Apakah Yiguandao itu Agama Buddha?
![]() |
Vihara Yiguandao Grup Baoguang di Taiwan |
Pada postingan ini, saya akan mencoba untuk membahas secara detail mengenai ini. Sebagai mantan penganut Yiguandao, sejujurnya selama 30 tahun lebih saya berkecimpung di sana, saya pribadi dulu juga selalu merasa diri saya sebagai salah satu umat agama Buddha. Jadi saya dulu merasa bahwa Yiguandao itu adalah salah satu aliran agama Buddha. Di masa itu saya hanya melihat segala sesuatu dari satu sudut pandang, yaitu sudut pandang yang didasarkan pada ceramah-ceramah yang diajarkan di fotang Yiguandao. Saya waktu itu tidak mengenal sedikitpun ajaran agama Buddha dan tidak mengetahui sejarah dan asal-usul Yiguandao ataupun Agama Buddha sama sekali. Tapi karena, dalam beberapa tahun terakhir, saya membaca banyak sekali kitab-kitab Yiguandao, kitab-kitab agama Buddha, mendengarkan kotbah-kotbah dharma dari agama Buddha, serta membaca buku-buku sejarah akademis, maka saya akan membagikan pandangan baru saya sebagai orang yang telah melihat semuanya dari berbagai sudut pandang.
Kontroversi yang sering terjadi di forum, sosial media maupun platform-platform online adalah pandangan para umat Yiguandao yang seringkali menganggap diri mereka sebagai salah satu aliran agama Buddha. Ini dapat anda lihat contoh-contohnya pada link-link berikut: [1][2][3][4][5] Dan, seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa saya pribadi dulu juga berkeyakinan bahwa saya adalah umat Buddha saat masih aktif di Yiguandao. Dulu saya beranggapan bahwa Yiguandao adalah salah satu aliran agama Buddha. Keyakinan saya waktu itu adalah Yiguandao ini bukan agama Buddha biasa, melainkan Inti dari agama Buddha itu sendiri atau bisa dibilang sebagai versi yang lebih tinggi, lebih suci dan lebih agung, karena memiliki Tao sebagai pembeda. Dulu, saya selalu punya pandangan bahwa umat-umat Yiguandao mempunyai tingkat kesucian yang lebih tinggi dibandingkan umat-umat agama lainnya. Sedangkan dalam hal ajaran-ajaran, saya juga selalu berkeyakinan bahwa ajaran Yiguandao sama persis dengan ajaran agama Buddha, walaupun di masa itu saya hampir tidak pernah membaca ataupun mendengarkan dharma-dharma ajaran dari agama Buddha sama sekali. Hal ini bertahun-tahun saya yakini, karena sejujurnya dulu saya memang jarang sekali tersentuh dan tidak tertarik dengan ajaran Buddha. Ajaran-ajaran agama Buddha di era sebelum Youtube memang tidak terlalu mudah ditemukan. Selain karena buku-buku agama Buddha yang sangat sulit sekali ditemukan, di masa itu belum ada platform-platform video seperti youtube, tiktok dan platform lain-lainnya. Maka tidak heran kalau satu-satunya ajaran yang saya anggap sebagai ajaran Buddha adalah ajaran-ajaran yang dikotbahkan di fotang Yiguandao. Bahkan pada masa Youtube mulai menjadi gaya hidup orang sekitar 10 tahun lalu, saya pun juga belum punya keinginan untuk menonton video-video dharma dari ajaran agama Buddha, karena saat itu saya masih berkeyakinan bahwa ajaran Yiguandao itu tingkatnya lebih tinggi dibandingkan ajaran agama Buddha di vihara-vihara aliran Theravada maupun Mahayana.
Tulisan saya berikut ini akan mengungkap pengalaman dan sudut pandang saya setelah mulai mengenal ajaran-ajaran Buddha dari buku, website, youtube, tiktok dan platform-platform lain selama beberapa tahun terakhir.
Mengaku Sebagai Agama Buddha tapi Ajarannya Bukan Ajaran Sang Buddha
Hal yang paling mengagetkan saya selama proses membaca dan mendengar kotbah-kotbah dari agama Buddha adalah betapa berbedanya ajaran yang diajarkan oleh praktisi agama Buddha dengan apa yang diajarkan di fotang Yiguandao. Di Yiguandao, kita selalu diajarkan bahwa sebagai umat Yiguandao haruslah memegang seuntai benang emas yang merupakan Firman Tuhan yang diturunkan secara turun temurun, mulai dari satu guru ke satu murid sampai dengan yang terakhir adalah adalah Maha Guru ke-18, yaitu Zhang Tianran dan Sun Suzhen. Bila silsilah Maha Guru ini ditarik ke belakang, maka di pancaran Merah, Firman Tuhan ini bersumber pada Buddha Siddharta Gautama (Sakyamuni). Tapi, yang mengherankan, walaupun secara silsilah, dikatakan bahwa Yiguandao ini bersumber pada Sakyamuni, inti ajarannya tidak pernah mengacu pada apa yang tertulis tertulis di Tripitaka maupun sutra-sutra Mahayana. Ada satu kitab Mahayana yang saya tahu digunakan di fotang saya dulu yaitu Sutra Hati (心經), tapi itu pun biasanya hanya dibaca saja setiap tgl 1 dan 15 imlek bersamaan dengan parita-parita Yiguandao seperti Mile Zhenjing (彌勒真經). Isi dari sutra hati yang begitu dalam pun hampir tidak pernah dijelaskan di fotang. Saya hanya pernah mendengar ceramah penjelasan mengenai Sutra Hati ini 1x saja selama 30 tahun aktif di fotang. Itu pun penjelasannya sangat jauh berbeda dengan penjelasan di semua buku, internet, bikkhu-bikkhu, ataupun AI sekalipun. Yiguandao benar-benar punya penafsiran yang jauh berbeda (Anda bisa membaca penafsirannya di postingan saya sebelumnya, Bagian 14 No 12).
![]() |
Silsilah Patriark Yiguandao yang sumbernya dari Buddha Sakyamuni. Mahakasyapa adalah murid dari Sang Buddha dan menjadi patriark pertama |
![]() |
Silsilah Patriark yang terakhir |
Di Yiguandao sendiri, umat-umatnya tidak pernah dianjurkan untuk belajar Tripitaka, dan bahkan ada larangan bagi umat-umat untuk beribadah atau belajar ke vihara-vihara agama Buddha. Bila sampai dilakukan, dikatakan secara otomatis benang emasnya akan terputus dan tidak dapat kembali ke surga saat meninggal nanti. Ini adalah hal yang bagi saya sangat aneh. Yiguandao mengaku sebagai ajaran Buddha, tapi malah sama sekali tidak ingin umatnya mendalami ajaran Buddha dari kalangan yang jelas2 lebih lama mempelajari dan mempraktekkan ajaran Buddha.
Dan setelah saya mulai mengenal ajaran-ajaran Buddha, kekagetan lain yang saya rasakan adalah bahwa seluruh inti dari ajaran-ajaran Sang Buddha ternyata sama sekali tidak ada di Yiguandao. Inti-inti ajaran yang penting seperti Jalur Mulia Berunsur Delapan, Empat Kebenaran Mulia, Pattica Sammupada, Konsep Anicca, Anatta sama sekali tidak ada di Yiguandao. Padahal itu semua adalah inti dari ajaran Sang Buddha yang sangat penting. Selain itu, hampir semua dharma seperti penjelasan mengenai hukum karma, alam-alam kehidupan, konsep pencipta, kosmologi alam semesta, dan masih banyak yang lainnya juga diajarkan sangat berbeda dengan apa yang diajarkan dalam agama Buddha (Perbedaan-perbedaan ini sudah saya bahas di bab sebelumnya, Bagian 14). Yiguandao sendiri mengaku sebagai agama Buddha. Tapi kenapa ajaran-ajarannya sangat berbeda bahkan bertentangan dengan ajaran-ajaran Buddha. Yiguandao sendiri sering mengklaim diri sebagai ajaran yang paling sejati, paling benar tapi kenapa kok malah terkesan secara sistematis melarang umat-umatnya untuk mempelajari ajaran2 Buddha yang asli?
Banyak orang yang bilang bahwa Sutra Buddhis itu sangatlah banyak dan isi ajarannya sangat luas, artinya pun sangat dalam. Tapi selama 30 tahun saya mengikuti kelas-kelas di Yiguandao, jujur saya tidak merasakan ajaran Buddha begitu luas dan mendalam. Ceramah-ceramah di fotang Yiguandao biasanya isinya hanya berputar-putar saja di tema keadaan yang genting karena bencana akhir zaman, pentingnya menggengam Tao dan Benang Emas, bagaimana besarnya pengorbanan para pendahulu, pentingnya menyelesaikan ikrar, dan apa tanggung jawab kita sebagai pembina pancaran putih. Hampir tidak ada tema-tema mendalam seperti bagaimana cara mengatasi kekotoran batin, bagaimana meningkatkan batin dan kebijaksanaan, bagaimana meningkatkan welas asih, bagaimana menghilangkan ego/keakuan, penjelasan detail mengenai alam-alam kehidupan, bagaimana proses dan batin manusia bekerja, bagaimana proses sebab akibat yang dimulai dari pikiran manusia sampai bisa menyebabkan tumimbal lahir, apa saja tingkatan bodhisatwa, tingkat-tingkat kesucian, tingkat-tingkat kebuddhaan, penjelasan secara detail mengenai sebab penderitaan dan cara menghilangkannya, bagaimana alam semesta ini bekerja, sejarah secara detail mengenai asal usul ajaran Yiguandao, riwayat-riwayat agama dan para patriark pemimpinnya selain patriark ke-17 dan ke-18, penjelasan detail mengenai bagaimana hukum karma bekerja, apa yang dimaksud dengan kosong adalah isi / isi adalah kosong, dan masih banyak lagi lainnya. Yang biasanya diceramahkan biasanya hanyalah tuntutan untuk mempunyai hati yang suci dan dilarang untuk berbuat ini dan itu, tapi bagaimana caranya tidak pernah ada penjelasannya sama sekali. Bahkan beberapa kali saat ada tema ceramah yang judulnya adalah penjelasan kitab-kitab Buddhis seperti kitab Sutra Hati, Sutra Intan, dan kitab-kitab lainnya, alih-alih menjelaskan isinya secara apa adanya, isi ceramahnya malah cocoklogi dan selalu dikaitkan dengan topik-topik seperti keadaan genting akhir zaman, hubungannya dengan satu titik (pintu suci), menghargai jerih payah pendahulu, sehingga ujung-ujungnya biasanya kita hanya selalu didorong untuk cepat-cepat melintasi umat, rajin ke vihara demi menyelesaikan ikrar tanpa memahami apapun.
Dulu, saya selalu bertanya-tanya, kenapa Yiguandao ini selalu melarang umat-umatnya untuk belajar agama Buddha dan tidak menyarankan umat-umatnya untuk membaca kitab-kitab agama Buddha. Ternyata ini sudah tertuang dalam kitab resmi ciptaan Yiguandao yang dibuat oleh Zhang Tianran, yaitu dalam Kitab Uraian Metafisika / Penjelasan dari Jawaban pada Kebenaran (性理題釋), tepatnya di Bab 66. Isinya sebagai berikut:
六六、諸經中哪部最好可看?Bab 66. Kitab Suci mana yang terbaik untuk dibaca?看經原為求法,既已得法,即不看經亦無妨礙。只要守著這一點性靈,即是一部無字真經。況且佛經,總共五千四十八卷,一日看一卷,十五年才看完,日月如梭,那有這大功夫?然而,也不可不看,但看經需要依經行,方才有益無損。如學、庸、論、孟、金剛經、法寶壇經、清靜經等,皆能大開智慧,可以參看。Tujuan awal dari membaca kitab suci adalah untuk mencari Dharma (Tao), dan setelah seseorang mencapai Dharma, tidak ada salahnya untuk tidak membaca kitab suci. Selama seseorang menjaga satu titik suci, yang merupakan kitab suci sejati tanpa kata-kata. Apalagi, ada 5.448 jilid secara keseluruhan dalam kitab suci Buddha, jadi jika kita membaca satu jilid sehari, maka akan membutuhkan waktu 15 tahun untuk membaca semuanya, dan hari serta bulan akan berlalu begitu saja. Namun demikian, kita juga bukan berarti kita berhenti membaca kitab suci, tetapi kita juga harus menjalankan seperti yang diajarkan di kitab suci, barulah dapat mendapatkan manfaat darinya. Seperti contoh kitab, 大學 Daxue,中庸ZhongYong, 論 The Analect, 孟Kitab Mengzi, 金剛經Sutra Vajracchedika (Jingangjing), , 法寶壇經 Sutra Altar dari Patriarkh Keenam, 清靜經Qing jingjing dan lain-lain, semua dapat membuka kebijaksanaan dengan sangat baik, sehingga Anda dapat membacanya.
Dari bab ini, secara jelas tertulis bahwa umat Yiguandao memang tidak disarankan untuk membaca kitab agama Buddha, karena terlalu banyak dan panjang. Yang lebih disarankan adalah berfokus pada satu titik suci saja. Kalaupun memang ingin membuka kebijaksanaan disarankan membaca kitab-kitab yang lebih pendek seperti yang disebutkan di atas seperti 大學 Daxue, 中庸ZhongYong, 論 The Analect, 孟Kitab Mengzi, 金剛經Sutra Vajracchedika (Jingangjing), 法寶壇經 Sutra Altar dari Patriarkh Keenam, 清靜經 Qing jingjing. Inilah dasar kenapa Yiguandao sama sekali tidak mengenal ajaran dari Sang Buddha, memang karena secara sistematis, pimpinan tertingginya tidak menyarankan pengikut Yiguandao untuk membacanya. Dari sini kita dapat melihat, walaupun Yiguandao banyak mengambil istilah-istilah dan sosok-sosok Buddha dalam Buddhisme, ternyata mereka sama sekali tidak mengenal ajaran-ajaran Sang Buddha atau bahkan cenderung mengabaikan atau menghindarinya.
Benarkah Ajaran Yiguandao sebelum Masa Pancaran Putih adalah ajaran Buddha Sakyamuni?
Selanjutnya coba kita pelajari lebih dalam mengenai kata-kata yang juga sering sekali diucapkan oleh para senior Yiguandao, yaitu Masa Buddha Gautama sudah lewat dan digantikan oleh Buddha Maitreya. Ada dua versi penjelasan dari kelompok-kelompok Yiguandao. Versi pertama adalah bahwa Masa Pancaran Putih itu dimulai di era Republik Tiongkok terbentuk (1912), sedangkan versi yang kedua adalah pada tahun 1905 yaitu sejak Lu Zhongyi mengambil alih kepemimpinan Yiguandao. Saya tidak akan mempermasalahkan kapan masa pancaran putih dimulai. Anggap saja salah satunya benar. Baik masa pancaran putih dimulai di tahun 1905 ataupun tahun 1912, yang kita setujui bersama adalah bahwa di era sebelum Lu Zhongyi itu masih pancaran merah.
Tapi kalau coba kita crosscek dan pelajari dari buku-buku mengenai klaim ini. Benarkah kelompok yang menjadi nenek moyang Yiguandao di masa pancaran merah berpedoman pada ajaran-ajaran pemimpin kuasa alamnya (Buddha Sakyamuni)? Apakah kelompok-kelompok di masa kepemimpinan patriark maha guru ke-16 dan maha guru-maha guru sebelumnya itu menganut ajaran dari Buddha Sakyamuni? Setelah saya baca beberapa buku akademis, diketahui bahwa ternyata ajaran-ajaran kelompok yang dipimpin oleh patriark/maha guru ke-8 sampai ke-16 itu juga sama sekali tidak pernah berpatokan pada Tripitaka ataupun sutra-sutra Mahayana. Jadi saya sendiri bingung dengan teori Yiguandao yang menyebutkan bahwa Pemimpin Masa Pancaran Merah adalah Buddha Sakyamuni, tapi mereka di masa itu juga sama sekali tidak pernah berpatokan pada ajaran-ajaran yang disampaikan pemimpin kuasa alamnya. Dari bukti-bukti sejarah yang ditemukan, kelompok Xiantiandao dan kelompok Luoisme yang menjadi cikal bakal Yiguandao di masa itu malah berpatokan pada kitab-kitab sektarian seperti Wubuliuce (五部六册) / Lima Kitab dalam Enam Jilid, Jiulianjing / Sutra Teratai Berdaun Sembilan (九蓮經) , Longhua Jing / Kitab Bunga Naga (龍華經) , Liben (禮本), Yuanchan (愿懺), Gongguoge (功過格), Yuhuang Xinyin Jing (玉皇心印經), Poxie Zhongzhi (破邪宗旨), Bazi Jueyuan (八字覺源) sebagai pedoman ajaran utamanya, dan bukan pada Tripitaka ataupun sutra-sutra Mahayana. Isi ajarannya di masa itu kurang lebih sama dengan ajaran Yiguandao saat ini, seperti inisiasi tiga mustika, pemujaan pada Lao Mu, konsep alam Li Tian, tiga masa pancaran, akan datangnya bencana akhir zaman, eskatologi dunia di mana manusia baru hidup 60.000 tahun, dst. Jadi walaupun dibilang sebelum era Lu Zhongyi, dikatakan sebagai pancaran merah dan pemimpin kuasa alam yang berkuasa saat itu adalah Buddha Sakyamuni, ternyata terbukti bahwa kelompok-kelompok yang dipimpin oleh maha guru-maha guru waktu itu tidak ada satupun yang mengikuti dan berpedoman pada ajaran-ajaran Buddha Sakyamuni sebagai pemimpin kuasa alamnya. Kalau sudah begini, masih bisakah dikatakan bahwa Yiguandao ini adalah ajaran agama Buddha kalau sumber ajarannya sendiri tidak pernah bersumber pada ucapan-ucapan Buddha yang asli yang tercatat di tripitaka?
Jadi cukup jelas di sini, bahwa Yiguandao dan kelompok-kelompok nenek moyangnya itu memang hanya menggunakan sosok Sakyamuni dan menciptakan kesan seolah-olah ajaran kelompok mereka berasal dari Sang Buddha, tapi pada kenyataannya tidak ada satupun ajaran Sakyamuni yang dipakai dalam praktik keagamaan mereka. Mereka lebih memilih untuk berpedoman pada kitab-kitab sektarian yang beberapa di antaranya tidak jelas siapa pembuatnya dan itu semua jelas bukanlah kitab yang ditulis oleh praktisi Buddhisme. Hal inilah yang menjawab pertanyaan mengapa ada begitu banyak perbedaan pandangan dan ajaran antara Yiguandao dengan agama Buddha seperti yang saya bahas di bab sebelumnya (Bagian 14).
Klaim sebagai salah satu turunan atau aliran dari Buddhisme Mahayana di Tiongkok
Salah satu kelompok pecahan dari Yiguandao, yaitu Miledadao berusaha keras untuk membentuk image bahwa agama mereka adalah salah satu cabang atau salah satu aliran dari Agama Buddha Mahayana. Contohnya adalah video-video di youtube dalam link ini: Tokoh Besar Aliran Maitreya dari Zaman Buddha Sampai Zaman Modern #DHM #010.
Dalam penjelasan mereka, dinarasikan seolah-olah bahwa sejak zaman dahulu sudah ada aliran Maitreya yang menjadi cikal bakal dari Yiguandao dan Miledadao. Dalam semua slide yang dijelaskan, mereka menyebut Fu Dashi, Xuan Zhang, Guru Yizhong, Guru Gui Yu, Taixu sebagai tokoh-tokoh aliran Maitreya. Pada kenyataannya, semua biksu-biksu tersebut memang mempunyai keyakinan terhadap Bodhisatwa Maitreya, tapi perlu diingat mereka semua adalah penganut Buddhisme Mahayana dan tidak mendirikan sekte aliran Maitreya. Aliran-aliran yang mereka dirikan adalah aliran Buddhisme seperti Yogacara, Tiantai, Huayan, Buddhisme Humanistik, yang masih mengacu pada ajaran-ajaran Buddha Sakyamuni. Mereka memang adalah tokoh-tokoh yang bercita-cita untuk bisa terlahir kembali ke Surga Tushita, tempat Maitreya berada, tapi mereka masih berpedoman pada semua ajaran Buddha Sakyamuni yang ada pada tripitaka dan sutra-sutra Mahayana sebagai dasar utamanya. Tidak ada satupun dari aliran-aliran tokoh-tokoh tersebut yang mengajarkan ajaran-ajaran yang diyakini oleh Yiguandao maupun Miledadao sekarang, seperti adanya Laomu, titik suci yang bernama Tao, 3 masa pancaran, ritual pembukaan pintu suci, dll. Khusus untuk Fu Dashi saya menemukan bahwa di masa beliau, memang ada catatan sejarah yang menyebutkan bahwa ada sekte Maitreya (彌勒教) yang mengikuti ajaran beliau, Tapi pada faktanya beberapa tahun setelah Fu Dashi meninggal, terjadi pemberontakan dari sekte Maitreya tersebut. Itulah masa-masa paling awal terbentuknya aliran Maitreyanisme yang punya image negatif dan selalu dilarang di berbagai dinasti karena riwayat sejarahnya yang sering melakukan kekacauan. Dari hasil penelitian akademis,.aliran Maitreya yang ada dalam sejarah adalah kelompok-kelompok Maitreyanisme / Sekte Maitreya yang dijelaskan dalam link ini, yaitu kelompok agama yang banyak membuat kekacauan dan pemberontakan untuk menggulingkan pemerintah selama berabad-abad. Sementara nenek moyang Yiguandao adalah Luoisme / Luojiao (羅教) . Dalam hampir semua buku literatur, Luoisme, Maitreyanisme dan Sekte Teratai Putih dianggap adalah kelompok yang berbeda, walaupun ketiga sekte tersebut memiliki kesamaan inti ajaran yaitu sama-sama melakukan pemujaan pada Laomu sebagai dewa tertinggi, melakukan praktik inisiasi 3 mustika suci, mempunyai keyakinan pada teori 3 masa pancaran dan bencana akhir zaman, keyakinan Buddha Maitreya telah turun ke dunia dan mempraktikkan vegetarian yang ketat. Perbedaan label pada 3 kelompok tersebut didasarkan pada ciri-ciri, karakteristik, struktur silsilah, pedoman kitab suci dan motivasi pergerakannya. Ada kemungkinan kelompok-kelompok tersebut memang berbeda, tapi tidak menutup kemungkinan juga mereka adalah kelompok-kelompok yang sama dengan pemimpin yang berbeda-beda karena memang berpedoman pada satu ajaran yang sama atau paling tidak saling mempengaruhi satu sama lain.
Jelas di sini, walaupun kelompok Yiguandao dan Miledadao berusaha keras membangun versi sejarah yang berbeda untuk disampaikan kepada para umatnya, tapi tanpa disertai bukti-bukti yang kuat berupa buku ataupun jurnal berdasarkan hasil penelitian akademis yang diterbitkan penerbit yang terpercaya, maka itu tidak lebih hanyalah sekedar klaim yang tidak berdasar.
Fenomena pertentangan dan perdebatan antara umat Yiguandao dan umat
Buddhisme di media sosial dan internet
Walaupun para pemimpin Yiguandao saat ini sudah berusaha
sebisa mungkin me-menghimbau umat-umatnya untuk tidak mempelajari ajaran agama
Buddha, tentunya masih ada cukup banyak umat Yiguandao yang menonton video-video
dharma dari agama Buddha di platform internet seperti youtube dan tiktok. Ini tidak bisa disalahkan juga. Karena di kalangan fotang
saya sendiri dulu (termasuk saya sendiri) umat-umatnya memang merasa bahwa
mereka adalah bagian dari umat agama Buddha juga. Jadi walaupun dilarang oleh dianchuanshi
mengikuti ajaran-ajaran Buddhisme, tapi banyak dari mereka yang terkadang
menonton video-video mengenai ajaran Buddha di internet. Akibatnya, saya banyak
sekali menemukan umat-umat Yiguandao yang mengisi komentar dari video-video ceramah
Buddhisme dan menyatakan bahwa teori yang benar adalah teori tertentu (berdasarkan ajaran di fotang) yang seringkali memang berlawanan dengan ajaran Sang Buddha. Tentu saja komentar seperti itu memancing
perdebatan, karena memang ada perbedaan ajaran yang sangat besar di antara
keduanya (Perbedaan ajaran sudah saya bahas secara detail di bagian 14). Hal ini tidak akan terjadi, kalau saja semua umat Yiguandao mau
mengikuti perintah pemimpinnya yaitu menjauhi dan tidak mendengar ajaran-ajaran
yang dianggap sebagai ajaran pancaran merah (agama-agama Buddha) sepenuhnya.
Buddhisme sendiri selama ini dikenal
sebagai agama yang pasif dan sangat toleransi terhadap agama lain. Tapi karena
Yiguandao banyak menggunakan istilah-istilah Buddhisme dan sering juga
menganggap dirinya sebagai ajaran Agama Buddha, maka secara tidak langsung menimbulkan
banyak pandangan dan persepsi yang keliru yang beredar di tengah masyarakat
kepada agama Buddha secara keseluruhan. Inilah yang membuat umat-umat Buddhisme
juga tidak bisa tinggal diam saat ada banyak teori-teori dan pandangan yang tidak
sesuai ajaran Buddha yang disampaikan oleh umat Yiguandao.
Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 14) : Ajaran Yiguandao yang berasal dari Agama Lain
Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 16) : Serba rahasia
Komentar