Langsung ke konten utama

Studi Tentang Yiguandao (Bagian 8) - Mencapai Kesempurnaan versi Yiguandao

Perbedaan Cara Mencapai Kesempurnaan

  Di Yiguandao, konsep mencapai kesempurnaan/pencerahan atau melampaui kelahiran dan kematian sangatlah berbeda dengan yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan bahwa mencapai kesempurnaan/mencapai tingkat kesucian adalah pada saat batin kita mencapai tingkat di mana pandangan sudah benar, segala kemelekatan telah hilang, nafsu keinginan telah tidak ada, dan sudah tidak adanya kesombongan, kegelisahan dan kebodohan. Sebenarnya konsep kesempurnaan ini punya kemiripan dengan mencapai pencerahan (得道) dalam Tao Te Ching seperti yang sudah saya bahas pada postingan sebelumnya (Bagian 6). Tapi di agama Buddha, semua itu dijelaskan lebih detail dan terperinci. 


Mencapai Kesempurnaan menurut Ajaran Sang Buddha

Salah satu inti ajaran Sang Buddha adalah konsep mencapai pencerahan/mencapai Nibanna yang berarti telah memutus mata rantai kehidupan dan kematian (超生了死 chao sheng liao si). Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Sang Buddha saat Beliau sudah mencapai pencerahan semasa hidup (saupadisesa nibbana) : "Anda terlihat sangat spesial. Siapakah Anda? Apakah semacam Malaikat atau Dewa?" Sang Buddha menjawab "Bukan", "Apakah Anda ini semacam ahli sihir?" "Bukan" "Apakah Anda Tuhan?" "Bukan" "Kalau begitu apakah Anda?" Buddha menjawab "Saya telah tersadar".

Perjalanan Sang Buddha meninggalkan kerajaannya setelah melihat adanya 4 penderitaan (lahir, sakit, tua, mati) telah membawanya menuju ke sebuah kesadaran, kesadaran yang sempurna. Dan apa yang disebut dengan kesadaran yang sempurna itu? Sang Buddha menjelaskannya dengan sangat detail dan memberikan panduan kepada murid-muridnya agar semuanya dapat mengikuti jejaknya. Dan cara yang dijelaskan oleh Sang Buddha adalah menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Secara terpisah, Sang Buddha juga menjelaskan tingkat-tingkat kesucian yang akan dicapai jika seseorang sudah berusaha menjalankannya.  

Empat tingkat kesucian tersebut adalah : 

I.  Sotapanna

Telah terlepas dari 3 Belenggu :

1. sakkāya-diṭṭhi : Pandangan Salah mengenai adanya Aku/Roh yang kekal

2. vicikicchā : Keragu-raguan akan Ajaran Buddha

3. sīlabbata-parāmāsa : Keyakinan bahwa Upacara atau Ritual semata dapat membawa kesucian dan lenyapnya Penderitaan


II.  Sakadagami

Telah terlepas dari 3 Belenggu di atas dan Nafsu Indrawi sudah berkurang


III.  Anagami

Telah terlepas dari 3 Belenggu di atas dan 2 Belenggu Nafsu :

4. kāmacchanda - Nafsu Indria

5. vyāpāda atau byāpāda - Niat jahat


IV.  Arahat

Telah terlepas dari 5 belenggu di atas dan 5 belenggu berikut :

6. rūparāga - Kemelakatan dan kehausan untuk terlahir di alam bentuk

7. arūparāga - Kemelakatan dan Kehausan untuk hidup di alam tidak berbentuk


8. māna - kesombongan 

9. uddhacca - kegelisahan 

10. avijjā - ketidaktahuan 

Semakin tinggi tingkat seseorang bisa berpandangan benar, menghilangkan nafsu indrawi, menghilangkan kekotoran batin, dan menghilangkan segala kemelakatan, maka semakin tinggi kesuciannya. Dan bila seseorang sudah mencapai tingkat kesucian ke-4 yaitu Arahat, maka berarti orang tersebut telah berhasil mencapai kesempurnaan atau melampaui kehidupan dan kematian (tidak terlahir kembali). Mencapai tingkat arahat berarti sudah terlepas dari 10 belenggu, yaitu sudah berpandangan benar, sudah tidak punya nafsu keinginan, sudah tidak memiliki kemelakatan, dan sudah tidak memiliki kemarahan, kedengkian, keserakahan, kesombongan, kegelisahan dan ketidak tahuan. Kenapa bisa tidak terlahir kembali? Karena segala sesuatu yang membuat seseorang bisa terlahir kembali sudah tidak ada lagi. Seseorang bisa terlahir kembali ke dunia bila masih ada kilesa yang berarti masih mempunyai keinginan, masih mempunyai kekotoran batin, masih memiliki kemelakatan dengan yang ada di dunia ini. Tapi bila hal-hal yang mengikat tersebut sudah tidak ada, maka orang tersebut akan terbebas. Seorang Arahat sudah tidak melekat pada apapun di dunia ini, oleh karena itulah mereka tidak dilahirkan kembali. Bila sudah mencapai tingkat ini, maka orang tersebut telah mengikuti jejak Sang Buddha yaitu mencapai kesucian/mencapai Nibanna sehingga dengan kata lain juga telah memutus/melampaui rantai tumimbal lahir (kelahiran dan kematian).

    Jadi sangatlah jelas di sini bahwa Mencapai Kesucian/Mencapai Kesempurnaan dalam hal ini mengacu pada tingkat kesadaran yang sudah sempurna. Jadi kesempurnaan itu bukanlah wahyu, bukanlah rahasia Tuhan, bukanlah sebuah mustika gaib, bukanlah satu titik suci, bukanlah suatu gelar yang diberikah oleh Tuhan, juga bukanlah sesuatu yang dibawa Sang Buddha sebagai juru selamat dari Surga untuk diberikan kepada manusia di dunia. Konsep kesempurnaan menurut ajaran Buddha ini hanyalah kondisi batin yang sudah tersadar dan memahami semua kebenaran alam ini dan itu bisa dicapai oleh semua manusia asalkan orang itu menjalankan apa yang Buddha ajarkan bahkan tanpa perlu menjadi umat agama Buddha sekalipun.

Mencapai Kesempurnaan versi Yiguandao

Sangat berbeda dengan ajaran Sang Buddha, Yiguandao mempunyai pemahaman yang sangat berbeda tentang konsep mencapai kesucian/mencapai kesempurnaan. Yiguandao menyakini bahwa mencapai kesempurnaan itu adalah pada saat seseorang menemukan satu titik suci (道 Tao) yang disebut sebagai pintu kelahiran dan kematian (玄關). Biasanya para pengikut Yiguandao akan mendapatkan satu titik suci tersebut pada saat mereka datang ke vihara Yiguandao untuk pertama kalinya melalui upacara ritual 求道 qiu dao (Memohon Tao). Saat mereka mendapatkan Tao ini maka dikatakan mereka sudah menemukan 天道 jalan pulang ke Nirwana dan sudah terlepas dari 6 jalur reinkarnasi.

    Narasi yang dibuat oleh kalangan Yiguandao biasanya adalah bahwa orang-orang suci jaman dahulu harus pergi ke gunung-gunung meninggalkan semua harta benda mengumpulkan 3800 jasa pahala, baru secara diam-diam Tuhan akan memberikan petunjuk di manakah letak titik suci itu. Bila seseorang sudah mengetahui satu titik yang merupakan jalan pulang ke surga itu, maka orang tersebut disebut telah melampaui kehidupan dan kematian dan tidak akan bereinkarnasi lagi. Disebutkan juga bahwa umat-umat di luar kalangan Yiguandao cara mencapai kesempurnaannya semuanya caranya adalah begitu. Maka dari itu para penceramah Yiguandao sering menyebutkan bahwa sangatlah sulit di jaman sekarang untuk mencapai kesempurnaan, karena sudah tidak ada orang yang mau meninggalkan keluarga untuk pergi ke gunung mencari guru penerang demi mendapatkan Tao yang Agung tersebut.

    Dan doktrin yang selalu diucapkan dalam ceramah-ceramah di vihara Yiguandao biasanya adalah karena sekarang jaman sudah memasuki masa pancaran putih (masa pancaran terakhir) dan dunia ini sudah mau kiamat (hancur), maka dimulailah masa pelintasan global yang dimulai sejak jaman 路中一 Lu Zhong Yi yang dipercaya sebagai titisan Buddha Maitreya (di Yiguandao juga dikenal sebagai Maha Guru / Patriark ke-17). Karena telah turunnya Buddha Maitreya sekaligus berakhirnya era Siddharta Gautama, maka cara  membina di pancaran putih ini juga berubah  yaitu kebalikan dari cara membina di jaman dahulu. Di jaman dahulu orang harus membina dulu baru mendapatkan Tao sedangkan di jaman sekarang bisa mendapatkan Tao dulu baru kemudian membina. Ini semua adalah karena welas asih dari Ibu Suci (Tuhan) yang merindukan semua anaknya untuk pulang ke surga. 

Dari penjelasan-penjelasan tersebut, walaupun disebut bahwa mendapatkan satu titik itu adalah tingkat di mana orang jaman dahulu sudah mencapai kesempurnaan. Tapi di masa pancaran putih ini, sistemnya menjadi berubah. Di vihara Yiguandao disebutkan bahwa walaupun di jaman masa pancaran putih ini, orang sudah mendapatkan satu titik sejati (Tao) masih belum bisa dibilang bahwa orang tersebut sudah mencapai kesempurnaan. Pada dasarnya kesempurnaan baru bakal diketahui pada saat meninggal nanti. Bila amal pahalanya mencukupi maka pengikut Yiguandao itu barulah disebut mencapai kesempurnaan. Dan banyak cerita-cerita yang disampaikan penceramah tentang orang-orang yang sudah mendapatkan Tao tapi masih bisa turun lagi ke dunia atau bahkan turun ke neraka. Agar orang-orang yang sudah mendapatkan Tao ini bisa mencapai kesempurnaan dan melampaui kelahiran dan kematian, biasanya umat-umat Yiguandao akan didorong dan disarankan untuk mengumpulkan jasa pahala dengan melakukan hal-hal berikut :

  • Mengutamakan urusan Vihara dibandingkan urusan lain
  • Sering beramal jasa di vihara baik dalam bentuk uang, tenaga maupun ucapan (berceramah di vihara, mengajak orang, membimbing untuk datang ke vihara)
  • Rajin ke vihara melakukan apapun kegiatan yang ada dalam Vihara (dianggap sebagai menyelesaikan ikrar untuk melunasi hutang karma 60.000 tahun)
  • Melintasi umat sebanyak-banyaknya
  • Meninggalkan keluarga dan mencurahkan seluruh hidup demi perkembangan Tao dengan menjadi 點傳師Dianchuanshi / 講師 Penceramah / 辦事人員 Petugas Suci 
  • Membuka Ladang Baru (Membuka Vihara dan mencari umat di lingkungan baru yang belum ada kalangan Yiguandao-nya)
  • Bervegetarian. Walaupun tidak dipaksa tapi disebutkan bahwa bervegetarian itu adalah syarat wajib agar bisa selamat dari bencana akhir jaman dan syarat wajib untuk menjadi Buddha 

    Di Yiguan Dao, cara mencapai kesempurnaan adalah melakukan hal-hal di atas. Di vihara saya dulu, berbuat kebajikan di luar vihara sangat jarang direkomendasikan, karena para senior mengatakan bahwa karena situasi sudah mendesak maka fokus dari Yiguandao adalah melintasi umat manusia, jadi tidak perlu melakukan amal jasa pahala di luar vihara. Dan bahkan walaupun banyak umat yang sudah melakukan hal-hal di atas, tidak ada jaminan orang tersebut akan mencapai kesempurnaan. Karena biasanya klaim bahwa seseorang mencapai kesempurnaan atau tidak itu didapatkan dari hasil Fuji (tulisan pasir/peminjaman raga) yang akan mengabarkan bahwa seseorang yang sudah meninggal telah mendapatkan gelar tertentu di Surga. Dan dari pengalaman saya selama puluhan tahun di vihara, semua yang disebut mencapai kesempurnaan (成到) tidak ada satupun yang merupakan umat biasa. Biasanya mereka adalah yang memang mempunyai jabatan dan posisi penting di vihara Yiguandao. Bahkan di vihara saya pribadi, tidak ada satupun umat lokal asal Indonesia yang mencapai kesempurnaan tidak peduli seberapa tulusnya mereka membina. Padahal kalau dilihat secara keseluruhan, cara pembinaan antara yang disebut mencapai kesempurnaan dan yang tidak sebenarnya tidak jauh berbeda, bahkan banyak umat yang lebih junior yang saya lihat jauh lebih tulus, tidak banyak berpolitik dan bekerja lebih keras daripada yang senior. Saya juga melihat ada juga umat di vihara saya yang sepanjang hidupnya mendedikasikan dirinya dan tinggal di vihara untuk urusan rohani. Tapi karena dia sudah tidak dikehendaki lagi oleh pemimpin vihara, dia akhirnya harus keluar dari vihara. Saya sangat yakin orang-orang seperti itu tidak mungkin akan disebut mencapai kesempurnaan pada saat adanya Fuji (tulisan pasir atau peminjaman raga). 
    Salah satu gambaran detail bagaimana pencapaian pembinaan seseorang di Yiguandao tercatat dalam sebuah buku berjudul 林篬庫壇主理靈遊天記述 Rekaman Perjalanan Roh Lin Cangku Tanzhu ke Alam Surga Abadi. Di buku itu dituliskan bahwa ada banyak fasilitas-fasilitas di Surga sana buat mereka-mereka yang telah membina dengan baik, seperti salah satu contohnya kursi-kursi Buddha yang didapat. Orang yang membuka jalan seperti Qianren dan Dianchuanshi disebut mendapatkan kursi emas tingkat 1, sedangkan para umat yang orang-orang yang aktif dan sering membantu kegiatan-kegiatan vihara mendapatkan kursi tingkat ke-2 sampai ke-3. Kursi tingkat ke-4 sampai dengan ke-9 warna emasnya tidak sebagus kursi tingkat tinggi, biasanya ditujukan ke orang-orang yang belum bervegetarian tapi masih membina. Sedangkan kursi yang warnanya paling hitam adalah tingkat ke-10 di mana itu ditujukan pada orang-orang yang hanya memohon Tao saja tapi tidak pernah aktif ke vihara. 

Sangat Bertolak Belakang dengan Ajaran Sang Buddha 

Sang Buddha telah mengajarkan bahwa untuk mencapai tingkat kesucian Arahat yang sampai tidak terlahir kembali itu adalah pada saat seseorang batinnya sudah tersadar dan telah terlepas dari 10 belenggu, yaitu telah memiliki pandangan benar, menghilangkan kemelekatan, menghilangkan nafsu keinginan, menghilangkan kesombongan, kegelisahan, kemarahan dan kebodohan. Di vihara saya pribadi, beberapa sosok senior yang diklaim mencapai kesempurnaan jelas-jelas tingkat kesadarannya sama sekali tidak mengarah ke sana dan bahkan masih terikat semua belenggu. Bahkan untuk mencapai tingkat kesucian paling rendah (sotapanna) yang masih harus lahir kembali saja mereka belum bisa karena belum bisa menghancurkan 3 belenggu paling dasar. Sudah sangat jelas para pengikut Yiguandao semuanya masih terikat belenggu sakkāya-diṭṭhi yaitu Percaya ada Diri atau adanya Roh yang kekal,  Vicikicchā yaitu masih ragu pada Buddha, Dharma dan Sangha dan sīlabbata-parāmāsa yaitu Pandangan Salah yang menyakini bahwa Ritual dan Upacara dapat Membawa Kesucian. Semua pengikut Yiguandao menyakini bahwa dalam diri tiap orang itu ada roh yang sifatnya kekal (sakkaya ditthi), memilih lebih percaya omongan senior yang tidak sesuai ajaran-ajaran Buddha Sakyamuni yang tercatat dalam tripitaka dan sutra-sutra (salah satu bentuk Vicikiccha) dan menyakini bahwa upacara Qiu Dao 求道 itu telah membawa mereka mencapai pencerahan/kesempurnaan dan memutus perputaran roda reinkarnasi (Silabbata-paramasa). Selain itu kalangan Yiguandao juga meyakini bahwa rajin menghadiri segala kegiatan vihara dan sering melakukan ritual-ritual sembahyang akan mengikis hutang karma dan membawa mereka menuju pencerahan sempurna. Ini ada di salah satu kalimat dalam Milezhenjing, yaitu 要想成佛勤禮拜  yào xiǎng chéng fó qín lǐ bài
Kalau mau menjadi Buddha harus rajin-rajin ke vihara. Ini juga adalah bentuk pandangan salah (silabbata-paramasa), yang menurut Sang Buddha menjadi salah satu penyebab yang terus membawa mahluk terus berkelana di alam samsara.
    Di vihara Yiguandao sering dikatakan bahwa orang-orang di luar kalangan Yiguandao dan umat agama Buddha kalau mau mencapai kesempurnaan caranya haruslah meninggalkan keluarga, pergi ke gunung-gunung untuk mencari guru penerang yang bisa memberi petunjuk satu titik suci. Proses pencarian ini bisa sampai terjadi beberapa kehidupan. Di sisi lain, Yiguandao mengklaim bahwa karena sekarang ini sudah masa pancaran ketiga, maka cara mencapai kesempurnaannya juga berubah, yaitu dengan cara Memohon Tao (求道) di vihara Yiguandao. Perkataan ini sama saja seperti mengatakan "Cara membuat mie pada jaman dahulu itu adalah dengan cara mencari dulu sebuah zat ajaib bernama X. Sekarang ini orang selain dari kelompok kami kalau ingin membuat mie caranya juga seperti itu, di jaman sekarang kami mempunyai cara baru membuat mie, di mana kami memiliki zat ajaib X itu, sehingga membuat mie sudah tidak sulit lagi." Jadi alih-alih menjelaskan cara membuat mie dengan cara yang benar (yaitu dengan membuat adonan tepung yang dicampur dengan telur dan air), malah membuat narasi bahwa cara membuat mie di jaman dulu dan di luaran itu adalah dengan mencari zat X dulu. Kalau menjelaskan cara mencapai kesempurnaan dengan cara yang sebelumnya saja tidak tahu, bagaimana mungkin kita disuruh untuk percaya bahwa ada cara baru untuk mencapai kesempurnaan. Ini justru menunjukkan bahwa senior-senior Yiguandao sama sekali tidak memahami inti ajaran Sang Buddha.
    Menurut ajaran Sang Buddha yang benar, sangatlah jelas bahwa cara mencapai kesempurnaan bukanlah seperti itu. Cara yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah menjalankan jalan mulia berunsur delapan sehingga bisa terbebas dari ikatan 10 belenggu yang bisa mengikat kita ke perputaran roda reinkarnasi. Menjalankan semua itu, kita tidak perlu harus pergi ke gunung-gunung, mencari guru apalagi mencari satu titik sejati yang disebut 道 Tao. Yang mereka lakukan sebenarnya adalah menempa diri dan melatih batin agar tingkat kesadaran mereka menjadi sempurna. Yang disebut sempurna adalah saat kita sudah tidak lagi mempunyai kekotoran batin, sudah tidak punya lagi nafsu keinginan indrawi, sudah tidak mempunyai kemelekatan dengan apapun di dunia. Di jaman modern seperti sekarang. masih banyak yang melatih diri mempratekkan ajaran Sang Buddha dengan tujuan untuk mencapai kesucian/kesempurnaan. Tujuan dari banyak orang menjadi bikhu dan bikhuni sebenarnya juga adalah karena itu. Inilah letak perbedaan cara mencapai kesempurnaan menurut ajaran Yiguandao yang sangat bertolak belakang dengan Ajaran Sang Buddha.  

Referensi : 
Sutta Pitaka - Samyutta Nikaya (Linked Discourses) - Bhikkhu Sujato
Khotbah-khotbah Berkelompok Sang Buddha Buku 1 Sagathavagga Terjemahan Baru Samyutta Nikaya - Bikkhu Bodhi
The Eightfold Path for the Householder - Jack Kornfield

Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 7) : Praktek Fuji (Tulisan Pasir & Peminjaman Raga)
Studi tentang Yiguandao Bagian Selanjutnya (Bagian 9) : Benarkah Badan Lemas Saat Meninggal Menandakan Orang tersebut Masuk Surga?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...