Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata "道真理真天命真" yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati. Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah. Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan buku-buku agama serta buku-buku sejarah yang bagus saat itu bisa dibilang sangat sulit. Saya pribadi masih ingat dulu kalau ke toko buku selalu merasa kesulitan menemukan buku-buku yang berkualitas. Kalau mencari buku agama-agama ortodoks saja sudah sulit, apalagi menemukan buku-buku Yiguandao, jauh lebih sulit lagi. Di vihara saya pribadi, memang ada beberapa buku yang bisa dibaca, tapi itu pun sangat terbatas sekali. Ada beberapa buku mandarin yang tersedia di rak buku di Vihara tapi saat itu kemampuan bahasa saya masih sangat terbatas, dan belum adanya tools penerjemah yang canggih seperti sekarang. Tapi seiring dengan kemajuan jaman, sekarang semakin banyak bacaan-bacaan dari ajaran agama manapun termasuk Yiguandao yang tersedia di internet. Oleh karena itu semakin hari semakin mudah mendapatkan referensi. Ditambah dengan kemampuan bahasa mandarin saya yang meningkat plus banyaknya tools penerjemah, saat ini saya menjadi lebih mudah mengakses buku-buku apapun, termasuk juga buku-buku Yiguandao yang hampir semuanya berbahasa Mandarin.
Pada awalnya motivasi saya mendalami teori2 Yiguandao adalah gara-gara saya ditunjuk sebagai Penceramah (講師 Jiang Shi). Tujuan saya banyak sekali membaca buku, tentu saja agar saya bisa memahami keagungan Yiguandao dengan lebih mendalam dan bisa memberikan penjelasan yang baik dan menarik pada umat-umat Yiguandao di vihara. Tapi tidak disangka, gara-gara banyak membaca inilah saya justru malah menemukan banyak sekali kejanggalan dari ajaran Yiguandao yang selama puluhan tahun saya yakini sebagai sebuah kebenaran sejati. Tujuan saya menulis ini tentu bukanlah untuk memancing perdebatan dengan para penganut Yiguandao, tapi ini murni adalah hasil temuan saya yang tentunya bisa menjadi hasil studi yang bisa kita pelajari bersama. Saya pribadi juga adalah seorang mantan pengikut Yiguandao yang sudah lebih dari 30 tahun berkecimpung di vihara Yiguandao, tapi pikiran saya baru mulai terbuka sekitar 5 tahun terakhir. Saya pribadi menyadari bahwa keyakinan biasanya sulit bisa sejalan dengan kemampuan berpikir kritis (apalagi buat mereka-mereka yang sudah terlalu fanatik terhadap suatu keyakinan), apalagi di vihara Yiguandao sudah didoktrin bahwa tidak boleh meragukan apapun yang didoktrinkan, tidak boleh ada keinginan untuk mundur, dll. Jadi biasanya kalau ada pikiran kritis seperti yang saya tulis di bawah ini akan langsung dianggap sebagai fitnah dan mungkin saya akan dianggap sebagai 摩考 ujian iblis. Sebenarnya keyakinan seperti itu sebenarnya sangat bertolak belakang dengan ajaran Buddha yang justru mengajarkan kita untuk Ehipassiko (Datang, Lihat dan Buktikan). Bila memang bagi yang membaca tulisan ini adalah umat Yiguandao dan tetap merasa keyakinannya sudah benar, silahkan saja terus menyakini apa yang anda yakini. Bila ada penjelasan saya yang salah, silahkan dikoreksi dengan cara yang baik disertai dengan sumber referensi yang jelas. Karena saya pribadi juga berusaha sebisa mungkin menghindari dan meminimalisir kata-kata yang negatif dalam pembahasan saya. Walaupun saya sekarang ini sudah tidak lagi berpedoman pada prinsip-prinsip dan ajaran Yiguandao, saya pribadi sampai sekarang masih menghormati Yiguandao dan orang-orang yang masih memiliki keyakinan pada ajaran-ajarannya, sama seperti saya menghormati agama-agama lainnya. Yiguandao tetap adalah ajaran yang juga mengajarkan orang untuk berbuat baik. Banyak keluarga maupun teman-teman saya pribadi juga masih merupakan umat Yiguandao yang aktif.
Tiga Masa Pancaran
Salah satu teori yang menjadi prinsip paling dasar dari doktrin dan ajaran Yiguandao yang sangat sering disampaikan dalam banyak ceramah di vihara Yiguandao adalah teori 3 Masa Pancaran (三陽/三期末劫).
Teks-teks Yiguandao sendiri banyak yang berisi teori 3 masa pancaran ini, di mana teks-teks tersebut kebanyakan berasal dari hasil 扶乩 Fuji (tulisan roh & peminjaman raga) yang diklaim diturunkan langsung dari Tuhan (Lao Mu) dan para Buddha melalui perantara san cai (3 wanita yang biasanya menjadi medium masuknya roh). Teori 3 Masa Pancaran menjelaskan bahwa dunia ini dibagi menjadi 3 periode, yaitu 青陽 Masa pancaran Hijau yang dipimpin oleh Dipankara Buddha (sekitar 5000 SM - 2500 SM), 紅陽 Masa pancaran Merah yang dipimpin oleh Buddha Siddharta Gautama (2500 SM - 1911), dan masa pancaran terakhir yaitu 白陽 Masa Pancaran Putih yang dipimpin oleh Buddha Maitreya (1911 - 12711). Bukti yang paling jelas adalah sutra Mi Le Jiu Ku Zhen Jing 彌勒就苦真經 yang merupakan hasil dari Fuji roh Maha Guru 路中一 Lu Zhongyi (Maha Guru ke-17) pada tanggal 3 Maret 1926, di Provinsi Shanxi, China. Di sutra tersebut disebutkan tentang 3 masa pancaran ini. Bila anda belum pernah membaca terjemahan dan arti dari Kitab Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, anda bisa membaca hasil terjemahan saya di postingan ini.
Asal Usul Teori 3 Masa Pancaran
Sejarah teori ini berasal dari ucapan Tiongkok yang dikenal dengan: ‘三阳开泰 San Yang Gai Dai’ [Tiga ‘Yang’ Awal Kemakmuran, istilah Yang di sini berarti unsur Yin – Yang atau secara harafiah berarti matahari] yang sudah ada sejak masa dinasti Han. Dikatakan bahwa bulan Sepuluh [penanggalan Imlek] disebut sebagai 坤卦Guen Kua yang sepenuhnya merupakan perwujudan unsur Yin [negatif, dingin]. Bulan Sebelas adalah 复卦 Fu Kua, munculnya awal unsur Yang [positif, panas]. Bulan Dua Belas adalah 临卦 Lin Kua, munculnya unsur Yang kedua; sedang bulan Satu Tahun Baru disebut 泰卦 Dai Kua yang merupakan munculnya unsur Yang ketiga. Istilah Tiga Yang Awal Kemakmuran menunjukkan bahwa musim dingin telah berlalu dan berlanjut dengan datangnya musim semi, lenyapnya unsur Yin dan berkembangnya unsur Yang, merupakan suatu fenomena yang baik dan menggembirakan. Karena itu dalam perayaan Tahun Baru, istilah ‘三阳交泰,日新惟良 Tiga Yang Awal Kemakmuran’ digunakan sebagai pembuka ucapan Selamat Tahun Baru. Maka kemudian ada pepatah “三阳交泰,日新惟良 "Tiga Yang berjalan selaras, dan semuanya akan baik-baik saja". Selama Dinasti Ming dan Qing , cerita rakyat melekatkan "Tiga Yang" pada Qingyang , Hongyang dan Baiyang, masing-masing mewakili masa lalu, masa kini dan masa depan.[1] Tradisi tersebut merupakan sebuah kepercayaan turun temurun masyarakat.
Asal usul teori tiga masa pancaran ditemukan beberapa abad setelah Buddhisme masuk ke China daratan. Saat itu keyakinan kepada Maitreya mulai dipropagandakan dan menyebar ke seluruh China berkat adanya terjemahan kitab suci agama Buddha yang dibawa dari India mulai abad ke-2. Di masa Dinasti Utara dan Selatan (420-589), sejumlah besar “kitab-kitab palsu” Maitreya mulai bermunculan. Kitab-kitab tersebut diciptakan sebagai tafsiran dari kitab-kitab Buddha yang resmi tapi kemudian dijadikan kitab-kitab baru dan membuatnya seolah-olah isi dari kitab itu adalah juga ucapan Buddha. Gagasan mesianis "Tiga Buddha menjawab Tiga Zaman" (三佛 应劫) disusun berdasarkan kitab-kitab palsu tersebut. Ide mesianis yang dihasilkan membagi sejarah manusia menjadi 3 zaman yaitu Zaman Pancaran Hijau (Qingyang jie 青阳劫), Zaman Pancaran Merah (Hongyang jie 红阳劫 atau 红羊劫), dan Zaman Pancaran Putih (Baiyang jie 白阳劫). Munculnya banyak tokoh yang mengaku sebagai Maitreya menciptakan keyakinan baru di masyarakat yang menyakini Buddha Maitreya telah lahir ke dunia. Munculnya ajaran Maitreya (Maitreyanisme) telah memberikan semacam gambaran tentang ide pembagian masa, yaitu masa Buddha Sakyamuni yang dianggap sebagai masa yang telah berlalu dan masa Buddha Maitreya sebagai masa yang baru. Bukti ide mengenai teori tiga masa pancaran ditemukan juga pada teks Yunji Qiqian (雲笈七籤), sebuah naskah yang ditulis pada awal abad ke 11 oleh Zhang Junfang (張君房 ) untuk kaisarnya. Isi dari teks ini berisi tentang tiga periode yang dipimpin oleh Kaisar Matahari Hijau (日中青蒂), Kaisar Matahari Merah (日中紅蒂), dan Kaisar Matahari Putih (日中白帝).
Teori 3 masa pancaran ini kemudian ditemukan pada teks 皇极结果宝卷 Huangji Jieguo Bao Juan yang diterbitkan tahun 1430. Teori 3 masa pancaran ini menjadi sangat populer di jaman dinasti Ming dan merupakan salah satu doktrin utama dari banyak sekte mesianis/keselamatan dan kelompok-kelompok pemberontakan yang lahir di era itu. Kebanyakan dari kelompok-kelompok tersebut mengambil ajaran 羅清 Luo Qing sebagai dasarnya. Teori 3 masa pancaran ini juga tertulis dalam kitab 皇極金丹九蓮正信歸真還鄉寶卷 "Gulungan Berharga tentang Ramuan Emas dan Teratai Berdaun Sembilan untuk memperbaiki Keyakinan, Memulihkan Kesempurnaan Kembali ke Kampung Halaman" yang selanjutnya menjadi dasar dari doktrin 青蓮教 sekte Teratai Hijau / 先天道 Xiantiandao yang dipimpin oleh Huang Dehui (patriak ke-9 Yiguandao) . Dasar teori dari buku inilah yang di kemudian hari menjadi dasar dari agama-agama yang berakar dari sekte ini, salah satunya Yiguandao.
Bertentangan dengan Sutra Buddha
Teori 3 masa pancaran ini sendiri sebenarnya bertentangan dengan apa yang dijelaskan dalam kitab suci agama Buddha, baik Tripitaka maupun sutra-sutra Mahayana. Dalam teori Yiguandao disebutkan bahwa masa pancaran hijau yang memegang kuasa alam adalah Buddha Dipankara. Menurut Yiguandao, Buddha Dipankara hidup di era tahun 2500 SM (Sekarang tahun 2024 masa pancaran putih, dikurangi dengan masa pancaran merah 3000 tahun + masa pancaran hijau 1500 tahun). Sedangkan menurut Khuddaka Nikāya, Tipiṭaka Pāli, Buddha Dipankara ini adalah Buddha yang hidup di empat asankheyyas dan seratus ribu kalpa yang lalu (minimal miliaran tahun sebelumnya). Alasan mengapa ajaran dan jejak dari Buddha Dipankara sudah bisa tidak bisa ditemui di jaman sekarang, karena memang saat Buddha Dipankara hidup, itu sudah sangat lama (miliaran tahun yang lalu). Sedangkan teori I Kuan Tao yang saya sendiri juga tidak tahu dasarnya dari mana menyebutkan bahwa Buddha Dipankara itu lahir sekitar 2500 tahun lalu. Anehnya kalau itu benar, kenapa di dunia ini tidak ditemukan satu pun peninggalan seperti jejak kehidupannya, kitab, catatan atau ajaran-ajaran Buddha Dipankara mengingat masa hidupnya yang hanya berselisih 2000 tahun dengan Buddha Gautama.
Masih berhubungan dengan teori 3 pancaran, Yiguandao juga menyakini bahwa manusia sudah hidup selama 60.000 tahun dan sekarang adalah masa pancaran akhir sebelum musnahnya alam semesta ini. Ini juga bertentangan dengan tripitaka dan ilmu pengetahuan yang sudah terbukti secara ilmiah (Penjelasan mengenai teori Yiguandao tentang terbentuknya alam semesta mulai dari periode 子 sampai kiamat pada periode 亥 saya bahas di Bagian 3).
Sutta-sutra Mahayana juga menjelaskan bahwa “Semasa beradanya Buddha Sakyamuni di dunia, selama 1.000 tahun kemudian disebut masa 正法 Zheng Fa [Dharma Sejati], dari 1.000 tahun hingga 2.000 tahun disebut masa 像法 Xiang Fa [Dharma Mirip], sedang masa di atas 2.000 tahun disebut 末法 Mo Fa [Dharma Akhir] yang berlangsung selama 10.000 tahun. Saat ini adalah masa Mo Fa (karena saat ini merupakan tahun Buddhis 2567). Masih ada sekitar 7500-an tahun lagi maka Buddha Dharma yang sejati akan lenyap.” Teori tentang tiga tahap dharma diuraikan dalam Nanyue Sichanshi li shiyuan wen 南嶽思大禪師立誓願文 (T 1933), yang biasanya dikaitkan dengan Huisi 慧思 (515-577), patriark kedua dari aliran Tiantai (天台). Kemudian diadopsi oleh para biksu terkemuka lainnya termasuk guru Tanah Suci Daochuo 道綽 (562-645) dan terutama oleh Xinxing 信行 (540-594), pendiri Sanjiejiao 三階教 (Ajaran Tiga Tahap). Teori ini diciptakan sekitar pertengahan kedua dari abad ke-6. Sebelumnya teori ini pernah muncul dalam teks Mahaparinirvana-sutra (大般泥洹經) dan Sutra Menghilangkan Keraguan tentang Kemiripan Dharma (像法決疑經). Kedua teks tersebut tidak jelas berasal dari mana, tapi diakui oleh Buddhisme Mahayana sebagai salah satu teks ortodoks. Teks dalam Mahaparinirvana-sutra tidak pernah menjelaskan secara spesifik berapa lama masa tahapan dharma itu berlangsung. Tapi pada teks terakhir di Nanyue Sichanshi li shiyuan wen mulai ada penafsiran secara spesifik berapa lama masa periode dharma-dharma tersebut. Beberapa akademis menganggap ada beberapa kesalahpahaman dan kesalahan penerjemahan teks-teks Buddhis sehingga menghasilkan teori-teori seperti itu.
Konsep inilah yang kemudian diubah dalam teori yang diyakini oleh kalangan Yi Kuan Tao menjadi ‘Pancaran Hijau selama 1500 tahun, Pancaran Merah 2500 tahun, Pancaran Putih’ selama 10.800 dan menyebut masa Dharma Akhir sebagai ‘Bencana Terakhir Jaman Ketiga’. Sumber awal teori ini sekali lagi tidak dapat dipastikan, tapi kemungkinan besar berasal dari kita-kitab palsu mengenai Maitreya yang muncul di abad ke-5.
Penjelasan Ucapan Suci di 3 Masa Pancaran
Hal lain yang janggal adalah penjelasan Yiguandao yang menyebutkan bahwa ucapan suci di jaman masa pancaran hijau dulu adalah 无量寿佛 Wuliang Shoufo, sementara itu di masa pancaran merah, ucapan sucinya adalah 南無阿彌陀佛 nan wu a mi tuo fo. Padahal pada dasarnya 2 kalimat tersebut mengarah pada 1 Buddha yaitu Buddha Amitabha.
- 无量寿佛 Wuliang Shoufo / 阿彌陀佛 a mi tuo fo / o mi to hut : nama Buddha Amitabha yang artinya (Buddha Kehidupan tanpa Batas/Cahaya tanpa batas)
- 南無阿彌陀佛 nan wu a mi tuo fo / na mo o mi to hut : Terpujilah Buddha Amitabha
Buddha Amitabha sendiri baru dikenal di China sekitar tahun abad ke 2, tepatnya pada tahun 179 M, setelah Lokaksema (लोकक्षेम, Chinese: 支婁迦讖) seorang biksu Kushan yang berasal dari Gandara (antara Afghanistan dan Pakistan) menerjemahkan teks Sukhāvatīvyūha Sūtra yang berbahasa sansekerta menjadi mandarin.[3] Sutra Sukhavativyuha yang menjelaskan tentang Amitabha baru dibuat di era Kushan Empire (antara tahun 30M - 375M),[4] oleh karena itu tentu sangatlah aneh bila disebutkan orang pada masa pancaran hijau yang diperkirakan hidup di tahun sekitar 2000-3000 tahun SM menggunakan kata-kata dari Buddha yang bahkan kitab sutranya yang menjelaskan itu saja masih belum ada. Inilah salah satu contoh mengapa Yiguandao sering dikritik Buddhisme ortodoks, karena kalangan Yiguandao sering salah dalam memahami istilah atau isi sutra Buddha dan seperti sengaja menjelaskannya secara keliru.
Dan kedua kata-kata suci di atas itu sama sekali bukanlah kata-kata rahasia seperti umat Yiguandao memperlakukan lima kata suci baru untuk Masa Pancaran Putih. Kata-kata tersebut dipakai secara umum dan sampai saat ini masih tetap dipakai oleh para umat Buddha di Tiongkok. Narasi bahwa kata-kata tersebut sudah tidak manjur dan harus digantikan oleh kata-kata suci yang baru adalah teori yang dibuat oleh sekte-sekte Luoisme, yang merupakan cikal bakal Yiguandao.
Silsilah Patriark Yang Penuh Keanehan dan Kontradiksi
Dan bagian yang paling banyak kejanggalan dan kontradiksi dari teori 3 masa pancaran ini adalah silsilah patriark-nya. Menurut teori Yiguandao, Tao mulai diturunkan sejak 伏羲氏 Raja Fuxi. Sejak itulah dimulai masa pancaran hijau. Raja Fuxi menurunkan Tao pada 神農氏 Shen Nong Shi. Selanjutnya Tao terus diturunkan dari 1 guru ke 1 murid sampai total ada 64 Patriark (Maha Guru) yang dibagi menjadi Silsilah Patriark Tao Timur Awal (18 Patriark), Silsilah Patriark Tao Barat (28 Patriark) dan yang terakhir adalah Silsilah Patriark Tao Timur Akhir (18 Patriark). Daftar semua patriark (maha guru) ini berurutan untuk menunjukkan bahwa Tao yang agung ini diturunkan sejak ribuan tahun yang lalu dari 1 guru ke 1 murid secara berurutan sampai dengan masa pancaran putih sehingga membentuk satu benang emas yang harus dijaga oleh para umat Yiguandao di jaman sekarang.
Jika kita mencoba mengecek silsilahnya satu persatu, ternyata banyak patriark-patriark dalam silsilah Yiguandao tersebut yang mempunyai masa hidup yang aneh, di mana antara patriark yang satu dengan patriark berikutnya ternyata tidak hidup di masa yang sama. Yiguandao menyebutkan bahwa Tao sebelum masa pancaran putih itu diturunkan secara rahasia dengan prinsip 法不傳六耳 Fa Bu Chuan Liu Er, yang artinya Tao tidak bisa diturunkan bila ada 6 telinga alias ada 3 orang dalam satu ruangan. Dengan kata lain Tao baru bisa diturunkan dari 1 orang ke 1 orang tanpa adanya orang lain di tempat yang sama. Kalau ternyata dari verifikasi sejarah sudah dibuktikan bahwa antara Patriark yang satu dengan Patriark berikutnya tidak hidup di masa yang sama, maka berarti mustahil bisa ada proses penurunan/tranmisi Tao seperti yang ada pada silsilah Patriark tersebut. Seperti contohnya antara Maha Guru ke-8 di Silsilah Maha Guru Di Timur awal yaitu 舜帝 Shùn dì yang hidup di tahun 2294 - 2184 SM dan Maha Guru ke-9 禹帝 Yǔ dì yang hidup di tahun 2294 - 2184 SM. Keduanya hidup di masa yang berbeda. Jadi tidak mungkin ada proses penurunan Tao dengan prinsip Fa Bu Chuan Liu Er di antara keduanya. Selain itu Maha Guru ke-10 依尹 Yī yǐn yang hidup di tahun 1649 - 1549 SM juga mempunyai masa hidup yang berbeda dengan Maha Guru ke-9.
老子降世發揚道宗,東渡孔子,闕里傳猶龍之嘆,西化胡王,函關現紫氣之瑞,關尹子強留作書,著道德經五千言,為道教之始祖也。
※西化胡王之句引起佛道千年之爭。
Lao Zi turun ke dunia untuk melanjutkan Tao; Di timur melintasi Konfusius; sehingga ada seruan “Lao Zi sangatlah misterius dan mendalam seperti layaknya Naga yang bisa terbang ke Surga dan bersembunyi di Air yang Dalam”. Selanjutnya ke Barat melintasi seorang Raja yang bukan dari suku Han (non-chinese). Setelah melalui benteng Han-Gu, Guan Yin Zi meminta Lao Zi untuk tinggal. Jadi Lao Zi menulis 5000 kata Tao Te Ching, yang kemudian menjadi dasar berdirinya agama Taoisme.
- Ungkapan “Di Barat Melintasi Raja” menyebabkan perselisihan selama seribu tahun antara Buddha dan Taoisme.
Di sini cukup jelas dikatakan bahwa Lao Zi menurunkan Tao kepada Konfusius, dan kemudian dia pergi ke barat untuk melintasi seorang raja (banyak senior Yiguandao yang menafsirkan kata-kata ini merujuk pada Siddharta Gautama di India). Penjelasan ini adalah salah satu kontradiksi dari penjelasan Yiguandao yang mengatakan bahwa sebelum pancaran putih, Tao ini hanya diturunkan dari 1 guru ke 1 murid. Kalau sesuai kata-kata tafsiran para senior yang meyakini keyakinan tersebut, maka jelas ada 2 pusaka Tao yang sedang berjalan bersamaan di saat itu.
Masih dari buku 性理題釋 Explanations of The Answers to the Truth / Kitab Uraian Metafisika bab 3 大道之沿革 terdapat kontradiksi lain pada kata-kata berikut :
孔子傳曾子,曾子傳子思,子思傳孟子,孟子以後,道脈西遷,心法失傳,歷秦、漢、晉、隋、唐,議論囂然,無有造此域者。
Konfusius mewariskan kepada Zeng Zi, Zeng Zi mewariskan kepada Zi Si, Zi Si mewariskan kepada Meng Zi, setelah Meng Zi, silsilah Tao berpindah ke barat, dan metode dharma hati hilang, saat itu adalah masa warring state di China, Dinasti Han, Dinasti Sui, keadaan tidak stabil karena setiap daerah berdiri sendiri dan berperang satu sama lain.
Dari penjelasan di atas, ada kata-kata "setelah Meng Zi, silsilah Tao berpindah ke Barat". Di penjelasan ini seolah-olah dikatakan bahwa setelah Meng Zi (Mencius), barulah silsilah Tao ini diteruskan oleh Sang Buddha. Dari verifikasi sejarah, diketahui bahwa Buddha hidup di tahun 563-483 SM. Sedangkan Mengzi itu hidup di tahun 371-289 SM, sekitar 300 tahun setelah Sang Buddha wafat. Bahkan murid dari Sang Buddha yaitu Maha Kasyapa itu hidup di jaman Lao Zi hidup yaitu di tahun 603-460 SM, jauh sebelum Meng Zi lahir. Jadi agak aneh kalau dikatakan setelah Meng Zi, silsilah Tao berpindah ke barat. Apakah Mengzi menggunakan mesin waktu dan menurunkan Tao kepada Sang Buddha? Ini sekaligus juga menjadi kontradiksi dengan penafsiran para senior yang mengatakan bahwa raja yang dimaksud di penjelasan sebelumnya adalah Siddharta Gautama. Karena secara jelas disebutkan bahwa baru setelah Mengzi, silsilah Tao berpindah ke barat.
Dan kalau kita kembali mengacu pada kata-kata "setelah Meng Zi, silsilah Tao berpindah ke Barat", itu berarti bahwa Sang Buddha Gautama, Maha Kasyapa, dan beberapa patriark zen awal di India tidak dianggap memiliki pusaka Tao, karena saat itu Tao masih dipegang di timur oleh Konfusius, Zeng Zi, Zi Si dan Mencius. Baru setelah Mengzi meninggal, Tao ini berpindah ke patriark zen di India generasi ke-sekian yang hidup di jaman Mengzi. Kecuali saat itu ada 2 pusaka Tao yang dipegang oleh 2 orang secara bersamaan dalam 1 masa. Tapi kalau itu yang terjadi berarti itu tidak sesuai dengan kata-kata para penceramah di vihara yang mengatakan bahwa di jaman dulu hanya ada 1 pusaka Tao yang diturunkan dari 1 guru ke 1 murid. Hal ini menunjukkan kelemahan yang tidak disengaja dalam penyusunan silsilah Tao, dan kekeliruan seperti itu disebabkan oleh ketidaktahuan pembuatnya mengenai sejarah yang benar di jaman itu.
Kejanggalan-kejanggalan serupa (perbedaan masa hidup) juga banyak sekali ditemukan di silsilah 18 maha guru di timur akhir. Untuk pembahasan mengenai silsilah patriark tersebut akan saya bahas lebih detail di Bagian 4.
Referensi :
Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert
Popular Religion and Shamanism - Xisha Ma, Huiying Meng
The Wiley-Blackwell Companion to Chinese Religions - Randall L. Nadeau
The Religious Question in Modern China - Vincent Goossaert, David Palmer
三阳开泰 - 維基百科,自由的百科全書 (wikipedia.org)
Luo teaching - Wikipedia
https://en.wikipedia.org/wiki/Dipankara
Sutra of Hui-Neng Grand Master of Zen - Thomas Cleary (translation)
Relics of the Buddha - John S. Strong
The Numerical Discourses of the Buddha - A Translation of the Anguttara Nikaya.
三期法运 - 維基百科,自由的百科全書 (wikipedia.org)
Three Ages of Buddhism - Wikipedia
Amitābha - Wikipedia
Amitabha, A Story of Buddhist Theology - Paul Carus
The Three Pure Land Sutras - Inagako Hisao (translator)
性理題釋 Explanations of The Answers to the Truth - Living Buddha Jigong 濟公活佛
Komentar