Review Buku The Flying Phoenix: Aspects of Chinese Sectarianism in Taiwan karya David K. Jordan dan Daniel L. Overmyer
Beberapa waktu lalu, saya baru saja selesai membaca sebuah buku sejarah berjudul The Flying Phoenix: Aspecits of Chinese Sectarianism in Taiwan karya David K. Jordan dan Daniel L. Overmyer. Buku ini sebenarnya mulai kubaca cukup lama, tapi baru bisa menyelesaikannya baru-baru ini. Konten dari Yiguandao dalam buku ini ada sekitar 20-30% dari total keseluruhan buku, dan jujur menurutku, bagian tengah buku agak sedikit membosankan untuk dibaca, terutama yang berisi tentang kisah-kisah tokoh-tokoh agama Cihui Tang. Selain tokohnya sendiri yang tidak terkenal, saya sama sekali tidak kenal dengan agama-agama atau sekte-sekte yang dibahas. Bagi saya pribadi, yang menarik dari buku ini hanyalah bab 9 dan bab 10 saja (di mana itu spesifik membahas mengenai Yiguandao)
Secara garis besar, buku ini membahas mengenai sekte-sekte keagamaan populer di Taiwan yang menjalankan tradisi bailuan (拜鑾) yang juga dikenal dengan fuji (扶乩), sebuah tradisi yang cukup populer di kalangan orang Tionghoa. Secara spesifik, buku ini membahas mengenai tiga kelompok besar yang mempraktikkan tradisi tersebut, yaitu Aofa Tang (澳法堂), Cihui Tang (慈惠堂; yang sekarang dikenal sebagai Yaochidao), serta Yiguandao. Penulis mencoba membedah masing-masing dari kelompok tersebut dan seberapa penting praktik bailuan bagi mereka.
Yang menarik, buku ini menunjukkan bagaimana sekte-sekte ini berfungsi sebagai jalan alternatif bagi orang awam untuk ikut serta dalam “tradisi besar” Tiongkok (Buddha, Tao, Konghucu) dengan cara sinkretis. Mereka sadar sedang mencampur-campur tradisi, dan justru menganggapnya sebagai kekuatan. Selain itu, teks ini menyoroti bagaimana sekte-sekte ini muncul sebagai respon terhadap krisis sosial: kolonialisme Jepang, modernisasi, tekanan politik, hingga disorientasi budaya. Hal menarik lain bagi saya pribadi dari buku ini adalah perbandingan hasil tulisan roh Yiguandao dan Cihuitang. Ada beberapa kemiripan di antara mereka, sebagai contoh: keduanya memuja dewi yang sama, yaitu Lao Mu, walaupun di Cihuitang, sosoknya bukan bernama Laomu tapi Yaochi Jinmu (Dewi yang menjadi cikal bakal Wusheng Laomu-nya Yiguandao). Kemiripan lain dari keduanya adalah adanya narasi bahwa manusia saat ini telah memasuki zaman akhir di mana moral secara umum telah menurun, diikuti dengan turunnya Maitreya untuk memperbarui dunia. Lao Mu di sini digambarkan telah mengirim semua penghuni surga, sehingga membuat surga kosong, demi untuk menyelamatkan anak-anaknya yang tersesat di dunia.
Sejarah mengenai bailuan sendiri dibahas di bab 3 buku ini, di mana dulu praktik tulisan roh hanyalah untuk digunakan ramalan saja. Dewi yang biasa dipanggil dulu awalnya cuma Dewi Zigu. Tapi seiring dengan waktu, praktik tersebut mulai digunakan untuk menuliskan wahyu-wahyu dan hal-hal yang lebih kompleks, serta dewa-dewinya menjadi jauh lebih banyak. Dan semua kelompok yang menjalankan praktik ini, umumnya mengundang dewa-dewi yang kurang lebih sama, yaitu dewa-dewi populer Tiongkok, seperti Guangong, Lv Dong-bin, Yaochijinmu, Kaisar Giok, Yuanshi Tianzun, Maitreya, Dizhang, Zhang Sanfeng, Sakyamuni sampai dengan Bodhidarma.
Secara garis besar, buku ini banyak berisi kisah-kisah perjalanan hidup dan karir spiritual beberapa tokoh dari ketiga kelompok. Walaupun yang diceritakan adalah tokoh-tokoh yang sama sekali tidak terkenal, tapi sepertinya tujuan penulis adalah untuk memberikan gambaran utuh agama yang dibahas dari sudut pandang orang yang aktif dan berkecimpung di agama-agama tersebut. Narasi cerita yang dihadirkan mengisahkan seorang dari yang bukan siapa-siapa, tapi kemudian mulai aktif di kelompok keagamaan dan menjadi tokoh penting di kelompok tersebut. Kelompok pai-luan dan sekte lain sepertinya memberi kesempatan bagi orang awam untuk merasa dekat dengan tradisi besar Tiongkok sekaligus menjadikannya diri mereka penting untuk orang lain.

Komentar