Langsung ke konten utama

Studi tentang Yiguandao (Bagian 2) - Firman Tuhan & Keyakinan atas Masa Buddha Maitreya telah Tiba

Firman Tuhan & Keyakinan atas Buddha Maitreya

    Umat Yiguandao selama ini selalu beranggapan bahwa mereka mendapatkan sebuah jalan yang bisa melepaskan mereka dari tumimbal lahir. Jalan yang disebut dengan 天道 (Jalan Ketuhanan) ini didapatkan berkat ada kekuatan firman Tuhan yang dimiliki oleh guru penerang. Guru Penerang yang dimaksud adalah 張天然 Zhang Tianran dan Shun Suzhen 孫素貞 yang kemudian menurunkan firman Tuhan tersebut kepada para sesepuh (前人) dan para pandita (點傳師) yang disebut dengan istilah seuntai benang emas (金線). Dasar klaim firman Tuhan yang dimiliki oleh Maha Guru itu semuanya bersumber dari 扶乩 Tulisan Roh/Peminjaman Raga. Peminjaman raga ini diyakini oleh umat-umat Yiguandao merupakan wahyu atau petunjuk dari Tuhan ataupun para Buddha untuk umat manusia. Praktek tulisan roh ini sendiri mulai digunakan sejak zaman Maha Guru ke 15 dan dipopulerkan sejak jaman 張天然 Zhang Tian Ran memimpin. Penunjukkan Guru Penerang beberapa kali dilakukan melalui tulisan roh ini. Seperti contoh saat Maha Guru ke-17 路中一 Lu Zhongyi meninggal, penerusnya ditunjuk melalui tulisan roh. Tulisan roh pertama setelah Lu ZhongYi meninggal memberikan petunjuk bahwa semua murid Lu Zhongyi memegang firman Tuhan (nimen ge you tianming 你們各有天命). Tidak lama setelah itu dalam sesi penulisan roh yang lain, Lao Mu mengungkapkan keinginannya, kali ini menyatakan bahwa adik perempuan dari Lu Zhongyi yaitu 路中节 Lu Zhongjie yang diklaim merupakan titisan dari Guanyin akan memegang firman Tuhan selama 12 tahun. Tapi hanya beberapa tahun berjalan, ada tulisan roh lagi yang memperpendeknya menjadi selama 6 tahun saja, karena disebutkan bahwa sudah waktunya firman Tuhan diambil alih oleh 張天然 Zhang Tianran dan Shun Suzhen 孫素貞 sebagai suami istri sebagai penerusnya. 7 murid Lu Zhongyi lainnya saat itu menentang dan akhirnya timbul perpecahan yang menyebabkan Bapak Guru dan Ibu Guru sampai pindah ke tempat lain untuk menyebarkan Tao. Tulisan roh ini selama ini selalu dianggap kebenaran mutlak yang tidak diragukan kebenarannya. Praktek-praktek tulisan roh ini terus dijalankan oleh masing-masing kelompok Yiguandao setelah mereka berdiri sendiri-sendiri sepeninggalan Zhang Tianran dan Shun Suzhen yang telah berpulang.

    Permasalahan mulai timbul ketika ada beberapa kelompok Yiguandao yang menghasilkan teks tulisan roh yang menunjuk pemimpin mereka sebagai guru yang berfirman Tuhan selanjutnya. Berbeda dengan apa yang diyakini umat-umat Yiguandao sebelumnya di mana tulisan roh itu dianggap sebagai kebenaran mutlak, ketika ada penunjukan guru berfirman Tuhan yang bukan dari kelompok mereka, mereka langsung menganggap tulisan roh itu tidak valid (bukan kebenaran sejati). Akibat beberapa hasil tulisan roh seperti itulah sampai ada beberapa kelompok yang tidak lagi diakui sebagai bagian dari Yiguandao. Beberapa dari kelompok berikut adalah contoh beberapa kelompok yang tidak lagi diakui sebagai kalangan Yiguandao. 

Perpecahan ini menjadi salah satu alasan yang menyebabkan Tulisan Roh akhirnya mulai ditinggalkan hampir semua kelompok di akhir abad ke-20 (saat ini hanya 發一組 kelompok Fayi yang masih menggunakan). Saya sendiri terus terang bingung melihat adanya fenomena seperti ini dan jujur jika berpikir secara tidak bias dan obyektif, kita tidak pernah benar-benar tahu mana yang benar, karena masing-masing pihak saling mengklaim merekalah yang sejati dan yang benar. Yang membuat saya bertanya-tanya di sini kenapa tulisan roh itu sampai dihentikan kalau memang yang dihasilkan selama ini disebut kebenaran sejati dan kenapa kelompok-kelompok Yiguandao tidak bisa menerima bila memang ada hasil tulisan roh yang menunjuk salah satu senior sebagai guru penerang selanjutnya. Bukannya tulisan roh ini dianggap sebagai kebenaran yang mutlak? Penyangkalan kelompok-kelompok Yiguandao atas tulisan roh yang dihasilkan kelompok lainnya membuktikan bahwa tulisan roh sendiri itu memang bukanlah kebenaran. (Pembahasan lebih detail mengenai Tulisan Roh ini saya bahas di Bagian 7)

     Kalau melihat fenomena di atas, pernahkah kita merenungkan mengenai kebenaran dari tulisan roh itu. Atas dasar apakah kita bisa membedakan hasil tulisan roh mana yang benar dan mana yang salah bila prakteknya pada dasarnya sama. Yiguandao tidak mengakui hasil tulisan roh kelompok-kelompok tersebut dan menganggap firman Tuhan mereka-lah yang sejati. Tapi bila anda menempatkan kacamata anda di posisi kelompok lain, maka anda juga akan beranggapan bahwa kelompok andalah yang memegang firman Tuhan yang sejati, sementara Yiguandao adalah yang palsu. Jadi kalau masing-masing kelompok ini saling mengklaim bahwa mereka yang mempunyai firman Tuhan yang sejati, yang manakah yang benar-benar memegang Firman Tuhan yang sejati?

Keyakinan pada Buddha Maitreya dalam Sejarah Tiongkok

Yiguandao menyakini bahwa turunnya Guru Penerang yang berfirman Tuhan itu adalah sesuai kitab suci agama Buddha, di mana sekarang ini kita telah memasuki masa pancaran putih yang berarti masa Buddha Sakyamuni sudah berakhir, dan sudah digantikan oleh Buddha Maitreya. Umat Yiguandao mengyakini bahwa Buddha Maitreya sudah turun ke dunia bereinkarnasi menjadi Maha Guru ke-17 路中一 Lu Zhong Yi. Pernahkah para umat Yiguandao memeriksa sendiri seperti apakah ucapan lengkap Buddha Sakyamuni mengenai Buddha Maitreya yang tertulis dalam Tripitaka? 

    Menurut Cakkavatti Sutta: Kaisar Pemutar Roda (Digha Nikaya 26:24-27), Buddha mengatakan bahwa Buddha Maitreya sebagai Buddha yang akan datang baru akan turun ke dunia pada saat rata-rata umur manusia mencapai usia 80.000 tahun, dan di saat itu ajaran Sang Buddha Sakyamuni sudah tidak dapat ditemukan lagi di bumi ini. Berikut kutipan lengkapnya dari Digha Nikaya 26, Tripitaka :

24. ‘Dan pada masa itu ketika manusia memiliki umur kehidupan delapan puluh ribu tahun, akan muncul di ibukota Ketumatī seorang raja bernama Sankha, seorang raja pemutar-roda, raja yang jujur dan adil, penakluk empat penjuru.

25. ‘Dan pada masa itu ketika manusia memiliki umur kehidupan delapan puluh ribu tahun, akan muncul di dunia ini Sang Tathāgata, seorang Arahant, Buddha yang mencapai penerangan sempurna bernama Metteyya, memiliki kebijaksanaan dan perilaku sempurna, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan, Pengenal seluruh alam, Penjinak manusia yang dapat dijinakkan yang tiada bandingnya, guru para dewa dan manusia, Tercerahkan dan Suci, seperti halnya Aku sekarang ini. Beliau akan mengetahui segalanya dengan pengetahuan-super yang Beliau miliki, dan menyatakan, semesta ini dengan para dewa dan māra dan Brahmā, para petapa dan Brahmana, dan generasi ini dengan para raja dan umat manusia, seperti yang Kulakukan sekarang. Beliau akan mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dalam makna dan katanya, dan membabarkan, seperti yang Kulakukan sekarang, kehidupan suci dalam kesempurnaan dan kemurniannya. Ia akan diiringi oleh ribuan bhikkhu, seperti halnya Aku diiringi ratusan bhikkhu.

26. ‘Kemudian Raja Sankha membangun kembali istana yang pernah dibangun oleh Raja Mahā-Panāda dan, setelah menetap di sana, akan melepaskannya dan mempersembahkannya kepada para petapa dan Brahmana, para pengemis, para pengembara, orang-orang miskin. Kemudian, setelah mencukur rambut dan janggutnya, ia akan mengenakan jubah kuning dan meninggalkan kehidupan rumah tangga untuk menjalani kehidupan tanpa rumah di bawah Buddha Metteyya yang tertinggi. Setelah meninggalkan keduniawian, ia akan menetap sendirian, dalam pengasingan, tekun, bersemangat dan bertekad, dan tidak lama kemudian ia akan mencapai dalam kehidupan ini juga, dengan pengetahuan-super dan tekadnya sendiri, tujuan kehidupan suci yang tiada bandingnya, yang dicari oleh para pemuda yang berasal dari keluarga yang baik yang meninggalkan rumah untuk menjalani kehidupan tanpa rumah, dan akan berdiam di sana.

    Dalam Sutra Mahayana yaitu 彌勒下世經 [Sutra Turunnya Maitreya ke Alam Manusia] juga disebutkan bahwa Bodhisattva Maitreya saat ini belum menjadi Buddha. Beliau masih berada di Alam Tusita membabarkan Dharma. Dia baru akan mencapai ke-Buddha-an jauh dan baru turun ke dunia manusia jauh di masa depan (miliaran tahun lagi) yaitu pada saat rata-rata manusia berumur 80.000 tahun dan saat ajaran Buddha Gautama sudah tidak ada lagi di dunia ini.

    Kalau kita mempelajari sejarah Tiongkok, kata-kata dalam sutra inilah yang mulai abad ke-5 banyak dibelokkan oleh tokoh-tokoh yang punya kepentingan tertentu, sehingga muncullah kitab-kitab palsu yang meramalkan adanya bencana akhir zaman dan akan segera turunnya Buddha Maitreya ke bumi. Karena di saat itu banyak sekali masyarakat awam yang tidak membaca dan mendalami sutra Buddha, banyak sekali yang mudah percaya pada narasi bahwa Buddha Maitreya telah hadir di dunia.  Itulah sebabnya dalam sejarah kekaisaran Tiongkok, ada banyak biksu, tokoh-tokoh agama, dan tokoh-tokoh pemberontakan yang mengklaim dirinya sebagai titisan Maitreya agar bisa mendapatkan banyak pengikut dengan mudah. Dan trend tersebut (menggunakan Maitreya telah hadir ke dunia sebagai slogan) sudah terjadi sejak abad ke-5. Silahkan baca buku-buku sejarah China yang murni ditulis oleh para akademisi dan sejarawan yang tentunya tidak punya motif apapun dalam menulis. Saya pribadi cukup kaget mengetahui fakta bahwa ada banyak sekali kelompok2 pemberontak yang menggunakan narasi bahwa Maitreya akan/telah lahir ke dunia. Dan kalau melihat ciri-ciri dari kelompok-kelompok tersebut, entah kebetulan atau tidak, mereka memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu menyembah pada Laomu, menyakini teori 3 masa pancaran, menganggap masa Buddha Sakyamuni sudah lewat, menggabungkan banyak ajaran menjadi satu, mempunyai aturan vegetarian yang ketat dan memiliki ritual sumpah disambar petir saat bergabung. Terlalu banyaknya kelompok agama yang menciptakan narasi-narasi tersebut selama bertahun-tahun membuat keyakinan bahwa Buddha Maitreya akan/telah lahir ke dunia telah menjadi tradisi kepercayaan populer yang diyakini oleh banyak sekali masyarakat di Tiongkok. Itulah sebabnya, mengklaim diri sebagai Buddha Maitreya menjadi semacam trend bagi kelompok-kelompok agama baru sebagai cara yang efektif untuk mengumpulkan pengikut.

    Di bawah ini adalah rangkuman cerita mengenai sejarah bagaimana keyakinan terhadap Buddha Maitreya ternyata sangat berpengaruh dalam gejolak perpolitikan sejarah kerajaan Tiongkok sejak abad ke 5. Anda bisa research sendiri mengenai kebenarannya. Sayangnya memang teks-teks yang ada di internet mengenai sejarah ini kebanyakan masih berbahasa Mandarin, dan belum banyak teks-teks di internet yang berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Beberapa jurnal dan rangkuman dari buku-buku sejarah yang menurut saya cukup bagus bisa anda baca di link inilink ini, link ini atau link ini. Bila anda ingin lebih mendalaminya bisa membaca sendiri buku-buku sejarah yang saya lampirkan di akhir postingan ini dan membuktikan sendiri kebenarannya. 

    Pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Liang (464–549), Fu Daishi (傅大士), seorang biksu yang berasal dari Yiwu, Wuzhou mengaku dirinya adalah titisan Buddha Maitreya. Inilah salah satu jejak awal dari sekte Maitreya (彌勒教).  Selanjutnya di masa kepemimpinan Kaisar Xuanwu (483–515), seorang biksu bernama 法庆 Fa Qing mengaku sebagai 新佛 Buddha Baru dan kemudian mengutip kitab suci Buddha yang mengatakan bahwa “Buddha Maitreya telah turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia sebagai pengganti dari Buddha Sakyamuni"  dan kemudian menciptakan doktrin bahwa membunuh orang akan menjadi Boddhisattva.  Pada tahun 515, Faqing dengan dukungan 李歸伯 Li Guibo memberontak mengatasnamakan agama Buddha, dan kemudian ditumpas oleh Yuan Yao (元遙).[1]

Sejak saat itu, ada banyak pemberontakan dengan slogan "Buddha Maitreya telah turun ke dunia" sebagai slogan utamanya. Pada tahun kesembilan pemerintahan Kaisar Yang, Song Zixian (宋子賢), seorang penduduk asli Gao Yang, adalah seorang ahli ilmu sihir terampil yang “dapat merubah diri menjadi Buddha” dan mengaku sebagai “titisan dari Buddha Maitreya”, dan mengumpulkan orang untuk memulai pemberontakan.

    Setelah Dinasti Tang, terjadi pemberontakan rakyat yang tak ada habisnya menggunakan keyakinan bahwa Maitreya telah terlahir kembali (datang ke dunia). Di daratan Tiongkok, gagasan mesianis tentang penyelamat akhir jaman terus terbentuk. Banyak pemberontak memanfaatkan takhayul ini dan memberontak kepada pemerintah di bawah slogan " 彌勒下生,明王出世 Maitreya telah lahir, dan Raja Ming telah lahir ."

    Karena keterlibatan mereka dalam pemberontakan sipil , para kaisar istana kekaisaran tidak lagi nyaman dengan keyakinan Maitreya dan tidak mendukung keyakinan ini. Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang pernah mengeluarkan "禁斷妖訛等敕 Dekrit yang melarang setan dan kebohongan", yang menghukum mereka-mereka yang mengaku sebagai titisan Maitreya dan para pengikutnya yang percaya bahwa Buddha Maitreya telah lahir kembali dan bencana akhir zaman sudah akan tiba. Dekrit ini memberikan pukulan telak terhadap kepercayaan terhadap Maitreya selanjutnya. Selain itu, masuknya ajaran 西方淨土 Tanah Suci Barat dari agama Buddha juga berdampak pada kepercayaan kepada Maitreya ini. Di bawah dua tekanan tersebut, kepercayaan terhadap Maitreya secara bertahap menurun dan secara bertahap menjadi agama/sekte rahasia rakyat yang bergerak sembunyi-sembunyi. 

    Selama masa Dinasti Sui, terdapat tiga pemberontakan berbeda yang dipimpin oleh tiga pemimpin berbeda yang mengaku sebagai Maitreya, satu di tahun 610 di ibu kota (Chang'an) dan dua di tahun 613 (satu dipimpin oleh seorang bernama 宋子賢 Song Zixian dan satu lagi oleh seorang biksu bernama 向海明 Xiang Haiming). Pada masa dinasti Tang, pemberontakan Maitreya lainnya dipimpin oleh seorang bernama 王懷古 Wang Huaigu. Pada masa dinasti Song, 王則 Wang Ze memimpin pemberontakan mengklaim diri sebagai penguasa Dongping (东平郡主), dengan slogan, “Masa Buddha Sakyamuni telah berlalu, sekarang Buddha Maitreya yang berkuasa”. Selain itu, Gao Tancheng (高曇晟), seorang biksu Buddha dari Huaizhou, dan Liu Ningjing (劉凝靜), seorang wanita dari Kabupaten Wannian di Sichuan, mengklaim bahwa Maitreya telah turun ke dunia dan memulai pemberontakan. Sebuah novel berjudul Tiga Sui Membasmi Pemberontakan Siluman (三遂平妖傳) karya Luo Guanzhong isinya mencerminkan pandangan masyarakat umum tentang Maitreya di masa itu.

    Pada tahun ketujuh pemerintahan Qingli Kaisar 宋仁宗 Renzong dari Dinasti Song (1047), raja 貝州 Beizhou (sekarang Qinghe , Provinsi Hebei ) memberontak dengan slogan "釋迦佛衰謝,彌勒佛當持世 Masa Buddha Sakyamuni telah lewat, Buddha Maitreya yang saat ini memegang kuasa alam". Dari Dinasti Wei Utara hingga akhir Dinasti Tang hingga Dinasti Song, kerusuhan populer berdasarkan kepercayaan pada Maitreya dan dengan slogan inkarnasi Maitreya mencerminkan keinginan yang kuat dari masyarakat untuk kedatangan dan keselamatan juru selamat di dunia ini. Keinginan ini berakar pada struktur internal masyarakat, dan dimanifestasikan dalam bentuk keyakinan Maitreya, yang menjadi ekspresi ideologis dan panduan tindakan untuk konflik antara kelas sosial masyarakat.

    Pemerintah Dinasti Song menyatakan bahwa aliran Maitreya adalah "aliran sesat dan agama yang tidak diakui". Puluhan ribu pengikut Sekte Maitreya dibunuh saat itu. Sejak Dinasti Song dan seterusnya, ada kecenderungan adanya perpaduan antara Maitreya dan Maniisme. Cerita legenda bahwa Buddha Maitreya telah turun untuk menyelamatkan dunia tersebar luas di tengah masyarakat, dan Sekte Teratai Putih adalah yang paling terkenal. Sekte Teratai Putih menyerukan penyelamatan dunia dengan mengklaim bahwa Buddha Maitreya akan lahir dan memberontak, yang secara alami mengarah pada dimulainya pemberontakan terhadap kekuasaan Dinasti Yuan.

    Dinasti Yuan relatif berpikiran terbuka terhadap keyakinan agama dan tidak terlalu melarang. Oleh karena itu mulai berkembang kelompok-kelompok agama yang menyembah Buddha Maitreya di China utara. Agama seperti Ming Jiao dan 白莲宗 (bai lian zong) kelompok Teratai Putih juga memasukkan keyakinan Buddha Maitreya telah hadir di dunia dalam ajarannya. Di dinasti Yuan ini, banyak biksu dari sekte Teratai Putih secara bertahap menjauh dari sekte dan kembali ke agama Buddha ortodoks, sementara itu masih banyak orang yang diam-diam menyebarkan ajaran. Kelompok Teratai Putih (bai lian zong) di kala itu mulai bercampur dengan 彌勒教 Sekte Maitreya dan 明教 Sekte Ming dan menyebut kelompok mereka sebagai 白蓮教 (bai lian jiao) Sekte/ Ajaran/Agama Teratai Putih, dan menjadi agama rahasia yang menyebarkan ajaran secara diam-diam. Di tahun 1325, 趙丑廝 Zhao Chousi dan 郭菩薩 Guo Pusa dari Sekte Teratai Putih di Xizhou mempublikasikan "弥勒佛当有天下 Buddha Maitreya akan segera hadir di dunia" dan mengumpulkan pengikut untuk memulai pemberontakan. Di tahun 1337, 胡閏兒 Hu Yan er dari Sekte Teratai Putih mengatakan bahwa "弥勒佛已经降生 Buddha Maitreya telah lahir" mengumpulkan massa, membakar dupa untuk bangkit memberontak. Pada tahun keempat pemerintahan Kaisar Shun (1338), Peng Yingyu (彭瑩玉) yang merupakan ketua dari 彌勒教Sekte Maitreya dan 周子旺 Zhou Ziwang, biksu dari Yuanzhou, Provinsi Jiangxi (sekarang Yichun, Provinsi Hubei), membujuk masyarakat untuk melafalkan nama Buddha Maitreya, membakar obor dan dupa pada malam hari, dan mengadakan ritual, dan mengorganisir sebuah pemberontakan Sekte Teratai Putih, yang didasarkan pada keyakinan Maniisme atas "崇尚光亮信仰 Keyakinan pada Cahaya Pemujaan". Selanjutnya terjadilah pemberontakan dilakukan oleh Sorban Merah / Red Turban yang dipimpin oleh 韓山童 Han Shantong, pemimpin sekte Teratai Putih, dan Panglima Angkatan Darat 刘福通 Liu Futong memberontak melawan bangsa Mongol.

    Setelah 朱元璋 Zhu Yuanzhang mendirikan Dinasti Ming , Sekte Maitreya dilarang, dan kelompok ini secara bertahap bergabung dengan sekte Teratai Putih. Selama Dinasti Ming dan Qing, sesekali masih terjadi pemberontakan oleh sekte Teratai Putih dengan menggunakan narasi "彌勒降世 Buddha Maitreya telah datang ke dunia". Pemberontakan Teratai Putih Kedua meletus pada tahun 1796 di antara para pemukim miskin di wilayah pegunungan yang memisahkan Sichuan dari Hubei dan Shaanxi sebagai protes terhadap pajak yang berat yang diberlakukan oleh para penguasa Manchu pada Dinasti Qing. 

    Di tahun 1813, terjadi pemberontakan besar di akhir Dinasti Qing yang dimulai oleh sekte keagamaan sekte Tianli (天理教), cabang dari sekte Teratai Putih yang gerakannya dikenal dengan Pemberontakan Delapan Trigram (八卦教). Gerakan ini memiliki keterkaitan erat dengan ajaran sekte Maitreya, terutama karena keyakinan ideologis para pengikutnya yang percaya pada kedatangan Maitreya sebagai penyelamat dunia dan menciptakan zaman dan dunia baru. Lin Qing yang menjadi salah satu pemimpin pemberontakan menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya, Buddha masa depan yang diramalkan dalam agama Buddha, dengan menggunakan spanduk bertuliskan “Dipercayakan oleh Surga untuk Mempersiapkan Jalan”, yang merujuk pada novel populer Water Margin.  Sekte Teratai Putih juga memengaruhi perkembangan "Perkumpulan Tinju yang Harmonis" pada abad ke-19 yang menyebabkan terjadinya Boxer Rebellion pada tahun 1899.[2]

    Di abad ke-19, kelompok-kelompok agama yang merupakan cabang Luoisme yaitu 青蓮教sekte Teratai Hijau atau sering dikenal sebagai 先天道 XianTian Dao memasukkan tradisi-tradisi sekte Teratai Putih dalam ajarannya, salah satunya adalah keyakinan pada Buddha Maitreya akan segera hadir ke dunia. Sekte Teratai Hijau beberapa kali mencoba melakukan beberapa pemberontakan pada pemerintah namun gagal.  Di tahun 1883, 末后一着教 Moho Yizhujiao yang merupakan pecahan dari Xiantian Dao merencanakan pemberontakan yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 bulan 3 secara serentak di beberapa kota. Rencana tersebut ketahuan oleh pemerintahan Qing dan langsung menangkap para pemimpin kelompok ini sekaligus menekannya. Wang Jue Yi, pemimpin dari Moho Yizhujiao kabur ke Hankou kemudian ke Sichuan dan hidup bersembunyi sampai meninggal.  

    Jadi kalau kita melihat sejarah, Lu Zhongyi jelas bukan satu-satunya yang mengklaim diri/diklaim bahwa dialah reinkarnasi dari Maitreya. Sosok Buddha Maitreya memang sudah sejak lama menjadi salah satu daya tarik yang digunakan tokoh-tokoh tertentu atau kelompok-kelompok keagamaan untuk mengumpulkan pengikut. Berikut ini hanya beberapa saja dari ratusan tokoh yang mengaku sebagai titisan Maitreya :

  • Pada abad ke-5, 傅大士 Fu Dashi menyebut dirinya secara tersirat bahwa dia adalah reinkarnasi Buddha Maitreya dan mendirikan 彌勒教 Sekte Maitreya yang didirikan pada masa pemerintahan 梁武帝 Liang Wu Di.
  • Pada tahun 515, seorang biksu dari Jizhou dari Dinasti Wei Utara bernama 法庆 Faqing, memproklamirkan diri sebagai "Buddha Baru", "Buddha Mahayana" mengutip kitab suci Buddha bahwa "Maitreya telah turun untuk menjadi seorang Buddha", dan "Buddha Maitreya Menggantikan Buddha Sakyamuni menyelamatkan dunia". Faqing mengumpulkan pasukan untuk memberontak terhadap kekuasaan Dinasti Wei atas nama agama Buddha.
  • 冯宜 Feng Yi dan 贺悦 Heyue, orang-orang Hu dari Kabupaten Wucheng dari Dinasti Wei Utara di abad ke-6 memimpin pemberontakan mengaku sebagai Buddha Maitreya melawan tentara Wei Utara di pinggiran kota Yuntai.[3]
  • 宋子贤 Song Zixian, penduduk asli Kabupaten Tang di Dinasti Sui, yang ahli dalam ilmu magic, dan mengaku bisa berubah menjadi bentuk Buddha dan mengaku dirinya adalah titisan Buddha Maitreya dan melakukan pemberontakan
  • Pada tahun 613, biksu 向海明 Xiang Haiming mengklaim dirinya sebagai Maitreya dan menggunakan gelar kekaisaran.
  • Pada tahun 690 武則天 Wu Zetian, permaisuri yang berkuasa pada masa peralihan Wu Zhou (690-705), menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Buddha Maitreya di masa depan, dan menjadikan Luoyang sebagai "ibu kota suci". Pada tahun 693, ia untuk sementara menggantikan Dao De Jing yang diwajibkan dalam kurikulum dengan Peraturan untuk Pejabat.
  • Rudra Chakrin - Seorang pangeran India yang dikenal sebagai Maitreya pada abad ke-7 Masehi.
  • Pada tahun-tahun awal pemerintahan Dinasti Tang (713), 王怀古 Wang Huaigu dari Tangbeizhou memimpin pemberontakan mengaku sebagai Buddha Baru (ditafsirkan sebagai Buddha Maitreya)
  • 궁예 Kung Ye, seorang panglima perang Korea dan raja dari negara bagian Taebong yang berumur pendek selama abad ke-10, mengklaim dirinya sebagai penjelmaan hidup dari Maitreya dan memerintahkan rakyatnya untuk memujanya. Klaimnya secara luas ditolak oleh sebagian besar biksu Buddha dan kemudian dia digulingkan dan dibunuh oleh para pelayannya sendiri.
  • Pada tahun 1047, 王則 Wang Ze, seorang petani di Zhuozhou pergi ke Beizhou untuk menggembalakan domba bagi pemilik tanah lokal, kemudian memberontak mengaku sebagai 东平郡主 penguasa Dongping dengan slogan "Masa Buddha Sakyamuni telah lewat, Buddha Maitreya menggantikan memimpin kuasa alam"
  • 高昙晟 Gao Tansheng, seorang biksu dari Huaizhou  mengumpulkan hampir 50 biksu untuk membunuh hakim kabupaten dan jenderal penjaga kota menggunakan keyakinan bahwa era Buddha Maitreya akan datang, dan memproklamirkan dirinya sebagai "大乘皇帝 Kaisar Mahayana" dan mendirikan 建元法轮 Jianyuan falun
  • 刘凝静 Liu Ningjing, seorang wanita dari Kabupaten Wannian, Sichuan mengklaim bahwa era Maitreya akan datang ke dunia dan memberontak
  • 杜可用 Du Ke Yong, juga dikenal sebagai 杜萬一 Du Wanyi, pemimpin revolusi rakyat Jiangxi pada awal dinasti Yuan, yang dimulai dengan sekte Teratai Putih, menyebut diri sebagai 杜聖人 Du Shengren, disebut dengan nama 明王 Raja Ming (Vidyārāja), menggunakan narasi "彌勒下生,明王出世 Maitreya telah lahir, dan Raja Ming telah lahir"
  • Injin dari Goryeo - Seorang biksu Korea yang mengaku sebagai Maitreya pada abad ke-14 Masehi.
  • 王倫 Wang Lun, Pemimpin sekte Teratai Putih pada tahun 1770, mengaku sebagai titisan Buddha Maitreya yang ditakdirkan menjadi kaisar China berikutnya. Dia mengerahkan para pengikutnya untuk memberontak pada pemerintahan dinasti Qing.
  • 林清 Lin Qing (1770–1813), menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya, Buddha masa depan yang dinubuatkan dalam agama Buddha, menggunakan spanduk bertuliskan “Dipercayakan oleh Surga untuk Mempersiapkan Jalan” untuk melakukan pemberontakan Delapan Trigram. Para pengikutnya menganggap dia dikirim oleh Wusheng Laomu ] untuk menyingkirkan dinasti Qing yang mereka anggap telah kehilangan Firman Tuhan untuk memerintah.
  • Bahá'u'lláh (1817-1892), Nabi-Pendiri Agama Bahá'í, diakui oleh umat Bahá'í sebagai Buddha Maitreya yang dijanjikan dan Yang Dijanjikan dari semua agama.
  • 韓山童 Han Santong, Pemimpin dari pemberontakan Sorban Merah (Red Turban) yang memberontak di abad 14, mengaku adalah titisan Buddha Maitreya  
  • Wang Tianzu (王添組), murid dari Wu Zixiang (patriark ke-10 Yiguandao) mengklaim dirinya sebagai inkarnasi dari Maitreya dan mengaku telah melihat akan datangnya bencana. Dia mempunyai seorang murid Liao Ganzhou (廖幹周) yang mengumpulkan 1500 pengikut yang memakai sorban putih dan mengadakan pemberontakan di provinsi Shicheng, Jiangxi pada tahun bulan November tahun 1803.
  • 徐還無 Xu Hai Wu (1796-1828), dipercaya oleh para pengikut Yiguandao sebagai titisan dari Buddha Maitreya bersama-sama dengan 楊還虛 Yang Hai Xiu yang dipercaya sebagai titisan Dewi Guan Yin  dan menjadi maha guru ke-13 dalam silsilah maha guru Yiguandao. Keduanya dicurigai oleh pemerintah terlibat dalam kelompok agama yang terlarang.
  • 林清則 Lin Qing mengaku sebagai titisan Buddha Maitreya bersama 李文成 Li Wencheng yang mengaku titisan Raja Ming bersama-sama melakukan 癸酉之變 Pemberontakan Delapan Trigram di tahun 1813.
  • 劉四兒  Liu Xi Er, Anak dari 劉松 Liu Song dari sekte Teratai Putih juga mengaku sebagai titisan Buddha Maitreya, dan punya misi di bumi untuk membantu " 牛八 Niu Ba" yang diduga merupakan keturunan kekaisaran Ming untuk berkuasa kembali.
  • 路中一 Lu Zhongyi (1849-1925), maha guru ke-17 Yiguandao dipercaya pengikutnya sebagai titisan Buddha Maitreya dan menjadi maha guru pertama di pancaran putih, masa terakhir sebelum  bencana akhir jaman.
  • Jiddu Krishnamurti, meditator, penulis asal India yang sering memberikan ceramah tentang kehidupan diyakini sebagai kendaraan untuk Maitreya oleh doktrin Teosofi
  • Ram Bahadur Bomjon (nama lain : Buddha Boy, Maha Sambodhi, Dharma Sangha, Maitriya Guru, Palden Dorje, Tapasvi) - seorang pertapa Nepal berusia 34 tahun yang telah dipuji banyak orang sebagai Buddha baru. Dengan menamai dirinya sendiri secara terbuka sejak tahun 2012 sebagai Guru "Maitriya", ia dan para pengikutnya secara terbuka mengklaim bahwa ia adalah Buddha Maitreya yang dinanti-nantikan. Dia adalah sosok kontroversial yang saat ini sedang diselidiki atas tuduhan pemerkosaan, dan secara terpisah atas hilangnya empat anggota ashramnya.
  • B. R. Ambedkar dianggap sebagai seorang Bodhisattva, Maitreya, di antara para pengikut Navayana. Dalam praktiknya, para pengikut Navayana memuja Ambedkar, menurut Jim Deitrick, hampir setara dengan Buddha. Dia dianggap sebagai orang yang dinubuatkan akan muncul dan mengajarkan dhamma setelah dilupakan, ikonografinya merupakan bagian dari kuil-kuil Navayana dan dia ditampilkan dengan lingkaran cahaya. Meskipun Ambedkar menyatakan Navayana sebagai ateis, vihara dan kuil Navayana menampilkan gambar Buddha dan Ambedkar, dan para pengikutnya membungkuk dan memanjatkan doa di hadapan mereka dalam praktiknya.
  • L. Ron Hubbard, pendiri sistem kepercayaan Dianetics dan Scientology, menyatakan bahwa ia adalah "Metteya" (Maitreya) dalam puisi Hymn of Asia pada tahun 1955. Banyak editor dan pengikut Hubbard mengklaim bahwa dalam kata pengantar buku tersebut, ciri-ciri fisik tertentu yang dikatakan diuraikan - dalam sumber Sansekerta yang tidak disebutkan namanya - sebagai sifat-sifat Maitreya yang akan datang adalah sifat-sifat yang seharusnya selaras dengan kemunculan Hubbard. Dia mengulangi klaim ini dalam versi asli dokumen PL VII, yang menyatakan bahwa kematiannya akan menggenapi bagian dari nubuat kedatangan Maitreya.\
  • Samael Aun Weor (1917-1977) - menyatakan dalam The Aquarian Message bahwa "Buddha Maitreya Samael adalah Avatar Kalkian dari Jaman Baru." Avatar Kalkian dan Buddha Maitreya, menurutnya, adalah "Penunggang Putih" yang sama dari Kitab Wahyu.
  • 李洪志 Li Hongzhi, Pendiri gerakan spiritual Falun Gong, yang oleh beberapa pengikutnya diyakini sebagai Maitreya.
  • Guru dan dewa Amerika, Adi Da, disarankan oleh para pengikutnya untuk menjadi Maitreya.
  • Jose Luis de Jesus Miranda - Seorang pengkhotbah Puerto Rico yang mengaku sebagai Maitreya dan Yesus Kristus yang bereinkarnasi di awal tahun 2000-an.
  • Beberapa penulis modern mengklaim bahwa Avatar Hindu Kalki adalah Maitreya.
  • Beberapa penulis Muslim, penceramah agama Islam Zakir Naik, termasuk dari Komunitas Muslim Ahmadiyah, mengklaim bahwa nabi Islam Muhammad adalah Maitreya.

Referensi : 
Making Saints in Modern China - David Ownby, Vincent Goossaert, Ji Zhe
The Transformation of Yiguan Dao in Taiwan: Adapting to a Changing Religious Economy - Lu 
Yufeng
The Maitreya Cult and Its Art in Early China - Lee Yu Min
Anarchy in the Pure Land: Reinventing the Cult of Maitreya in Modern Chinese Buddhism - Justin Ritzinger 
中国民间宗教史 A History of Chinese Sects  - 马西沙 Ma Xisha, 韩秉方 Han Bingfang
Sectarianism and Religious Persecution in China - J J M De Groot
Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert
White Lotus Rebels and South China Pirates Crisis and Reform in the Qing Empire - Wensheng Wang
An Outline History of China - Bai Shou Yi
新元史 New Yuan Dynasty Histroy - 劭忞  Ke Shao Min 
续资治通鉴 Continuation of Zizhi Tongjian - 毕沅 Bi Yuan
Sectarianism and Religious Persecution in China - J J M De Groot
Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History - Hubert Michael Seiwert
中國宗教思想史 History of Chinese Religious Thought - 王治心 Wang Zhixin 
Catatan Sejarah Masyarakat Rahasia Modern 近代秘密社会史料 - SiaoYi Shan蕭一山 
History of Cults in China 中國邪教史 - Wang Qinghuai 王清淮 
The White Lotus Teachings in Chinese Religions History - Barend J. Ter Haar
The Cambridge History of China, Volume 7: The Ming Dynasty, 1368–1644, Part 1 - Frederick W. Mote
中国秘密社会史 Sejarah Masyarakat Rahasia Tiongkok 商務印書館  editor Penerbit Shang Wu Yin Shua Kuan
川陜楚白蓮教亂始末  Awal dan Akhir Kekacauan Pai Lien Ciao di Juan, Sia, Ju - 辜海澄 Gu Hai Cheng 
现代华北秘密宗教 Agama Rahasia di Tiongkok Utara Masa Kini - 李世瑜 Professor Li Shi Yu 
我怎樣脫離一貫道 Bagaimana Saya Melepaskan Diri Dari Yi Kuan Tao - 施文塗 Shi Wendu  
The White Lotus War:  Rebellion and Suppression in Late Imperial China  - Yingcong Dai
Zhu Yuanzhang and Early Ming Legislation: The Reordering of Chinese Society Following the Era of Mongol Rule - Edward L. Farmer
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Buddha_claimants

Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 1) : Teori 3 Masa Pancaran

Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 3) : Siklus Dunia Terbentuk sampai dengan Kiamat versi Yiguandao 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...