Perbedaan Cara Mencapai Kesempurnaan
Di Yiguandao, konsep mencapai kesempurnaan/pencerahan atau melampaui kelahiran dan kematian sangatlah berbeda dengan yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan bahwa mencapai kesempurnaan/mencapai tingkat kesucian adalah pada saat batin kita mencapai tingkat di mana pandangan sudah benar, segala kemelekatan telah hilang, nafsu keinginan telah tidak ada, dan sudah tidak adanya kesombongan, kegelisahan dan kebodohan. Sebenarnya konsep kesempurnaan ini punya kemiripan dengan mencapai pencerahan (得道) dalam Tao Te Ching seperti yang sudah saya bahas pada postingan sebelumnya (Bagian 6). Tapi di agama Buddha, semua itu dijelaskan lebih detail dan terperinci.
Mencapai Kesempurnaan menurut Ajaran Sang Buddha
Salah satu inti ajaran Sang Buddha adalah konsep mencapai pencerahan/mencapai Nibanna yang berarti telah memutus mata rantai kehidupan dan kematian (超生了死 chao sheng liao si). Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Sang Buddha saat Beliau sudah mencapai pencerahan semasa hidup (saupadisesa nibbana) : "Anda terlihat sangat spesial. Siapakah Anda? Apakah semacam Malaikat atau Dewa?" Sang Buddha menjawab "Bukan", "Apakah Anda ini semacam ahli sihir?" "Bukan" "Apakah Anda Tuhan?" "Bukan" "Kalau begitu apakah Anda?" Buddha menjawab "Saya telah tersadar".
Perjalanan Sang Buddha meninggalkan kerajaannya setelah melihat adanya 4 penderitaan (lahir, sakit, tua, mati) telah membawanya menuju ke sebuah kesadaran, kesadaran yang sempurna. Dan apa yang disebut dengan kesadaran yang sempurna itu? Sang Buddha menjelaskannya dengan sangat detail dan memberikan panduan kepada murid-muridnya agar semuanya dapat mengikuti jejaknya. Dan cara yang dijelaskan oleh Sang Buddha adalah menjalankan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Secara terpisah, Sang Buddha juga menjelaskan tingkat-tingkat kesucian yang akan dicapai jika seseorang sudah berusaha menjalankannya.
Empat tingkat kesucian tersebut adalah :
I. Sotapanna
Telah terlepas dari 3 Belenggu :
1. sakkāya-diṭṭhi : Pandangan Salah mengenai adanya Aku/Roh yang kekal
2. vicikicchā : Keragu-raguan akan Ajaran Buddha
3. sīlabbata-parāmāsa : Keyakinan bahwa Upacara atau Ritual semata dapat membawa kesucian dan lenyapnya Penderitaan
II. Sakadagami
Telah terlepas dari 3 Belenggu di atas dan Nafsu Indrawi sudah berkurang
III. Anagami
Telah terlepas dari 3 Belenggu di atas dan 2 Belenggu Nafsu :
4. kāmacchanda - Nafsu Indria
5. vyāpāda atau byāpāda - Niat jahat
IV. Arahat
Telah terlepas dari 5 belenggu di atas dan 5 belenggu berikut :
6. rūparāga - Kemelakatan dan kehausan untuk terlahir di alam bentuk
7. arūparāga - Kemelakatan dan Kehausan untuk hidup di alam tidak berbentuk
8. māna - kesombongan
9. uddhacca - kegelisahan
10. avijjā - ketidaktahuan
Semakin tinggi tingkat seseorang bisa berpandangan benar, menghilangkan nafsu indrawi, menghilangkan kekotoran batin, dan menghilangkan segala kemelakatan, maka semakin tinggi kesuciannya. Dan bila seseorang sudah mencapai tingkat kesucian ke-4 yaitu Arahat, maka berarti orang tersebut telah berhasil mencapai kesempurnaan atau melampaui kehidupan dan kematian (tidak terlahir kembali). Mencapai tingkat arahat berarti sudah terlepas dari 10 belenggu, yaitu sudah berpandangan benar, sudah tidak punya nafsu keinginan, sudah tidak memiliki kemelakatan, dan sudah tidak memiliki kemarahan, kedengkian, keserakahan, kesombongan, kegelisahan dan ketidak tahuan. Kenapa bisa tidak terlahir kembali? Karena segala sesuatu yang membuat seseorang bisa terlahir kembali sudah tidak ada lagi. Seseorang bisa terlahir kembali ke dunia bila masih ada kilesa yang berarti masih mempunyai keinginan, masih mempunyai kekotoran batin, masih memiliki kemelakatan dengan yang ada di dunia ini. Tapi bila hal-hal yang mengikat tersebut sudah tidak ada, maka orang tersebut akan terbebas. Seorang Arahat sudah tidak melekat pada apapun di dunia ini, oleh karena itulah mereka tidak dilahirkan kembali. Bila sudah mencapai tingkat ini, maka orang tersebut telah mengikuti jejak Sang Buddha yaitu mencapai kesucian/mencapai Nibanna sehingga dengan kata lain juga telah memutus/melampaui rantai tumimbal lahir (kelahiran dan kematian).
Jadi sangatlah jelas di sini bahwa Mencapai Kesucian/Mencapai Kesempurnaan dalam hal ini mengacu pada tingkat kesadaran yang sudah sempurna. Jadi kesempurnaan itu bukanlah wahyu, bukanlah rahasia Tuhan, bukanlah sebuah mustika gaib, bukanlah satu titik suci, bukanlah suatu gelar yang diberikah oleh Tuhan, juga bukanlah sesuatu yang dibawa Sang Buddha sebagai juru selamat dari Surga untuk diberikan kepada manusia di dunia. Konsep kesempurnaan menurut ajaran Buddha ini hanyalah kondisi batin yang sudah tersadar dan memahami semua kebenaran alam ini dan itu bisa dicapai oleh semua manusia asalkan orang itu menjalankan apa yang Buddha ajarkan bahkan tanpa perlu menjadi umat agama Buddha sekalipun.
Mencapai Kesempurnaan versi Yiguandao
Sangat berbeda dengan ajaran Sang Buddha, Yiguandao mempunyai pemahaman yang sangat berbeda tentang konsep mencapai kesucian/mencapai kesempurnaan. Yiguandao menyakini bahwa mencapai kesempurnaan itu adalah pada saat seseorang menemukan satu titik suci (道 Tao) yang disebut sebagai pintu kelahiran dan kematian (玄關). Biasanya para pengikut Yiguandao akan mendapatkan satu titik suci tersebut pada saat mereka datang ke vihara Yiguandao untuk pertama kalinya melalui upacara ritual 求道 qiu dao (Memohon Tao). Saat mereka mendapatkan Tao ini maka dikatakan mereka sudah menemukan 天道 jalan pulang ke Nirwana dan sudah terlepas dari 6 jalur reinkarnasi.
Narasi yang dibuat oleh kalangan Yiguandao biasanya adalah bahwa orang-orang suci jaman dahulu harus pergi ke gunung-gunung meninggalkan semua harta benda mengumpulkan 3800 jasa pahala, baru secara diam-diam Tuhan akan memberikan petunjuk di manakah letak titik suci itu. Bila seseorang sudah mengetahui satu titik yang merupakan jalan pulang ke surga itu, maka orang tersebut disebut telah melampaui kehidupan dan kematian dan tidak akan bereinkarnasi lagi. Disebutkan juga bahwa umat-umat di luar kalangan Yiguandao cara mencapai kesempurnaannya semuanya caranya adalah begitu. Maka dari itu para penceramah Yiguandao sering menyebutkan bahwa sangatlah sulit di jaman sekarang untuk mencapai kesempurnaan, karena sudah tidak ada orang yang mau meninggalkan keluarga untuk pergi ke gunung mencari guru penerang demi mendapatkan Tao yang Agung tersebut.
Dan doktrin yang selalu diucapkan dalam ceramah-ceramah di vihara Yiguandao biasanya adalah karena sekarang jaman sudah memasuki masa pancaran putih (masa pancaran terakhir) dan dunia ini sudah mau kiamat (hancur), maka dimulailah masa pelintasan global yang dimulai sejak jaman 路中一 Lu Zhong Yi yang dipercaya sebagai titisan Buddha Maitreya (di Yiguandao juga dikenal sebagai Maha Guru / Patriark ke-17). Karena telah turunnya Buddha Maitreya sekaligus berakhirnya era Siddharta Gautama, maka cara membina di pancaran putih ini juga berubah yaitu kebalikan dari cara membina di jaman dahulu. Di jaman dahulu orang harus membina dulu baru mendapatkan Tao sedangkan di jaman sekarang bisa mendapatkan Tao dulu baru kemudian membina. Ini semua adalah karena welas asih dari Ibu Suci (Tuhan) yang merindukan semua anaknya untuk pulang ke surga.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut, walaupun disebut bahwa mendapatkan satu titik itu adalah tingkat di mana orang jaman dahulu sudah mencapai kesempurnaan. Tapi di masa pancaran putih ini, sistemnya menjadi berubah. Di vihara Yiguandao disebutkan bahwa walaupun di jaman masa pancaran putih ini, orang sudah mendapatkan satu titik sejati (Tao) masih belum bisa dibilang bahwa orang tersebut sudah mencapai kesempurnaan. Pada dasarnya kesempurnaan baru bakal diketahui pada saat meninggal nanti. Bila amal pahalanya mencukupi maka pengikut Yiguandao itu barulah disebut mencapai kesempurnaan. Dan banyak cerita-cerita yang disampaikan penceramah tentang orang-orang yang sudah mendapatkan Tao tapi masih bisa turun lagi ke dunia atau bahkan turun ke neraka. Agar orang-orang yang sudah mendapatkan Tao ini bisa mencapai kesempurnaan dan melampaui kelahiran dan kematian, biasanya umat-umat Yiguandao akan didorong dan disarankan untuk mengumpulkan jasa pahala dengan melakukan hal-hal berikut :
- Mengutamakan urusan Vihara dibandingkan urusan lain
- Sering beramal jasa di vihara baik dalam bentuk uang, tenaga maupun ucapan (berceramah di vihara, mengajak orang, membimbing untuk datang ke vihara)
- Rajin ke vihara melakukan apapun kegiatan yang ada dalam Vihara (dianggap sebagai menyelesaikan ikrar untuk melunasi hutang karma 60.000 tahun)
- Melintasi umat sebanyak-banyaknya
- Meninggalkan keluarga dan mencurahkan seluruh hidup demi perkembangan Tao dengan menjadi 點傳師Dianchuanshi / 講師 Penceramah / 辦事人員 Petugas Suci
- Membuka Ladang Baru (Membuka Vihara dan mencari umat di lingkungan baru yang belum ada kalangan Yiguandao-nya)
- Bervegetarian. Walaupun tidak dipaksa tapi disebutkan bahwa bervegetarian itu adalah syarat wajib agar bisa selamat dari bencana akhir jaman dan syarat wajib untuk menjadi Buddha
Komentar