Pengertian Tao yang Berbeda
Dalam ceramah-ceramahnya, Yiguandao banyak mengambil ayat-ayat dari kitab suci agama lain termasuk dari ajaran Laozi, salah satunya adalah ayat-ayat dari 道德經 Tao Te Ching.
Salah satu intisari dari kitab Tao Te Cing menjelaskan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari kita yang merupakan sumber dari segalanya, tidak berwujud, tidak bernama, dan tidak bisa dijelaskan dalam kata2 namun dengan sangat terpaksa disebut sebagai Tao. Secara garis besar yang dijelaskan di Tao Te Cing sebenarnya adalah penggambaran Tuhan atau Ketuhanan menurut Laozi. Beberapa orang menganggap Tao di Taoisme ini sebagai alam semesta, sang pencipta, maha segalanya atau ada juga yang menyebutnya sebagai hukum alam ataupun hukum sebab akibat. Tapi kalau kita membaca seluruh bab dalam Tao Te Ching, maka kita akan memahami bahwa sebenarnya Tao yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata ini adalah konsep Ketuhanan dalam Taoisme. Konsep Ketuhanan/Sang Pencipta dalam Taoisme sendiri sangat berbeda dengan Tuhan yang digambarkan oleh agama Samawi/Abrahamik. Tuhan yang dipahami dalam agama Tao ialah Tuhan ‘Impersonal’ sama seperti konsep ketuhanan dalam Buddhisme. Di dalam agama-agama Abrahamik, Tuhan digambarkan sebagai suatu sosok seperti halnya manusia. Tuhan dipercaya sebagai pencipta, maupun pemusnah yang juga memiliki sifat manusia seperti pengasih, penyayang, adil maupun bijaksana. Tuhan juga digambarkan di agama lain memiliki sifat-sifat manusia dimana Tuhan sering digambarkan marah, sedih, senang dan sebagainya. Sedangkan di Taoisme, Tuhan bukanlah sebuah sosok atau personal, melainkan impersonal. Tuhan ‘impersonal’ yang diyakini oleh agama Tao dan Buddha adalah kebalikan dari konsep itu, dan bukanlah konsep-konsep yang sedemikian sederhana. Saya pribadi membaca lebih dari 10 versi terjemahan Tao Te Cing baik dari kalangan akademisi maupun kalangan tokoh religius Taoisme. Hampir semuanya memberikan penjelasan yang serupa. Silahkan baca postingan saya mengenai terjemahan Tao Te Ching, atau kalau anda tidak percaya terjemahan saya, bisa membaca sendiri buku terjemahan penulis yang lain (yang bukan dari Yiguandao).Ajaran Taoisme juga menyakini bahwa Tao itu adalah kondisi pencapaian batin di mana seseorang telah mencapai tingkat kesadaran yang telah selaras dan menyatu dengan Alam atau Tuhan. Mencapai tingkat itu disebut dengan istilah 得道 De Dao. Dalam hal ini sebenarnya konsepnya sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama Buddha. Di agama Buddha, Nibanna itu adalah Ketuhanan. Dan Nibanna itu adalah pencapaian tertinggi manusia yaitu mencapai tingkat batin yang tercerahkan dan sudah sempurna. Pencapaian Nibanna disebut juga dengan Nirwana. Sekali lagi, Tao/Nirwana/Nibanna/Ketuhanan yang dimaksud di sini bukanlah sosok atau personal seperti yang diyakini oleh agama Abrahamik. Tuhan ini memiliki 4 sifat yaitu : Tidak Terlahirkan, Tidak Diciptakan, Tidak Menjelma, Tidak Bersyarat (Tidak Bisa Diceritakan). Maknanya sebenarnya dari 得道 De Dao adalah bila seseorang sudah mencapai tingkat pencerahan batin yang sempurna di mana dia sudah berperilaku 無為 wuwei yang berarti batinnya telah sempurna, padamnya nafsu keinginan, menjadi seperti tiada namun ada, ada bahkan bermanfaat untuk orang banyak tapi seolah2 tidak ada, tidak lagi melekat terhadap segala sesuatu, tidak lagi ada kekotoran batin, maka dia disebut telah mencapai Tao (Ketuhanan). Ini adalah arti sebenarnya dari De Dao pada ajaran Taoisme.
Pengertian Tao versi Yiguandao
Di Yiguandao, pengertian dari Tao ini sangatlah berbeda. Tao di ajaran Yiguandao bukanlah konsep Ketuhanan seperti yang ada pada Tao Te Ching, melainkan dianggap sebagai sesuatu atau sebuah jalan yang harus dicari dan didapatkan untuk mencapai kesempurnaan, seolah-olah itu adalah semacam mustika/harta karun yang harus ditemukan. Memang kitab Yiguandao juga ada penjelasan mengenai gambaran Tao seperti yang ada pada Tao Te Ching di mana dijelaskan bahwa Tao itu adalah kebenaran Absolut, Sumber dari segala sesuatu, ada di mana-mana, mengatur segala yang ada di dunia, dan sebagainya. Tapi penjelasan itu cuma digunakan untuk menciptakan kesan bahwa Tao ini maha Besar dan Maha Agung saja, tapi mengaburkan dan membelokkan arti sesungguhnya bahwa Tao itu sebenarnya adalah konsep Ketuhanan itu sendiri.
Pada prakteknya Yiguandao lebih sering menekankan pada umat-umatnya bahwa Tao itu adalah titik suci yang merupakan sebuah jalan untuk kembali Surga. Dalam ceramah-ceramah Yiguandao sering disebutkan bahwa orang jaman dahulu harus meninggalkan keluarganya, karirnya, menempuh jalan yang jauh, mencari guru penerang untuk mencari Tao ini. Tao pada jaman dahulu masih tersembunyi, sehingga untuk mendapatkannya sangatlah sulit. Tao dulu juga hanya diturunkan dari seorang guru hanya kepada seorang muridnya. Dan karena sekarang sudah memasuki akhir jaman (masa pancaran putih), maka Tuhan tidak sampai hati membiarkan anak-anaknya mendapatkan malapetaka, sehingga diturunkanlah Tao yang agung ini untuk seluruh umat manusia. Tao adalah hakekat dari jiwa sejati atau hati nurani, kebenaran yang kekal abadi. Hati nurani ini adalah akar hatinya manusia, sumber dari jiwa, kita dilahirkan dari sana, kelak meninggalpun harus kembali ke sana. Tao adalah pusaka rahasia yang sejak jaman dahulu kala adalah ilmu sejati hati nurani yang misterius, diturunkan dari hati ke hati. Bila bukan karena firman Tuhan Yang Maha Agung maka tidak akan berani diturunkan ajaran ini, dan tidak akan membocorkan rahasia alam ini. Dalam hal ini, Tao menurut Yiguandao dianggap sebagai sebuah obyek yang harus didapatkan untuk melampaui 6 jalur reinkarnasi, sesuatu yang harus diperoleh untuk bisa pulang ke Surga. Tao ini juga dianggap sebagai suatu rahasia alam yang diberikan oleh Tuhan pada saat manusia sudah membina dengan sempurna di dunia. Tao ini juga dianggap sebagai inti sari / pokok dari semua agama sehingga menganggap siapapun yang mendapatkan Tao ini lebih agung dibandingkan orang-orang yang hanya mengikuti agama. Tao sendiri di Yiguandao disimbolkan dengan diterimanya 3 mustika yaitu pintu suci (titik suci), ucapan suci dan pertanda suci.
Para penganut aliran Yiguan Dao juga menekankan bahwa "Mendapatkan Satu Titik dari Guru Penerang Jauh Lebih Berharga daripada Membaca Ribuan Kitab/Sutra" (讀破千經萬典, 不如明師一指點 dupuo qianjing wandian, buru mingshi yizhi). Di sinilah letak perbedaan yang sangat mendasar antara ajaran Taoisme dengan Yiguandao. Yiguandao menganggap Tao itu seperti semacam obyek/mustika/jalan yang harus didapatkan sedangkan Taoisme menganggap Tao itu adalah pencapaian kondisi batin di mana seseorang sudah tersadar sempurna, mencapai kesucian, hilangnya nafsu keinginan, mempraktekkan wuwei dengan sempurna, sehingga sudah mencapai Tao (Ketuhanan). Ini tentu sangat jauh berbeda dengan pengertian Yiguandao yang menyakini bahwa kita sebagai manusia tidak perlu mencapai tingkat batin seperti itu. Karena Tao itu adalah semacam mustika yang merupakan petunjuk dari Tuhan. Yiguandao menganggap para Buddha, para nabi dan para suci jaman dahulu itu semua membina diri semata-mata karena ingin mencari dan mendapatkan Tao ini. Di jaman sekarang Tao ini bisa didapatkan secara langsung dalam upacara memohon Tao (求道 qiu dao/開光 kaiguang). Tao ini biasanya akan diberikan oleh seorang pendeta (點傳師 Dian Chuan Shi) yang berfirman Tuhan dengan cara menitik ke pintu suci yang ada di wajah kita.
Penjelasan versi Yiguandao ini jelas-jelas sangatlah jauh berbeda dari intisari ajaran Taoisme yang sebenarnya. Ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak hasil comot dari kitab suci agama lain yang diubah pengertiannya oleh kalangan Yiguandao (Pembahasan mengenai ajaran Yiguandao yang mengambil ajaran agama lain dan mengubah pengertiannya akan saya bahas lebih detail di postingan terpisah).
Perbedaan mendasar pemahaman mengenai Tao ini juga bisa dilihat dalam cara membina yang diajarkan oleh kalangan Yiguandao. Di Taoisme, tahapan 得道 itu adalah saat seseorang sudah mencapai tingkat di mana seseorang sudah pada tidak adanya kekotoran batin, tiadanya nafsu keinginan, dan mempunyai sifat seperti alam (Ketuhanan) yang menjalankan konsep 無為 wuwei secara sempurna sehingga terkesan seperti tidak ada padahal ada, dan ada tapi tiada. Cara membina yang diajarkan di vihara Yiguandao sama sekali tidak menekankan ke hal-hal tersebut. Yiguandao sering mengatakan bahwa jaman dahulu orang harus membina dulu baru mendapatkan Tao. Sekarang jamannya mendapatkan Tao dulu baru membina. Seolah-olah prosesnya hanya dibalik. Tapi kalau dipelajari lebih dalam, sebenarnya kata-kata ini juga tidak tepat. Karena di Yiguandao sama sekali tidak perlu ada proses membina dan usaha mencapai kesadaran batin seperti yang dilakukan oleh Lao Zi ataupun orang-orang suci jaman dahulu untuk mencapai pencerahan, yaitu menghilangkan segala kemelakatan, kekotoran batin dan hilangnya ke-Akuan. Tingkat batin seperti itu bukanlah hal yang wajib dilakukan untuk mencapai kesempurnaan di Yiguandao. Cara membina kalangan Yiguandao yang terpenting adalah rajin datang ke vihara, banyak-banyak melintasi umat untuk memohon Tao dan yang paling bagus adalah membaktikan diri untuk kalangan Tao. Bukti yang saya tahu sendiri adalah senior di vihara Yiguandao yang diklaim telah mencapai kesempurnaan dan mendapatkan posisi Buddha / Dewa besar di surga, banyak yang selama hidupnya masih mempunyai banyak kekotoran batin, masih sering marah, masih mempunyai ego, masih suka membicarakan kejelekan orang lain, masih merasa paling tinggi, masih merasa orang lain itu kecil, masih banyak nafsu keinginan, serta sangat melekat pada hal-hal di dunia (melekat bahwa titik suci adalah cara mencapai kesucian, melekat pada keyakinan adanya diri, melekat pada ritual sembahyang, melekat pada vihara, melekat pada sosok tertentu seperti tidak rela meninggalkan 前人 Qian Ren-nya atau 點傳師 Dian Chuan Shi-nya, masih memberatkan mau bangun vihara, masih memberatkan renovasi vihara, masih tidak rela meninggalkan kalangan Tao, masih resah dengan perkembangan Yiguandao, dll) dan ada juga bahkan yang masih melakukan hal-hal yang merugikan orang lain (menfitnah, berpolitik, bergosip, membuat hubungan orang menjadi tidak baik, dll). Tapi karena mereka adalah senior dan telah membaktikan seluruh hidupnya demi kalangan Tao maka mereka tetap dianggap mencapai kesempurnaan saat meninggal serta mendapatkan titel Buddha di surga.
Perbedaan Tao dengan Agama yang diyakini kalangan Yiguandao
Di kalangan Tao, sering dijelaskan bahwa Tao itu berbeda dengan Agama. Tema Perbedaan Tao dengan Agama itu biasanya masuk di kelas besar yang diadakan setahun sekali seperti contohnya kalau di vihara saya dulu biasanya ada di 複習班 Kelas Ulangan. Penjelasannya biasanya adalah sebagai berikut :
Tao : Sumber dari Segala yang Ada. Inti dari semua ajaran di dunia. Hati nurani kita
Tao tidak diturunkan sebelum masanya tiba. Tao dapat melintaskan manusia dari kehidupan dan kematian (jalur reinkarnasi)
Agama : Ajaran dan Tradisi yang diwariskan dari seorang nabi
Agama selalu ada sepanjang masa. Agama mengajarkan kaidah-kaidah kehidupan sehingga mendapatkan karma baik. Tapi di Agama tidak mendapatkan Tao sehingga tidak bisa lepas dari jalur reinkarnasi.
Tao ini adalah pokok (intinya) sedangkan Agama adalah seperti cabangnya.
Pada jaman dahulu kala, bila seseorang ingin mendapatkan Tao, ia harus meninggalkan keluarganya, meninggalkan segala pekerjaannya, seorang diri menempuh jalan yang jauh, mencari guru penerang, karena pada jaman dahulu Tao masih tersembunyi, untuk mendapatkan Tao sangatlah sulit. Tao diturunkan dari seorang guru hanya kepada seorang muridnya. Maka dikatakan, 法不傳六耳 Fa Bu Chuan Liu Er / “Tao diturunkan tidak diantara enam kuping”, yang artinya hanya diturunkan kepada seorang saja. Mendapatkan Tao itu adalah mendapatkan satu titik petunjuk dari guru penerang. Setelah mendapatkan Tao, barulah tahu asalnya dari mana, setelah meninggal harus pulang ke mana. Ini adalah rahasia Tuhan sejak dahulu kala.
Dari zaman ke zaman para suci, para nabi, para Lao Tze, Budha dan malaikat meskipun telah mendapatkan Tao, tak berani sembarangan membocorkannya dicatat di dalam kitab-kitab suci, kalau bukan Tuhan berfirman dan menurunkan guru penerang untuk menurunkan Tao, maka tidaklah mudah bagi kita untuk mendapatkan Tao.
Oleh karena itu, dapat Tao berarti kita telah menemukan hati nurani kita, dan langsung mengetahui sumber kehidupan dan kematian kita. Dengan mendapatkan Tao ini, kita dapat mengakhiri kehidupan dan kematian, menjadi roh suci.
Sementara agama, mengajarkan manusia merubah hati yang jahat menjadi yang baik, semua perbuatan buruk jangan dilakukan, lakukan semua yang baik, sehingga manusia dapat mempertahankan hati yang baik, sebagai persiapan kelak mendapatkan Tao. Tetapi agama tidak menurunkan “Tao”, maka pemeluk agama hanya dengan perbuatan baik dengan harapan dapat pahala yang baik, tapi tidak berdaya bisa maju lebih tinggi lagi agar supaya kita terlepas dari kelahiran dan kematian. Inilah perbedaan dari Tao dan agama.
Penjelasan di atas itu adalah penjelasan mengenai perbedaan Agama dan Tao menurut Yiguandao. Dari sini kita bisa melihat dengan jelas bahwa hal yang membedakan antara Tao dan Agama menurut umat Yiguandao itu adalah satu titik suci yang diyakini sebagai pintu kelahiran dan kematian yang merupakan jalan pulang ke surga saat meninggal kelak (disebut Tao) . Mereka menganggap bahwa umat Yiguandao itu lebih tinggi tingkatnya daripada semua pengikut agama di dunia karena memiliki Tao yang dianggap sebagai inti dari Agama. Pertanyaannya, benarkah Tao itu adalah Inti dari semua Agama seperti yang dijelaskan Yiguandao?
Perlu diketahui bahwa semua teori di atas itu dibuat oleh Yiguandao dengan mencomot kitab Tao Te Ching karya Laozi. Bila anda bertanya mengenai pengertian Tao kepada para pendeta dan umat-umat Taoisme yang benar2 memahami Taoisme, maka tidak akan ada yang menjawab bahwa Tao itu adalah sebuah jalan atau titik suci. Pengertian bahwa Tao itu adalah jalan merupakan pemahaman orang-orang awam yang biasanya tidak pernah mempelajari isi Tao Te Ching secara mendalam dan menyeluruh. Mereka hanya mengartikannya secara arti kata tapi tidak membaca penjelasannya secara lengkap di Tao Te Ching. Ini jugalah yang dilakukan para pendiri Yiguandao yang justru seperti sengaja membelokkan arti Tao dari pengertian aslinya demi legitimasi yang membuat seolah2 kelompok mereka punya mustika dan wahyu yang sangat hebat bernama Tao.
Yang paling jelas adalah pembelokan arti dari Tao Te Ching, yang ditulis Yiguandao dalam buku 性理題釋 Explanations of The Answers to the Truth bab 1 道的真義 :
天地元始,渾然一團,渾渾噩噩,實無一物,無聲無臭,至虛至神。道祖曰:「無名天地之始,『即象○』;有名萬物之母,『即象一』。道大無名,強名曰道」。Asal mula Langit dan Bumi, secara keseluruhan satu kesatuan, sangat mendalam dan luas, tidak bersuara, tidak berbau, kosong dan sangat mujizat.Lao Zi berkata : "Wu (Kosong/Tiada)” adalah nama dari awal terciptanya bumi dan langit, “yaitu, seperti ○”; “You (Ada)” adalah nama ibunda dari segala yang ada di alam semesta, “yaitu seperti 一”. Tao yang Agung sesungguhnya tidak memiliki nama, namun dengan terpaksa disebut Tao.道大無形,強以圈形之。圈者一之靜象,虛理一團,道之全體。一者圈之動象,一本散于萬殊,道之達用。圈動一生,一縮為點,點伸為一。『圈』、『一』、『點』實為動靜伸縮,變化無窮。放之,則彌六合,曰「一」;卷之,退藏於密,曰「點」;大而無外,小而無內,無所不貫,無所不包,彌綸天地,包羅萬象,真空妙有,萬靈之主宰也。
Tao yang Agung tidak berbentuk, tapi dengan terpaksa digambarkan sebagai lingkaran. Lingkaran adalah sebuah wujud dari ketenangan, hakekat dari kekosongan, Tao secara keseluruhan. — (Huruf Satu / Garis Panjang), adalah lambang gerakan dari lingkaran, Satu adalah inti dari segala yang ada di dunia, itu-lah kegunaan Tao.
Lingkaran ber-gerak menimbulkan satu, satu memendek menjadi titik, sebalik-nya titik memelar panjang menjadi satu. Lingkaran, garis panjang, dan titik ( O, — , · ) pada hakekat-nya adalah perubahan yang tiada henti-henti-nya dari melar mingkup tenang dan gerak. Apabila di-lepas akan memenuhi enam penjuru, itu-lah Esa atau Satu (—), apabila menciut memendek akan ter-sembunyi pada yang paling jelimet pun, itu-lah titik ( · ).
Dikatakan Maha Besar karena tidak ada apa pun yang berada di-luar-nya, dan dikatakan kecil (Maha Lembut) karena tidak ada sesuatu apa pun yang tidak terisi oleh-Nya, tiada sesuatu yang tidak ter-tembus dan tiada sesuatu apa pun yang tidak ter-selubungi oleh-Nya, karena memenuhi Langit dan segala isi-nya, walaupun kosong hampa namun ada kemukjizatan-Nya, maka dikatakan TUHAN dari segala Roh.
在天謂理,在人謂性。理者,萬物統體之性。性者,物物各俱之理。人人有,而不知其有。知此者,大化神聖。迷此者,墬入鬼關。故曰:「讀破千經萬典,不如明師一點」。其點統四端而兼萬善。側隱之心,仁之端也;羞惡之心,義之端也;是非之心,智之端也;辭讓之心,禮之端也。
Di Alam Surga di-nama-kan Li (Hukum Alam, rasionil, atau hakekat), diberikan kepada Manusia di-nama-kan Roh. Li tersebut adalah yang menguasai segala tubuh atau benda. Sing atau Roh adalah hakekat yang di-punyai oleh segala benda.
Tiap-tiap Orang semua mempunyai-nya, hanya mereka tidak sadar memiliki-nya. Siapa pun yang sadar akan ada-nya itu di dalam tubuh-nya akan bahagia pula menjadi Orang Suci. Orang yang tidak sadar akan hal ini, akan terjerumus ke Pintu Iblis.
Maka ada ujaran yang mengatakan: “Lebih baik mendapat satu titik (Petunjuk Ke-Esaan) daripada membaca ribuan buah Kitab”. Titik yang di-maksud di-sini arti-nya menguasai Empat Pangkal Kesucian merangkap semua Kebajikan yaitu: 1. Murah hati adalah pangkal-nya Welas asih. 2. Hati yang mempunyai rasa malu dan jemu adalah pangkal Kebenaran. 3. Hati yang dapat membedakan benar dan keliru adalah pangkal-nya Kebijaksanaan. 4. Hati yang dapat merendah dan mengalah adalah pangkal-nya Kesopanan.
Dari penjelasan di Bab 1 ini, kata-kata dari Lao Zi yang ada di Tao Te Ching hanyalah yang saya tandai merah. Sudah sangat jelas disebutkan bahwa Tao itu disebut kosong dan tidak berbentuk, tapi kitab Yiguandao terang-terangan malah mengambarkannya sebagai lingkaran, garis panjang dan satu titik. Di kata-kata awalnya, Yiguandao menyelipkan tulisan wu/kosong (無) dilambangkan sebagai ○ (lingkaran), sedangkan you/ada (有) dilambangkan sebagai 一 (garis). Padahal penggambaran bentuk seperti itu sama sekali tidak ada di Tao Te Ching. Jelas ini adalah salah satu pembelokan arti dari isi Tao Te Ching yang disampaikan Lao Zi. Semua narasi ini dibuat agar konsep satu titik (pintu suci) kelihatan masuk akal saat disebut sebagai Tao. Belum lagi penjelasan-penjelasan lain dalam Tao Te Ching yang sangat jelas menyebutkan bahwa Tao itu bukanlah sebuah obyek yang bisa dibicarakan. Salah satunya yang ada di bagian awal Tao Te Ching. Di bab 1 Tao Te Ching ada kata-kata 道可道非常道 yang artinya adalah Tao yang bisa dibicarakan bukanlah Tao yang sejati. Arti mendalam dari kata-kata ini adalah karena Tao pada dasarnya itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa diceritakan, dan tidak berkondisi. Tapi anehnya Yiguandao malah membicarakan Tao seolah-olah Tao itu adalah sesuatu yang mudah dijelaskan dalam bentuk Tiga Mustika. Tao dianggap sebuah sebuah titik suci, pintu kelahiran dan kematian. Pengertian Tao sendiri tidak seharusnya bisa disederhanakan seperti itu. Apalagi menganggap bahwa Tao itu adalah suatu berkondisi, di mana itu dianggap semacam obyek yang bisa didapatkan. Bukankah ini sangat menyimpang dari arti dari ayat ini yang menggambarkan bahwa Tao itu tidak bisa dibicarakan. Di bab 14 Tao Te Ching juga ada kata-kata penjelasan mengenai Tao yaitu 搏之不得名曰 微 yang artinya Mau mendapatkanNya, tapi tidak bisa menerimaNya, diberi nama Wei. Berarti dalam hal ini Tao itu juga tidak bisa didapatkan juga tidak bisa diterima. Tapi kenapa Yiguandao malah membuat narasi bahwa Tao itu adalah satu titik suci yang bisa didapatkan dan diterima. Jadi keyakinan Yiguandao sendiri sebenarnya bertolak belakang dengan Tao Te Ching. Sangat jelas Tao itu bukanlah suatu jalan atau semacam obyek yang bisa didapatkan atau dimohon seperti yang diyakini oleh para umat Yiguandao, melainkan Ketuhanan itu sendiri yang karena terlalu Agungnya dan Mulianya sampai tidak bisa digambarkan dan diceritakan dengan kata2. Kalau dibilang Tao (Tuhan) itu adalah inti dari agama, ya pengertian itu tidak sepenuhnya salah. Tapi bukankah sangatlah aneh bila kita mengatakan kata-kata : Tuhan itu bisa dimohon atau didapatkan, Tuhan itu bisa ditunjuk, Tuhan itu adalah mustika, Tuhan itu adalah rahasia langit, Tuhan itu letaknya ada di antara dua mata kita, hari ini kita memohon Tuhan, di zaman dulu Tuhan akan secara diam-diam memberikan Tuhan kepadanya.
Inilah perbedaan yang sangat mendasar antara mencapai Tao versi Yiguandao dengan ajaran Taoisme. (Konsep nibanna / mencapai kesempurnaan saya bahas lebih detail di postingan berikutnya - Bagian 8)
Sosok Tuhan Personal versi Yiguandao
Di vihara Yiguandao, tidak ada kejelasan mengenai pemahaman Tao. Di banyak ceramah Tao lebih sering dipersepsikan dengan Jalan Ketuhanan, sering juga dianggap sebagai mustika yang bisa memutus kelahiran dan kematian. Tapi saya pernah mendengar beberapa kali penceramah yang menyebutkan bahwa Tao itu adalah Tuhan. Tapi kalau Tuhan itu adalah Tao, kenapa kok ada sosok lain yang dijadikan sosok Tuhan yang disembahyangi di vihara? Yiguandao mempunyai sosok Tuhan-nya sendiri yang dinamakan 明明上帝 Ming Ming Shang Di atau sering juga disebut 無生老母 Wu Sheng Lao Mu (Ibu Tua Abadi) atau biasa disingkat dengan sebutan Lao Mu saja. Di satu sisi mereka mengambil ayat-ayat dalam Tao Te Ching dan menganggap Tao itu adalah sumber dari segalanya yang mengatur seluruh alam semesta ini, sesuatu yang ada di mana saja, sesuatu yang maha besar yang tidak terceritakan tapi di sisi lain juga menyakini ada sosok lain yang dipercaya sebagai sosok Tuhan. Dan Tuhan versi Yiguandao ini malah mengambil konsep agama Abrahamik di mana Tuhan adalah sebuah sosok yang sering digambarkan mempunyai sifat-sifat manusia. Banyak penjelasan dalam ceramah Yiguandao yang menyebutkan bahwa Tuhan sedang sedih, marah, rindu, berwelas hati, tidak sampai hati, dll. Penggambaran Lao Mu sebagai sosok personal yang memiliki sifat-sifat manusia ini tentu saja sangat bertentangan dengan ajaran Taoisme dan ajaran Buddha. Apalagi di vihara Yiguandao juga dibikinkan lampu lentera Lao Mu 無幾燈 yang jelas-jelas memiliki bentuk. Banyak juga pratek-praktek Fuji (peminjaman roh) yang diklaim merupakan wejangan Tuhan (Ibu Suci) jelas-jelas adalah salah satu bentuk jelmaan Tuhan di dunia. Sementara di kitab suci Taoisme dan Buddha sangat jelas disebutkan bahwa salah satu sifat dari Tuhan adalah Tidak Menjelma/Tidak Bermanifestasi.
Kalau kita melihat sejarah, sebenarnya sosok Laomu yang juga dikenal dengan sebutan 舞技老母 wuji lao mu ini adalah evolusi dari sosok dewa 西王母 Queen Mother of the West yang populer di kalangan folk religion (aliran kepercayaan). Bukti keyakinan pada sosok ini ada pada prasasti tulang di dinasti Shang (1766 - 1122 SM). Queen of Mother of the West ini dianggap sebagai ibu dari semua dewa-dewi, sosok Dewa ini ada sejak jaman dinasti Shang. Para penulis di dinasti Tang menyebutnya “Ibu Emas Penguasa Pertama”, “Ibu Emas Gunung Kura-kura”. Para penyair lebih sering menyebutnya dengan sebutan "Ibu Suci". Meningkatnya popularitas Queen Mother of the West, serta kepercayaan bahwa dia adalah pembawa kemakmuran, umur panjang, dan kebahagiaan abadi, terjadi pada masa dinasti Han, pada abad ke-2 SM, ketika masyarakat bagian utara dan barat Tiongkok kehidupannya membaik karena dibukanya Jalur Sutra. The Queen Mother of the West sering digambarkan mengadakan pengadilan di dalam istananya di Gunung Kunlun yang mistis. Tempat ini yang dianggap masyarakat sebagai surga yang sempurna. Karena kepopuleran ini, maka banyak sekali aliran-aliran kepercayaan yang menyembahnya.
![]() |
Sosok Queen Mother of the West dalam lukisan Xie Wenli |
Salah satu aliran kepercayaan yang menjadi populer di abad ke-15 adalah Ajaran Luoisme yang merupakan akar dari terbentuknya Yiguandao. Ajaran Luoisme memperkenalkan konsep 無極, 真空, 古佛 dalam kitabnya 宝卷 Bao Juan dan para pengikutnya kemudian mulai membentuk sosok 無極老母 (Wu ji Lao Mu) berdasarkan Queen Mother of the West ini. Seiring berjalannya waktu, citra dewa ini terus berevolusi dari yang semula sosok dewa wanita menjadi Tuhan yang tidak memiliki bentuk.
![]() |
Penggambaran Laomu di masa-masa awal |
Doktrin Yiguandao yang menghindari Pendalaman Ajaran
Doktrin Yiguandao selama ini sangat menghindari adanya pendalaman ajaran dan kitab suci. Saya pribadi beberapa kali mendengar di vihara saya pribadi, bahwa untuk mencapai Kebuddhaan/Kesempurnaan itu tidak perlu mendalami banyak ajaran/kitab suci tapi hanyalah perlu tulus membina dan mengikuti apa yang dikatakan oleh senior dan rajin ke vihara. Yiguandao meyakini bahwa semua ajaran itu bukanlah yang sejati. Yang sejati hanyalah satu titik (Tao) yang ditunjuk oleh Dian Chuan Shi di waktu memohon Tao. Doktrin ini secara tidak langsung merupakan metode anti intellektual yang cukup efektif agar para umat Yiguandao tidak mengetahui makna yang sebenarnya dari suatu teori sehingga bisa diarahkan untuk percaya kepada ajaran-ajaran versi mereka sendiri.
Perbedaan mengenai arti dan makna dari Tao dan konsep Tuhan personal ini pernah ditanyakan oleh seorang akademis bernama Lu Yun Feng di vihara Yiguandao di Taiwan dan ditulis dalam bukunya yang berjudul The Transformation of Yiguan Dao in Taiwan: Adapting to a Changing Religious Economy. Berikut kutipan dari Bab 6 buku tersebut mengenai pertanyaan yang diajukan Lu dan jawaban yang diberikan oleh seorang Dian Chuan Shi (Pandita yang berfirman Tuhan) Yiguandao waktu itu :
Di lapangan, saya terkejut dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang Dian Chuan Shi perempuan. Dia adalah seorang pengajar yang mengadakan semacam kelas pendalaman untuk para sektarian muda yang berpendidikan. Saya menghadiri kelas tersebut secara rutin. Di satu kelas, setelah memperkenalkan Ibu Suci (Lao Mu), Dian Chuan Shi tersebut meminta kami untuk berdiskusi secara bebas. Selama diskusi, saya mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya:
“Menurut 道德經 Daode Jing, Tao adalah sesuatu yang tidak berkepribadian, tidak terlihat dan tidak berwujud, tetapi kenapa Ibu Suci yang disembah oleh Yiguan Dao adalah dewa yang mempunyai kepribadian. Jadi, apa perbedaan di antara keduanya?”
Tanggapan Dian Chuan Shi tersebut sangat menarik:
“Anda tidak bisa berpikir bahwa Dao yang disebutkan dalam 道德經 Daode Jing sama dengan Ibu yang disembah oleh Yiguan Dao, karena pada dasarnya mereka berbeda. Tentu saja, itu adalah wajar jika Anda, seorang intelektual yang mempelajari agama, membuat perbandingan seperti itu. Namun bagi kami, para Pembina Tao, perbandingan itu tidak ada artinya. Kami tidak peduli apakah itu harus dinamai sebagai Dao, atau 明明上帝 Mingming Shangdi, atau Bunda Yang Maha Suci, atau Sakyamuni. Masalah-masalah ini tidak penting bagi para umat kalangan Tao. Kita tidak membutuhkan apa yang disebut pemikiran dialektika. Tidak, kita tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu. Sejujurnya, kadang-kadang saya bertanya-tanya apakah pengetahuan semacam itu membantu kita untuk mengembangkan Tao. Saya pikir tidak."
Mendengar jawaban tersebut, beberapa yang hadir tertawa. Dian Chuan Shi tersebut berhenti sejenak dan melanjutkan :
"Apa yang paling penting bagi pembinaan kita? Menurut saya yang berikut ini penting. Semua penganut agama yang setia, termasuk saudara-saudara kita yang pengikut Tao, tidak akan mengeksplorasi keyakinan mereka dari sudut pandang filosofis. Mereka juga tidak akan menunjukkan kontradiksi kitab suci. Beberapa umat mengkritik bahwa Silsilah Dao (道統 Dao Tong) patut dipertanyakan dan tidak masuk akal. Kadang-kadang, ketika saya bertemu dengan orang-orang seperti itu, saya biasanya bertanya kepada mereka: Mengapa Anda ingin memahaminya? Apakah Anda tidak akan membina Tao sampai Anda memahaminya? Apakah anda tidak akan Membina Diri sampai [Silsilah] itu terdengar masuk akal? Apakah anda akan menjadi lebih setia setelah anda memahami pertanyaan-pertanyaan ini? Saya rasa tidak. Saya sering mengatakan kepada para siswa bahwa kita mempelajari sutra dan kitab-kitab klasik hanya untuk mengikuti trend. Orang-orang di agama lain membaca kitab-kitab klasik, jadi kita juga membacanya. Padahal, kita tidak perlu membaca buku-buku itu. Kitab-kitab klasik itu tidak penting bagi kita. Masalah penting bagi kerabat Dao kita adalah menggunakan Tiga Mustika dalam kehidupan sehari-hari. Itu adalah hal yang paling penting."
Penjelasan di atas mewakili apa yang juga dikatakan dan dijelaskan oleh senior-senior di vihara saya dulu atas pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya agak kritis. Mencari kebenaran di kalangan Yiguandao dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu. Di vihara Yiguandao, umat didorong dan dituntut agar bisa menjadi orang yang penurut (dinarasikan sebagai tulus) dan mengikuti semua apa yang dikatakan oleh senior tanpa punya banyak pertanyaan. Inilah penyebab banyak orang-orang yang berintelektual tinggi dan punya pikiran kritis sangatlah sulit bisa bertahan di vihara-vihara Yiguandao.
Referensi :
Komentar