Review Buku The Sacred Village: Social Change and Religious Life in Rural North China (2005) - Thomas David DuBois
Buku ini bercerita mengenai situasi dan kehidupan khususnya yang berhubungan dengan agama lokal yang ada di kabupaten Cang, provinsi Hebei, sebuah desa yang ada di daerah utara China. Cerita dalam buku ini menjadi semacam lensa untuk melihat isu yang lebih besar tentang bagaimana perspektif dan perilaku pedesaan Tiongkok dibentuk oleh perubahan sosial, politik, dan demografis yang terjadi dalam dua abad terakhir. Thomas DuBois menggabungkan sumber-sumber arsip baru dalam bahasa Tionghoa dan Jepang dengan penelitian lapangannya sendiri untuk menghasilkan sebuah karya yang menarik dan mendalam secara detail. Pembahasan dalam buku ini menjadi menarik karena juga mengambil case study Yiguandao yang sempat mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1930-1940-an. Di sini Thomas DuBois menjelaskan secara detail keadaan di desa tersebut, disertai dengan data-data penyebaran agama-agama yang mempengaruhi kehidupan masyarakat di sana. Saya tidak membaca semua bab dalam buku ini, karena beberapa agama yang menyebar di daerah ini, saya sama sekali tidak mengenalnya, seperti contohnya Zailijiao yang dibahas di bab 5 dan Tiandijiao yang dibahas di bab 7. Saya tertarik pada pembahasan secara rinci mengenai Yiguandao yang dibahas secara detail di bab 6.
Tulisan dalam buku ini memberikan banyak informasi tambahan mengenai Yiguandao yang tidak ada di buku-buku akademis lain, seperti contohnya: Adanya perebutan kekuasaan antara Lu Zhongjie (saudara dari Lu Zhongyi) dengan Zhang Guangbi setelah patriark Lu meninggal, di karenakan "sumbangan pahala" (gongde fei) yang semakin besar dan menggiurkan.
Selain itu juga terungkap fakta bahwa Yiguandao ternyata dulu menerapkan cara-cara yang zaman sekarang sepertinya tidak akan bisa ditemui, seperti contohnya melantunkan ayat-ayat suci dan memasang pajangan patung-patung dan keagamaan di tempat-tempat umum seperti taman atau tempat lainnya untuk mencari pengikut. Di masa itu, Yiguandao ternyata masih sering mengadakan donasi uang untuk membeli barang, jimat, dupa dan patung-patung pada saat ada ritual tulisan roh yang diadakan. Praktek lain yang juga sering diadakan di masa itu adalah adanya sesi penyembuhan dengan menggunakan bantuan roh. Seingat saya ketiga praktek ini tidak pernah ada di fotang baik saat saya baru bergabung sampai dengan beberapa puluh tahun setelahnya.
Di penjelasan lain juga terungkap bahwa ternyata di antara begitu banyaknya umat-umat Yiguandao, ternyata pada saat eksekusi pemerintah di tahun 1950an, sebagian besar pengikut Yiguandao secara sukarela dan tanpa resistensi menyerahkan keyakinan mereka dan move on setelahnya. Bahkan terhitung hanya 2 bulan, ajaran Yiguandao sama sekali lenyap dari desa tempat mereka berada setelah adanya tekanan dari pemerintah. Ada sedikit orang yang kembali untuk mencoba menyebarkan ajaran di tahun 1955. Hasilnya mereka ditangkap dan dihukum mati. Saat disurvei mengenai alasan orang-orang di zaman itu bergabung dengan Yiguandao, sebanyak 46 persen menjawab bahwa mereka hanya ingin menghindari bencana, dikarenakan memang kondisi saat itu memang sulit. Dan yang agak mengejutkan ada sebanyak 14 persen punya keinginan untuk menjadi kaya setelah bergabung.
Di masa lalu, Yiguandao juga menakut-nakuti umat dengan ancaman perang dunia ketiga sebagai pertanda masa periode terakhir (masa pancaran putih). Dan walaupun sebagian besar pengikut Yiguandao dengan rela hati menyerahkan keyakinan mereka. Thomas David DuBois berpendapat bahwa keadaan damai dan makmur adalah tantangan utama dari agama-agama seperti Yiguandao, di mana dalam hal ini saya sangat setuju. Agama yang banyak menakut-nakuti dengan ancaman bencana biasanya memang akan jauh lebih laku bila keadaan kehidupan sedang kacau dan tidak baik-baik saja.
![]() |
Tabel Jumlah Penganut Yiguandao di desa-desa Changzhou di buku The Sacred Village |
Komentar