Sejarah 一貫道 YiGuanDao / I-Kuan Tao (Bagian 1) - Asal Usul dan Sejarah Terbentuknya YiGuan Dao (Aliran Maitreya)
Sejarah mengenai 一貫道 YiGuanDao (atau di Indonesia dikenal dengan Agama Buddha Maitreya) di bawah ini saya tulis berdasarkan fakta sejarah menurut buku-buku yang ditulis oleh sejarawan dan para akademisi dan saya tidak memasukkan versi hagiografi ataupun cerita-cerita mistis dari zaman Fuxi yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. Alasan saya tidak memasukkan itu, karena cerita-cerita semacam itu adalah salah satu bentuk keyakinan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Yang saya tulis di sini adalah yang benar-benar telah terverifikasi menurut hasil temuan, observasi, penelitian penulis-penulis netral yang saya baca dalam buku-buku sejarah.
Berbicara Yiguandao maka kita tidak bisa mengabaikan 太平道 Taiping Dao, sekte Taois yang didirikan oleh 張角 Zhang Jue, pemimpin dari kelompok Sorban Kuning (Yellow Turban) di zaman Samkok (200 SM - 220 M). Asal usul kebanyakan sekte dan kelompok keagamaan di Tiongkok saat ditelusuri sebagian besar mengarah ke Taiping Dao ini. Taiping Dao sendiri adalah sebuah gerakan Taoisme yang didalamnya mempunyai motivasi perubahan zaman dengan cara menggulingkan pemerintah yang berkuasa demi terciptanya kerajaan baru yang diyakini akan lebih baik.
Sekte-sekte di Tiongkok sebagian besar merupakan hasil dari ketidakpuasan terhadap pemerintah yang berkuasa saat itu atau akibat adanya penindasan negara atau penguasa waktu itu. Di antara gerakan-gerakan keagamaan "heterodoks" yang ada, Sekte Teratai Putih (白蓮教 Bailian Jiao) adalah salah satu yang terkenal.
Berasal
dari tradisi Buddhis yang sepenuhnya ortodoks, Sekte Teratai Putih menjadi
sekte yang menyebarkan keyakinan akan hadirnya Buddha Maitreya ke dunia. Sekte
Teratai Putih akhirnya diberi label heterodoks pada Dinasti Yuan (1271-1368).
Sejak saat itu, istilah Bailian Jiao secara umum digunakan oleh para pejabat
kekaisaran untuk menyebut semua gerakan yang disebut "heterodoks". Bagi yang suka
menonton film kungfu, Sekte Teratai Putih ini juga muncul di salah satu
film Jet Lee yang berjudul Once Upon a Time in China II atau dikenal di sini sebagai Kungfu
Master II.
Sejarah Keyakinan Buddha Maitreya di Tiongkok
Sebelum lahirnya Sekte Teratai Putih, di China telah tersebar ajaran mengenai Buddha Maitreya setelah ada terjemahan kitab suci yang dilakukan oleh biksu An Shi Gao (安世高), Lokaksema pada abad ke-2, Dharmaraksa (竺法護) pada abad ke-3, Tao-An (道安) pada abad ke-4, dan Kumarajiva pada abad ke-5. Ada banyak kitab suci mengenai Maitreya yang muncul sebagai hasil terjemahan-terjemahan tersebut, antara lain 彌勒菩薩本願待時程佛經 Sutra Ikrar Bodhisatwa Maitreya Mencapai Kebuddhaan, 佛說彌勒大成佛經 Maitreyavyakarana-sutra / Sutra Bodhisatwa Maitreya Mencapai Kebuddhaan, 彌勒下生經 Maitreya-vyākaraṇa / Sutra Maitreya Terlahir Kembali ke Dunia, 彌勒菩薩所問本願經 Maitreyaparipṛcchā / Sutra Pertanyaan Ikrar Bodhisatwa Maitreya, 彌勒菩薩為女身經 Sutra Bodhisatwa Maitreya sebagai Wanita, Maitreyavyakarana-sutra / Sutra Maitreya, 弥勒菩萨问八法会(彌勒菩薩問八法會) Maitreyaparipṛcchādharmāṣṭa, 觀彌勒菩薩上生兜率天經 Sutra Kelahiran Kembali Bodhisatwa Maitreya di Surga Tusita, dll. Keyakinan bisa terlahir di
alam Tusita (tempat Buddha
Maitreya berada) berasal dari teks-teks hasil terjemahan ini. Buddhisme aliran Mahayana memiliki dua konsep tanah suci, yaitu tanah murni Amitabha dan tanah suci Maitreya. Pada abad ke-4 sampai ke-6, keyakinan bahwa umat Buddha akan
terlahir di alam Tusista menyebar ke seluruh Tiongkok. Keyakinan ini bercampur
dengan keyakinan rakyat akan surga Xi Wang Mu yang sudah
diyakini masyarakat sejak sebelum masehi. Kepopuleran keyakinan pada Tanah Suci Maitreya saat itu lebih populer dibandingkan keyakinan pada Tanah Murni Amitabha, terbukti dari jauh lebih banyaknya patung Maitreya yang dibuat dibandingkan dengan patung Amitabha di berbagai daerah.
Pada masa pemerintahan Kaisar Wu dari Liang, seorang biksu bernama 傅大士Fu Dashi asal Yiwu, mengaku telah mencapai pencerahan sempurna dan mengklaim dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya. Inilah salah satu jejak awal dari sekte Maitreya (彌勒教).
Di masa Dinasti Utara dan Selatan (420-589), sejumlah besar “kitab-kitab
palsu” Maitreya muncul. Kemunculan kitab-kitab palsu itu terkait
erat dengan kondisi masyarakat yang sulit saat itu. Dengan kata lain, ketika
kondisi kehidupan yang sulit melanda dan para penjahat merajalela di
masyarakat, orang-orang pada umumnya benar-benar mendambakan hadirnya seorang
“mesias”, seperti Maitreya, yang dapat menaklukkan semua penjahat dan
menstabilkan dunia ini. Di saat itu, mulai ada banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai titisan Buddha Maitreya yang akan menjadi juru selamat dan mengubah dunia ini.
Pada masa pemerintahan Kaisar Xuanwu dari Dinasti Wei Utara, Fa Qing (法庆), seorang biksu dari Jizhou, memproklamirkan dirinya sendiri sebagai Buddha Baru dan menciptakan doktrin “membunuh satu orang akan menjadi Bodhisatwa tingkat pertama, membunuh sepuluh orang akan menjadi Bodhisatwa tingkat ke-sepuluh". Dia mengaku mengaku mencapai Kebuddhaan melalui jalur Bodhisatwa sehingga menyebut dirinya “Buddha Kendaraan Besar” (大乘佛) dan mendirikan sekte Mahayana (大乘教) atau juga dikenal dengan nama sekte Mahayana Maitreya (彌勒大乘教). Sejak era inilah, semakin banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai titisan Maitreya dan menyebarkan ajaran sehingga keyakinan akan Maitreya telah menyebar ke kalangan masyarakat di hampir seluruh China. Keyakinan yang dipropagandakan sekte Maitreya mengyakini bahwa ada 三佛应劫 tiga masa Buddha yaitu masa lalu yang diatur oleh Buddha Dipankara, masa sekarang yang dipimpin oleh Sakyamuni, dan masa depan yang akan dipimpin oleh Buddha Maitreya. Verifikasi sejarah melacak doktrin ajaran ini mulai ada di periode 開元 Kai-yuan di masa Dinasti Tang (713-741). Setelah Dinasti Tang, terjadi pemberontakan rakyat yang tak ada habisnya menggunakan keyakinan bahwa Maitreya telah terlahir kembali (datang ke dunia). Di daratan Tiongkok, gagasan mesianis tentang penyelamat akhir jaman terus terbentuk. Banyak pemberontak memanfaatkan takhayul ini dan memberontak kepada pemerintah di bawah slogan " 彌勒下生,明王出世 Maitreya telah lahir, dan Raja Ming telah lahir." Populernya keyakinan terhadap Maitreya ini pada akhirnya mulai diadopsi oleh 白莲敎 Sekte
Teratai Putih yang pada awalnya banyak mengajarkan tradisi ajaran Buddhisme
Tanah Murni. Dengan berbekal propaganda bahwa Buddha Maitreya telah lahir, sekte Teratai Putih sering menciptakan
berbagai kerusuhan politik baik kepada Pemerintahan China yang tengah berkuasa
maupun kekuatan asing, seperti Inggris, Prancis, dan lainnya yang telah
merampas tanah-tanah di China sejak era Perang Candu. Ajaran bahwa Buddha
Maitreya akan segera/telah hadir dan membawa perdamaian di dunia yang disebarkan oleh
sekte Maitreya dan sekte Teratai Putih secara terus menerus, sehingga
keyakinan tersebut menjadi harapan dan keyakinan banyak masyarakat China yang
memang menginginkan adanya perubahan di masa yang sulit saat itu.
Asal Usul Yiguandao
Kelompok-kelompok agama rakyat sangat populer di zaman dinasti Ming (1368-1644), dan 羅清Luo Qing (1443-1527) / Luo Menghong (羅夢鴻 / 羅孟 鴻) yang menulis 五部六冊 Wubu Liuce / "Five Books in Six Volumes" di tahun 1509 adalah salah satu yang menonjol di kala itu. Ajaran dari Luo Qing ini kemudian dikenal dengan nama 罗道 Jalan Luo / 罗教 Luosime. Doktrin dan ajaran dari Luoism memperkenalkan konsep ibu suci 老母dengan istilah 無極 wuji, konsep pelintasan 普 pu (global), serta menjalankan praktek vegetarian yang ketat. Ide dari ajaran Luo diturunkan oleh para penulis sectarian dalam 宝卷 Baojuan. Kepopuleran ajaran Luo ini membuat Sekte Teratai Putih menyerap ajaran Luo ini sebagai dasar doktrin dan ajarannya dan mulai menggunakan 無生老母 Wusheng LaoMu / "Ibu Tua Abadi", atau disebut juga Ibu Suri dari Barat sebagai sosok tertinggi yang dipuja [2].
Di tahun ke-6 pemerintahan kaisar Jiaqing, Luoisme yang telah tersebar di banyak daerah memiliki dua cabang utama: Wuweiisme (无为教) dan sekte Kendaraan Besar / Mahayana (大乘教Dacheng jiao). Kelompok Dachengjiao dibagi menjadi dua grup, grup timur dan grup barat. Kelompok timur dipimpin oleh anak perempuan dari Luoqing, Luo Foguang (罗佛广) dan cucu menantunya Wang Sen (王森). Kelompok bagian timur menyebarkan ajaran dan para perintis mendirikan kelompoknya masing-masing menjadi 3 kelompok besar, yaitu sekte Longhua (龍華教), sekte Bendera Emas (金幢教) dan sekte Teratai Hijau (青蓮教). Ketiga ajaran ini dinamakan Zhaijiao (齋教 Sekte Vegetarian) yang belakangan dikenal dengan Laoguan Zhaijiao (老官斋教). Salah satu keturunan dari Luo Qing yang bernama Luo Weiqun (羅蔚群) dari sekte Mahayana Timur menyebarkan ajaran di daerah Jiangxi. Kalangan I Kuan Tao meyakini Luo Weiqun mendapatkan Firman Tuhan dari Maha Guru ke 7 dan menjadi penerus silsilah Maha Guru selanjutnya. Luo Weiqun ini memiliki seorang pengikut bernama Huang Dehui (黃德輝, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-9). Pada masa pemerintahan kaisar Yongzheng di Dinasti Qing, Huang Dehui mendirikan Xiantiandao (先天道). Dokumen resmi dinasti Qing (清代官书) menyebut sekte ini dengan nama sekte Teratai Hijau/Biru (青蓮教) atau dengan nama lain Jalan Ramuan Emas / Jindandao (金丹道).
Sekte ini menyerap keyakinan Maitreyanisme, tradisi-tradisi sekte Teratai Putih dan menyatukan tiga agama dengan mempraktikkan tata krama Konfusianisme, praktik-praktik Taoisme, dan sila-sila Buddhisme. Dinamakan Teratai Hijau untuk bersaing dengan sekte Teratai Putih yang populer saat itu. Sekte ini sangat populer di Sichuan, Yunnan-Guizhou dan Hubei, dan melancarkan banyak pemberontakan demi menggulingkan dinasti Qing dan mengembalikan dinasti Ming, tapi berhasil ditekan oleh pemerintahan Dinasti Qing. Pada tahun 1790, pemimpin sekte, 何了苦 He Liao Ku (di Yiguandao dikenal sebagai Maha Guru ke-11), dikirim ke Longli, Guizhou menjadi tentara sebagai hukuman dari pemerintah, sehingga sekte Teratai Hijau menyebar ke Guizhou. Murid He Liao Ku, yaitu 袁志謙 Yuan Zhiqian (di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-12) menyebarkan ajaran dari Guizhou ke Yunnan, Sichuan, dan Hubei, dan berkembang pesat. Sekte Teratai Hijau terus ditekan pemerintah di awal abad 19 tapi berhasil bertahan. Pada tahun 1828, setelah patriak ke-13 yaitu Xu Ji'nan (徐吉南) dan Yang Shouyi (楊守一) ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Qing, sekte Teratai Hijau terpecah, dan para pemimpin bersembunyi, menyebar menjadi banyak kelompok kecil. Pada tahun 1843, sekte Teratai Hijau kemudian bersatu dengan partai dan kelompok bersenjata untuk melawan para perwira dan tentara, dan menjadi kelompok agama rahasia, menyebabkan banyak kerusuhan. Pada tahun 1845, sekte Teratai Hijau melancarkan pemberontakan di Wuchang tapi gagal. Lin Yimi (林依秘), salah satu dari pemimpin 5 elemen Xiantiandao yang lolos dari tangkapan pemerintah saat itu, kemudian mendirikan Aula Surga Barat (西乾堂) sebagai tempat untuk menampung anggota-anggota sekte Teratai Hijau. Di tahun 1873, Yao Hetian (姚鶴天, di kalangan Tao dikenal sebagai patriark ke-14) diangkat sebagai pengawas Aula Surga Barat. Selanjutnya patriark Yao mengklaim bahwa dia mempunyai Firman Tuhan dan mendirikan kelompok sendiri.
Di tahun 1877, Wang Jueyi (王覺一) meneruskan kepemimpinan kelompok Yao berdasarkan titah Ibu Suci yang menunjuk Wang Jue Yi sebagai maha guru ke-15. Wang Jueyi mengaku bermimpi bertemu Bodhisatwa dan menyatakan dirinya sebagai titisan 古佛 Buddha Kuno setelah menemukan bahwa ada tanda 古 Kuno dalam telapak tangannya. Selanjutnya dia menerima titah Ibu Suci di Dongzhentang 東震堂 sebagai maha guru ke-15. Setelah itu kelompok cabang yang dia pimpin selanjutnya dinamakan 末后一着教 Mohou Yizhujiao (Sekte Upaya yang Paling Akhir). Maha Guru Wang yang mengubah teologis dan ritualnya. Maha Guru Wang juga menghapus syarat "bervegetarian" dan "menjalankan pantangan" untuk para pengikutnya, sehingga membuat kelompoknya berkembang cepat saat itu. Di tahun 1883, Moho Yizhujiao merencanakan pemberontakan yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 bulan 3 secara serentak di beberapa kota. Rencana tersebut ketahuan oleh pemerintahan Qing dan langsung menangkap para pemimpin kelompok ini sekaligus menekannya. Maha Guru Wang kabur ke Hankou kemudian ke Sichuan dan hidup bersembunyi sampai meninggal. Xiantian Dao di bawah kepemimpinan Wang Jueyi secara signifikan banyak menggunakan ajaran Konfusius sebagai dasar ajarannya; para praktisi harus mengikuti kitab suci 大學 Dàxué, sementara praktik Taoisme seperti meditasi dan pengobatan dihapuskan.
Dari patriark ke-15, silsilah Tao berlanjut ke 劉化普 Liu Huapu / 劉清虛 Liu Qingxu sebagai patriark ke-16. Di tahun 1886, maha guru ke 16 menggunakan kata-kata Konfusius yang berkata bahwa 吴道一以贯之 "jalan yang saya ikuti adalah jalan yang menyatukan semua" yang selanjutnya menamakan kalangan Tao dengan nama 一貫道 I Kuan Tao. Kira-kira pada tahun 1899, cabang Mohou Yizhujiao yang lain di Henan berganti nama menjadi sekte Amitabha (Mituo jiao 弥陀教) atau Perkumpulan Bunga Naga (Longhua hui 龙华会) dan ikut serta dalam kegiatan di Yihetuan (Pemberontakan Boxer).
Selanjutnya setelah Liu Qingxu meninggal, kepemimpinan kalangan Yiguandao dilanjutkan oleh 路中一 Lu Zhongyi yang menjadi maha guru ke 17. Pada tahun 1883, pada usia 30 tahun, beliau dikatakan bermimpi dan Tuhan yang memerintahkannya untuk menjadi murid dari maha guru ke-16 Liu Qingxu. Dia menjadi maha guru ke-17 pada tahun 1886 setelah patriark Liu bermimpi bahwa Lao Mu memberikan petunjuk bahwa Lu ditetapkan menjadi pemimpin selanjutnya dan Firman Tuhan diberikan kepadanya di tahun itu. Kalangan Yiguandao menyakini Lu Zhongyi sebagai maha guru pertama di era Pancaran Putih, era terakhir dari Tiga Pancaran, dan merupakan reinkarnasi dari Buddha Maitreya.
Cerita Selanjutnya : Yiguan Dao di China Daratan (1930-1953)
Komentar