Perbedaan Konsep Hukum Alam Yiguandao dan Ajaran Sang Buddha
Salah satu dasar utama dari ajaran agama Buddha adalah hukum Karma. Hukum karma adalah hukum alam yang bekerja di dunia ini. Karena menyerap ajaran agama Buddha sebagai salah satu ajarannya, Yiguandao juga mempunyai keyakinan pada hukum Karma. Walaupun sama-sama mempercayai hukum karma, ada perbedaan mendasar antara sistem hukum alam yang berjalan menurut agama Buddha dengan sistem hukum alam yang berjalan di kalangan Yiguandao.
Hukum Alam menurut Ajaran Sang Buddha
Menurut ajaran Sang Buddha hanya ada satu hukum alam yang bekerja di dunia ini, yaitu yang dinamakan dengan hukum karma / hukum sebab akibat. Dalam ajaran agama Buddha, hukum karma (atau "kamma" dalam bahasa Pali) adalah konsep tentang sebab-akibat yang mengatur tindakan (karma) dan konsekuensinya. Karma bukanlah hukuman atau hadiah dari kekuatan luar, bukan juga pengaturan dari sesuatu yang lebih tinggi, tetapi lebih sebagai hukum alam yang menyatakan bahwa segala tindakan, ucapan, atau pikiran seseorang akan menghasilkan akibat atau reaksi yang setimpal di masa yang akan datang. Umat Buddha menyakini bahwa nasib manusia ditentukan dan diciptakan oleh diri sendiri.
Karma diartikan sebagai tindakan yang dilakukan dengan kesadaran atau niat (cetana), termasuk pikiran, ucapan, dan perbuatan. Tindakan yang dilakukan tanpa kesadaran atau tanpa niat, biasanya tidak dianggap sebagai karma yang "berbuah".
Dalam Buddhisme, karma dikategorikan menjadi tiga jenis:
- Karma baik (kusala): Tindakan yang membawa manfaat atau kebahagiaan kepada diri sendiri dan makhluk lain, yang berasal dari niat baik.
- Karma buruk (akusala): Tindakan yang merugikan, menyakiti, atau membawa penderitaan kepada diri sendiri atau orang lain, yang muncul dari niat jahat.
- Karma netral (uppekha) : Tindakan yang tidak menghasilkan akibat baik atau buruk secara langsung.
Setiap karma menghasilkan buah atau hasil yang disebut vipaka atau phala, yang berarti "buah" atau "hasil". Misalnya, karma baik cenderung menghasilkan pengalaman yang positif (kebahagiaan), sedangkan karma buruk menghasilkan pengalaman yang negatif (penderitaan). Dalam Buddhisme, karma tidak hanya mempengaruhi kehidupan saat ini tetapi juga mempengaruhi kehidupan-kehidupan yang akan datang melalui proses kelahiran kembali (samsara). Setiap individu terikat pada siklus samsara, dan karma yang terkumpul dalam kehidupan sebelumnya akan memengaruhi kondisi kehidupan selanjutnya. Dan sebenarnya karma bukan satu-satunya faktor yang bisa menyebabkan terjadinya sebuah peristiwa. Ada penjelasan yang lebih detail lagi mengenai hukum alam yang disebut dengan Niyama. Seperti contoh : Bila anda di umur muda terkena penyakit berat, maka itu tidak serta merta hanya diakibatkan oleh karma kehidupan lampau, banyak yang mempengaruhi, contohnya cuaca, musim, lingkungan, virus dan wabah yang sedang terjadi. Selain itu, juga ada penyebab kuat dari gaya hidup anda, pola makan anda, kebiasaan-kebiasaan anda yang sebetulnya itu juga suatu sebab yang anda lakukan sendiri.
Karma bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Buddhisme mengajarkan bahwa dengan kesadaran dan upaya, seseorang bisa mengubah karma buruk atau menciptakan karma baik untuk mengatasi dampak dari tindakan masa lalu. Hukum karma mengajarkan tanggung jawab atas setiap tindakan, sebab tindakan dan niat seseoranglah yang menentukan pengalaman yang akan dialami di masa depan.
Hukum Alam menurut Yiguandao
Agak sedikit berbeda dengan ajaran Sang Buddha, Yiguandao menyakini ada lebih dari 1 hukum alam yang bekerja di dunia ini. Hukum pertama yang bekerja di alam ini adalah hukum Karma, mirip seperti yang diajarkan Sang Buddha. Walaupun sama-sama bernama hukum karma, tapi ada sedikit perbedaan cara pandang mengenai hukum karma ini. Sama seperti orang awam yang tidak terlalu mendalami ajaran Buddha, walaupun tahu bahwa ada yang namanya karma baik, tapi karma lebih banyak dipersepsikan sebagai sesuatu yang negatif (karma buruk). Yiguandao mengyakini bahwa manusia telah berputar di alam samsara ini selama 60.000 tahun, dan selama jangka waktu 60.000 tahun itulah hutang karma manusia telah menumpuk sedemikian besar, sehingga karena besarnya hutang karma bersama seluruh mahluk inilah yang menyebabkan hadirnya bencana akhir jaman yang akan terjadi sekitar 10.000 tahun lagi, yaitu setelah masa 未 berakhir (Baca
Bagian 3 untuk penjelasan detail dari siklus dunia menurut Yiguandao). Karena besarnya hutang karma ini yang ditanggung oleh setiap manusia inilah yang menyebabkan banyak orang sekarang ini sulit sekali mencapai kesempurnaan. Dan karena akan hadirnya bencana alam yang akan memusnahkan manusia, Tuhan (Lao Mu) tidak sampai hati melihat roh manusia yang sejati ini akan terkena bencana tersebut. Maka dari itu Lao Mu berwelas asih menurunkan mustika Tao yang dari dulu selalu dirahasiakan agar semua umat manusia di bumi ini bisa kembali ke kampung halaman, yaitu ke 理天 surga abadi.
Nasib dan Takdir yang ditentukan oleh Lao Mu
Karena Yiguandao mempunyai konsep Tuhan seperti agama Abrahamik, maka umat Yiguandao juga mempercayai adanya sosok penguasa alam semesta yang bisa mengatur apa yang ada di dunia ini sesuai kehendakNya. Karena ada pengaturan dari Lao Mu, maka terkadang bisa saja ada takdir atau nasib tertentu yang bisa terjadi pada seorang manusia yang diyakini merupakan hasil pengaturan dari Lao Mu. Dalam ceramah-ceramah Yiguandao kita akan familiar dengan bahasa-bahasa seperti Laomu berwelas asih, Lao Mu menolong umat tertentu, Lao Mu meringankan beban umat tertentu ataupun Lao Mu menghukum umat manusia yang berdosa, dll. Para umat Yiguandao juga biasanya berdoa meminta sesuatu pada Lao Mu karena umumnya mereka meyakini Lao Mu adalah sosok Maha Pencipta yang bisa mengubah sesuatu yang ada di dunia ini. Ini adalah salah satu konsep yang diyakini oleh para umat-umat Yiguandao yang tentu saja sangat berbeda dengan konsep yang diajarkan dalam Agama Buddha.
Keringanan Hukum Karma sebagai Murid Bapak Guru di Masa Pancaran Putih
Karena besarnya hutang karma 60.000 tahun yang ditanggung setiap umat manusia di bumi ini, maka 濟公活佛 Buddha Jigong sebagai Guru Penerang sejati yang memegang kuasa Tao di masa pancaran terakhir ini rela menanggung sebagian besar dari hutang karma murid-muridnya demi membawa umat manusia ini kembali ke sisi Lao Mu. Buddha Jigong yang turun menjelma menjadi Bapak Guru 張天然 sebagai maha guru ke-18 berwelas asih bahwa semua murid-muridnya di pancaran putih ini akan mendapatkan keringanan hukum karma sebesar 70% (ditanggung Bapak Guru) dan hanya perlu membayar sisanya selama satu kehidupan ini. Saya tidak dapat menemukan hasil Fuji dari kalangan Yiguandao yang lain mengenai ini, jadi saya tidak tahu secara pasti apakah pengurangan karma seperti ini juga berlaku di kalangan Yiguandao yang lain atau tidak.Yang jelas, konsep pengurangan hutang karma ini saya dengar langsung dari 三才 San Cai yang waktu itu mengaku sebagai Buddha Jigong pada saat adanya kelas Sidang Dharma di vihara saya dulu. Sampai terakhir kali saya datang, para senior di vihara saya dulu masih sering menyebutkan mengenai keringanan 70% ini dalam ceramah-ceramahnya.
Dosa dan Hukuman Bagi Umat Yiguandao yang Tidak Menjalankan Tao
Selain adanya keringanan hukum karma, ada juga hukum lain yang diyakini oleh umat-umat Yiguandao yang disebut sebagai dosa akibat dari berniat mundur atau tidak menjalankan Tao setelah memohon Tao (qiudao). Di vihara saya, sangat sering sekali senior menyampaikan biar bagaimanapun juga sebagai umat Yiguandao jangan sampai meninggalkan kalangan Tao. Tidak jarang mereka menyampaikan umat A kehidupannya kurang baik karena kurang tulus ke vihara, umat B bisa kena musibah ini karena kurang membaktikan diri ke vihara, dst. Biasanya umat-umat yang sudah mulai agak mundur atau mulai jarang ke vihara akan di-ajak kembali/chengquan (成全) secara intensif agar bisa kembali aktif lagi ke vihara. Ini yang membuat orang-orang yang sudah pernah aktif menjadi petugas suci (apalagi yang posisinya Jiangshi ataupun Tanzhu), biasanya akan agak sedikit sulit untuk bisa benar-benar lepas dari kalangan Yiguandao. Dasar mengenai hukum ini tertulis pada kitab
Explanations of The Answers to the Truth 性理題釋 /
Kitab Uraian Metafisika Bab 29 yang merupakan wejangan dari 濟公活佛 Buddha Hidup Jigong. Isinya sebagai berikut :
Bab 29. Apakah berdosa bila setelah masuk Kalangan Tao dan tidak menjalankan?
修道的人,必有入道之目的,始能發生入道的思想,其目的當然為躲劫避難,超生了死,方引起入道興趣,欲想避免劫難,必先認清劫難的由來,劫難更非無意識的降臨,實為個人罪孽所造成,故欲躲劫避難,必先懺悔過去一切罪惡,欲消除罪惡,尤應尊師重道,身體力行,去惡向善,始能合乎天理,挽回浩劫,達到最初入道的目的;
Seorang pembina, harus ada tujuan barulah bisa mendapatkan Tao yang Agung di kehidupan ini dan masuk di kalangan Tao, Tujuannya tentu saja adalah untuk menghindari bencana dan malapetaka, melampaui siklus kelahiran dan kematian. Pada saat berminat untuk masuk ke kalangan Tao demi menghindari malapetaka, seseorang harus terlebih dahulu mengenali asal mula dari malapetaka. Bencana tidak datang begitu saja tanpa sebab, sebenarnya bencana itu datang akibat dosa-dosa yang diperbuat setiap manusia, maka untuk terhindar dari bencana haruslah pertama-tama bertobat semua kejahatan yang diperbuat di masa lampau, ingin menghapus semua kejahatan, pertama-tama harus menghormati guru dan semua ajarannya, dengan sungguh hati dan sekuat tenaga mengubah segala yang buruk menjadi baik, barulah bisa selaras dengan kehendak Langit, menebus semua kesalahan agar terhindar dari bencana adalah tujuan paling awal pada saat masuk ke dalam kalangan Tao.
反之,便是背道。背道而行,其罪惡不但無由減少,而劫難隨之而增多,一俟惡貫滿盈,劫難臨頭,決無避免的可能;既不能避免劫難,便不能超生了死,更不能躲去地獄之苦,於此可見罪惡就是劫難的因,劫難就是罪惡的果。劫由罪生,罪由人造,故入道必須竭力進行,否則,愿不能了,便是造罪。既是自己造罪,豈非罪有應得嗎?
Di sisi lain, bila berpaling dari Tao dan tidak menjalankan Tao, segala dosa dan kejahatan bukan hanya tidak berkurang, tapi bencana dan kesengsaraan juga akan meningkat, dan begitu hawa kejahatan itu meluap, saat bencana turun, tidak ada cara untuk menghindarinya. Karena tidak dapat terhindar dari bencana, maka tidak akan terlepas dari tumimbal lahir, dan tidak akan terlepas dari penderitaan alam neraka, hal ini menunjukkan bahwa dosa karma adalah penyebab dari bencana, dan bencana adalah buah hasil dari dosa karma. Bencana timbul karena kejahatan yang diperbuat oleh manusia semasa hidup, maka setelah masuk ke dalam kalangan Tao harus sekuat tenaga untuk maju, kalau tidak, maka ikrar tidak dapat diselesaikan, sama saja seperti menciptakan dosa yang akan mendapat hukuman dari Langit. Karena seseorang telah menciptakan dosa, bukankah orang tersebut pantas mendapat hukuman dari langit?
Selain ayat wejangan hasil Fuji di atas, ada juga yang disebut
sumpah 十條大愿10 Ikrar suci yang diyakini merupakan salah satu hukum alam yang juga berjalan bagi umat kalangan Tao. 10 Ikrar Suci ini diucapkan oleh semua umat Yiguandao pada saat memohon Tao (qiudao) dan disebutkan bahwa ada hukuman
天譴雷誅 disambar petir sebagai hukumannya bila tidak menjalankannya. Lima dari sepuluh ikrar tersebut pada intinya ditujukan kepada orang-orang yang tidak menjalankan Tao (tidak aktif di vihara Yiguandao setelah qiu dao), yaitu tulus membina (誠心抱守
cheng xin bao shou), berhati pura-pura (虛心假意
xu xin jia yi), ingin mundur dari kalangan Tao (退縮不前
tui suo bu qian), menutupi dan tidak mengembangkan Tao (匿道不現
ni dao bu xian), tidak berusaha semampunya (不量力而為者
bu liang li er wei zhe), dan tidak membina diri setulusnya (不誠心修煉者
bu cheng xin xiu lian zhe). Lima ikrar yang saya sebut di atas itu merupakan sebuah hukum khusus yang berlaku bagi umat-umat Yiguandao saja. Dan bila umat Yiguandao tidak menjalankannya tentu ada hukuman berat yang akan menimpanya. Walaupun ada perubahan narasi dalam ceramah-ceramah di vihara Yiguandao dalam beberapa puluh tahun terakhir yang menjelaskan bahwa petir yang menyambar ini bukanlah petir betulan (melainkan petir ke hati nurani), tapi di masa awal pembentukan kelompok dan awal-awal penyebarannya makna sebenarnya dari sumpah ini memang berarti disambar petir betulan. Dan kalau melihat sejarahnya, sumpah ini memang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan dipakai oleh aliran yang merupakan akar dari Yiguandao yaitu
罗教 Luoisme di China pada abad ke-15 untuk meningkatkan para loyalitas pengikutnya. Baru setelah mulai ada banyak umat dari golongan terpelajar pada saat penyebaran ajaran di Taiwan di tahun 1970an, pemahaman seperti ini mulai diubah agar tidak membuat takut umat-umat baru yang masuk ke kalangan Tao. Dasar lain mengenai adanya hukum ini juga dapat anda temukan pada
Explanations of The Answers to the Truth 性理題釋 / Kitab Uraian Metafisika Bab 28 tentang kondisi badan umat Yiguandao pada saat meninggal (Silahkan baca
Bagian 9). Ayat itu menyebutkan bahwa ada pengecualian untuk umat-umat Yiguandao yang berpaling (mundur) dari Tao, jasadnya tidak akan lemas, yang menandakan rohnya akan masuk ke neraka (tidak dijemput Buddha). Tambahan lain mengenai adanya hukum ini adalah saya sendiri juga pernah mendengar kata-kata dari San Cai yang saat itu mengaku sebagai Buddha Jigong dan mengatakan bahwa yang keluar dari kalangan Tao tidak akan sukses dan yang menjadi muridnya tidak akan miskin.
Dua hukum di atas menjadi salah satu dasar hukum dalam Yiguandao mengenai adanya dosa yang diakibatkan apabila ada umat yang tidak aktif dan ingin mundur dari kalangan Tao. Hukum ini diyakini melengkapi hukum karma sebagai hukum alam yang bekerja di dunia ini. Hal yang menjadi kontradiksi adalah ada beberapa penceramah di vihara saya dulu yang mengatakan bahwa tidak apa-apa bila ada umat yang sesudah qiu dao masih tetap menyakini agamanya yang lama dan tidak pernah datang ke vihara. Selain itu saya juga tidak tahu bagaimana hukumnya untuk orang-orang yang setelah qiudao datang ke viharanya sangat jarang (misalnya setahun sekali).
Hukum Alam Ketiga bernama Ujian/Cobaan
Selain dua hukum alam di atas, hukum alam selanjutnya yang diyakini kalangan Yiguandao sebagai salah satu yang bisa mempengaruhi apa yang akan terjadi di kehidupan seorang umat Yiguandao di dunia ini, adalah Ujian/Cobaan (考). Dasar dari teori ini ditemukan di buku 率真進修錄 yang penulisnya tidak diketahui. Ujian ini adalah konsep hukum alam yang diciptakan oleh Lao Mu kepada para umat Yiguandao untuk menguji seberapa tinggi tingkat pembinaan seorang pembina. Di Yiguandao ada sebuah keyakinan bahwa semua pembina Ketuhanan pasti akan menghadapi cobaan yang diberikan oleh Lao Mu. Macam-macam ujian tersebut adalah 內考 Ujian Internal, 外考 Ujian Eksternal, 氣考 Ujian Emosi, 奇考 Ujian Serba Aneh, 順考 Ujian Serba Aneh, 逆考 Ujian Serba Tidak Lancar, 管考 Ujian dari Pemerintah, 顚倒考 Ujian Terbolak Balik, 道考 Ujian di dalam Wadah Tao.

Keyakinan akan adanya ujian dari Laomu ini berperan penting pada keyakinan para umat Yiguandao untuk tetap aktif dan menyebarkan ajaran di saat-saat sulit sebelum Yiguandao dilegalkan di Taiwan pada tahun 1987. Ada banyak sekali umat Yiguandao yang mengalami penderitaan bahkan sampai meninggal pada saat misi misionaris penyebaran ajaran. Kalau anda baca kisah para Maha Guru Yiguandao yang saya bahas di
Bagian 4, banyak Maha Guru, keluarganya serta para senior yang memang dihukum mati oleh Pemerintah. Sesepuh Tua yang menjadi 道長 daozhang di kalangan Tao saya dulu juga dihukum mati pada tahun 1953 saat terjadinya persekusi besar-besaran di China waktu itu. Bagi kalangan Yiguandao, ujian/cobaan ini memang dianggap sebagai salah hukum alam yang harus ditempuh untuk mencapai kesempurnaan.
Senior yang Menanggung Karma Umat
Selain 3 hukum alam di atas, ada satu lagi faktor yang terkadang juga menjadi penyebab seseorang bisa mengalami penderitaan di dunia ini. Pada beberapa ceramah yang pernah disampaikan oleh Dianchuanshi saya di vihara dulu terkadang ada juga pernyataan yang mengatakan bahwa para pembina Tao harus menanggung karma bersama sehingga harus mengalami banyak penderitaan, seperti contohnya adalah para sesepuh dan pendahulu. Banyak senior mulai dari daozhang, lao qian ren, qian ren, dian chuan shi harus menanggung karma umat sehingga sampai harus mengalami banyak kesulitan dan penderitaan selama penyebaran Tao, termasuk yang sampai dipenjara ataupun dihukum mati. Dianchuanshi di vihara saya dulu juga sering berkata di mimbar bahwa beliau harus menanggung hutang karma umat-umatnya sehingga sering tidak enak badan pada saat kelas. Sesepuh (前人 qian ren) yang merupakan pimpinan tertinggi dari kelompok vihara saya dulu pada saat sebelum meninggalnya juga harus menderita sakit dalam kondisi koma selama 10 tahun sebelum akhirnya meninggal. Dikatakan oleh Dianchuanshi di vihara saya, bahwa memang Qian ren harus menanggung hutang karma umat vihara yang dipimpinnya sehingga sampai harus menanggung sakit berat tersebut.
Jadi secara keseluruhan hukum alam yang berlaku yang diyakini oleh umat Yiguandao adalah sebagai berikut :

Bila mengacu pada hukum alam yang diyakini Yiguandao, memang sangatlah sulit untuk mengetahui secara pasti penyebab dari apa yang terjadi dengan kita di kehidupan ini. Contoh misal bila ada umat yang suatu hari sakit keras atau tiba-tiba mengalami suatu kecelakaan berat, maka ada banyak kemungkinan penyebab yang bisa menyebabkan penderitaan tersebut, bisa karena karma-nya sendiri, bisa karena dia kurang tulus menjalankan Tao, bisa juga karena ujian, atau bisa juga karena menanggung hutang karma orang lain. Kemungkinan lain ya bisa saja itu merupakan rencana dari Lao Mu.
Perbedaan Hukum Alam menurut ajaran Sang Buddha vs Yiguandao
Sangat jelas ada perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran Sang Buddha dengan ajaran Yiguandao mengenai hukum alam yang berjalan di alam semesta ini. Menurut ajaran Sang Buddha hanya ada satu hukum alam yang berlaku yaitu hukum karma, sedangkan di Yiguandao ada banyak variabel yang bisa mempengaruhi apa yang terjadi di kehidupan seseorang. Selain itu, khusus untuk hukum karma, sejauh yang saya ketahui, Yiguandao tidak menekankan buah karma akibat pikiran dan pandangan yang salah dalam ceramah-ceramahnya. Sedangkan ajaran Sang Buddha justru banyak menjelaskan bahwa karma akibat pandangan salah dan pikiran yang salah menjadi penyebab seorang bisa terlahir kembali dan menjadi salah satu faktor penting yang akan membentuk sifat, karakter, lingkungan dan keadaan di kehidupan berikutnya. Karma menurut Yiguandao itu juga hanyalah suatu kejadian-kejadian dalam kehidupan, misalnya kita terkena penyakit, terkena musibah, terkena hal-hal yang tidak menyenangkan. Sedangkan menurut ajaran Sang Buddha, karma bukanlah hal-hal sebatas itu saja.
Perbedaan lain yang sangat mencolok juga terletak pada Yiguandao yang menyakini bahwa hutang karma yang dibawa di kehidupan sekarang adalah total hutang karma buruk selama 60.000 tahun. Sedangkan ajaran Sang Buddha memiliki pandangan yang berbeda. Buddha pernah mengatakan bahwa manusia yang ada di bumi ini sudah mengalami kelahiran kembali di 31 alam kehidupan yang tidak bisa dihitung berapa lamanya (bahkan Sang Buddha memberi perumpamaan bahwa jumlah air mata yang dikeluarkan hasil mengembara dalam petualangan kelahiran kembali seorang mahluk jumlahnya masih lebih banyak daripada jumlah air dari 4 samudra besar di bumi digabungkan). Jadi secara total kita hidup mengembara di 31 alam ini mungkin sudah triliunan tahun atau bahkan mungkin jauh lebih lama dari itu. Meskipun begitu, Sang Buddha mengajarkan bahwa konsep hukum karma yang bakal berbuah di kehidupan yang sedang dijalani bukanlah total hutang karma buruk yang ditumpuk selama triliunan tahun seperti yang diyakini oleh Yiguandao, melainkan hanyalah karma-karma yang memang sudah waktunya berbuah saja di kehidupan sekarang, dan karma itu tidak semuanya buruk melainkan ada yang netral dan ada yang baik juga. Inilah perbedaan mendasar mengenai Hukum Alam yang berlaku antara Yiguandao dengan agama Buddha.
Referensi :
性理題釋 Explanations of The Answers to the Truth - Living Buddha Jigong 濟公活佛
The Law of Karma - K. Sri Dhammananda
Karma and Rebirth - Christmas Humphreys
The Buddha and His Teachings - Narada Thera
Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 11) : Konsep Reinkarnasi dan Alam Kehidupan (Coming Soon)
Komentar