Langsung ke konten utama

Studi tentang Yiguandao (Bagian 12) - Alam-Alam Kehidupan versi Yiguandao

Mengenal Alam-Alam Kehidupan


Pada postingan ini, saya akan membahas mengenai Alam-Alam Kehidupan. Sama seperti postingan-postingan saya sebelumnya, saya akan membahas mengenai Alam-Alam Kehidupan menurut apa yang diyakini kalangan Yiguandao, dan kemudian membandingkannya dengan penjelasan yang ada pada kitab Tripitaka. 

4 Alam Kehidupan versi Yiguandao

Sebenarnya tidak ada panduan secara mendetail mengenai topik ini di vihara Yiguandao tempat saya dulu aktif. Setelah mendengarkan ceramah selama puluhan tahun, seingat saya tidak ada satupun ceramah yang membahas mengenai alam-alam ini secara detail di vihara. Tapi kalau mengacu dari ceramah-ceramah yang pernah dikotbahkan dan kitab-kitab yang ada, sebenarnya Yiguandao sendiri mempunyai dua versi penjelasan dari 6 jalur reinkarnasi. Versi 6 Jalur reinkarnasi yang pertama biasanya adalah 6 jalur yang biasanya dijelaskan di saat orang baru saja memohon Tao, di mana disebutkan bahwa manusia ini memiliki 6 jalur reinkarnasi yang disebut juga 6 pintu samping, yaitu : 

1. Alam Hawa (roh keluar lewat ubun-ubun)

2. Alam Manusia (roh keluar lewat pusar)

3. Alam Binatang di Laut (roh keluar lewat mulut)

4. Alam Binatang bangsa unggas (roh keluar lewat mata)

5. Alam Binatang Menyusui (roh keluar lewat telinga)

6. Alam Binatang bangsa serangga (roh keluar lewat hidung). 


Tapi di beberapa ceramah dan teks-teks tertentu, terkadang ada penceramah yang memberikan penjelasan 6 jalur reinkarnasi yang mengambil dari ajaran Buddha yaitu :

1. Alam Hawa

2. Alam Manusia

3. Alam Ashura

4. Alam Hantu Kelaparan

5. Alam Binatang

6. Alam Neraka


Kalau misalnya yang dipakai adalah versi yang kedua ini, saya juga tidak tahu lewat pintu samping yang mana roh manusia pada waktu meninggal untuk mereka-mereka yang akan bereinkarnasi ke alam Ashura dan Alam Hantu Kelaparan, karena memang tidak pernah ada penjelasannya. 6 jalur reinkarnasi versi mana yang secara resmi digunakan Yiguandao, saya sendiri sebenarnya tidak tahu secara pasti karena memang Yiguandao sendiri tidak punya patokan jelas mana yang dijadikan sumber utama ajarannya. Tapi kalau kita melihat pada kitab resmi Yiguandao yang dijadikan pedoman sebagian besar kalangan Tao, 6 Jalur Reinkarnasi ada disebutkan di kitab Explanations of The Answers to the Truth 性理題釋 / Kitab Uraian Metafisika Bab 76. Di sana disebutkan bahwa yang dimaksud 6 jalur reinkarnasi adalah 6 pintu samping yaitu jalur reinkarnasi yang lewat mata, telinga, mulut, hidung, pusar dan ubun-ubun. Jadi seharusnya 6 jalur reinkarnasi resmi Yiguandao yang benar adalah versi yang pertama, dan bukanlah versi kedua yang merupakan penjelasan 6 jalur reinkarnasi versi Buddhisme.

Selain 6 jalur reinkarnasi ini, Yiguandao juga meyakini adanya satu alam yang menjadi tujuan semua umat Yiguandao setelah meninggal nanti yang disebut dengan Wu Ji Li Tian (無極理天) atau Surga Abadi Tanpa Batas. Konsep mengenai Li Tian dan Qi Tian ini sendiri sebenarnya diciptakan oleh Wang Jueyi (di Yiguandao dikenal sebagai patriark ke-15) dalam bukunya 一貫探原圖說 Gambaran dari Penjelasan Asal-Usul Umum yang Lengkap.

Konsep Alam mengenai Li Tian ini juga dijelaskan kembali dalam Explanations of The Answers to the Truth 性理題釋 / Kitab Uraian Metafisika pada bab 58 & 59 dan Answers to Doubts and Questions Concerning Yi-guan Dao 一貫道疑問解答 pada bab 89. Penjelasannya sebagai berikut :

『理天』,就是真空,沒有形色,沒有聲臭,只是一團虛靈,潛的時候,至虛至靈,寂然不動,大無不包。現的時候,至神至靈,感而遂通,無微不入,雖是沒有形色,而能生育形形色色;雖是沒有聲臭,而能主宰聲聲臭臭;雖是視之弗見,聽之弗聞,卻是體物不遺。沒有生他的,他也不死不滅,他是永遠靈明,永遠存在,並且永作萬類的根本,無論氣體、物體,都沒有脫離他的可能,萬物生存,他固然生存,萬物消滅,他仍然存在。心經上說:『不垢不淨,不增不減』,那就是說他的本體。

 “Li-Tian” adalah Kehampaan Sejati. Ia tidak memiliki bentuk atau wujud, tidak memiliki suara atau aroma. Ini adalah energi spiritual yang tak terbatas. Ini adalah ruang jiwa yang murni yang benar-benar kosong dan diam. Ia sangat besar sehingga melengkapi segala sesuatu. Begitu ilahi sehingga keberadaannya hanya dapat dikenali melalui ilham supranatural. Ia sangat kecil sehingga bisa berada di mana saja. Ia dapat menciptakan dan mengembangkan semua kehidupan dan materi. Ia tidak dapat diamati dengan cara ilmiah apa pun dan juga tidak dapat dideteksi oleh indera manusia mana pun. Ia tidak memiliki awal atau akhir. Ia selalu ada dan selalu ilahi. Ia adalah asal mula dari dunia material dan dunia spiritual, Pencipta segala sesuatu dan kehidupan. Ketika dunia material dan dunia spiritual hadir, maka Tuhan juga hadir. Ketika dunia material dan dunia spiritual ada, Ia juga tetap ada. Sutra Hati mengatakan “tidak berawal, tidak berakhir, tidak tercemar, tidak murni, tidak dapat bertambah dan tidak dapat berkurang” mengacu pada esensi Li-tian. 

『氣天』,宇宙間的氣體,普通也稱為『天』,因為氣體輕清的,是天;重濁的,是地。輕清屬陽,重濁屬陰,陰陽對待,即稱為乾坤。乾為天,坤為地,我們常說『天地萬物』,這個『天』,就是氣天。如果沒有這個天,而地就不能支持,人物也不能生長,日月星辰也不能懸掛,並且一切有形色的物件,都不能存在,所以他的功用,就是流行昇降,默運四時,終始萬物。

Qi-Tian : Ruang kesenjangan antara materi, juga dikenal sebagai “ruang” atau “Surga”. Celah di antara benda-benda tidak dapat dilihat dengan mata manusia. Namun, dapat dirasakan dengan organ indera lainnya. Contohnya, perasaan dan kesadaran kita di dalam ruang ini. Di dalam ruang ini, Qi yang ringan dan murni adalah milik Yang dan Qi yang berat dan tidak murni adalah milik Yin. Yang dan yin saling berhadapan satu sama lain. Ini juga disebut qian dan kun. Oleh karena itu, I Ching menyatakan “Qian adalah Surga dan kun adalah Bumi.” Ketika kita mengatakan “Surga, Bumi, dan segala sesuatu,” “Surga” di sini adalah Qi-tian. 

Tanpa ruang ini, Bumi tidak akan dapat ditopang; manusia tidak dapat hidup; matahari, bintang-bintang, dan planet-planet akan runtuh; dan benda-benda serta kehidupan tidak dapat Fungsi Surga ini adalah untuk mengendalikan pertumbuhan dan penurunan Yin dan Yang sehingga transisi mereka terus menerus dan lancar. Sebagai contoh, pergantian empat musim berjalan lancar dan berkesinambungan. Surga ini juga mengatur awal dan akhir dari segala sesuatu. 

『象天』,就是形形色色,有實質可見的一界。在天,日月星辰;在地,山川動植礦。換句話說:凡是有形體的物件,無論有情、無情,都是屬於象天。

Xiang-tian : Segala sesuatu yang memiliki materi, bentuk, dan/atau wujud adalah milik ruang ini, termasuk semua benda yang dapat diamati dengan mata manusia. Planet, bumi, gunung, sungai, manusia, hewan, tumbuhan, mineral, baik yang memiliki kehidupan atau tidak, semuanya ada di dalam ruang ini. Ini adalah dunia material dan tiga Ruang dimensi

總而言之:『理』,是無極母的佛體性;『氣』,是太極陰陽;『象』,是形相。生的時候,先由理生氣,再由氣生象;壞的時候,象壞的快,氣次之,理沒有壞。譬如人到臨終,先耳目昏花,手足不仁,然後斷氣,一靈真性,又轉輪迴,投向別殼矣!所以,要想脫輪迴,非修道不可。孔聖云:『朝聞道,夕死可矣』!即是免輪迴,了生死之謂也。

Kesimpulannya, Li-tian adalah esensi Kebudhaan dari Lao Mu, Qi-tian adalah yin dan yang dari Tai-ji, dan Xiang-tian adalah dunia material. Dalam penciptaan, Li-tian menciptakan Qi-tian, yang pada gilirannya menciptakan Xiang-tian. Dalam siklus kehancuran, Xiang-tian akan runtuh terlebih dahulu, diikuti oleh Qi-tian. Li-tian akan selalu ada. Hal ini sama seperti seseorang yang sekarat karena sebab-sebab alamiah, pertama-tama akan kehilangan semua inderanya (Xiang), kemudian nafasnya (Qi). Namun, jiwanya (LiTian) tidak akan pernah mati; sebaliknya, ia terperangkap dalam siklus kelahiran, kematian, kelahiran kembali dan akan terlahir kembali ke dalam tubuh yang lain. Oleh karena itu, untuk melepaskan diri dari siklus kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali, seseorang harus menerima Tian-Tao yang disampaikan oleh Guru Penerang yang berfirman Tuhan dan menjalankan Tao. Konfusius berkata: "Jika kamu mendapatkan Tao di pagi hari, mati di malam hari pun tidak akan menyesal"! ini yang disebut dengan lepas dari jalur reinkarnasi dan melampaui kelahiran dan kematian. 

Hal yang sangat kontradiktif di sini adalah walaupun dijelaskan di 2 kitab tersebut bahwa Litian adalah alam yang tak berwujud, tak berbentuk, tak berbau, tak bersuara, tapi saya pribadi sering sekali mendengar di vihara disebutkan bahwa di Surga Abadi (Litian) itu memiliki bentuk-bentuk berwujud seperti layaknya di alam manusia. Sering diceritakan di ceramah-ceramah, bahwa di Surga Abadi nanti kita bakal mempunyai bunga teratai sebagai posisi kita di sana. Bila kita adalah seorang Tanzhu (pemilik vihara) maka kita akan mempunyai satu bunga teratai di Surga. Selain itu juga ada ceramah-ceramah yang menggambarkan situasi di Litian, di mana kita masih akan melakukan ritual-ritual sembahyang seperti di vihara yang ada di dunia. Disebutkan di beberapa ceramah, bahwa di Surga bila ada orang-orang yang belum bisa tata cara sembahyang termasuk dengan aba-aba shang xia zhi li akan dimasukkan ke sebuah kelas pelatihan di mana orang di surga sana akan sulit sekali untuk berlatih tata cara sembahyang karena sudah tidak mempunyai badan kasar. Salah satu penggambaran Alam Alam Surga Abadi yang paling jelas ada di buku berjudul 林篬庫壇主理靈遊天記述 Rekaman Perjalanan Roh Lin Cangku Tanzhu ke Alam Surga Abadi. Di buku tersebut digambarkan, bahwa dinding surga terbuat dari emas dan gerbang Surga tertulis tulisan 天佛院, dan saat roh Lin Tanzhu tiba dia harus melakukan ritual-ritual sembahyang seperti di vihara Yiguandao yang ada di dunia fana. Yang membuat saya bingung di sini adalah, kenapa penjelasan di kitab 性理題釋 dan 一貫道疑問解答  disebutkan bahwa Litian itu tidak berwujud, tidak memiliki bentuk, tidak ada suara tapi di penjelasannya kok yang diceritakan malah ada wujud bunga teratai, ada wujud tata cara sembahyang, ada aba-aba shang xia zhi li, dll. Jadi yang benar di sini Litian ini berwujud atau tidak?

Jadi bila dirangkum secara total, maka secara total ada 4 Alam Kehidupan yang menjadi alam-alam tempat di mana umat-umat Yiguandao menuju, yaitu Alam Surga Abadi (理天), Alam Hawa (氣天), Alam Manusia (象天), dan Alam Neraka (地獄). 4 jalur alam binatang biasanya dihukum di Alam neraka dulu baru kemudian bereinkarnasi kembali ke Alam Manusia sebagai binatang. Lengkapnya dapat dilihat di diagram berikut ini:

31 Alam Kehidupan menurut Buddhisme

Alam Kehidupan menurut Buddhisme itu dibagi menjadi 31 alam kehidupan. Saya tidak akan menjelaskan secara detail, karena akan panjang sekali. Bagi yang pingin tahu lebih detail bisa membacanya sendiri di link berikut atau bisa juga membaca beberapa buku referensi yang saya lampirkan di akhir postingan. Pada dasarnya menurut ajaran Buddha, alam kehidupan ini dibagi menjadi 3 besar yaitu Alam Nafsu (Kamaloka), Alam Bentuk (Rupaloka) dan Alam Tanpa Bentuk (Arupa Loka). 

1. Kamaloka (Alam Nafsu) ini terdiri dari 6 Alam Dewa, 1 Alam Manusia dan 4 Alam Menderita (Alam Peta, Alam Ashura, Alam Binatang dan Alam Neraka). Alam-Alam dalam Alam Nafsu inilah yang biasanya banyak dikenal oleh orang awam. Alam Surga yang sering diceritakan di agama-agama di dunia juga merupakan Alam Dewa yang ada di Alam Nafsu ini. 

2. Rupaloka (Alam Bentuk) adalah Alam tempat para Brahma. Alam ini ditempati oleh orang-orang yang mencapai tingkat pencapaian Jhana tertentu dan orang-orang yang sudah mencapai tingkat kesucian tertentu tapi belum mencapai Nibanna, termasuk juga para Sakadagami dan Anagami (tingkat ke-2 dan tingkat ke-3 kesucian menurut ajaran Sang Buddha). Di alam ini tidak ada jenis kelamin, dan mahluk-mahluk merasa senang karena kebahagiaan Jhana yang dicapai dengan melepaskan nafsu keinginan indria. Tidak ada keserakahan, hawa nafsu dan kemarahan di alam ini. Maka alam ini hanya ditempati oleh orang-orang yang di masa kehidupan sebelumnya sudah tidak lagi punya kemelakatan terhadap bentuk2 nafsu indrawi, sudah menghilangkan keserakahan dan kedengkian. Di alam ini segala bentuk materi yang kasar telah lenyap sehingga yang ada hanyalah bentuk materi-materi halus yang lebih halus daripada para dewa di Kamaloka. Beberapa sosok Maha Pencipta yang disembah oleh manusia sebenarnya adalah para Brahma yang ada di alam ini karena kehidupannya di alam ini bisa mencapai waktu yang sangat lama dalam ukuran hidup manusia (mencapai jutaan triliun tahun).

3. Arupa Loka (Alam Tanpa Bentuk) adalah alam yang sudah tidak memiliki bentuk. Di alam ini tidak ada perbedaan jenis kelamin dan yang ada hanyalah batin semata. Kelahiran di alam brahma nirbentuk ini terjadi karena pengembangan perenungan dari samadhi yang telah menganggap unsur jasmaniah adalah menjijikkan sehingga tak menghasratinya. Tingkat pencapaian yang mencapai alam ini sebenarnya sudah sangatlah tinggi karena tingkat batin-nya sudah hampir tidak ada lagi kekotoran batin, tapi belum mencapai Nibanna.

Kalau digambarkan diagramnya kurang lebih seperti di bawah ini


Alam Kehidupan Yiguandao dan Buddhisme

Walaupun ada kontradiksi antara penjelasan kitab Yiguandao dengan apa yang disampaikan para senior di vihara, tapi keyakinan yang diterima oleh banyak umat kalangan Yiguandao adalah Alam Surga versi mereka masih memiliki wujud seperti yang ada di alam manusia, terbukti dari banyaknya ceramah-ceramah dari para senior yang menceritakan gambaran seperti apa situasi di Surga, contoh narasi cerita bahwa pada saat meninggal kita nanti akan masuk ke gerbang surga dan ditanya oleh petugas Surga mengenai tiga mustika. Selain itu juga ada cerita-cerita bahwa di Surga nanti kita memiliki bunga teratai dan masih harus melakukan tata cara sembahyang seperti di vihara-vihara Yiguandao di dunia, serta masih ada banyak kegiatan-kegiatan seperti halnya di alam manusia yang masih dilaksanakan di sana, dll. 

    Hal ini juga diperkuat  dengan adanya gelar-gelar Buddha yang diberikan saat beberapa senior meninggal. Khusus untuk gelar-gelar Buddha yang diberikan oleh para senior yang telah meninggal, saya memperhatikan ada hal menarik. Beberapa dari mereka ada yang diberi gelar Bodhisatwa (菩薩). Saya yakin banyak dari umat Yiguandao tidak tahu arti apa sebenarnya dari Bodhisatwa. Istilah Bodhisatwa berasal dari ajaran Buddha, tapi sebagian besar umat-umat awam dan orang-orang yang hanya mengikuti tradisi kepercayaan tanpa mendalami ajaran Sang Buddha biasanya akan menganggap Bodhisatwa itu sebagai gelar atau jabatan Buddha yang besar di Surga. Efek dari banyaknya film-film serta cerita-cerita fiksi (Sun Go Kong, Delapan Dewa, Dewi Kuan Im, dll) telah memberikan semacam interpretasi di kalangan masyarakat yang mengasosiasikan Bodhisatwa sebagai gelar Kebuddhaan yang tinggi. Padahal Bodhisatwa itu sebenarnya adalah istilah dalam agama Buddha untuk calon-calon Buddha yang belum mencapai Nibanna (belum mencapai kesempurnaan), contoh adalah pangeran Siddharta Gautama di kehidupan sebelumnya adalah seorang Bodhisatwa. Menurut ajaran Buddha, para Bodhisatwa biasanya akan terlahir kembali di alam Tusita, salah satu dari 6 Devaloka (Alam Surga) di Kamaloka (Alam Nafsu). Contohnya adalah Buddha Maitreya yang saat ini masih Bodhisatwa dan berada di Alam Surga Tusita. Dewa-dewa di alam ini masih terikat oleh hukum tumimbal lahir dan belum terputus dari roda reinkarnasi. Jadi kalau di Yiguandao, disebutkan bahwa senior tertentu mendapatkan gelar 菩薩 Pusa (Bodhisatwa), ini sebenarnya secara tidak langsung memberikan arti bahwa senior tersebut belum terlepas dari tumimbal lahir. Ini yang tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak mendalami ajaran Buddha secara mendalam. Jadi kalau melihat fenomena ini, sebenarnya kita bisa melihat bahwa sepertinya Lao Mu dan para dewa-dewa yang meminjam raga dan memberikan gelar-gelar tersebut tidak memahami ajaran-ajaran Buddha sehingga tidak tahu kalau Bodhisatwa itu arti sebenarnya adalah calon Buddha atau mahluk yang belum mencapai kesempurnaan alias masih belum terlepas dari roda reinkarnasi. Mereka juga tidak memahami perbedaan antara Surga dan Nibanna. 

    Pada kesimpulannya, Litian (Surga Abadi) yang diyakini oleh umat Yiguandao sebagai alam tertinggi, menurut pandangan Buddhisme adalah salah satu dari Devaloka (Alam Surga) dalam KamaLoka (Alam Nafsu). Ini juga ditulis secara jelas dalam kitab Longhuajing (龍華經), kitab suci yang ditulis oleh salah satu pemimpin dalam sekte Mahayana Timur, sekte Luoisme yang jadi nenek moyang dari Yiguandao. Di Kitab Longhuajing tertulis: 

 “Wusheng Laomu melahirkan yin dan yang. Yin adalah anak perempuan dan Yang adalah anak laki-laki. Nama mereka masing-masing adalah Fuxi dan Nüwa. Buddha Kuno Tianzhen (天真古佛) mengundang Wusheng Laomu, yang berada di istana Tusita dari kerajaan Surga, berbicara denganNya, dan kemudian mereka mengatur pernikahan Nüwa dan Fuxi, yang menjadi nenek moyang dari manusia.”

Jadi sebenarnya yang dituju dan dikejar oleh umat-umat Yiguandao ini sebenarnya adalah salah satu dari alam-alam Dewa tersebut (bukan Nibanna), sama seperti dengan alam Surga yang juga diyakini oleh agama-agama lainnya. Secara spesifik yang dituju kalau berdasarkan kitab Longhuajing tersebut adalah surga Tusita. Laomu pun dikatakan berada di sana. Padahal surga Tushita itu adalah alam tempat Bodhisatwa Sakyamuni sebelum terlahir kembali ke bumi dan merupakan tempat di mana Bodhisatwa Maitreya berada sekarang. Alam ini masih masuk dalam perputaran samsara menurut Sang Buddha dan tidak terlepas dari tumimbal lahir. Laomu sendiri yang diyakini sebagai dewa tertinggi Yiguandao ternyata juga ternyata berdiam di alam tersebut. Untuk bisa terlahir kembali ke alam-alam surga (kamaloka) ini, sebenarnya syaratnya adalah karma-karma baik selama kehidupan (tidak peduli sudah qiudao atau tidak). Selama seorang mahluk banyak menanam karma-karma baik, walaupun masih banyak kekotoran batin maka secara hukum alam memang mereka akan bisa terlahir kembali di alam-alam dewa tersebut. Tapi bila dikatakan bahwa terlahir di alam-alam ini berarti telah terlepas dari tumimbal lahir, maka ini jelas-jelas sangat tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha. Untuk bisa terlepas dari tumimbal lahir, tidaklah cukup hanya menanamkan karma baik saja, tapi juga harus menjalankan jalan mulia berunsur delapan agar bisa mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu arahat ataupun yang melalui Kebuddhaan melalui jalur Bodhisatwa di mana seseorang yang telah mencapainya sudah tidak punya lagi kekotoran batin, kemelekatan serta nafsu-nafsu indrawi. Sementara Yiguandao malah mengajarkan untuk memupuk 贪 lobha (keserakahan) pada ajarannya dengan memberi iming-iming gelar-gelar Kebuddhaan di Surga dan bagaimana seseorang bisa dipuja, disembahyangi, dibuatkan patung emas setelah mencapai kesempurnaan nanti. Ini jelas sangat bertolak belakang dengan inti ajaran Sang Buddha yang justru mengajarkan kita untuk melepas itu semua agar terbebas dari semua kemelekatan alam kehidupan. Kata "Buddha" sendiri itu bukanlah gelar, melainkan kata bahasa Pali yang artinya "yang telah sadar". Dan mencapai Kebuddhaan sendiri itu maknanya adalah "terbebas" atau "mencapai pembebasan", yaitu terbebas dari apapun yang ada di dunia ini. Karena sudah tidak ada yang mengikat lagi di dunia ini. Itulah yang membuat seorang Buddha tidak terlahir kembali.

     Standar dari alam-alam dalam ajaran Buddhisme ini tidak pernah berubah sepanjang masa dan akan selalu begitu juga di masa depan. Siapapun mahluk di dunia bila karma perbuatannya dan tingkat pencapaian batinnya memenuhi standar dari kondisi alam-alam tersebut tidak peduli apapun agamanya, maka mereka akan bisa terlahir di alam-alam tersebut. Sedangkan alam-alam kehidupan versi Yiguandao masih sangat dipengaruhi hubungan kedekatan para mahluk dengan sosok dewa tertentu atau kelompok tertentu agar bisa masuk ke dalam Surga tertingginya, contohnya kalau masa sekarang, hanya orang yang di qiudao saja yang dikatakan bisa masuk surga Litian. Dan situasi alam-alam ini pun juga bisa saja berubah peraturannya sesuai kondisi perpolitikan di Surga. Ada masa di mana Tao itu disembunyikan, ada masa di mana Tao itu disebarluaskan, ada masa A yang memimpin, ada masa di mana cara masuk surganya nanti juga bisa berubah, dst. Jadi tidak menutup kemungkinan di kemudian hari nanti Firman Tuhannya dan cara menurunkan Tao-nya berubah lagi sesuai dengan keadaan zaman.

Ref :
31 Alam Kehidupan - Y M Suvanno Mahathera
Right Concentration: A Practical Guide to the Jhānas - Leigh Brasington
A comprehensive manual of Abhidhamma: the Abhidhammattha sangaha of Ācariya Anuruddha - Bhikkhu. Bodhi
Travel Guide to the Buddha's Path - Erick K Van Horn
https://www.sariputta.com/artikel/ajaran-dasar/konten/31-alam-kehidupan-menurut-ajaran-agama-buddha/1012
 
Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 11) : Konsep Reinkarnasi dan Aku yang Sejati

Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 13) : Qiudao (Memohon Tao)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...