求道 Qiu Dao (Memohon Tao)
Faktor utama yang membuat kalangan Yiguandao menganggap bahwa kelompok mereka merasa lebih tinggi status spiritualnya daripada agama-agama lainnya adalah karena merasa telah mendapatkan dan mempunyai Tao yang Agung, yang di dalam ajaran mereka itu adalah 3 mustika (pintu suci, ucapan suci, dan pertanda suci). Tao sendiri di Yiguandao dimaknai sebagai suatu jalan atau mustika, sangat berbeda dengan arti sebenarnya dari Tao yang tertulis dalam Tao Te Ching (Pemahaman mengenai Tao sudah saya bahas di Bab 6). Di Yiguandao, cara mendapatkan tiga mustika ini adalah dengan cara ritual upacara 求道 qiudao (memohon Tao) atau terkadang disebut 開光 kaiguang. Salah satu teori yang sering disampaikan oleh senior-senior Yiguandao biasanya akan menjelaskan bahwa 3 mustika ini sangatlah agung dan sifatnya rahasia, dan di zaman dulu tidak diturunkan sembarangan. Hanya orang-orang yang telah mengumpulkan jasa kebajikan yang cukup saja dan berjodoh saja barulah Lao Mu secara diam-diam memberikan petunjuk. Teori ini kemudian didukung dengan keyakinan bahwa Tao yang Agung (3 mustika) ini baru diturunkan kepada banyak orang sejak masa pancaran putih, alias sejak zaman patriark Lu Zhongyi memegang firman Tuhan. Lu Zhongyi diyakini sebagai reinkarnasi dari Buddha Maitreya dan memegang kuasa alam di jaman masa pancaran terakhir (Masa Pancaran Putih). Tapi, benarkah kenyataannya begitu?
Beberapa waktu lalu, saya baru saja selesai membaca buku bagus tentang sejarah agama-agama di China yaitu Popular Religion and Shamanism karya Xisha Ma dan Huiying Meng. Saat ini saya sedang membaca buku bertopik sama yang tidak kalah bagusnya yaitu Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History tulisan Hubert Michael Seiwert. Dan saya juga sempat membaca beberapa buku dengan topik sejenis sebelumnya yang ternyata membahas seperti apa pratek-praktek kelompok-kelompok agama yang menjadi cikal bakal Yiguandao di masa lalu.
Bila anda sudah mulai sedikit terbuka wawasannya dan mulai baca-baca literatur, maka anda akan tahu bahwa Yiguandao itu sendiri asalnya sebenarnya bukanlah agama Buddha, bukan agama Konghucu dan juga bukan agama Taoisme ataupun ajaran-ajaran dari jaman Fuxi yang sering disampaikan oleh senior-senior Yiguandao di fotang (sebutan vihara Yiguandao). Sumber ajaran sebenarnya dari Yiguandao yang tepat sebenarnya adalah Luoisme yang inti ajarannya berasal dari seorang tokoh yang sangat berpengaruh di abad ke-15 yang bernama 羅清 Luo Qing / 罗梦鸿 Luo Menghong. Semua silsilah yang diceritakan di fotang yang berawal dari Fuxi, Shennong, Lao Zi, Konfusius, Mengzi, Buddha Gautama, Maha Kassapa, Boddhidharma sampai dengan Huineng, pada dasarnya itu sifatnya hanyalah mengklaim seolah-olah bahwa tokoh-tokoh tersebut adalah tokoh-tokoh Yiguandao, sehingga terkesan ajaran Yiguandao ini sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi. Klaim tersebut tentu saja dilakukan sebagai strategi untuk menggunakan karisma dari tokoh-tokoh agama tersebut dengan tujuan agar lebih mudah mencari umat. Selanjutnya agama-agama tersebut dibuatkan narasi seolah-olah semua ajarannya pada intinya sama yaitu mengejar satu titik yang disebut Tao. Padahal pada kenyataannya, semua tokoh-tokoh spiritual terkenal yang disebutkan itu sama sekali tidak ada hubungan dan keterkaitan apa-apa dengan Yiguandao. Dan bila anda mulai mendalami ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh yang disebut itu, anda akan bisa merasakan bagaimana berbedanya ajaran mereka dengan ajaran yang diceramahkan di fotang. Di agama Konghucu dan Taoisme tidak dikenal istilah mencari satu titik suci atau pintu kelahiran dan kematian. Di agama Buddha apalagi. Sang Buddha sendiri malah menyebutkan bahwa pandangan seperti itu (mencari sebuah mustika dan meyakini adanya sebuah ritual untuk mencapai kesempurnaan) adalah salah satu bentuk pandangan salah yang menyebabkan orang tidak bisa lepas dari samsara. Konsep mencari tiga mustika (pintu suci, ucapan suci, pertanda suci) dalam kehidupan hanya ada pada kelompok Luoisme dan turunannya. Tokoh-tokoh yang mempunyai kaitan langsung dengan Yiguandao itu baru sejak Maha Guru ke-8 yaitu Luo Weiqun yang merupakan keturunan dari Luo Qing. Dari Maha Guru ke-8 sampai ke yang ke-18 itu berdasarkan literatur sejarah memang mempunyai keterkaitan atau paling tidak masih berada di akar kelompok yang sama. Jadi kalau anda masih bertanya-tanya mengenai sumber awal atau nenek moyang Yiguandao itu dari mana, maka jawaban yang benar adalah dari ajaran Luoisme. Luoisme adalah kelompok agama keselamatan baru yang berdiri di masa dinasti Ming. Selain Yiguandao, Luoisme sendiri itu merupakan asal usul dari banyak sekali agama maupun sekte keagamaan yang populer antara lain 先天道Xiantiandao, 齋教 Zhaijiao, 真空教 Zhenkongjiao, 同善社 Tongshan She, dll. Yiguandao, Xiantiandao dan kelompok-kelompok yang berakar dari Luoisme semuanya memiliki ajaran yang mirip satu sama lain. Terbukti dari Agama Buddha, Konghucu dan Taoisme semuanya tidak ada yang mengenal sosok Lao Mu, tapi sekte-sekte Luoisme meyakini Lao Mu sebagai dewi tertinggi mereka. Di Agama Buddha, Konghucu dan Taoisme tidak dikenal adanya pandangan tentang 3 masa pancaran, kelompok-kelompok Luoisme rata-rata meyakini 3 masa pancaran sebagai kosmologi penting dalam doktrin mereka. Kelompok Luoisme rata-rata memiliki keyakinan bahwa ada semacam proses inisiasi pembukaan pintu suci (玄关) sebagai cara masuk Surga Abadi, di mana tidak ada satupun dari 5 agama besar yang memiliki konsep ini. Kelompok Luoisme juga sangat menekankan vegetarian, sementara di agama lain, vegetarian tidak terlalu diprioritaskan.
Betulkah Tao baru diturunkan secara global pada Masa Pancaran Putih?
Jadi kalau dipelajari secara mendalam dan ditelusuri sebenarnya ajaran-ajaran yang sekarang ada di fotang itu pada dasarnya kebanyakan adalah ciptaan dari para pengikut Luoisme sejak abad ke-15. Kembali pada topik qiudao yang saya sebut di awal. Hal yang paling menarik dari realitas tersebut adalah bahwa konsep qiudao (upacara memohon tiga mustika) itu sendiri ternyata sudah ada sejak era kelompok Luoisme ini awal-awal berkembang. Seperti yang ditulis di beberapa buku yang saya baca, dan yang yang paling jelas dijelaskan di bukunya Seiwert, tiga mustika yaitu pintu suci (玄關 xuanguan), ucapan suci (口決 koujue), pertanda suci (合同 hetong) itu bukan hanya sejak jaman Lu Zhongyi saja ada. Tapi sudah ada sejak era patriark Yin Ji'Nan (殷继南), salah satu dari 3 patriark yang dipuja dalam aliran Luoisme. Yin Ji'Nan sendiri adalah pemimpin dari Luoisme di daerah selatan di abad ke-16, sekitar 100 tahun sebelum era Huang Dehui (patriark ke-9 Yiguandao). Dan upacara ritual menerima pintu suci dan ucapan suci ini ternyata sudah ada sejak jaman itu. Di beberapa buku sejarah tertulis adanya ritual rahasia yaitu dinamakan pembukaan pintu misterius bernama 玄關 xuanguan dan transmisi mantra rahasia. Untuk pertanda suci tidak bisa dipastikan apakah sudah ada di jaman itu, tapi di literatur-literatur, dituliskan bahwa ada transmisi yang dinamakan segel hati di jaman itu. Tidak menutup kemungkinan segel hati yang dimaksud di sini adalah pertanda suci yang sekarang dikenal sebagai hetong di Yiguandao. Menariknya, ternyata sekte-sekte Luoisme bukan yang pertama mempraktekkan praktek pembukaan pintu suci ini. Beberapa ratus tahun sebelumnya sudah ada sekte-sekte lain yang mempraktekkan pembukaan pintu suci ini. Penjelasan mengenai praktik pembukaan pintu suci ada di dalam kitab bernama Huangji Jieguo Baojuan (皇极结果宝卷) yang diterbitkan di tahun 1430 (masa sebelum patriark Luo yang merupakan pendiri Luoisme lahir). Kitab itu adalah kitab sektarian paling tua yang masih bertahan dan ditemukan sehingga masih bisa diteliti isinya oleh para akademisi dan sejarawan. Karena praktek pembukaan pintu suci ini sudah ada bahkan sebelum sekte-sekte Luoisme lahir, maka tidak heran bila praktik pembukaan pintu suci ini juga dipraktekkan oleh kelompok-kelompok di luar Luoisme dan turunannya, seperti contohnya 黃天教 Huangtian Jiao, 弘陽教 Hongyang Jiao, 聞香教 Wenxiang Jiao, 收園教 Shouyuan Jiao, dll. Isi secara lengkap bagian dalam kitab Huangji Jieguo Baojuan adalah sebagai berikut:
Pertama, Anda harus menyembah Langit dan Bumi, dengan rajin mempersembahkan dupa. Berbakti dan peduli kepada orang tua. Kedua, Anda harus mencari sifat asli Anda, melampaui [perbedaan antara] yang duniawi dan yang sakral, dengan penuh hormat menghormati leluhur Anda. Ketiga, Anda harus mengetahui [metode] untuk merendah. Hormati dan hargai senior Anda tanpa berpura-pura. Keempat, Anda harus mempersembahkan dupa selama empat jam [dalam sehari] tanpa henti. Hiduplah secara harmonis dengan tetangga dan kerabat Anda. Kelima, Anda harus mengetahui empat yang sejati (bentuk dupa) dan merespons kepada primordial surgawi (天圓). Jadilah rajin dan penuh perhatian dalam pekerjaan Anda. Keenam, Anda harus menerima [mantra] Sepuluh Buddha dan mengetahui istana-istana dan jalan-jalannya. Ajarilah dan didiklah putra-putri dan cucu-cucu Anda. Ketujuh, Anda harus menitik Pintu Misterius (xuanguan) untuk melanjutkan aliran Teratai (lianzong). Jangan mengikuti para bidah dan orang-orang yang tidak percaya. Kedelapan, Anda harus memasuki Kanopi Merah (Surga) dengan memurnikan sifat asli Anda dan menembus kekosongan yang gelap. Kesembilan, Anda harus memasuki Luasnya Surga dan mengetahui jalan tiga Buddha pada masa setelah penciptaan. Kesepuluh, Anda harus menerima tanda dan registrasi untuk membuktikan posisi Anda yang diperoleh sebagai hasil [dari praktik keagamaan Anda] dan Anda dapat memasuki pencerahan penuh (sanzhen 三真).
Walaupun di masa itu ada kemungkinan proses ritualnya namanya bukan qiudao (memohon Tao) atau kaiguang, tapi secara jelas sudah terverifikasi bahwa praktek pembukaan pintu suci ini bukan baru ada sejak zaman Lu Zhongyi menerima Firman Tuhan, melainkan sudah dilakukan sejak abad-15. Itu berarti jauh sebelum Huang Dehui (pendiri Xiandiantao yang diakui sebagai maha guru ke-9 Yiguandao) lahir. Bahkan kalau anda baca teks di atas, apakah anda merasa bahwa kalimat-kalimatnya mirip dengan 道之宗旨Daozhi Zongzhi / Tujuan dari Tao-nya Yiguandao.
![]() |
Salah satu halaman dari buku Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History tulisan Hubert Michael Seiwert yang membahas mengenai pintu suci (玄關) |
Pembukaan pintu suci ini secara jelas juga tertuang dalam kitab “Gulungan Harta Karun Obat Mujarab Emas Tertinggi Kaisar, Teratai Berdaun Sembilan dan Keyakinan yang Benar pada Kebenaran, dan Kembali ke Surga” (皇极金丹九莲正信归真还乡宝卷) atau sering disingkat sebagai Jiulian Baojuan (九莲宝卷), sebuah kitab yang dijadikan dasar doktrin kelompok oleh patriark ke-9 Huang Dehui. Jadi dari sini sudah terverifikasi juga dari literatur sejarah bahwa praktek pembukaan pintu suci itu juga sudah ada dan dilakukan pada masa Maha Guru ke-9. Pertanyaannya, bukankah di Yiguandao disebutkan bahwa Tao itu baru diturunkan di masa pancaran putih, yaitu ketika Buddha Maitreya lahir melalui Lu Zhongyi? Lalu apa arti dari pembukaan pintu suci yang sudah ada di jaman jauh sebelum Lu Zhongyi lahir? Apakah pembukaan pintu suci di jaman itu tidak dianggap sebagai proses mendapatkan Tao? Atau apakah pembukaan pintu suci di jaman itu tidak bisa dianggap valid karena Firman Tuhannya tidak sejati? Bukankah Maha Guru ke-9 Huang diceramah-ceramah Yiguandao disebutkan merupakan salah satu patriark / maha guru yang memiliki Firman Tuhan yang sejati sehingga membentuk seutas benang emas sampai dengan Maha Guru ke-18? Lantas kalau sudah mengetahui fakta ini, apa makna dari kata-kata yang menyebutkan bahwa Tao itu baru diturunkan secara luas ke rakyat jelata baru sejak masa pancaran putih? Padahal jelas-jelas sudah ada ritual pembukaan pintu suci di zaman sebelum masa pancaran putih.
Sudut Pandang Kritis mengenai Qiudao, Surga dan Neraka
- Sering ada narasi yang menyebutkan bahwa setelah kita meninggal nanti, kalau umat kalangan Tao yang pembinaannya baik dan aktif datang ke vihara maka akan dijemput oleh Bapak Guru Jigong. Sedangkan yang orang-orang yang pembinaannya kurang baik atau yang berpaling dari Tao maka hukumannya bisa berat dan biasanya setelah meninggal akan dijemput oleh para petugas neraka. Ada banyak kisah juga mengenai orang yang posisinya sudah Dianchuanshi, Jiangshi, Tanzhu tapi akhirnya berujung di neraka akibat beberapa hal. Dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, memang ada cukup banyak umat yang saya kenal pada saat meninggal kondisi jasadnya tidak terlalu baik. Bisa dibilang kalau berdasarkan ajaran Yiguandao, maka mereka-mereka ini diyakini masuk ke neraka walaupun sudah qiudao (Pembahasan mengenai mayat lemas dan kaku saya bahas di sini). Sekarang pertanyaannya, bukankah katanya nama kita di neraka sudah dicoret dan didaftarkan di alam surga? Kenapa kalau nama di neraka sudah dicoret masih bisa petugas neraka yang menjemput? Jadi sebenarnya nama di neraka itu benar-benar dicoret atau tidak? Atau ada semacam sistem administrasi atau sejenis layanan surat / email atau layanan internet antara Surga dan Neraka yang saling berhubungan untuk menganulir pendaftaran dan pencoretan umat-umat yang dianggap tidak layak? Dan kira2 bagaimana administrasinya dan siapa yang bertugas menentukan seorang umat itu layak dianulir atau dipindahkan kembali?
- Saya mengenal banyak umat-umat yang qiudao di kalangan aliran Maitreya berjubah putih (sering juga disebut sebagai Bai Liyi) yang masuk di Indonesia sebelum tahun 1990 (di bawah kepemimpinan Maitreyawira) atau yang sekarang sudah berubah menjadi Miledadao. Banyak dari mereka itu yang qiudao (memohon Tao) sebelum tahun 1975 (tahun Shi Mu meninggal) di mana saat itu kalangan mereka masih Yiguandao yang saat itu merupakan grup Baoguang. Pertanyaannya, bagaimana hukumnya untuk mereka-mereka yang qiudao saat mereka masih Yiguandao. Kalangan Tao bawahan Maitreyawira setahu saya baru mengikuti Wang Haode dan berubah menjadi Miledadao di tahun 1980-an. Kalau kita berpikir secara rasional. Bukankah umat-umat yang di kalangan tersebut bila qiudaonya saat masih belum berubah jadi Miledadao, Firman Tuhannya masih sama dengan Yiguandao? Apakah hanya karena pergantian pemimpin, lantas seluruh umat yang di bawahnya bisa dianggap hangus statusnya sebagai penghuni surga? Kalau yang berlaku seperti itu, bukankah itu berarti penghuni di alam Surga dan alam Neraka ditentukan berdasarkan kubu-kubuan dan kelompok - kelompokan? Benarkah ada birokrasi di surga yang seperti itu?
Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert
Popular Religion and Shamanism - Xisha Ma, Huiying Meng
Practicing Scripture: A Lay Buddhist Movement in Late Imperial China - Barend ter Haar
Peking: Temples and City Life 1400 - 1900 - Susan Naquin
Chinese Society in the Eighteenth Century - Susan Naquin, Evelyn S. Rawski
The People and the Dao: New Studies in Chinese Religions in Honour of Daniel L. Overmyer - Philip Clart, Paul Crowe
Religious Faith of the Chinese - Zhuo Xinping
Komentar