Langsung ke konten utama

Studi tentang Yiguandao (Bagian 4) - Silsilah Maha Guru Yiguandao

Silsilah Maha Guru Yiguandao

    Di kalangan Yiguandao, dijelaskan bahwa sebelum masa pancaran putih, Tao ini hanya diturunkan dari 1 guru ke 1 murid saja. Karena kebesaran Tuhan, dimulai sejak maha guru ke-17 (dimulainya pancaran putih), Tao mulai disebarkan untuk rakyat jelata. Yiguandao menyakini adanya seutas benang emas yang merupakan firman Tuhan yang diturunkan dari guru ke murid berdasarkan silsilah Maha Guru (18 Maha Guru di Timur Awal, 28 Maha Guru di Barat, 18 Maha Guru di Timur Akhir). Seutas  benang emas inilah yang diyakini para umat Yiguandao akan membawa mereka pulang ke Surga kelak. Pertanyaannya apakah seutas benang emas ini benar-benar ada? Bagaimana pembuktiannya? Berikut ini saya akan membahas secara detail mengenai silsilah maha guru Yiguandao beserta verifikasi sejarahnya. Karena menurut silsilah patriark di Buddhisme Zen, patriark terakhir adalah Hui Neng (Patriak ke 6). 

Bertentangan dengan Sutra Buddhis

Dalam sejarah Buddhis, dari Patriark / Sesepuh Pertama Ta Mo diturunkan kepada Sesepuh Kedua Shen Kuang, yang kemudian dari Shen Kuang diturunkan hingga Sesepuh Keenam Hui Neng, peristiwa ini merupakan sejarah aktual, dapat dilihat dalam catatan Sutra dan Sejarah. Hal ini berbeda dengan silsilah versi Yi Kuan Tao, dari Sesepuh Pertama hingga Sesepuh Keenam disebutkan bahwa mereka semua adalah titisan Buddha Kuno (古佛) atau Dewa dan silsilah berlanjut sampai Sesepuh ke 18. Padahal mengenai Sesepuh Ketujuh dalam Agama Buddha disebutkan sebagai berikut: 

“Saat itu, agar generasi mendatang terhindar dari perebutan jubah dan mangkok Sesepuh, maka Sesepuh Keenam hanya mewariskan Dharma, tidak mewariskan jubah dan mangkok. Serta saat itu Dharma diwariskan pada Sangha Ariya, tidak ada penunjukan Sesepuh Ketujuh.” 

Ini bahkan dengan sangat jelas ditulis di 六祖法寶壇經 Sutra Altar Hui Neng (Sesepuh ke-6).

Sutra Sesepuh Keenam bagian 行由品 Sing You Bin (行由品 Aksi dan Intensi) tertulis, 

Sesepuh Kelima 弘忍 Hong Ren berkata kepada Sesepuh Keenam: 

“Dahulu saat pertama kali Maha Guru Bodhidharma datang ke Tanah ini, akar keyakinan umat masih belum terlalu teguh. Sebab itulah jubah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai perlambang agar orang menjadi percaya. Dharma adalah diwariskan dari hati ke hati yang bertujuan agar diri kita sendirilah yang mengalami dan memahami pencerahan. Sejak dari Buddha Kuno hanya mewariskan Dharma dan tersimpan di dalam hati setiap Sesepuh. Jubah menimbulkan perselisihan, sebab itu hanya berhenti di kamu, jangan diwariskan lagi. Bila masih saja mewariskan jubah ini, maka kehidupan bagaikan seutas benang…”

Serta dalam bagian 付囑品 Fu Cu Bin (Intruksi Final) tertulis, 

Murid Sesepuh Keenam, 法海法師 Fa Hai Fa Shi bertanya kepada Sesepuh Keenam 慧能 Hui Neng: 

“Setelah Guru meninggal, jubah dan Dharma harus diwariskan kepada siapa?” Hui Neng menjawab: “Saya membabarkan Dharma sejak dari Vihara Ta Fan hingga saat ini, semuanya tercatat di dalam Sutra Altar Permata Dharma (sekarang kita kenal dengan nama Sutra Altar Sesepuh Keenam). Kalian harus melindungi dan mewariskannya agar dapat menyeberangkan banyak makhluk. Inilah yang disebut Dharma yang benar. Saat ini hanya mewariskan Dharma bagi kalian, tidak lagi mewariskan jubah. Karena akar keyakinan kalian sudah sangat matang, takkan mungkin lagi timbul keraguan serta kalian telah mampu mengemban tugas-tugas berat. Bila kita lihat maksud syair leluhur Maha Guru Bodhidharma, dikatakan bahwa jubah tidak lagi diwariskan…”

Verifikasi Sejarah Yang Tidak Cocok

Kendati sudah ada penjelasan tersebut, Yiguandao tetap membuat silsilah versinya sendiri di mana setelah Hui Neng, Tao diturunkan kepada Sesepuh Ma dan Sesepuh Bai. Oleh Yiguandao dibuatlah narasi bahwa setelah Huineng itu dimulainya periode 道轉火宅 Transmisi Tao Rumah Api di mana Tao diturunkan ke orang biasa secara rahasia. Bahkan di kalangan Yiguandao ada cerita mengenai bagaimana 2 orang sesepuh ini mendapatkan Tao dari Maha Guru ke-6 Hui Neng. Bila yang tidak pernah membacanya coba bacalah kitab 道統寶鑑 (Refleksi Mustika Silsilah Tao) atau bisa membaca potongan ceritanya di link berikut 第七代兩祖師 白玉蟾尊者、馬端陽尊者  (https://www.greattao.org/monthly/2007/Sep-07.pdf). 

Bagi yang gak mengerti mandarin terjemahan dari ceritanya sebagai berikut: 

“Saat Sesepuh Keenam tiba di Jao Si di wilayah Kuang Tong, terkejar oleh bhiksu jahat, beruntunglah bertemu dengan bintang penolong Bai Yu Chan yang memperoleh jubah dan mangkok Sesepuh Keenam. Pai menyembunyikan Sesepuh Keenam di rumahnya selama 3 tahun. Kemudian ia juga menerima Dharma Sejati dari Ma Duan Yang sehingga menjadi Sesepuh Ketujuh… Sejak itulah Buddhis musnah dan bangkitlah Konfusius. Tao bangkit di dunia ini yang merupakan Firman Langit… Ini adalah Rahasia Langit yang tidak diperkenankan diketahui oleh Sangha. Sebab itulah di dalam ‘Sutra Sesepuh Keenam’ tidak tercantum akan hal ini.” 

Cerita yang dibuat Yiguandao ini sangatlah janggal, karena secara jelas disebutkan di Sutra Maha Guru Ke-6 bahwa setelah Beliau tidak ada yang diturunkan lagi. Diceritakan juga di naskah itu bagaimana percakapan 白玉蟾 Bai Yu Chan dan 馬端陽 Ma Duan Yang (maha guru ke-7) dengan maha guru ke-6 Hui Neng. Dalam percakapan itu Hui Neng ada menjelaskan tentang 玄關 Xuanguan (pintu suci). Di beberapa penjelasan lainnya, juga diceritakan bahwa Sesepuh Ma adalah teman baik Sesepuh Bai. 

Permasalahan fatal dan blunder besar dari cerita versi Yiguandao ini adalah pembuatnya tidak tahu bahwa mereka bertiga ini tidak hidup di periode yang sama. Besarnya minat para akademis dan sejarawan terhadap sejarah China telah banyak menghasilkan autentifikasi dan verifikasi sejarah yang menghasilkan data-data yang lebih akurat pada cerita-cerita biografi tokoh di China. Dalam catatan sejarah yang diteliti oleh para sejarawan dan akademisi, 白玉蟾 Bai Yu Chan ini adalah tokoh terkenal di jaman dinasti Song yang hidup di tahun 1134-1229 (kitabnya bahkan masih dapat kita temui), 馬道一 Ma Dao Yi / 馬端陽 Ma Duan Yang ini hidup di 709-788, sementara itu sesepuh ke-enam 慧能 Hui Neng hidup di tahun 638-713. Yang artinya kalaupun mereka bisa bertemu pada tahun kematian Hui Neng, Ma Duan Yang masih berumur 4 tahun. Di sini jelas sekali ada perbedaan masa hidup dari ketiga orang tersebut, di mana mustahil cerita yang ditulis oleh Yiguandao di atas bisa terjadi.

Mengenai sesepuh Ma sendiri, di ‘Sutra Sesepuh Keenam’ memang ada penjelasaannya yaitu di bagian 付囑品 Fu Cu Bin (Intruksi Final) tertulis bahwa Maha Guru Hui Neng berkata kepada para murid Beliau, 

「吾去七十年,有二菩薩從東方來,一出家、一在家。同時興化,建立吾宗,締緝伽藍,昌隆法嗣。」問曰:「未知從上佛祖應現已來,傳授幾代?願垂開示。」師云:「古佛應世已無數量,不可計也。今以七佛為始,過去莊嚴劫,毘婆尸佛、尸棄佛、毘舍浮佛;今賢劫,拘留孫佛、拘那含牟尼佛、迦葉佛、釋迦文佛。是為七佛。

“Tujuh puluh tahun setelah saya meninggal, akan ada dua orang Bodhisattva yang datang dari arah Timur, seorang bhiksu dengan seorang perumah tangga. Mereka bersama-sama membangkitkan ajaran, mengembangkan aliran kita, mempersatukan Sangha dan membuat Dharma yang kita wariskan menjadi jaya.”  (bhiksu yang dimaksud adalah Sesepuh Ma Jan Shi bernama Tao Yi, sedang perumah tangga adalah Upasaka Bang Yin)

Selain itu, dalam bagian 機緣 Ji Yuan (Kesempatan dan Kondisi), Sesepuh Keenam memberitahu murid Beliau yaitu Guru 懷讓禪師 Huai Rang Jhan Shi, 

西天般若多羅讖,汝足下出一馬駒,踏殺天下人。應在汝心,不須速說(一本無西天以下二十七字)。」讓豁然契會,遂執侍左右一十五載,日臻玄奧。後往南嶽,大闡禪宗(勅諡大慧禪師)。

…Kebijaksanaan dari Barat, Prajnatara memperkirakan kelak di bawahmu akan muncul penerus seekor kuda muda, sepak terjangnya akan membunuh orang-orang yang ada di dunia, harus tersimpan di hatimu, jangan tergesa-gesa untuk mengutarakannya …” 

(kuda muda yang dimaksud di sini adalah merupakan nubuat terhadap 馬道一禪師 Ma Dao Yi Can Shi [Ma secara harafiah berarti kuda, Can Shi berarti Guru Zen]; membunuh orang-orang di dunia berarti memiliki kemampuan berbicara yang hebat dan tak tertandingi.)

Di sini Sutra Sesepuh Keenam secara jelas memberikan petunjuk bahwa akan ada seseorang bernama Ma (馬道一 Ma Dao Yi)  yang akan mengembangkan dan membangkitkan ajaran Buddha menjadi jaya. Sangatlah jelas di sini bahwa Ma Dao Yi ini nantinya akan muncul setelah kematiannya dan menyebarkan Dharma Buddha (bukannya melanjutkan silsilah sesepuh Zen). Tapi kalangan Yiguandao membuat cerita sendiri seolah-olah silsilah maha guru ini berlanjut dan Tao diturunkan kepada Ma ini dengan cara membuat cerita karangan seolah-olah Sesepuh keenam dan Ma Jan Shi ini hidup di satu masa yang sama. 

Penjelasan Yang Berbeda di antara tiap Kelompok Yiguandao

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai 羅蔚群 Luo Weiqun (Dikenal sebagai Maha Guru ke-8 menurut yiguandao). Menurut kitab suci Yiguandao diceritakan, bahwa Luo Weiqun saat bepergian ke Prefektur Jiujiang di Provinsi Jiangxi, kebetulan bertemu dengan Patriark Bai Yuchan di kuil dan berbincang-bincang. Buat yang tidak pernah tahu ceritanya bisa membacanya di link berikut 第八代祖師 羅蔚群尊者 (https://www.greattao.org/monthly/2007/Oct-07.pdf). Di internet, saya menemukan adanya artikel pembuktian yang ditulis oleh beberapa orang yang menganggap Luo Weiqun ini adalah Luo Qing / Luo Menghong, tokoh pendiri dari Luoisme. Contohnya di link ini. Di artikel tersebut dibahas mengenai adanya gap selama lebih dari 200 tahun antara Luo Qing dan Huang Dehui yang menjadi patriark ke-8 dan patriark ke-9 Yiguandao. 

    Kesalahan-kesalahan dan kejanggalan silsilah ini coba diluruskan oleh kalangan Yiguandao divisi Fayi di link berikut ini : 

iktcds.edu.tw/Chong-De-School/img/activity/1080722推廣教育_專題報導.pdf 
https://www.iktcds.edu.tw/Chong-De-School/act-each-unit-05.htm

Sayangnya, grup Fayi hanya menyalahkan sejarawan dan menyebut bahwa maha guru ke 7 yang menjadi maha guru Kalangan Tao adalah sesepuh Bai dan Ma yang berbeda dengan sesepuh Ma dan Sesepuh Bai yang tercatat di sejarah, begitu juga Maha Guru ke 8 yang benar bukanlah Luo Qing dari dinasti Ming seperti yang ditulis oleh para akademis, melainkan seorang bermarga Luo lain yang disebut hidup di dinasti Tang (karena di  道脈傳承錄 hanya disebut marga, tidak disebutkan namanya). Dan saya tidak menemukan penjelasan apapun yang menceritakan detail mengenai siapa tokoh sesepuh ke tujuh dan kedelapan versi Fayi ini. Menurut mereka saat itu adalah masa di mana Tao diturunkan dengan prinsip rumah api 火宅 secara rahasia. Karena bersifat rahasia maka tidak tertulis di kitab manapun. Penjelasan seperti ini tentu saja adalah cara paling aman agar tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

    Membaca koreksi di atas ini ibarat anda punya seorang teman yang mengaku-ngaku pernah menginap di The Fullerton Bay Hotel Singapore (Salah satu hotel termahal di Singapore), terus setelah diperiksa berdasarkan catatan dan bukti-bukti yang ada, ternyata terbukti temanmu itu tidak pernah menginap di sana. Dan saat anda menunjukkan bukti tersebut, temanmu dengan santainya bilang bahwa yang dia maksud bukan The Fullerton Bay yang terkenal itu, melainkan hotel Fullerton yang lain yang tidak punya pembukuan apapun karena memang hotelnya beroperasi secara rahasia.

    Pembuktian dengan cara di atas menurut saya adalah pembuktian yang sia-sia karena tidak memberikan bukti baru buat pihak-pihak yang mencoba menverifikasinya. Karena saya pribadi juga beranggapan Luo Qing dan Luo Weiqun sebagai orang yang sama sebelumnya (bahkan saya sempat menuliskan artikel di postingan ini yang juga mempertanyakan hal itu), maka menjadi tugas saya untuk meluruskannya setelah saya mengetahui kebenarannya. Saya mengetahui fakta ini setelah membaca buku Popular Religion and Shamanism karya Ma Xisha. Saya menemukan penjelasan yang jelas di buku itu (tepatnya di halaman 300) yang menyebutkan bahwa Luo Weiqun itu adalah keturunan dari Luo Qing dan mereka berdua bukanlah orang yang sama. Luo Weiqun ini mempunyai nama lain yaitu 羅維行 Luo Weixing. Dia adalah orang dari 東大乘教 Sekte Mahayana Timur yang menyebarkan ajaran Luoisme di daerah Jiaxing yang di kemudian hari menjadi cikal bakal dari banyak kelompok-kelompok yang menjadi besar seperti Xiantiandao dan Yiguandao.

    Dari pembuktian di atas sudah clear bahwa Maha Guru Luo (Maha Guru ke-8) adalah keturunan dari Luo Qing. Tidak ada catatan sejarah yang kredibel mengenai tahun kelahiran Luo Weiqun, tapi dari buku Ma Xisha secara jelas dituliskan bahwa Huang Dehui dan Luo Weiqun berada di satu masa yang sama karena Huang Dehui adalah pengikut Luo. Dalam hal ini, saya membantu Yiguandao untuk meluruskan bahwa Luo Weiqun dan Huang Dehui itu sebenarnya hidup di masa yang sama.

Akan tetapi walaupun sudah dibuktikan bahwa diturunkannya Tao dari patriark ke-8 kepada patriark ke-9 tidak mempunyai gap waktu, kelompok-kelompok Yiguandao malah mengakui bahwa ada gap waktu dalam penjelasannya. Seperti contohnya Grup Fayi yang menyebutkan bahwa Firman Tuhan dicabut selama 1000 tahun akibat Maha Guru ke-8 membocorkan rahasia langit. Ini disebabkan karena grup Fayi berkeyakinan bahwa patriark Luo itu bukanlah orang yang hidup di dinasti Ming, melainkan di dinasti Tang.

    Sementara itu kita akan melihat penjelasan yang berbeda dari sebagian besar kelompok Yiguandao yang lain selain kelompok Fayi. Dalam kitab  Refleksi Mustika Silsilah Tao 道統寶鑑 halaman 22 yang masih menjadi panduan sebagian besar kelompok Yiguandao ditulis secara jelas nama dari Sesepuh ke-7 dan Sesepuh ke-8 (bukan cuma marganya seperti pada 道脈傳承錄). Contoh salah satu kalimat penjelasannya adalah sebagai berikut :

八祖姓羅蔚群,乃太上大弟子公遠眞人化身正月初八日降誕於北真隸涿州人氏自幼看破紅塵苦海立志修行遍訪明師遊江西九江府適遇白馬一一祖。二祖見伊佛性不味逐授上乘至道令嗣祖位開化江南河北是時天時未至大展慈航普渡又有作皀麭靈文、通天鑰匙經、收圓龍華經等洩露眞機大闡先天大道廣渡大地善良奈眾生孽重,訴冥府而求還渡度猶遠、祖心太切上惱無皇天尊降下皇風大考,將羅祖碎尸把道牧回

Patriark ke-8, Marga Luo, Nama Wei Qun, dengan ini merupakan titisan dari Manusia Dewa Gong Yuan lahir pada hari kedelapan bulan pertama imlek, di Zhili Utara, Zhuozhou, telah melihat dunia ini adalah lautan samsara, dan memutuskan untuk belajar Buddhisme mengunjungi semua guru penerang sampai ke Jiuxiang, Jiangxi, berjodoh dengan Patriark Bai dan Ma. Adalah waktunya belum tiba, Beliau mengembangkan kapal welas asih melakukan penyelamatan, juga menulis kitab ‘天鑰匙 Tong Tian Yao Shi’, ‘皂袍靈文 Zao Pao Ling Wen, 收圓龍華經 Shou Yuan Long Hua Jing membocorkan Rahasia Langit, menyebarkan Tao yang Agung, dengan tujuan menyelamatkan banyak umat bajik. Apa daya karma buruk umat manusia begitu dalam, memohon penguasa neraka agar dapat kembali. Penyelamatan masih jauh sedang Sesepuh terlalu tergesa-gesa, sehingga membuat marah Dewa Wu Huang yang akhirnya menurunkan Cobaan Angin yang Besar, menjadikan Sesepuh Luo meninggal dengan jasad terpisah. Dengan ini Tao ditarik kembali…”

    Dalam link di atas (https://www.greattao.org/monthly/2007/Oct-07.pdf),  anda dapat melihat sendiri secara jelas bahwa Sesepuh ke-8 itu ditulis namanya yaitu 羅蔚群 Luo Wei Qun dan Sesepuh ke-7 ditulis 白玉蟾 Bai Yu Chan. Tertulis juga di situ Tao ditarik kembali, karena dianggap patriark Luo membocorkan rahasia langit.

    Jadi di sini ada perbedaan yang sangat mencolok antara penjelasan antara kelompok Yiguandao yang satu dengan kelompok Yiguandao yang lain. Grup Fayi menyebutkan bahwa Luozu yang jadi maha guru ke-8 bukanlah Luo WeiQun / LuoQing, tapi kelompok lain masih beranggapan bahwa Maha Guru ke-8 adalah Luo Wei Qun. Ini juga terjadi untuk Maha Guru ke-7 di mana banyak kelompok Yiguandao yang masih beranggapan bahwa Sesepuh Bai dan Sesepuh Ma yang menjadi sesepuh ke-7 adalah Bai Yu Chan 白玉蟾 dan Ma Duan Yang 馬端陽 yang ada dalam sejarah, contohnya Kalangan Tao 基礎 Jichu bisa dilihat dalam link berikut September 2007 (September 2007 (greattao.org)), sedangkan kelompok Fayi menganggap Sesepuh Ma dan Bai itu adalah orang yang berbeda. Kalau sesama Yiguandao saja ceritanya bisa berbeda-beda, lantas yang manakah benar? Di sini sangat jelas terlihat bahwa semua kalangan Yiguandao berusaha sebisa mungkin menutupi kesalahan sejarah tersebut, sayangnya mereka sendiri tidak kompak sehingga menghasilkan koreksi dan perubahan cerita yang berbeda-beda. Dan yang tidak mengherankan, versi cerita yang berbeda-beda seperti ini juga banyak saya temukan di teori-teori lainnya. Kalau sudah begini apakah masih bisa disebut sebagai kebenaran sejati?

Cara Menurunkan Tao Yang Janggal

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah cara Yiguandao memberikan penjelasan saat antara maha guru yang satu dan maha guru berikutnya ternyata tidak hidup di masa yang sama?

Seperti contohnya pada masa patriark ke-9 Huang Dehui ke patriark ke-10 yang berjarak sekitar sekitar 50 tahunan. Maha Guru ke-9 黃德輝 Huángdéhuī  hidup di tahun 1624-1690. Sementara itu Maha Guru ke-10 吳紫祥 Wúzǐxiáng hidup di tahun 1714-1784 (selisih hampir setengah abad dari patriark ke-9). Versi penjelasan yang sering disampaikan oleh banyak grup Yiguandao biasanya patriark tersebut mendapatkan Firman Tuhan langsung dari Lao Mu. Kalau versi ini yang terjadi, berarti jelas tidak terjadi penurunan Tao di antara guru ke murid yang memenuhi kaidah 法不傳六耳 Fa Bu Chuan Liu Er dan ini merupakan bukti bahwa Tao itu bisa diturunkan tanpa melalui guru penerang.

Kalau memang ada cara seperti itu, berarti silsilah Tao ini sebenarnya bisa dengan mudah disambung-sambungkan (bahkan secara random sekalipun). Pilih aja salah satu tokoh. Dan buatkan saja narasi bahwa roh tokoh sebelumnya menurunkan Tao kepadanya. Contoh : Bila ada tokoh A yang lahir di India pada tahun 1000, bisa saja silsilah guru berikutnya jatuh ke tokoh B yang lahir di Jepang pada tahun 1500. Jadi bisa saja ada seorang tokoh yang tinggal di Kutub Selatan di tahun 2024 mengaku melanjutkan silsilah Tao setelah vakum selama ribuan tahun (karena Tao telah dicabut), dan sekarang sudah waktunya dibuka kembali dengan cara roh Huineng (maha guru ke-6) menurunkan Tao padanya. Sebuah teori yang sangat janggal tapi mungkin tetap akan dianggap masuk akal bagi para umat yang sudah terlanjur fanatik.  Dan kalau cara seperti ini dianggap benar, kenapa di kalangan Yiguandao sendiri malah tidak mengakui saat ada saat ada yang salah satu senior salah satu kelompok yang ditunjuk sebagai pemimpin yang memegang Firman Tuhan selanjutnya. (Cek postingan saya sebelumnya tentang terbentuknya beberapa kelompok baru akibat tidak lagi diakui kalangan Yiguandao gara-gara adanya petunjuk melalui Fuji yang menunjuk pemimpin baru / yang memegang firman Tuhan selanjutnya). Kalangan Yiguandao juga tidak mengakui pada saat Shi Mu menurunkan Firman Tuhan selanjutnya kepada Wang Haode. Padahal di kalangan Tao Wang Haode juga terjadi banyak peminjaman raga dan tulisan pasir oleh Lao Mu dan para Buddha. Kalau cara penunjukkan patriark dan siapa yang berfirman Tuhan pada dasarnya sama, lantas apa yang membedakan tokoh yang satu dikatakan punya firman Tuhan sejati sedangkan yang lainnya dikatakan palsu? Yang menjadi pertanyaan di sini, berdasarkan apakah kita menentukan mana yang benar dan mana yang palsu? Apakah berdasarkan pendapat pribadi? Berdasarkan kepentingan? Atau berdasarkan suka dan tidak suka?      

Kontradiksi antara Tao disebarkan dan diturunkan dari 1 guru ke 1 murid sebelum Masa Pancaran Putih

Kalau kita teliti lebih jauh tentang Patriark-Patriark dalam silsilah Yiguandao, banyak dari tokoh Maha Guru itu memang berdiri sendiri-sendiri dan tidak terkait satu sama lain tapi kemudian disambung-sambungkan sehingga terbentuklah silsilah Maha Guru Tao seolah-olah tampak seperti diturunkan dari satu guru ke satu murid. Kenyataannya masing-masing patriark itu (terutama mulai patriark ke-8) kalau diteliti ternyata hampir semuanya menklaim diri bahwa mereka mendapatkan Firman Tuhan secara langsung dari Tuhan, bukan karena diturunkan oleh guru sebelumnya. Selain tidak adanya hubungan langsung di antara maha guru ke-6 sampai ke-8, maha Guru ke-9 ke Maha Guru ke-10 juga tidak nyambung. Mereka hidup di waktu yang berbeda. Maha Guru ke-14 姚鶴天 Yao Hetian sendiri juga dikatakan menjadi maha guru berikutnya karena ditunjuk langsung oleh Lao Mu setelah Maha Guru ke-13 dihukum mati oleh pemerintah saat itu. Jadi sudah pasti tidak ada proses diturunkannya Tao atau Firman Tuhan dengan prinsip 法不傳六耳 Fa Bu Chuan Liu Er dari satu guru ke satu murid di sini.



    Hal serupa terjadi saat proses penunjukan kepemimpinan dari Maha Guru ke-14 ke Maha Guru ke-15. Wang Jue Yi menjadi Maha Guru ke-15 bukan karena diwariskan oleh Maha Guru ke-14, melainkan karena mendapatkan petunjuk langsung dari Lao Mu melalui Fuji (tulisan pasir) di 東震堂Dongzhentang. Penunjukan Maha Guru ke-15 yang dilakukan secara langsung ini menimbulkan pertanyaan. Yang membuat saya bingung di sini adalah apakah proses mendapatkan Tao dengan memegang Firman Tuhan (melanjutkan  kepemimpinan silsilah maha guru) adalah hal yang berbeda? Bukannya Yiguandao mengajarkan bahwa sebelum masa pancaran putih, Tao hanya diturunkan dari 1 guru ke 1 murid dan belum disebarkan ke banyak orang. Bukannya seharusnya sebelum masa pancaran putih, menurunkan Tao dan mewariskan kepemimpinan seharusnya adalah satu proses yang sama? Atau apakah Tao sudah diturunkan dulu oleh Maha Guru ke-14 kepada Maha Guru ke-15 sebelum penunjukkan tersebut? Tapi kalau itu yang terjadi bukannya itu berarti Tao ini sudah disebarkan ke masyarakat luas sebelum era masa pancaran putih? Terus kalau misalkan Wang Jue Yi mendapatkan Tao saat mendapatkan petunjuk dari Lao Mu, bukannya dikatakan kalau mendapatkan Tao harus ada guru penerang? Kenapa kok bisa langsung dapat Tao tanpa guru penerang? Jadi sistemnya yang benar seperti apa? Dari sini jelas terlihat ketidak konsistenan narasi dan banyak kontradiksi yang dibuat oleh kalangan Yiguandao.

    Praktek serupa juga terjadi pada saat proses pemindahan kepemimpinan dari Maha Guru ke-16 ke Maha Guru ke-17. Lu Qingxu tidak menunjuk Lu Zhongyi menjadi penerusnya, tapi Lu Zhongyi mengklaim diri menjadi patriark berikutnya setelah ada petunjuk dari Tuhan di tahun 1905. Hal serupa juga terjadi pada proses transmisi Firman Tuhan dari Maha Guru ke 17 ke Maha Guru ke-18, Zhang Tianran. Bapak Guru Lu Zhongyi sendiri juga tidak menunjuk Zhang Tianran menjadi penggantinya ketika dia masih hidup, melainkan melalui tulisan roh setelah dia meninggal. 

Selalu diburu Pemerintah dan Cara Meninggal Para Maha Guru yang Tragis

Selain semua kejanggalan2 di atas, sekarang kita juga akan bahas mengenai bagaimana tokoh-tokoh yang diklaim Yiguandao sebagai maha guru-maha guru mereka meninggal. Dulu saat saya masih aktif di kalangan Yiguandao, saya menyakini bahwa ajaran Yiguandao ini hanya disalahpahami oleh pemerintahan China sejak tahun awal abad 20 saja.  Tapi alangkah kagetnya saya setelah mengetahui bahwa kalangan Yiguandao ini bukan hanya bermasalah dengan pemerintah sejak jaman pancaran putih saja, melainkan sejak Maha Guru ke-8 (Silsilah maha Guru versi kalangan Yiguandao dimulai sejak Maha Guru ke 7). Jadi bisa dibilang hampir semua maha guru versi Yiguandao bermasalah dengan pemerintah saat itu di jaman mereka masing-masing. Maha Guru ke-8 s/d 13 menurut catatan sejarah memang ditangkap oleh pemerintah dan dihukum mati karena diduga terlibat dalam kelompok yang dilarang pemerintah karena diduga adanya upaya pemberontakan. Maha Guru ke-8 Luo Weiqun yang dianggap sebagai Maha Guru ke-8 meninggal karena dihukum mati oleh Pemerintah dengan cara ditarik 5 ekor kuda. Para pengikutnya saat itu demi menghindari penangkapan sampai merubah nama kelompok. 

    Kalangan Yiguandao sendiri pun tidak membantah hal ini, seperti yang tertulis dari kutipan yang saya lampirkan di bagian sebelumnya, yaitu dari kitab 道統寶鑑 Refleksi Mustika Silsilah Tao mengenai patriark ke-8. Isi dari kitab itu tertulis penjelasan versi hagiografi dari kisah para maha guru yang meninggal secara tragis tapi disebutkan bahwa itu semua adalah ujian yang harus dipikul oleh para Maha Guru demi Tao yang Agung ini, seperti contohnya kata-kata berikut: 

Karena Sesepuh membocorkan Rahasia Langit maka oleh Langit dihukum dengan menjatuhkan Cobaan Angin. Sesepuh demi menopang bencana dan melenyapkan hutang karma buruk umat manusia maka bersedia menerima hukuman mati, melakukan kebajikan demi Tao.” 

dan dilanjutkan : 

“Sesepuh memiliki Tao yang dalam, karena dicelakai oleh orang jahat maka berkorban nyawa demi Tao.” 

Ini adalah bentuk hagiografi yang memuliakan Luo Weiqun sebagai maha guru ke 8 sehingga tampak agung kendati cara meninggalnya yang tidak baik. 

    Dari cerita maha guru ke-8 s/d 16 dalam buku-buku Yiguandao tidak ditemukan satu pun penjelasan bagaimana kelompok yang dipimpin oleh para Maha Guru itu melakukan pemberontak sehingga ditekan dan ditangkap oleh pemerintah yang berkuasa saat itu, sepatah katapun tidak disinggung. Cerita lengkap mengenai mereka, saya baru bisa mendapatkannya dari buku-buku dan literatur sejarah yang ditulis oleh akademis dan sejarawan yang netral (Bagi yang belum pernah membaca sejarah Yiguandao versi buku sejarah silahkan baca postingan saya yang ini).

    Maha Guru ke 9 黃德輝 Huángdéhuī meninggal akibat dihukum mati dengan cara dipenggal oleh pemerintah saat itu. Kitab Yiguandao menyebutkan bahwa Maha Guru ke-9 demi umat mengorbankan diri dan itu adalah salah satu bentuk 風考 Ujian Angin. 

    Maha Guru ke 10 吳紫祥 Wúzǐxiáng juga dibunuh oleh pemerintah. Kitab Yiguandao tertulis Maha Guru ke-10 bersedia mengorbankan nyawanya demi umat dalam bencana dan disebut mengalami 官考 ujian dari pemerintah.

    Maha Guru ke 11 何了苦 Héliao kǔ meninggal akibat dihukum mati dengan cara ditarik oleh 5 ekor kuda. Kitab Yiguandao menyebutkan bahwa bahwa Maha Guru ke-11 mengalami ujian 大風考 Ujian Angin Besar.

Begitu juga dengan Maha Guru ke 13 徐還無 Xu Hai Wu & 楊還虛 Yang Hai Xu yang merupakan titisan Buddha Maitreya dan Dewi Guanyin juga dihukum mati oleh pemerintah saat itu. Kitab Yiguandao tertulis beliau mengorbankan nyawa demi umat dalam bencana dan mendapatkan 風考 Ujian Angin.

Maha Guru ke-14 姚鶴天 Yao Hetian juga dihukum mati oleh tentara pemerintah.

    Selama 30 tahun saya mendengarkan ceramah di vihara Yiguandao, saya tidak pernah mendengar satu pun ceramah yang menceritakan tentang kisah hidup Maha Guru ke 8 - s/d Maha Guru ke 14 ini, bahkan wejangan dan sabda dari mereka semua pun jarang sekali ada. Setelah mengetahui fakta-fakta ini, saya pun jadi paham mengapa kisah hidup mereka tidak pernah diceritakan.

    Maha Guru ke 15 王覺一 Wang Jue Yi sendiri walaupun tidak dihukum mati pemerintah tapi saat itu juga diburu dan dipersekusi pemerintah setelah mereka gagal dalam melakukan pemberontakan di masa-masa akhir hidupnya.  Anak dari Wang Jue Yi yaitu 王繼太 Wang Ji Tai juga dihukum mati oleh Pemerintah saat itu.

    Maha Guru ke 18 張天然 Zhang TianRan sendiri kematiannya ada 2 versi cerita. Versi cerita yang pertama yaitu dihukum mati pada tanggal 13 Agustus 1947 dan berita kematiannya sempat dimuat di koran lokal, sedangkan versi yang kedua adalah yang diyakini oleh kalangan Yiguandao saat ini, yaitu meninggal bersama murid-muridnya pada tanggal 15 bulan 8 imlek saat malam Tong Jiu, 29 September 1947. Kebenarannya sendiri belum bisa diverifikasi. Tapi yang pasti pada tahun 1936, Zhang TiangRan pernah dipenjara selama 300 hari (kurang 3 hari), karena dicurigai bekerja untuk Jepang pada saat Jepang menguasai Manchuria pada tahun 1931 (Berdasarkan catatan dari anak ZhangTian Ran, ayahnya ditangkap karena diduga : 1. orang Puyi, 2.  membantu Jepang, 3. mempromosikan Komunisme).  Kejadian ditangkapnya Zhang Tianran ini diakui oleh Han Lao Qianren (pemimpin kelompok Fayi) dan bisa ditemukan di buku 一貫道藏 Yiguandao Cannon. Vol 1 - 林榮澤 Lin RongZe. Selain itu istri kedua dari Zhang Tianran yaitu 劉率貞 Liu Shuaizhen (劉月輝 Liu Yuehui, 1896–1953) beserta anaknya 張茂明 Zhang Maoming  (張英譽 Zhang Yingyu 1916–195) juga ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah China pada tahun 1951.
Catatan : Sekedar informasi, Zhang Tianran mempunyai 3 istri, yaitu 朱淑貞 Zhu Shuzhen yang meninggal muda karena sakit, 劉率貞 Liu Shuaizhen yang ikut menyebarkan Tao dan pada akhirnya membentuk kelompok sendiri (師兄派 Shixiong pai) setelah Zhang Tianran meninggal, dan yang terakhir adalah  孫素真 Shun Suzhen (Maha Guru ke-18). Saya pribadi tidak pernah tahu fakta ini sampai saya membaca buku tulisan sejarawan Sebastian Billioud. 

    Menurut semua catatan sejarah ini, bisa disimpulkan semua maha guru versi Yiguandao (mulai maha guru ke-8 sampai ke-18) semuanya bermasalah dengan Pemerintah karena terlibat dalam gerakan-gerakan agama rahasia yang secara historis memang sering membuat kekacauan dan melawan pemerintah di masa lalu. (Untuk lebih jelas mengenai sejarah agama rahasia di China akan saya bahas pada postingan terpisah).

Referensi :
一貫道藏 Yiguandao Cannon. Vol 1 - 林榮澤 Lin RongZe
道統寶鑑 Treasure Reflection of Dao Genealogy
性理題釋 Explanations of The Answers to the Truth - Living Buddha Jigong 濟公活佛 
The Platform Sutra of Six Patriarch - John R. McRae (transl)
Practicing Scripture_ A Lay Buddhist Movement in Late Imperial China - Barend ter Haar
The Sacred Village: Social Change and Religious Life in Rural North China - Thomas DuBois
The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan - David Jordan & Daniel Overmyer
A Study of the Yiguan Dao (Unity Sect) and its Development in Peninsular Malaysia - Soo Khin Wah
Making Saints in China by David  Ownby, Vincent Goossaert, and Ji Zhe
我怎樣脫離一貫道 Bagaimana Saya Melepaskan Diri Dari Yi Kuan Tao - 施文塗 Shi Wentu
暗路明燈 Pelita di Jalan Kegelapan - 回明大師 Huming Dashi


Studi tentang Yiguandao Bagian Sebelumnya (Bagian 3) :  Siklus Dunia Terbentuk sampai dengan Kiamat versi Yiguandao

Studi tentang Yiguandao Bagian Berikutnya (Bagian 5) : Sumber Ajaran Yiguandao




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...