancang, pintu, lantai, genteng dipecah satu demi satu, maka sudah tidak ada lagi yang namanya rumah. Ini menunjukkan bahwa tidak ada inti dari rumah tersebut. Begitu juga dengan manusia. Saat agregat-agregat dipisah satu per satu, maka tidak ada lagi yang dinamakan manusia. Itulah yang dinamakan yang berwujud adalah kosong. Begitu pula sebaliknya. Yang kosong itu pun juga berwujud. Saat misalkan beberapa agregat-agregat digabungkan, terbentuklah sesuatu yang sesuai kesepakatan bersama dinamakan sebagai sesuatu yang bernama tertentu. Jadi meskipun kosong itu pun memiliki wujud, yang berarti kosong adalah wujud.
Wujud dan kosong pun tidak terpisah satu sama lain, alias adalah satu kesatuan. Begitu juga 4 agregat lainnya yang seringkali dipahami manusia yang masih mempunyai pandangan salah yang meyakini bahwa adanya roh dalam diri manusia. Saat empat agregat yaitu perasaan, persepsi, kehendak dan kesadaran diurai satu per satu, maka sebenarnya dalam diri manusia itu kosong, tidak ada intinya. Dalam neuro science yang berkembang di akhir abad 20, sudah dibuktikan dalam beberapa paper dan jurnal ilmiah yang mempelajari cara kerja otak. Cara kerja otak manusia persis seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai Panca Kandha, yaitu:
- Saat indera menerima obyek maka ada sistem reseptor sensorik yang menangkap obyek / pengalaman tersebut dan mengirimnya ke thalamus menjadi data untuk otak. Dalam istilah Buddhis ini dinamakan phassa (kontak). Korteks asosiasi & aktivitas saraf memunculkan kesadaran sebagai hasil dari interaksi otak yang memproses informasi. Inilah yang disebut sebagai Vinnnana (Kesadaran).
- Setelah itu, ada Lobus temporal (memori, pengenalan wajah & obyek) yang akan mengenali pengalaman atau obyek berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya dan membandingkannya dengan ingatan. Inilah yang disebut sebagai Sanna (Persepsi/Pikiran).
- Setelah menerima dan mengenali obyek atau pengalaman, maka selanjutnya ada sistem limbik (amigdala, hipotalamus, dll) dalam otak yang menilai pengalaman tersebut bersifat menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral. Inilah yang disebut dengan Vedana (Perasaan).
- Setelah itu, ada korteks prefrontal (pengambilan keputusan, kebiasaan, niat) yang akan mengolah respon, membuat keputusan dan membentuk pola pikir atau keinginan. Ini yang disebut sebagai Sankhara (Kehendak/Formasi Mental).
Hasil temuan ini membuktikan bahwa tidak ada yang namanya entitas terpisah bernama roh dalam diri manusia. Ilmu neuroscience bahkan baru berkembang menjelang akhir abad ke-20, di mana ilmu pengetahuan dalam bidang ini masih tergolong baru. Luar biasanya, Sang Buddha telah menjelaskannya 2500 tahun yang lalu. Dan Neuro Science mulai membuktikan bahwa apa yang diajarkan Sang Buddha ternyata sejalan dengan science. Ini membuktikan bahwa apa yang diajarkan oleh Sang Buddha bukanlah hal-hal mistis melainkan adalah kebenaran sejati yang banyak di antaranya memang sulit untuk dimengerti dan seperti di luar nalar manusia. Tapi dengan ilmu-ilmu science yang sudah semakin maju, satu demi satu, ajaran Sang Buddha yang dulunya terlihat seperti mistis ternyata adalah kebenaran-kebenaran mengenai bagaimana alam dan seisinya ini bekerja.
Iha
śāriputra: sarva-dharmāḥ śūnyatā-lakṣaṇā,
anutpannā aniruddhā, amalā avimalā,anūnā aparipūrṇāḥ.
舍利子!是諸法空相,不生不滅,不垢不淨,不增不減。
Shèlì zi! Shì zhū fǎ kōng xiāng, bù shēng
bùmiè, bù gòu bù jìng, bù zēng bù jiǎn.
Sariputra! Semua
dharma (fenomena) pada hakikatnya bersifat kosong. Tidak muncul/dilahirkan,
tidak lenyap/dimusnahkan, tidak bernoda, tidak murni, tidak bertambah, tidak
berkurang.
Penjelasan:
Bodhisatwa Avalokitesvara berkata kepada Sariputra, segala sesuatu yang ada bersifat kosong. Dalam hal ini dharmah (kata bahasa Sansekerta) bisa memiliki beberapa arti antara lain hukum alam/kebenaran, ajaran Sang Buddha atau fenomena/unsur realitas. Di dalam kalimat ini, secara spesifik, arti dari sarva-dharmah adalah segala sesuatu yang ada atau segala fenomena yang ada di dunia. Jadi kalimat lengkapnya secara lengkap berarti “Segala fenomena di dunia ini bersifat kosong (memiliki ciri-ciri kosong)”. Apa artinya dari kalimat ini? Artinya adalah bahwa segala fenomena/sesuatu termasuk juga peristiwa, kejadian, bahkan juga mahluk hidup itu adalah bersifat kosong (tidak ada inti).
Semua yang ada di dunia ini sifatnya tidak tiba-tiba muncul / dilahirkan (不生) dan tiba-tiba lenyap / dimusnahkan (不滅). Semuanya ada sebab dan agregat-agregat pembentuk. Bukan sekonyong-konyong tidak ada penyebabnya langsung tiba-tiba tercipta, seperti konsep dari kebanyakan pandangan agama-agama Samawi. Semua fenomena dibentuk dari fenomena-fenomena lain. Bahkan seorang manusia pun bisa terlahir ke dunia itu juga tidak mendadak lahir atau muncul tanpa sebab. Kelahiran seorang manusia disebabkan oleh banyak fenomena sebelumnya dan gabungan dari elemen-elemen / agregat-agregat atau gugusan-gugusan. Sebuah bayi bisa terbentuk berkat adanya pembuahan sperma dan sel telur, bukan sekonyong-konyong tiba-tiba muncul dalam rahim seorang perempuan. Sedangkan gugusan-gugusan pembentuk dari seorang manusia yang disebut sebagai panca kandha disebabkan oleh hukum karma dari kehidupan sebelumnya. Segala pikiran, kecenderungan, perbuatan di kehidupan sebelumnya membentuk panca kandha baru saat lahirnya seorang manusia. Semua fenomena-fenomena ini terkadang sulit dijelaskan, tapi pada dasarnya semuanya itu mempunyai sifat yang sama. Ilmu pengetahuan yang semakin maju terkadang bisa mulai membuktikan misteri-misteri dalam alam semesta ini. Tapi dalam kalimat di Sutra Hati ini disebutkan bahwa pada dasarnya semua fenomena itu adalah kosong, semua fenomena yang ada di dunia tidak lain hanyalah perubahan atau hasil dari fenomena-fenomena lain, di mana semuanya itu kalau dibedah atau dipecah-pecah sebenarnya adalah kosong atau tidak mempunyai inti.
Kata-kata berikutnya adalah bahwa segala fenomena itu juga tidak kotor / tercemar (不垢) dan juga tidak bersih (不淨). Ini juga punya pemahaman yang mendalam. Pada dasarnya segala fenomena atau sesuatu berkondisi yang ada di dunia ini hanyalah bentuk kesepakatan-kesepakatan antar manusia. Seperti contohnya : Saat kita memakai baju yang baru dicuci. Baju yang kita kenakan bersih. Bayangkan kita duduk di meja makan. Di meja makan tersebut ada sebuah makanan. Makanan tersebut dicuci bersih sebelum dimasak. Makanan itu kita akan bilang sebagai makanan yang bersih. Tapi sekarang coba kita bayangkan saat makanan yang bersih tersebut menempel ke baju kita yang bersih. Apakah baju bersih yang terkena makanan yang bersih itu masih dibilang sebagai baju yang bersih? Semua orang akan mengatakan bahwa itu adalah baju yang kotor. Kenapa bisa kotor? Bukannya baju dan makanannya sama-sama bersih? Sebenarnya ini adalah bentuk kesepakatan saja yang sudah disepakati manusia. Ini menandakan bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah kesepakatan saja. Ada yang disebut baik, ada juga yang disebut buruk. Ada yang disebut cantik ada yang disebut jelek, ada yang disebut pintar, ada yang disebut bodoh. Semua ini hanyalah persepsi dan kesepakatan saja. Pada dasarnya semuanya itu adalah kosong dan semuanya bisa saja relatif.
Kata-kata terakhir adalah bahwa segala fenomena itu juga tidak bertambah (不增), tidak berkurang (不減). Ini juga memiliki arti yang mirip dengan tidak muncul dan lenyap, di mana segala yang ada di dunia ini tidak tiba-tiba bertambah dan berkurang tanpa sebab. Segala sesuatu dan fenomena di dunia yang berkondisi itu juga sebenarnya sifatnya maya dan sebenarnya hanyalah ilusi. Semua dualitas itu sebenarnya adalah kosong (sunyata). Seperti contoh: saat kita memiliki uang dan uang itu kita kumpulkan, kita akan merasa bahwa kekayaan kita bertambah. Saat ada air di sebuah gelas dan kita tuangkan air lagi ke dalamnya, maka kita akan beranggapan bahwa air tersebut bertambah. Tapi sebenarnya suatu kekayaan itu dianggap bertambah karena kita melekatkan pikiran kita yang meyakini bahwa jumlah uang yang tertera di saldo rekening bank kita itu sebagai milik kita. Saat kita tidak lagi melihat saldo rekening bank tersebut sebagai milik kita, itu sebenarnya hanyalah sebuah fenomena dunia saja yang kebetulan kita termasuk di dalamnya. Contohnya, pada saat kita meninggal, saldo rekening bank atas nama kita itu akan diwariskan ke keturunan kita. Maka di saat itu, istilah bahwa kekayaan yang dibilang bertambah dan berkurang ternyata sudah tidak tepat lagi, karena semua kekayaan itu sudah menjadi milik orang lain. Begitu juga air, kita menyebutnya bertambah, karena kita terikat dengan wadah yang menampungnya yaitu gelas. Tapi coba kita lepaskan keterikatan kita pada wadah yang menampung air tersebut. Kita tidak pernah mengatakan air sungai atau air laut itu bertambah dan berkurang walaupun sebenarnya volume air itu berubah terus setiap waktu karena ada penguapan, perpindahan (dari sungai, dll) secara terus menerus. Tanpa menempelkan jumlah saldo rekening bank sebagai milik kita dan jumlah air dalam gelas sebagai pengukur maka sebetulnya tidak ada yang benar-benar bertambah dan berkurang. Semua hanya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Kekayaan dan air itu sendiri saat kita urai gugusan pembentuknya, maka sebenarnya juga tidak ada inti yang bisa dibilang bertambah atau berkurang. Keduanya terlihat bertambah dan berkurang saat kita tempelkan ini milikku ini milikmu, tapi pada dasarnya sebenarnya baik kekayaan dan air itu tidak memiliki inti yang kekal. Inilah yang disebut kosong atau sunyata. Dan pada dasarnya segala hal yang berkondisi itu juga sangat relatif. Contoh: Saat kita berulang tahun, ada yang beranggapan bahwa umur kita berkurang, karena kita dianggap semakin mendekati kematian. Tapi di sisi lain, ada orang yang beranggapan bahwa saat berulang tahun maka umur kita bertambah. Inilah persepsi-persepsi dari manusia terhadap segala hal yang berkondisi.
Tasmāc
shāriputra śūnyatayāṃ na rūpaṃ
na vedanā na saṃjñā na saṃskārāḥ
navijñānam. Na cakṣuḥ-śrotra-ghrāna-jihvā-kāya-manāṃsi.
na rūpa-śabda-gandha- rasa-spraṣṭavaya-dharmāh. Na cakṣūr-dhātur.
Yāvan na manovijñāna-dhātuḥ. Na-avidyā na-avidyā-kṣayo.
Yāvan na jarā-maraṇam na jarā-maraṇa-kṣayo.
Na duhkha-samudaya-nirodha-margā. Na jñānam, na prāptir na-aprāptiḥ.
是故,空中無色,無受想行識;無眼耳鼻舌身意;無色聲香味觸法;無眼界,乃至無意識界;無無明,亦無無明盡,乃至無老死,亦無老死盡;無苦集滅道;無智亦無得。以無所得
Shì gù, kōngzhōng wúsè, wú shòu xiǎng
xíng shí; wú yǎn ěrbí shé shēn yì; wúsè shēng xiāngwèi chù fǎ, Wú yǎnjiè,
nǎizhì wúyìshí jiè; wú wúmíng, yì wú wúmíng jǐn, nǎizhì wú lǎosǐ, yì wú lǎosǐ
jǐn. Wú kǔ jí miè dào; wú zhì yì wú dé. Yǐ wú suǒdé
Karena itu, Sariputra, dalam kekosongan tidak ada
wujud/rupa, tidak ada perasaan, tidak ada persepsi/pikiran, tidak ada kehendak,
tidak ada kesadaran. Tidak ada mata, tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak
ada lidah, tidak ada tubuh, tidak ada pikiran. Tidak ada wujud, tidak ada
suara, tidak ada bau, tidak ada rasa, tidak ada sentuhan, tidak ada fenomena
mental. Tidak ada indera penglihatan. Sampai pada tidak adanya kesadaran pikiran.
Tidak ada kebodohan batin, tidak ada lenyapnya kebodohan batin. Sampai pada
tidak adanya penuaan dan kematian dan lenyapnya penuaan dan kematian. Tidak ada
penderitaan, tidak ada sebab penderitaan, tidak ada lenyapnya penderitaan,
tidak ada jalan menuju lenyapnya penderitaan. Tidak ada kebijaksanaan, tidak
ada pencapaian, tidak ada ketidak pencapaian.
Penjelasan:
Bodhisatwa Avalokiteswara berkata kepada Sariputra bahwa dalam kekosongan itu tidak ada panca kandha, yaitu rupa/wujud, perasaan, persepsi/pikiran, kehendak dan kesadaran. Bila sudah memahami kekosongan, maka telah memahami bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah ilusi saja dan bersifat tidak kekal. Pada dasarnya semua yang berkondisi itu adalah tidak kekal. Orang yang sudah memahami kekosongan, maka tidak akan terjebak dalam panca kandha. Saat memahami panca kandha adalah kosong, maka segala indera juga pada dasarnya juga kosong. 6 Indera manusia tetaplah berfungsi dan berjalan, tapi orang yang telah tersadar hanya mengamatinya tapi tidak pernah melekat apalagi terhanyut olehnya. Maka dikatakan bila panca kandha seperti tiada, maka seolah-olah indera pun juga tiada. Dengan begitu maka tidak akan timbul kebodohan batin (moha) yang menurut Paticca Samupadda menjadi awal mula segala kekotoran batin manusia, bila sudah tidak ada kebodohan batin, maka juga tidak dikenal istilah lenyapnya kebodohan batin, tidak ada pandangan-pandangan yang salah, maka juga tidak akan muncul keserakahan (loba), kemarahan (dosa) sehingga orang yang tidak punya moha, loba dan dosa, akan terbebas yang namanya dukkha (penderitaan). Bila sudah tidak ada dukkha (penderitaan), maka juga tidak diperlukan lagi 4 Kebenaran Mulia yaitu adanya dukkha, penyebab dari dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Bila sudah tidak ada moha, loba dan dosa, maka juga tidak akan ada lagi ikatan dan kemelekatan kepada dunia ini yang menyebabkan karma, sehingga tidak akan terlahir kembali sehingga sampai harus mengalami penuaan dan kematian. Kalau tidak ada penuaan dan kematian, secara otomatis juga tidak perlu ada lenyapnya penuaan dan kematian. Jika sudah memahami kekosongan ini, maka seseorang telah melepas segala sesuatu dan mencapai nibanna, di mana itu disebut dengan istilah telah mencapai seberang. Dalam pemahaman yang lebih dalam lagi, disebutkan juga bahwa untuk mencapai seberang, itu sebenarnya bukanlah proses mendapatkan, mengejar atau memperoleh sesuatu. Proses mencapai kesadaran yang sempurna hingga Nibanna itu bukanlah proses mencapai tingkatan tertentu atau mendapatkan gelar tertentu di sebuah alam, melainkan justru lepasnya diri ini dari semua ikatan-ikatan, termasuk juga kebijaksanaan itu sendiri. Melepaskan segala sesuatu di dunia ini karena menyadari bahwa semua itu adalah kosong. Dalam proses tersebut juga tidak bisa dibilang sebagai sebuah pencapaian dalam artian mengejar atau mendapatkan sesuatu. Juga tidak bisa dikatakan gagal mencapai, karena memang tidak ada yang ingin dikejar atau didapatkan, karena prinsip dasarnya di sini adalah melepaskan.Inilah yang disebut tiada kebijaksanaan, tiada pencapaian dan tiada ketidak pencapaian.
Tasmāc
chāriputraaprāptitvād bodhisattvasya prajñāpāramitām āśrityaviharatyacittāvaraṇaḥ.
Cittāvaraṇa-nāstitvād atrastro
viparyāsa-atikrānto niṣṭhā-nirvāṇa-prāptaḥ.
故,菩提薩埵。依般若波羅蜜多故,心無罣礙;無罣礙故,無有恐怖,遠離顛倒夢想,究竟涅槃。
Gù, pútí sà duǒ. Yī bōrě bōluómì duō gù,
xīn wú guà ài; wú guà ài gù, wú yǒu kǒngbù, yuǎnlí diāndǎo mèngxiǎng, jiùjìng
nièpán.
Oleh karena
itu, Sariputra, karena tiada sesuatu yang diperoleh, seorang Bodhisatwa, dengan
berlandaskan pada Parjna Paramita. Hidup tanpa adanya rintangan batin. Karena
tidak ada rintangan batin, maka tiada ketakutan, karena telah melampaui kesalahan
persepsi/pandangan dan telah mencapai Nirvana yang akhir.
Penjelasan:
Bodhisatwa Avalokiteswara berkata kepada Sariputra, Oleh karena tidak ada sesuatu yang didapatkan atau diperoleh atau dicapai, maka seorang Bodhisatwa itu hanyalah berlandaskan pada kebijaksanaan yang sudah sempurna dan hidup dengan tanpa adanya gangguan-gangguan atau rintangan-rintangan batin yang mengganggu pikiran. Seorang Bodhisatwa tidak akan punya kekotoran batin yang membuatnya menjadi melekat. Karena tidak ada yang dilekati dan digandrungi di dunia ini, maka seorang Bodhisatwa benar-benar telah terlepas dari semua yang ada di dunia ini. Segala sesuatu di dunia ini terlihat jelas oleh seorang Bodhisatwa, sehingga dalam batin mereka sama sekali tidak ada ketakutan ataupun keragu-raguan sedikitpun, tidak ada kerisauan, tidak ada hal yang masih dipikirkan. Kebijaksanaannya telah menembus segala persepsi pandangan yang salah, karena telah memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat kosong. Karena telah menyadari semua itu, mereka telah tersadar sempurna atau disebut nibanna.
Tryadhva-vyavasthitāḥ
sarva-buddhāḥ prajñāpāramitām āśrityā-anuttarāṃsamyaksambodhim
abhisambuddhāḥ.
三世諸佛,依般若波羅蜜多故,得阿耨多羅三藐三菩提。
Sānshì zhū fú, yī bōrě bōluómì duō gù, dé
ā nòu duō luó sān miǎo sān pútí.
Semua
Buddha di Tiga masa (masa lalu, masa kini, masa depan), dengan berlandaskan
prajna paramita, telah sepenuhnya tercerahkan dan mencapai tingkat yang tidak
terbandingkan.
Penjelasan:
Semua Buddha baik yang lahir di berapa ratus ribu kalpa yang lalu (masa lalu), sampai dengan Buddha Sakyamuni (masa kini) maupun Buddha-buddha yang akan datang (masa depan) semuanya bersandar dan berpedoman pada Parjna Paramita sehingga telah tersadar secara sempurna. Kebijaksanaannya telah sempurna sehingga disebut mencapai tingkat yang tiada bandingannya lagi.
Tasmāj
jñātavyam: prajñāpāramitā mahā-mantro mahā-vidyā mantro 'nuttara-mantro
samasama-mantraḥ, sarva duḥkha
praśamanaḥ, satyam amithyatāt.
Prajñāpāramitāyām ukto mantraḥ
故知:般若波羅蜜多是大神咒,是大明咒,是無上咒,是無等等咒,能除一切苦,真實不虛。
Gùzhī: Bōrě bōluómì duō shì dàshén zhòu,
shì dàmíng zhòu, shì wú shàng zhòu, shì wú děng děng zhòu, néng chú yīqiè kǔ,
zhēnshí bù xū.
Oleh
karena itu, ketahuilah bahwa Prajna Paramita merupakan mantra agung, mantra
pengetahuan agung, mantra tertinggi, mantra tiada bandingan yang dapat
menghilangkan segala penderitaan (dukkha), yang merupakan kebenaran mutlak, bukan
kepalsuan, dan merupakan mantra kebijaksanaan yang sempurna.
Penjelasan:
Kalimat ini memberi penegasan bahwa sutra prajna paramita ini adalah sebuah mantra yang sungguh luar biasa, sungguh mulia, sungguh agung karena berisi pengetahuan yang sempurna yang merupakan sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Memahami sutra ini, maka akan mempunyai kebijaksanaan yang sempurna, dan secara otomatis akan bisa menghilangkan segala bentuk penderitaan. Inilah adalah kebenaran yang mutlak.
Tadyathā:
gate gate pāragate pārasaṃgate bodhi svāhā. Itiprajñāpāramitā-hṛdayam
samāptam
故說般若波羅蜜多咒,即說咒曰:揭諦揭諦,波羅揭諦,波羅僧揭諦,菩提薩婆訶。
Gù shuō bōrě bōluómì duō zhòu, jí shuō
zhòu yuē: Jiē dì jiē dì, bō luó jiē dì, bō luó sēng jiē dì, pútí sà pó hē.
Begini
adanya, Pergilah. Pergilah. Pergi ke seberang. Pergi sepenuhnya ke seberang,
mencapai pencerahan. Jadilah demikian. Demikian akhir dari Sutra Prajna
Paramita. Selesai
Penjelasan:
Kalimat penutup dari sutra ini memberikan semacam dorongan agar kita bisa mencapai seberang (mencapai kesadaran yang sempurna) sehingga tercerahkan secara sempurna dan mencapai nibanna. Kata-kata svāhā ini memiliki arti “terpujilah” atau “jadilah demikian”, semacam ungkapan agar apa yang diucapkan terwujud. Dan dengan kalimat ini sutra berakhir.
Komentar