Perbedaan Konsep Tumimbal Lahir versi Yiguandao dan Buddhisme
Salah satu konsep teori Buddhisme yang diadopsi oleh Yiguandao adalah konsep mengenai Kelahiran Kembali atau biasanya disebut sebagai Tumimbal Lahir atau Reinkarnasi. Baik umat agama Buddha maupun Yiguandao sama-sama menyakini konsep hukum alam ini, tapi bila dipelajari secara mendalam, ternyata ada perbedaan yang sangat mendasar di antara keduanya.
Konsep Kelahiran Kembali menurut ajaran Sang Buddha
Sebagian besar orang awam atau umat Buddha yang tidak mendalami ajaran Buddha secara mendalam, biasanya akan menganggap bahwa konsep reinkarnasi itu sebagai konsep berpindahnya roh dari satu tubuh ke tubuh berikutnya. Buddha menolak pemahaman seperti ini. Karena Sang Buddha menjelaskan dengan sangat detail mengenai konsep Kelahiran Kembali ini dalam beberapa kotbahNya. Hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah, Sang Buddha itu menolak pemahaman adanya Aku yang disebut dengan Anatta. Di aliran Mahayana, juga dijelaskan mengenai konsep Kesunyataan. Sang Buddha menolak pandangan bahwa adanya roh yang kekal di dalam diri manusia ataupun mahluk-mahluk di alam kehidupan lainnya. Sang Buddha bahkan secara jelas menjelaskan bahwa bila manusia masih berpandangan bahwa mereka memiliki roh yang kekal, maka itu merupakan salah satu pandangan salah. Pandangan salah ini disebutkan menjadi belenggu pertama yang harus dihancurkan bila mau mencapai tingkat kesucian yang paling rendah (Sotapanna). Ini juga berarti, bila sebagai manusia kita masih berpandangan bahwa dalam manusia itu ada Aku yang sejati, ada Roh yang kekal, sudah dipastikan kita tidak akan bisa mencapai kesucian tingkat apapun apalagi terbebas dari tumimbal lahir. Konsep Anatta ini merupakan salah satu inti dari ajaran Buddha yang terpenting. Bagi saya pribadi pemahaman mengenai Anatta ini merupakan ajaran yang paling membuka mata dan paling membuat segala cara pandang kita berubah sebagai seorang manusia. Anatta di sini artinya adalah bahwa pada diri manusia ini sebenarnya tidak ada inti-nya, tidak ada esensinya, tidak ada roh-nya, tidak ada Aku. Lantas kalau tidak memiliki roh, kenapa ada konsep reinkarnasi? Pertanyaan inilah yang menjadi pertanyaan saya dulu saat awal-awal mempelajari ajaran Sang Buddha. Dan rasanya agak sulit menjelaskannya hanya dalam tulisan di sini, mengingat saya pribadi dulu juga harus membaca banyak sekali buku, menonton puluhan video untuk benar-benar memahami konsep ini. Tapi bagaimanapun juga saya akan coba jelaskan secara singkat.
Dalam Buddhisme, meskipun tidak ada jiwa atau roh yang kekal, ada kesinambungan kesadaran dan energi karma yang tetap berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Inilah yang "bereinkarnasi," meskipun kata "reinkarnasi" dalam konteks ini mungkin kurang tepat karena tidak ada entitas tetap / kekal yang berpindah, jadi sebenarnya kata yang lebih tepat adalah "terlahir kembali". Menurut ajaran Buddha, kesadaran tidak bersifat tetap, melainkan merupakan aliran yang terus berubah dari satu momen ke momen berikutnya. Aliran satu kesadaran ini akan berakhir saat terjadi kematian fisik satu kehidupan tetapi kesadaran tersebut akan terbentuk kembali dengan kondisi-kondisi baru yang terbentuk oleh karma yang diperoleh selama hidup. Jadi, apa yang "terlahir kembali" adalah kesinambungan dari proses ini, bukan suatu roh atau jiwa yang sifatnya permanen.
Analoginya: Api dan Lilin
Sebuah analogi umum yang digunakan dalam Buddhisme adalah menyalakan lilin baru dengan api dari lilin lain. Api yang menyala di lilin kedua bukanlah api yang sama dengan lilin pertama, tetapi ia dihidupkan oleh yang pertama, dan dengan demikian terdapat kesinambungan. Api dari lilin-lilin tersebut sifatnya juga bukan sesuatu yang kekal atau sesuatu yang tetap dan tidak berubah. Kalau diibaratkan kehidupan saat ini kita anggap sebagai lilin pertama. Maka pada saat api dari lilin pertama telah padam, bisa dikatakan semua elemen dalam kehidupan tersebut telah tidak ada. Tapi semua kesadaran yang kita punyai semasa hidup itu adalah seperti api dalam lilin tersebut. Pada saat kita terlahir kembali menjadi lilin kedua, maka api yang menyala di lilin kedua itu ibarat kesadaran baru yang terbentuk dari kehidupan sebelumnya bersama dengan karma-karmanya. Maka secara singkat disebutkan bahwa kehidupan berikutnya “dinyalakan” oleh energi karma dari kehidupan sebelumnya, meskipun tidak ada elemen fisik atau spiritual yang tetap.
Buddhisme mengajarkan bahwa individu terdiri dari lima unsur yang disebut skandha (rupa/bentuk fisik), vedana (perasaan), sanna (persepsi), sankhara (kecenderungan mental), dan vinnana (kesadaran). Pada saat kematian, lima unsur ini akan padam, tetapi karma yang dihasilkan serta kesadaran dalam kehidupan sebelumnya akan memengaruhi pembentukan lima unsur baru di kehidupan berikutnya. Ketika seseorang melakukan perbuatan baik atau buruk, tindakan ini menciptakan "benih" karma yang akan berbuah di masa depan, baik dalam kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Jadi, kelahiran kembali adalah hasil dari hukum sebab-akibat ini, yang mempertahankan kontinuitas, meskipun tidak ada inti atau jiwa yang berpindah. Jadi kelahiran kembali lebih merupakan proses sebab-akibat yang berkelanjutan, bukan perpindahan roh dari satu tubuh ke tubuh lain. Perpindahan ini lebih menyerupai perubahan kondisi yang disebabkan oleh tindakan dan karma, bukan migrasi entitas tetap.
Menurut Neuro Science tidak ada entitas terpisah yang menggerakkan Tubuh Manusia
Konsep Reinkarnasi versi Yiguandao
Konsep Reinkarnasi yang diyakini oleh umat-umat Yiguandao sama dengan konsep reinkarnasi yang diyakini oleh orang-orang awam pada umumnya yang biasanya tidak mendalami kitab suci atau sutra Buddhis. Yiguandao menyakini adanya roh yang bersifat kekal, di mana proses reinkarnasi adalah proses berpindahnya roh dari yang tubuh yang satu ke tubuh yang baru. Yiguandao juga cukup menekankan pentingnya roh yang kekal ini pada ceramah-ceramahnya. Pada saat ceramah 講三寶 Ceramah 3 Mustika untuk orang-orang yang baru memohon Tao, biasanya salah satu penjelasan awalnya adalah menerangkan bahwa dalam diri manusia ini ada 2 entitas yaitu badan manusia ini disebut yang palsu dan roh yang disebut sejati. Tujuan mendapatkan Tao bukanlah menyelamatkan badan yang kasar ini, tapi menolong roh sejati kita. Maka dalam ceramah-ceramah Yiguandao ada kata-kata menyelamatkan yang sejati (roh) menggunakan yang palsu (badan kasar). Diterangkan juga, di jaman pancaran akhir ini, akan turun bencana demi bencana dan puncaknya adalah bencana akhir jaman yang akan menghancurkan dunia ini (kiamat). Kalau bencana sudah terjadi, maka badan ini akan hancur terkena bencana, tapi yang terpenting adalah roh sejati telah diselamatkan sehingga bisa pulang ke sisi Lao Mu di Surga Abadi.
Perbedaan yang Kecil tapi Dampaknya Sangatlah Luar Biasa Besar
Bila dilihat secara sekilas, perbedaan dari pemahaman ini seperti kecil dan tidak berdampak apa-apa. Saya pribadi dulu bukannya tidak pernah mendengar istilah "Tidak ada Aku" saat masih aktif di vihara Yiguandao, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti makna dari kata-kata itu. Seperti sebagian besar orang awam, saya dulu hanya menganggap "Tidak ada Aku" ini hanya sekedar berusaha untuk tidak egois sebagai manusia. Dan karena pemahamannya cuma sebatas itu maka sangatlah sulit untuk mempraktekkan sifat tidak egois dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan sebenarnya itu wajar, karena kita belum benar-benar memahami konsep Anatta ini secara benar. Setelah saya mempelajari Dharma dari ajaran-ajaran Buddha secara benar, barulah saya benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan Anatta (Tidak ada Aku) ini. Perbedaan antara meyakini bahwa di dalam diri kita ini ada roh yang kekal dan tidak ternyata bisa sangat berpengaruh besar pada cara berpikir dan kebatinan kita semasa hidup. Apa perbedaan yang sangat berbeda antara dua pandangan ini, sampai-sampai Sang Buddha menempatkan pandangan benar di urutan yang pertama dalam 8 Jalan Mulia berunsur Delapan, dan pandangan yang meyakini bahwa adanya aku yang sejati sebagai belenggu pertama (sakkāya-diṭṭhi) yang menjadi penghalang bagi seseorang yang ingin mencapai kesucian.
Untuk memahami konsep ini secara jelas, saya suka menggunakan analogi drama pentas. Tidak sedikit dari kita tentu punya pengalaman memerankan suatu tokoh tertentu dalam drama pentas yang diadakan di sekolah atau acara-acara lainnya. Atau anda bisa juga mengambil analogi aktor atau artis yang memerankan sebuah tokoh dalam sebuah film. Sebenarnya contoh ini pun tidak bisa dibilang tepat, karena pada contoh ini sosok pemeran sulit dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak kekal. Tapi untuk bisa merasakan feel dan cara berpikirnya, membayangkan bahwa kita sedang memerankan seorang tokoh dalam sebuah drama pentas / film adalah pengalaman yang paling dekat dan paling mudah kita bayangkan dan imajinasikan.
Kenapa pandangan bahwa Anatta (Tidak adanya Aku/Inti dalam diri) ini begitu penting dalam tingkat kebatinan kita? Sekarang bayangkan kalau kita memerankan seorang karakter bernama A di dalam sebuah drama pentas, lalu menurut skrip drama-nya, A ini ternyata harus dicaci maki oleh seorang karakter lain bernama B. Setelah itu A ini dalam ceritanya juga ternyata ditikung oleh temannya bernama C yang diam-diam merebut pacarnya. Pertanyaan saya, saat anda selesai pentas, bisakah anda sebagai pemeran A menaruh rasa jengkel, rasa dendam atau rasa benci yang benar-benar mendalam kepada B dan C? Walaupun ada orang yang terbawa peran sampai-sampai bisa merasa ada sedikit rasa benci pada karakter B dan C, tapi kita pada akhirnya akan sadar bahwa semua itu hanyalah peran semata, di mana itu sifatnya adalah sementara. Dari drama pentas itu, kita sebenarnya menerapkan Anatta (tidak ada Aku) dalam diri karakter A tersebut, dan kita menyadari bahwa karakter A itu sifatnya hanyalah peran sementara saja dan tidak kekal sifatnya. Saat pentas telah berakhir, maka A itu sudah tidak ada lagi. Sekarang, bayangkan mindset itu kita terapkan di dunia nyata. Kita mulai menyadari bahwa sebenarnya tidak ada Aku dalam diri kita, tidak ada Roh yang kekal dalam diri kita, tidak ada Inti Abadi dalam diri kita. Setelah kehidupan kita yang ini selesai, maka seluruh elemen diri kita ini berarti telah hilang dari dunia. Ini sama saja dengan karakter A dalam drama pentas yang saya contohkan di atas. Dan kalau kita mempunyai pandangan seperti ini, bisakah kita menyimpan rasa dendam, rasa benci, rasa marah yang sampai dipendam berhari-hari, berbulan-bulan atau mungkin sampai meninggal kepada seseorang? Ketika kita berpandangan bahwa diri kita ini hanyalah sementara dan tidak kekal, maka keseluruhan batin ini mulai tercerahkan, di mana kita tidak lagi akan melekat kepada segala sesuatu. Kita tetap menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya, tapi batin kita akan menjadi setingkat lebih baik, karena kita akan sulit sekali terbawa apapun kejadian yang ada di kehidupan ini. Dengan tidak melekatnya kita pada segala sesuatu di dunia ini, kita menjadi lebih bijaksana dan akan bisa menerima kenyataan dan hidup ini sesuai apa adanya. Dan bila batin kita sudah mencapai tahapan itu, maka kita akan banyak sekali melenyapkan dukha-dukha (penderitaan) yang diakibatkan oleh rasa marah, keserakahan, kebodohan, rasa iri hati, rasa kecewa akibat tidak mendapatkan yang diinginkan, rasa kecewa akibat realitas tidak sesuai ekspetasi, rasa dendam akibat disakiti, dan masih banyak lagi.
Komentar