Langsung ke konten utama

Review Buku The Eightfold Path for the Householder - Jack Kornfield

Sekitar beberapa minggu yang lalu, saya baru saja selesai membaca sebuah buku buddhis berjudul The Eightfold Path for the Householder yang ditulis oleh Jack Kornfield. Sebagai seseorang yang sudah beberapa kali mendengar penjelasan para biku dan membaca beberapa literatur mengenai Jalan Mulia Berunsur Delapan, buku ini menurutku adalah salah satu buku bagus yang saya rekomendasi untuk dibaca, apalagi penulisnya sepertinya menulis buku ini lebih ditargetkan untuk para perumah tangga ketimbang para biku. Jadi bahasa-bahasanya bisa dibilang tergolong bahasa ringan dan mudah dipahami, bahkan penulisnya sendiri tidak jarang menggunakan istilah-istilah yang sebenarnya bukan istilah buddhis, seperti contohnya dia sering menggunakan "God" dalam artian ada satu entitas Maha Besar di dunia ini yang umumnya hampir tidak pernah dipakai oleh semua aliran Buddhisme.

Salah satu bagian favorit dari buku ini ada pada bab 1, yaitu saat Jack menggambarkan siapa itu Sang Buddha. Ada sebuah pertanyaan yang diajukan kepada Sang Buddha setelah mencapai pencerahan. "Anda terlihat sangat spesial. Siapakah Anda? Apakah semacam Malaikat atau Dewa?" Sang Buddha menjawab "Bukan", "Apakah Anda ini semacam ahli sihir?" "Bukan" "Apakah Anda Tuhan?" "Bukan" "Kalau begitu apakah Anda?" Buddha menjawab "Saya telah tersadar". Bagian penjelasan ini benar-benar sangat mengena buat saya, khususnya karena sejak kecil sampai dewasa, saya merasa bahwa semua agama biasanya akan menekankan sisi ekslusifitas atau mengedepankan rasa untuk merasa menjadi kelompok yang lebih unggul, entah itu dengan menonjolkan sesuatu yang dianggap sakral atau suci, seperti wahyu, adanya kehendak sebuah entitas maha besar, ataupun gelar yang disandang tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh tersebut biasanya akan dinarasikan sebagai utusan langsung Tuhan atau sebagai seseorang yang dipilih oleh Tuhan, atau sebagai seseorang yang membawa sesuatu yang dianggap sangat suci atau agung, bahkan ada juga yang tokohnya dianggap Tuhan itu sendiri. Saya pribadi juga sejak kecil sampai dewasa pernah aktif di salah satu agama yang sangat mengagungkan hal semacam itu. Maka membaca bagian ini, saya benar-benar merasa bahwa Buddha ini benar-benar sosok yang sama sekali berbeda. Meskipun banyak aliran Buddhisme sekarang ini yang memuja atau menghormati sosok Sang Buddha yang membuatNya terasa seperti Dewa Besar atau semacamnya, Sang Buddha sendiri sebenarnya tidak pernah mengklaim dirinya sebagai utusan sebuah entitas maha besar. Buddha juga tidak mengklaim bahwa dia membawa wahyu atau kesucian yang bisa diturunkan. Istilah Buddha sendiri sebenarnya juga bukanlah sebuah gelar. Buddha artinya adalah tersadar atau tercerahkan. Dan Buddha itu bukanlah gelar seperti raja, maha guru, guru agung atau patriark. Dan setelah cukup banyak mendalami ajaran-ajaran Buddha yang sebenarnya, sebagian besar isinya ternyata hanya berisi mengenai bagaimana mencapai apa yang sudah dia jalani, agar kita bisa mengikutinya sehingga juga bisa tersadar. Jadi sama sekali tidak ada semacam wahyu atau atau hal supranatural yang diturunkan di sini, melainkan benar-benar murni adalah ajaran bagaimana mencapai kebebasan dengan usaha kita sendiri.

Penjelasan Jack dalam buku ini sangat mudah dicerna, karena disajikan dengan bahasa sehari-hari dan sangat sedikit istilah-istilah teknis serta banyak yang merupakan hal-hal praktikal yang sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Jadi membaca buku ini tentu tidak hanya membantu mereka-mereka yang belum begitu memahami apa itu Jalan Mulia Berunsur Delapan, tapi juga bagi yang sudah memahami teori Jalan Mulia Berunsur Delapan, karena kita jadi tahu bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Cara menjelaskan Jack juga sedikit berbeda dengan penjelasan-penjelasan umum mengenai Jalan Mulia Berunsur Delapan, seperti contohnya pada bagian 2 yaitu tentang Kehendak Benar. Alih-alih penjelasan melenyapkan pikiran-pikiran jahat dan mengembangkan pikiran-pikiran baik, yang di mana biasanya orang akan sulit memahaminya secara menyeluruh, Jack menggunakan penjelasan yang lebih mudah dipahami di mana dia menekankan keterbukaan dan penerimaan, di mana kita sebagai manusia jangan selalu mengikuti kebiasaan kita sendiri. Orang pada umumnya pasti punya mindset "HARUS BEGINI", "HARUS BEGITU". Alih-alih mengikuti pandangan itu, cobalah melatih diri untuk melepas, di mana kita mulai mengamati dan menerima apapun, baik yang baik maupun yang buruk. Ini adalah salah satu inti dari meditasi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah salah satu yang aku suka dalam buku ini.

Jack juga banyak memberikan dasar-dasar dari setiap poinnya, lalu menjelaskannya dengan contoh-contoh pada apa yang kita alami sehari-hari, seperti contohnya ketika kita lapar, ketika kita lagi menyetir atau ketika kita lagi menginginkan sesuatu yang kita sukai. Hal yang memperkaya isi buku ini adalah beberapa pengalaman pribadi Jack khususnya ketika dia dulu masih belajar di beberapa vihara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung meyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan buk...

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Sejati Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing adalah salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Kitab ini merupakan salah satu kitab utama yang dianggap paling penting di Yiguandao, karena kitab ini yang dijadikan dasar dari keyakinan bahwa Buddha Maitreya adalah Buddha yang memegang kuasa alam saat ini di masa pancaran putih. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diajarkan dan diyakini oleh kalangan Yiguandao.

Sejarah Tiger Wong, Komik Kungfu Populer asal Hongkong di tahun 90an

Bagi kalian yang lahir di tahun 1970-1990 an, tentu tidak asing dengan tokoh legendaris yang bernama Tiger Wong . Tiger Wong adalah judul salah satu komik karya Tony Wong yang berjudul asli 龍虎門 (Long Hu Men) atau lebih dikenal dengan sebutan Oriental Heroes di beberapa negara. Di Indonesia, sebelum rilisnya komik Long Hu Men yang dirilis M & C, tidak banyak yang mengenal Long Hu Men / Oriental Heroes, orang lebih mengenal komik ini dengan nama Tiger Wong. Komik ini begitu seru dan menarik sampai saya pribadi dulu juga selalu tidak sabar menunggu kelanjutan dari cerita komik ini setiap minggunya. Banyak para milenial atau mungkin generasi X yang merupakan fans dari serial ini mungkin tidak tahu bahwa komik Tiger Wong yang dulu kita baca ternyata hanyalah separuh dari keseluruhan komik aslinya. Ingin tahu lebih banyak tentang Tiger Wong? Baca terus sampai habis ya. Sejarah dari Komik Tiger Wong Tiger Wong atau lebih dikenal secara internasional dengan nama Oriental Heroes adalah ma...