Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu sejak aku menulis sebuah artikel tentang penyakit batu empedu di blog ini. Tulisan tersebut cukup banyak dibaca oleh orang yang mengidap penyakit serupa. Bagi yang belum pernah membacanya, saya sarankan masuk ke link ini. Sejak saya mengidap sakit batu empedu, saya bergabung di komunitas para pengidap penyakit batu empedu baik di facebook maupun whatsapp.
Dari sekian banyak sharing para penderita penyakit ini yang selama ini saya baca, banyak yang menempuh jalur operasi pengangkatan kantung empedu karena sudah tidak tahan dengan sakitnya (kholik). Saya juga membaca ada beberapa orang yang meragukan cara pengobatan liver cleansing yang saya tempuh dulu. Melalui kesempatan ini saya ingin berbagi kepada para pembaca, bagaimana kondisi saya sebenarnya 10 tahun setelah pengobatan tersebut, Benarkah saya sudah sembuh total dari penyakit batu empedu?
Oke, ijinkan saya berbicara jujur. Saya sebetulnya tidak bisa dibilang sembuh 100% dari penyakit batu empedu.
Berdasarkan USG terakhir yang saya lakukan di laboratorium Prodia ternyata masih tersisa 1 batu berukuran sekitar 1 cm di dalam kantung empedu saya. Saya awalnya sempat ragu kebenaran dari hasil diagnosa tersebut. Karena waktu masih sering kumat dulu, hasil USG selalu menampilkan multiple gallstone (banyak batu dalam kantung empedu saya). Jadi saat dinyatakan bahwa batu empedunya sisa 1, terus terang saya setengah tidak percaya.

Karena saya tidak benar-benar yakin hasil USG ini akurat, saya pun berencana melakukan USG di laboratorium lain untuk memastikan.
Pada akhirnya, saya berkesempatan ke Penang untuk menemani kedua orang tua saya check up. Di RS Gleaneagles Penang, saya juga ikutan general checkup yang salah satu pemeriksaan di antaranya tentu saja ada USG. Dan hasil USG di RS Gleaneagles ternyata hasilnya sama, yaitu memang cuma tersisa 1 batu berukuran sekitar 1 cm di dalam kantung empedu saya.
Jujur, memang dengan hasil ini saya tidak bisa dikatakan sudah sembuh total dari penyakit batu empedu, tapi pada prinsipnya saya cukup puas dan happy dengan keadaanku yang sekarang. Karena memang menurut beberapa dokter, selama batu empedu tidak menyebabkan nyeri yang tidak tertahankan, penyakit ini pada dasarnya tidaklah terlalu berbahaya. Saya sendiri punya seorang bibi (Kakak dari Ibu saya) yang sekarang sudah berumur 70 tahun lebih. Dia juga mengidap penyakit batu empedu sejak puluhan tahun lalu. Ada 1 batu empedu yang bersarang di kantung empedunya. Dan sampai saat ini pun dia tidak pernah melakukan operasi untuk membuang kantung empedunya, karena toh memang dia tidak pernah merasakan nyeri / sakit apapun. Dan ini menkonfirmasi omongan dokter yang pernah saya dengar sebelumnya. Saya pribadi juga punya kondisi badan yang cukup baik. Bahkan terakhir saat saya check up, hasil tes darah saya menunjukkan bahwa saya dalam kondisi yang sangat sehat. Terakhir kali, kolestrol saya tergolong normal (Sekitar 170). Trigliserida dan gula darah saya pun juga normal. Tentu saja saya senang sekali, mengingat teman-teman seumuranku serta saudara kandungku saja rapornya tidak sebaik ini.
Saya sendiri sejujurnya sudah pernah melakukan 2x Liver Cleansing (pengobatan Pak Sisil) untuk mencoba mengeluarkan sisa 1 batu tersebut. Tapi tampaknya usaha saya tidak berhasil. Dikarenakan beratnya proses liver cleansing, saya memutuskan untuk berhenti melanjutkannya dan membiarkan sisa batu tersebut di kantung empedu saya. Kendati masih ada sisa 1 batu di kantung empedu saya, untungnya saya tidak pernah 1x pun merasakan sakit nyeri (kholik) yang dulu pernah saya alami selama 10 tahun terakhir ini.
Bisa dibilang saya cukup bersyukur karena pernah mengidap sakit batu empedu ini. Karena berkat itulah saya jadi sadar penting nya pola hidup yang sehat sejak muda. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila saya tidak pernah terkena sakit tersebut. Mungkin pola hidup saya akan sama kayak kebanyakan teman-teman saya yang memang sampai sekarang masih suka makan sembarangan dan hanya ingin makan yang enak-enak saja tiap hari.
Jadi untuk kesimpulan akhir, kalau dikatakan pengobatan liver cleansing yang saya jalani tidak berguna, menurutku ini kurang tepat. Buktinya saya walaupun memang hasil akhirnya tidak bersih 100%, tapi kondisi saya sangatlah baik dan sehat. Tapi jujur kalau ditanya, apakah saya menyarankan metode pengobatan Liver Cleansing ini ke orang lain. Saya pribadi mungkin tidak merekomendasikannya. Pertama, proses pengobatan liver cleansing ini tidaklah mudah. Saya menjalankan liver cleansing ini kalau saya tidak salah sebanyak 11 x dan berlangsung selama setahun lebih. Dan proses pengobatannya ini sungguh tidak mudah, selain harus pantang makanan-makanan yang berminyak, proses meminum obatnya juga menurutku sangat berat. Terutama untuk ramuan terakhirnya yang berupa minyak. Saya sempat muntah 1x di salah satu sesi pengobatan ini.
Alasan kedua, adalah karena proses ini tidak lah selalu berhasil. Saya bergabung di sebuah grup komunitas penderita batu empedu, dan menemukan ada orang yang gagal menjalankan ini. Alasan ketiga adalah karena faktor harga. Harga obat-obatan pak Sisil ini tidaklah murah. 10 tahun lalu saja, harga pengobatannya hampir menyamai biaya operasi pengangkatan batu empedu. Apalagi sekarang banyak orang yang punya asuransi atau bisa juga menggunakan BPJS (KIS). Proses melalui rumah sakit dengan menggunakan asuransi atau BPJS, saya rasa akan terasa lebih tidak memberatkan dibandingkan harus membayar uang tunai untuk obat liver cleansing ini.
Okay, sekian dulu sharing dari saya. Semoga sharing saya ini bermanfaat
Komentar