Langsung ke konten utama

Review Buku: Popular Religion and Shamanism - Xisha Ma, Huiying Meng

Bagi saya pribadi, ini adalah salah satu buku terbaik yang menjelaskan sejarah agama-agama non ortodoks yang populer di China. Buku ini tidak membahas secara khusus mengenai satu agama saja, melainkan beberapa agama yang berdasarkan sejarah cukup populer dan sempat memiliki jumlah pengikut yang luar biasa besar bahkan ada juga yang sampai saat ini masih memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit. 


Berbicara mengenai agama di China maka tentu tidak akan lepas dari empat agama terbesar di sana yaitu Taoisme, Konghucu, Buddha dan folk religion (agama kepercayaan Tionghua). Dan menariknya, banyak agama-agama baru yang lahir dan bermunculan kebanyakan memang mengambil dan mendompleng ajaran-ajaran dari keempat agama tersebut. Contoh paling nyata ya tentu saja salah satu agama baru yang sampai saat ini masih memiliki jumlah pengikut yang cukup besar seperti Yiguandao. Di Indonesia, agama yang satu ini walaupun sangat minoritas, tapi kalau kita melihatnya di kalangan umat keturunan orang Tionghua, agama ini masuk ke dalam salah satu agama yang cukup populer. Dari hanya sekitar 0.7% jumlah pemeluk agama Buddha di Indonesia saya tidak kaget bila ada sekitar 20 atau 30% dari jumlah tersebut adalah pemeluk Yiguandao. Buku ini tentu tidak membahas secara khusus mengenai Yiguandao, tapi karena Yiguandao sendiri adalah agama yang memasukkan banyak ajaran-ajaran populer ke dalam ajaran mereka, maka secara tidak langsung agama-agama populer yang dibahas dalam buku ini memiliki keterkaitan dengan agama Yiguandao itu sendiri, seperti contohnya adalah kepercayaan terhadap Maitreya (Maitreyanisme), agama Manikheisme, agama Luoisme, Sanjiao serta pemberontakan Yiheduan. Hampir semua agama tersebut punya hubungan dengan Yiguandao baik secara langsung maupun tidak langsung. Itulah yang membuat buku ini menarik, karena saya sendiri adalah mantan seorang penganut Yiguandao. Dan saya selalu tertarik untuk membaca sejarah-sejarah yang berhubungan dengan agama tersebut.

Secara umum, buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian pertama yang membahas tentang agama-agama di China dan bagian kedua membahas tentang shamanisme. Karena saya tidak terlalu tertarik dengan shamanisme, maka saya tidak membaca bagian tersebut. Ada total 3 bab yang membahas tentang Shamanisme. Sedangkan untuk bagian pertama, saya juga tidak membaca semua bab. Saya melewatkan Bab 3 yang membahas tentang ajaran Sanyi Jiao (三一教) dan Bab 5 yang membahas tentang Taigu School dan Yellow Cliff Teaching. Ajaran-ajaran tersebut sepertinya tidak pernah saya temui di Indonesia. Itulah sebabnya saya tidak begitu tertarik untuk membaca dua bab tersebut.

Bab pertama dan kedua dalam buku ini membahas tentang bagaimana sejarah awal keyakinan terhadap Buddha Maitreya bisa muncul di China serta integrasinya dengan Manikheisme yang masuk ke China melalui jalur sutra dan bercampur dengan keyakinan kepada Buddha Maitreya tersebut. Bab 2 membahas secara khusus mengenai bagaimana Manikheisme menyebar dan berkembang sehingga mempengaruhi beberapa kelompok agama-agama baru yang terbentuk di Tiongkok. Bab 3 buku ini membahas secara detail tentang Sanyijiao. Penjelasan yang paling penting mengenai asal usul Yiguandao dibahas di bab 4 yang secara khusus membahas bagaimana evolusi Luoisme dari pertama terbentuk sampai kemudian berkembang dan lahirlah bermacam-macam sekte baru dari Luoisme. Bab 5 membahas mengenai Taigu school dan Yellow Cliff Teaching, salah satu bentuk transformasi dari ajaran Konfusius di China. Bab 6 dan 7 secara khusus membahas mengenai pemberontakan Yihetuan serta hubungannya dengan Yiguandao. Anda akan menemukan banyak penjelasan mengenai sejarah Xiantiandao / Sekte Teratai Hijau yang merupakan akar dari Yiguandao dan berbagai pemberontakan yang dilakukan oleh mereka di Bab 7. Sedangkan Bab 8 membahas tentang sosok wanita baik sebagai dewa, tokoh agama ataupun masalah mengenai jenis kelamin dalam kelompok-kelompok keagamaan khususnya yang lahir di masa dinasti Ming dan Qing. Bagian ini cukup banyak membahas mengenai bagaimana gambaran Lao Mu dalam kutipan-kutipan kitab-kitab yang dibuat oleh agama-agama baru di dinasti Ming. Tiga Bab Terakhir (Bab 9, 10 dan 11) adalah Bab mengenai Shamanisme yang tidak saya baca.

Buku ini bagi saya merupakan referensi yang paling lengkap mengenai Luoisme dan sekte turunannya yaitu Xiantiandao. Sejauh ini, selain buku tulisan Seiwert, saya belum menemukan buku yang menyajikan penjelasan detail mengenai kelompok-kelompok agama yang merupakan akar dari kelompok Yiguandao yang selengkap buku ini. Bila anda termasuk salah satu umat Yiguandao ataupun bukan yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai cikal bakal terbentuknya agama Yiguandao dari catatan sejarah, buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Buku ini bersama dengan Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History tulisan Hubert Michael Seiwert adalah 2 buku penting yang harus anda baca bila anda tertarik untuk mempelajari sejarah-sejarah agama-agama baru di China.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...