Langsung ke konten utama

Studi Tentang Yiguandao (Bagian 7) - Praktek Fuji (Tulisan Pasir & Peminjaman Raga)

Praktek Fuji (Tulisan Pasir & Peminjaman Raga)


Salah satu praktek spiritual yang menjadi kunci sukses penyebaran ajaran kalangan Yiguandao sejak tahun 1900 awal adalah 扶乩 Fuji (Peminjaman Raga/Tulisan roh). Salah satu alasan mengapa saya dulu menjadi sangat aktif dan rajin berkecimpung di vihara Yiguandao adalah juga karena Fuji ini. Bagi banyak orang, Fuji ini adalah semacam fenomena keajaiban atau mujizat ilahi yang sulit dijelaskan dengan akal sehat. Oleh karena itu banyak orang termasuk saya juga sangat terpukau dengan segala kesaktian yang dihasilkan. Yang paling mengena dari Fuji adalah biasanya roh yang hadir itu bisa mengetahui hal-hal yang biasanya sifatnya privat (pribadi) di mana itu tidak seharusnya diketahui oleh orang lain, sehingga banyak orang yang merasa itu sebagai bukti keajaiban atau kekuatan dari Dewa atau Buddha dan itu membuktikan bahwa Yiguandao ini adalah ajaran yang sejati. Saya dulu menyakini bahwa apa yang diucapkan oleh para dewa yang meminjam raga ini adalah sebuah petunjuk ilahi yang memiliki kebenaran mutlak, sehingga saat itu membuat saya merasa terpanggil dan harus ikut membantu misi penyebaran Tao sekuat tenaga saya.



Sejarah dari 扶乩 Fuji 

扶乩 Fu ji (tulisan Pasir dan meminjam raga) itu adalah sebuah teknik umum yang merupakan produk kebudayaan yang banyak dilakukan di China dan Taiwan. Teknik ini juga dikenal dengan nama fuluan (扶鸞, "support the phoenix"), feiluan (飛鸞 "flying phoenix," atau jiangluan (降鸞, "descending phoenix"). Dua orang memegang stylet (jijia 乩架) di atas planchette yang permukaannya dilapisi pasir (shapan 沙盤). Salah satu dari mereka, yang dirasuki oleh dewa, menggerakkan stylet dan menggambar karakter di atas pasir, yang kemudian ditafsirkan oleh orang ketiga dan disalin di atas kertas. Teknik ini biasanya memang dilatih agar mediumnya bisa berkomunikasi dengan roh-roh tertentu dan meminjam tubuhnya. Dan praktek ini paling banyak digunakan di China dan Taiwan sana untuk menghasilkan kata2 bijak dan pelajaran moral, meramal nasib, membantu orang yang membutuhkan atau lagi kesusahan, dll. Teknik ini populer di China dan di Taiwan karena memang ada manfaat positif yang dihasilkan dan biasanya ada kesaktian-kesaktian tertentu yang dihasilkan. 

Ritual tulisan roh mulai dipraktekkan pada periode Song. Shen Gua 沈括 (1031-95; SB 856-53) dalam karyanya 夢溪筆談 Meng Xi Bi Tan (Esai Kolam Impian) dan Su Shi 蘇軾 (Su Dongpo 蘇東坡, 1037-1101) dalam karyanya Dongpo zhilin 東坡志林 menjelaskan secara rinci hubungan antara tulisan roh dan pomujaan terhadap 紫姑 Zigu (Roh Jamban). Praktik ini terus berkembang pada zaman Ming dan Qing, baik di kalangan terpelajar maupun kalangan orang biasa. 

Teknik Fuji (planchette spirit-writing) di masa dinasti Qing

Karena kepopulerannya, setiap distrik memiliki setidaknya satu altar yang dikhususkan untuk itu, dan bahkan Kaisar Jiajing (memerintah 1522 - 1666) memiliki satu altar semacam itu yang dibangun di istana. Penulisan Planchette dilarang oleh hukum pemerintahan Qing, namun praktek ini tetap ada dan bertahan. Dewa-dewi utama yang merasuki para perantara adalah Zigu, dewa-dewi perempuan, dewa-dewi populer, dan Delapan Dewa (八仙 baxian), terutama 呂洞賓 Lü Dongbin.

“Planchette writing” (fuji). Medium yang dipinjam raganya, Master Cai Wen 蔡文, memegang “kuas burung phoenix” selama sesi spirit-writing di Wenhua yuan 文化院 (Cultural Academy), Kaohsiung, Taiwan (August 1997)

Kitab-kitab Tao berisi beberapa teks yang seluruhnya atau sebagian dihasilkan dari sesi penulisan roh. Contohnya adalah Daoji lingxian ji 道迹靈仙記 (Catatan Jejak-jejak Dao yang Ditinggalkan oleh Roh-roh Suci dan Dewa-dewa), Minghe yuyin 鳴鶴餘音 (Gema Nyanyian Burung Bangau), dan Xuxian hanzao 徐仙翰藻 (Karya Sastra dari Dewa-dewa Xu). Buku-buku panduan tentang penulisan planchette juga ada, seperti Bichuan wanfa guizong 祕傳萬法歸宗 (Sepuluh Ribu Metode Otoritatif yang Ditransmisikan secara Rahasia). Karya ini memberikan petunjuk tentang cara menggambar jimat dan mengucapkan mantera untuk area suci; tentang kuas, tinta, dan air; serta tentang jimat dan mantera yang digunakan untuk memanggil roh. Kata pengantar menyatakan bahwa tulisan planchette adalah salah satu cara paling umum untuk menerima teks-teks suci dari makhluk-makhluk ilahi atau setengah dewa.

Praktek ini dikritik sebagai heterodoks oleh penganut Konghucu di China. Praktek-praktek kerasukan spiritual sering kali digunakan untuk memimpin pemberontakan petani melawan dinasti yang berkuasa selama sejarah Tiongkok. Pemberontakan Boxer adalah salah satu dari sekian banyak gerakan petani yang dipimpin oleh tokoh yang mengaku dirasuki oleh roh Dewa/Buddha tertentu. Bagi para Boxer selama Pemberontakan Boxer, kerasukan roh digunakan untuk tujuan perlindungan (badan kebal, dan semacamnya).

Fuji sendiri sebenarnya adalah teknik peminjaman roh yang sudah beradaptasi. Sebelumnya teknik serupa yang dipratekkan dikenal dengan istilah 菜籃公 Cai Lang Gong yang menggunakan medium semacam boneka untuk menulis. Praktek ini sempat populer di jaman dulu sehingga menyebar ke banyak daerah, termasuk ke Indonesia.

菜籃公 Cai Lang Gong

Di Indonesia sendiri praktek ini kita kenal dengan nama Jailangkung. Nama Jailangkung sendiri berasal dari istilah bahasa aslinya yaitu 菜籃公 Cai Lang Gong yang berarti Dewa Keranjang. Sebuah catatan tahun 1854 oleh pengamat Eropa di Ningbo, yang diterbitkan dalam Chambers's Edinburgh Journal, menggambarkan praktik ramalan ini sebagai “sebuah epidemi: hampir tidak ada rumah yang tidak mempraktikkannya hampir setiap hari.” Jailangkung muncul kembali di kalangan masyarakat urban Indonesia dan menjadi terkenal dalam bentuknya yang sekarang di awal tahun 1950-an. Antropolog Singapura, Margaret Chan, mencatat bahwa semua narasumbernya dari Indonesia mengetahui tentang praktik ini. Penulis Indonesia Hersri Setiawan, yang pernah menjadi tahanan politik pemerintah Orde Baru pada tahun 1970-an, mengingat bahwa para narapidana sering menghabiskan waktu mereka dengan bermain jailangkung.

Di China sendiri yang menjadi asal usul Jailangkung, seiring dengan berjalannya waktu, pratek menggunakan keranjang dan boneka telah digantikan oleh Fuji yang menggunakan medium manusia dengan memegang pena yang menghasilkan tulisan di sebuah bak pasir. Di Cina, tampaknya praktek ramalan dengan menggunakan keranjang dan boneka sudah bisa dibilang punah.

Praktek seperti Fuji ini juga bisa kita temukan di negara-negara lainnya, seperti contohnya Oujia board di barat. 


Fuji dalam Kalangan Yiguandao

Fuji ini dipopulerkan oleh 張天然 Zhang Tian Ran pada tahun 1930an. Maha Guru ke 15 Wang Jue Yi sebenarnya tidak menyarankan penggunaan Fuji ini karena sulit membedakan yang mana dewa yang mana iblis yang memasuki tubuh mediumnya. Tapi karena kepopuleran Spirit Writing di China pada tahun 1930an, maka Zhang Tian Ran menggunakannya. Zhang Tian Ran mengklaim bahwa Fuji versi Yiguandao yang disebut 先天乩Xiantian Ji (tulisan roh oleh remaja) lebih superior daripada 後天乩Houtian ji (tulisan roh oleh orang dewasa).

    Fuji di kalangan Tao ini ada dua bentuk yaitu "tulisan pasir" yang disebut 開沙 Kaisha and ''meminjam raga sebagai medium" yang disebut 借竅Jieqiao. 三才Sancai terdiri dari : 天才 Tiancai, 人才 Rencai, and 地才Dicai. Tiancai menggunakan tongkat berbentuk huruf untuk menulis di meja pasir; Rencai membaca karakternya dan membacanya dengan keras, kemudian menghapus pasirnya, dan Dicai mencatat isinya. 

    Fuji adalah salah satu faktor penting yang membuat penyebaran Yiguan Dao begitu masif di awal abad ke-20. Kalangan Yiguandao mendapatkan banyak sekali pengikut dan mulai memperoleh dukungan keuangan 功德費 gongde fei dari banyak umat-umatnya. Fuji banyak menghasilkan naskah penting yang digunakan oleh kalangan Tao secara luas, antara lain 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)濟公活佛救世真經 Jigong Huo Fo Jiu Shi Zhen Jing (Sutra Buddha Hidup Jigong Menyelamatkan Dunia), 道之宗旨 Tujuan dari Tao, 道脈傳承錄 Catatan Transmisi Tao dan masih banyak lagi. 

Hampir semua teks dan buku yang sekarang dicetak di kalangan Tao berasal dari Fuji ini.

Dalam Fuji yang meminjam Badan Belum Tentu Buddha dan Dewa

印光大師 Maha Guru Yin Kuang [Sesepuh ke-13 Buddhisme Mahayana Aliran Sukhavati] pernah mengatakan: 

Dulu di Shanghai pernah dilaksanakan Altar Ji [mengundang dewa dengan melalui medium], ajaran yang diucapkan merupakan ajaran kebajikan, membicarakan tumimbal lahir dan hukum sebab akibat dalam skala kecil, sangat membantu bagi peningkatan kebajikan hati umat awam. Tetapi bila berbicara mengenai ajaran Dewa dan Buddha, ini adalah ucapan yang tidak benar. Kita sebagai murid Sang Buddha tidak menyangkal cara macam ini [medium], karena kalau tidak, kita bersalah menghalangi umat untuk berbuat bajik. Tetapi kita juga tidak memuji cara macam ini, ucapan mereka tidak berdasar, dapat merusak Buddha Dharma, bahkan dapat menyesatkan semua makhluk.” 

Serta dijelaskan pula: 

扶乩 Fu Ji [sama dengan Altar Ji] pada umumnya adalah makhluk alam peta (setan) yang mengaku sebagai Dewa atau Buddha, mereka dapat juga menunjukkan kesaktian.

Dan dikutip dari buku 我怎樣脫離一貫道 Bagaimana Saya Melepaskan Diri dari Yiguandao yang ditulis 施文塗 Shi Wen Du diceritakan sebuah pengalaman menarik. Shi Wen Du mempunyai seorang guru Bahasa Inggris yang sekaligus merupakan pendeta Kristen yang saleh. Dia pernah bercerita kisah nyata yang dialaminya. Pernah suatu kali saat dia mendampingi beberapa teman Kristen dari Amerika, di tengah perjalanan mereka menyaksikan adanya kegiatan Fu Ji (tulisan roh) di sebuah kelenteng. Ketika mereka berjalan mengelilingi kelenteng tersebut, medium Fu Ji tiba-tiba gemetaran, tidak bersuara dan berhenti menulis di atas meja pasir.

Para penonton merasa heran dan tidak mengerti. Akhirnya medium itu berkata meminta agar orang-orang Kristen tersebut meninggalkan tempat itu. Saat teman-teman guru kami mengetahui akan permintaan ini, mereka segera bertanya pada sang medium. “Kamu ingin kami meninggalkan tempat ini, itu boleh-boleh saja. Tetapi sebelumnya kami ingin menanyakan satu hal, kamu ini Dewa atau Setan? Kamu harus menjawab secara jujur, kalau tidak Tuhan tidak akan mengampunimu.” Sang medium segera menulis di atas pasir mengatakan bahwa dia adalah ‘setan’. Para penonton terperangah.

Ini juga menjelaskan kenapa di vihara Yiguandao sering ada kejadian umat kerasukan, di vihara saya pribadi juga pernah beberapa kali terjadi kejadian di mana ada beberapa umat yang kerasukan (padahal dikatakan kalau para Buddha menjaga sekitar vihara radius 500 meter). Bahkan ada satu umat yang di vihara yang dalam 4 tahun terakhir sangat sering seperti kesurupan pada saat menjadi petugas pemberi aba2 (上執禮). Kalau terjadi hal seperti itu biasanya senior akan bilang bahwa itu penagih hutang karma yang menagih dan Buddha tidak bisa mencegah.

Praktek peminjaman raga dengan bantuan mahluk halus ini juga menjelaskan beberapa kesaktian yang dimiliki beberapa pemimpin kalangan Tao, seperti contohnya kadang bisa mengetahui hal2 pribadi yang biasanya hanya diketahui oleh umat, bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi, bisa menyembuhkan penyakit, atau bahkan bisa terjadi muzizat tertentu. Tapi kalau kita pernah membaca kisah dari Sang Buddha, semua kesaktian2 ini justru bukanlah inti dari ajaran Buddha. Para Mara yang punya kesaktian-kesaktian hebat seperti itu justru menggoda Sang Buddha agar gagal dalam mencapai Kesempurnaan/Nibbana.

Mengenai Mara yang merasuk ke dalam tubuh manusia, Buddha Gautama pernah mengatakan akan hal ini dalam 楞嚴會 Leng Yan Hui [Pertemuan Surangama]. Kita cuplik ucapan Buddha kepada Ananda yang tercantum dalam Surangama Sutra

Ananda… pada saat itu Mara akan memperoleh kesempatan, terbang dan merasuki tubuh manusia mengucapkan Dharma Sutra. Tetapi orang yang kerasukan tidak menyadari bahwa itu adalah Mara, justru mengatakan telah mencapai Nirvana - Nibbana. Mara mendatangi umat dengan penampakan sedang duduk membabarkan Dharma. Tampil dengan sekejap, atau berwujud bhiksu - bhikkhu yang terlihat oleh umat bersangkutan. Atau berwujud Dewa Sakka, atau seorang perempuan, atau bhiksuni - bhikkhuni. Atau penampakan tubuh bersinar di dalam ruangan yang gelap. Hanya karena kebodohan manusialah sehingga menganggapnya sebagai Bodhisattva. Percaya pada ucapannya yang justru menggoyahkan hati dan pikiran... Mereka mengatakan perubahan bencana dan kebahagiaan, atau menyebutkan Buddha terlahir di suatu tempat. Atau mengucapkan adanya perampokan dan perang yang bertujuan membuat orang panik sehingga mudah ditipu hartanya. Mereka inilah yang disebut sebagai siluman dan Mara, mengacaukan umat manusia…Kalian harus menyadari, jangan terseret ke dalam lingkaran samsara, bila kalian bodoh dan tertipu, akan terjatuh ke dalam neraka tanpa batas.

  Pada saat itu, Mara akan memperoleh kesempatan, terbang dan merasuki tubuh manusia dan mengucapkan Dharma Sutra. Tetapi orang yang kerasukan tidak menyadari bahwa itu adalah Mara, justru mengatakan telah mencapai Nirvana - Nibbana. Mara mendatangi umat dengan penampakan sedang duduk membabarkan Dharma… Mengatakan dalam kehidupan yang lalu, dalam satu masa kehidupan, akan lebih dulu menyelamatkan orang tertentu. Dalam kehidupan yang lalu terlahir sebagai istri dan saudara, dalam kehidupan ini saling menyelamatkan, selalu menyertai anda, marilah bersama-sama kembali ke suatu tempat, menghormati Buddha, atau mengatakan adanya suatu Surga Bercahaya tempat menetapnya Buddha, merupakan tempat menetapnya semua Buddha. Umat yang tidak mengerti akan mempercayai ucapan sesat ini dan berakibat kehilangan hati mereka yang sejati. Mereka inilah yang disebut sebagai siluman dan Mara, mengacaukan umat manusia… Kalian harus menyadari, jangan terseret ke dalam lingkaran samsara, bila kalian bodoh dan tertipu, akan terjatuh ke dalam neraka tanpa batas.

Dari semua penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa di jaman Sang Buddha, para Mara itu sering menyamar menjadi Buddha atau dewa dan mengaku telah mencapai Nibbana. Mara-Mara tersebut juga memiliki kesaktian-kesaktian dan akan mengacaukan pikiran umat manusia. Dari penjelasan ini, saya akhirnya memahami satu hal yang membuat saya bertanya-tanya selama puluhan tahun. Di vihara Yiguandao tempat saya hadir dulu, saya mengamati adanya perbedaan karakter dan sifat dari dewa yang hadir, walaupun sama-sama Buddha/Dewa yang sama. Contohnya saat meminjam raga medium A, Buddha Jigong terlihat agak keras dan tegas. Tapi di waktu yang lain saat meminjam raga medium B, Buddha Jigong bisa terlihat sangat lemah lembut. Selain itu saya dari dulu juga selalu bertanya-tanya bagaimana bisa seorang Buddha Jigong bisa hadir di banyak tempat sekaligus di waktu yang bersamaan. Karena kebetulan Paman dan Bibi saya juga seorang yang aktif di vihara Yiguandao kelompok lain dan seringkali waktu saling tanya, kita mengetahui bahwa terkadang vihara kami masing-masing bisa mengadakan Kelas Sidang Dharma yang kebetulan jatuh pada hari yang sama. Di waktu itu setiap kelas Sidang Dharma masih selalu dihadiri oleh Buddha melalui san cai.

    Dan kalau kita selama ini tidak yakin bahwa  roh pada Fuji yang ada di kelenteng, roh dalam permainan Jailangkung atau roh dalam permainan Oujia Board adalah para Buddha dan para Dewa, kenapa kita bisa dengan sangat yakin kalau yang meminjam raga di vihara Yiguandao itu adalah benar-benar Tuhan, para Buddha atau para Dewa? Perlu diketahui bahwa beberapa dari mahluk-mahluk seperti Mara, Ashura, roh-roh gentayangan memang bisa mengetahui hal-hal yang sifatnya pribadi dan rahasia. Bahkan menurut penjelasan dari Sang Buddha, ada banyak juga dari mereka yang memiliki kesaktian-kesaktian tertentu. Tapi itu semua sama sekali bukan bukti bahwa para mahluk-mahluk tersebut telah mencapai pencerahan dan Kebuddhaan. Ini yang perlu kita renungkan bersama.

    Fenomena lain yang juga penting untuk meragukan bahwa yang meminjam raga para Sancai itu bukanlah Buddha betulan adalah tentu saja perpecahan di kalangan Yiguandao sendiri, seperti contohnya adalah Wang Haode (王浩德) yang mendirikan Miledadao (彌勒大道). Sejak dia mengaku ditunjuk oleh Shi Mu sebagai perwakilan Ibu Guru, dia juga sering mengadakan peminjaman raga di mana ada Lao Mu, para Buddha bahkan beberapa sesepuh yang turun. Bahkan di saat menjelang kematian Wang Haode di Chiangmai di tahun 2000, masih dilakukan kaisha di mana Lao Mu hadir dan memberikan welas asihnya kepada umat-umat Miledadao. Contoh lain yang direspon dengan keras oleh kalangan Yiguandao adalah salah satu sesi peminjaman raga yang dikatakan bahwa ada salah satu sesepuh (qianren) Baoguang yang bernama Lu Shugen 呂樹根 yang datang bersaksi. Bagi anda yang tidak kenal Lu Shugen, dia adalah salah satu Lao Qianren dari kalangan Tao Baoguang Jiande yang dikatakan mencapai kesempurnaan dengan gelar dari Lao Mu sebagai Yuanxue Dadi 圓覺大帝. Fuji pada saat itu menyampaikan bahwa Firman Tuhan yang sejati adalah berada di tangan Wang Haode. Praktek Fuji ini dikatakan sebagai palsu oleh kalangan Yiguandao, dan Zhang Laoqianren dari kalangan Tao Tianxiang menggelar Fuji tandingan di mana memberikan petunjuk bahwa Firman Tuhan yang benar ada di kalangan Yiguandao. Bila anda yang memahami mandarin bisa membacanya sendiri tulisannya di link berikut. Jadi dari sini sudah sangat jelas bahwa memang praktek-praktek Fuji itu diakui sendiri oleh kalangan Yiguandao bisa saja palsu dan bukan beneran Lao Mu atau Buddha beneran terutama bila pesan-pesan dan wejangan yang disampaikan tidak sesuai dengan kepentingan mereka. Ini adalah fakta yang tentu saja tidak banyak diketahui oleh umat-umat Yiguandao kebanyakan terutama yang ada di Indonesia.

    Bagi saya pribadi, hal yang paling membuktikan bahwa yang memasuki badan San Cai itu bukanlah Tuhan atau para Buddha betulan adalah karena isi-isi naskah yang dihasilkan ternyata terbukti banyak yang salah dan tidak sesuai kebenaran. Seperti contohnya banyak naskah hasil Kaisha (tulisan roh) dari Tuhan yang menyebutkan bahwa manusia baru hidup selama 60.000 tahun, di mana itu kalau dibuktikan secara ilmu pengetahuan ternyata sangat jauh dari kebenaran (Baca tulisan saya di Bagian 3). Kalau ada satu saja dari ribuan kali Fuji itu yang salah satunya memang benar-benar Tuhan atau Buddha, seharusnya kan bisa meluruskan dan mengkoreksi hal tersebut. Tapi kenyataannya semuanya selama bertahun-tahun seperti kompak menyampaikan hal yang salah tersebut. Bukti lain yang sangat jelas adalah tentunya teks-teks tentang silsilah-silsilah patriark (maha guru) Yiguandao yang banyak sekali kejanggalan dan kontradiksinya (Baca tulisan saya di Bagian 1 dan Bagian 4).

Penyebab Praktek Fuji Mulai Ditinggalkan Yiguandao

Kritik terhadap keabsahan tulisan roh mencapai puncaknya pada tahun 1980 ketika seorang medium roh (san cai) 發一崇德 Fayi Chongde secara terbuka mengungkapkan bagaimana Sesepuh (前人 qianren) 陳鴻珍 Chen Hongzhen mengajarinya untuk dengan sengaja membuat pesan yang diinginkan. Beberapa pengikut inti Fayi Chongde mengadakan pertemuan untuk mengkritik Chen Qian Ren yang telah menipu mereka dengan memanipulasi tulisan-tulisan roh. Seorang wanita salah satu dari san cai mengklaim bahwa Chen Qian Ren memberinya pesan-pesan tersebut terlebih dahulu; setelah mengingat isinya, dia akan menulis wahyu tersebut di pemanggilan arwah. Untuk mengkonfirmasi tuduhan tersebut, wanita tersebut mendemonstrasikan keahliannya sebagai penulis roh di depan semua orang dengan cara membuat sebuah paragraf wahyu dengan sengaja dalam pertemuan tersebut. Para senior yang menghadiri rapat meminta Chen Qian Ren untuk menjelaskan tuduhan tersebut, namun Chen Qian en tidak melakukan apapun kecuali menangis. Selanjutnya, panitia merekam pertemuan tersebut dan kemudian mengirimkan rekaman tersebut ke divisi Yiguan Dao lainnya untuk mengungkapkan “kebenaran”. Keabsahan dari penulisan roh dipertanyakan secara serius dan banyak pengikut Fayi Chongde yang meninggalkan divisi tersebut. Peristiwa ini diyakini menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi pada mulai ditinggalkannya praktek penulisan roh di kalangan Yiguandao. Sebetulnya kasus seperti ini pun bukanlah satu-satunya kasus yang pernah terjadi di kalangan Tao. Ada banyak kasus juga yang sempat terungkap sebelumnya, yang paling banyak adalah pada tahun 1949 setelah Yiguandao dibubarkan dengan paksa oleh pemerintah China. Di era itu saat diinterview secara masal ada banyak san cai yang mengungkap trik-trik yang dilakukan pemimpinnya agar bisa menarik umat. Bagi yang ingin tahu keseluruhan ceritanya, silahkan baca sendiri Bab terakhir (The I-kuan Tao Society) buku Popular Movements and Secret Societies in China, 1840-1950 tulisan Jean Chesneaux, Feiling Davis, Nguyen Nguyet Ho.   

Faktor terpenting lain yang menyebabkan kemunduran penulisan roh di Yiguan Dao adalah karena adanya wahyu baru yang dapat dengan mudah menyebabkan perpecahan aliran. Dalam sejarah, merupakan praktik umum dalam Yiguan Dao bahwa para patriark baru menggunakan tulisan roh untuk melegitimasi kepemimpinan mereka. Namun, wahyu semacam itu pada dasarnya mengancam struktur otoritas yang ada. Setelah 孫素真 Sun Suzhen meninggal pada tahun 1974, banyak orang yang mengaku sebagai patriark baru Yiguan Dao (lihat postingan saya sebelumnya di Bagian 2). Contoh jelas adalah perbedaan wejangan antara peminjaman raga kelompok Wang Haode dan kelompok Yiguandao yang saya ceritakan di atas.

    Akibat banyak perpecahan tersebut, akhirnya muncullah sebuah tulisan roh atas nama Ibu Suci yang menyampaikan bahwa penulisan roh akan ditinggalkan, bunyinya sebagai berikut :

"Saya [yaitu, Ibu Suci yang Kekal] memberitahukan kepada kalian bahwa penulisan roh akan segera ditinggalkan. Untuk membantu anda memahami kebenaran, saya menetapkan ajaran melalui tulisan roh. Tetapi penulisan roh tidak dapat dipraktikkan selamanya dan saya tidak akan mengirim dewa-dewi untuk melakukan penulisan roh lagi. Kelak, akan ada kelompok heterodoks yang masih memanfaatkan praktek peminjaman roh ini. Mereka akan diperlengkapi dengan literasi yang hebat dan dapat menghasilkan tulisan-tulisan roh yang luar biasa; mereka akan mengklaim bahwa mereka memiliki mandat surgawi dan memegang kuasa Ibu Suci untuk menawarkan keselamatan terakhir. Berbagai aliran heterodoks akan muncul dan banyak fenomena mistik akan terjadi. Anak-anakKu, kalian harus berhati-hati agar tidak tergoda oleh patriark-patriark palsu ini. Kalian harus merefleksikan diri dan meningkatkan tingkat spiritualitas. Itulah cara yang tepat untuk mengumpulkan pahala."

Walaupun terasa agak aneh mengetahui bahwa tulisan roh digunakan untuk mengatakan bahwa tulisan roh itu sendiri tidak valid, tapi seperti yang ditunjukkan oleh tulisan roh di atas, kalangan Yiguan Dao percaya bahwa tulisan roh cenderung menghasilkan wahyu baru yang mengancam tatanan kepemimpinan. Untuk membangun struktur yang stabil, semua divisi Yiguan Dao kecuali Fayi Chongde telah meninggalkan praktik penulisan roh, dan bahkan di Fayi Chongde, peran peminjaman roh sangat jauh berkurang dalam praktek-praktek spiritual mereka.

Mengapa Para Dewa, Nabi dan Buddha tidak ikut membantu penyebaran Tao di Tempat Ibadah Lain?

Dalam banyak ceramah Yiguandao, saya sering sekali mendengar bahwa saat ini Surga sedang kosong, karena hampir tidak ada satupun Buddha dan Dewa yang tinggal di Surga sana karena semuanya ikut membantu melaksanakan misi pelintasan global ini. Perkataan ini bisa juga diartikan bahwa semua Buddha, Bodhisatva, Dewa, Nabi, Orang Suci semuanya sekarang lagi di dunia fana ini untuk ikut mencari umat agar bisa semuanya Qiu Dao (Memohon Tao). Sekarang kita coba renungkan, kalau memang benar semua Buddha dan Dewa sekarang lagi di dunia ini membantu misi pelintasan global, mengapa fenomena meminjam tubuh ini tidak pernah terjadi di luar vihara Yiguandao.  Senior Yiguandao biasanya akan menjawab bahwa tubuh yang bisa dimasuki haruslah bersih dan suci (san cai), tapi kenyataannya di vihara saya pribadi pun dalam 15 tahun terakhir ada beberapa umat yang bukan San Cai yang dimasuki tubuhnya. Bahkan ada seorang Dan Chu asal Taiwan yang mengaku dibawa Jigong Laoshi mengelilingi alam neraka dan alam surga. Dan Chu tersebut juga bukanlah sancai. Kalau benar yang masuk meminjam raga itu adalah para Buddha, seharusnya Dewa-Dewi di Kelenteng juga  meminjam tubuh pengunjung kelenteng untuk melintasi umat2 yang sembayang di Kelenteng, Buddha Siddharta Gautama juga harusnya turun dan meminjam raga untuk melintasi semua umatnya di vihara2 Theravada dan Mahayana agar semua umatnya bisa berpindah ke Yiguandao. Apalagi Yiguandao jelas-jelas mengajarkan ajaran yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan Buddha dulu. Kalau kenyataannya memang begitu, seharusnya Buddha Siddharta juga ikut membantu meminjam tubuh untuk memberitahu pengikut-pengikutnya bahwa cara pembinaan di jaman sekarang sudah berbeda dengan apa yang pernah diajarkannya dulu. Begitu pula harusnya nabi Lao Zi, Konfusius, Muhammad dan Yesus juga harusnya turun meminjam tubuh untuk melintasi umat-umatnya di tempat ibadah Mereka masing-masing agar semua umatnya berpindah ke Yiguandao. Anehnya kenapa semua itu tidak terjadi? Kenapa fenomena itu hanya terjadi di vihara Yiguandao saja?  

Referensi : 
The Transformation of Yiguandao in Taiwan : Adapting to a Changing Religious Economy - Lu Yunfeng
Spirit-Writing and the Cultural Construction of Chinese Spirit-Mediumship (Document) - Philip Arthur Clart
The Ritual Context of Morality Books A Case-Study of A Taiwanese Spirit-Writing Cult - Philip Arthur Clart
Spirit-Writing and the Development of Chinese Cult - Graeme Lang, Lars Ragvald
Communicating with the Gods_ Spirit-Writing in Chinese - Matthias Schumann (editor), Elena Valussi (editor)
Learn How to do Automatic Writing - A step by step guide to access higher realms of the mind, body and spirit - Irene Richardson
Ideomotor Effect (the Ouija Board Effect) - Michael Heap
Automatic or Spirit Writing, with Other Psychic Experiences - Sara A Underwood
Automatic writing - Wikipedia
Fuji (planchette writing) - Wikipedia
Ouija - Wikipedia
Jailangkung - Wikipedia

Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 6) : Pemahaman Tao versi Yiguandao 

Studi tentang Yiguandao Bagian Selanjutnya (Bagian 8) : Mencapai Kesempurnaan versi Yiguandao

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...