Langsung ke konten utama

Belajar Dharma: Memahami Anicca

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mulai menulis mengenai pelajaran-pelajaran apa saja yang saya pelajari selama saya mendalami ajaran Sang Buddha. Selama 2 tahun terakhir, saya banyak sekali membaca buku-buku dan mendengarkan ceramah-ceramah dhamma dari Buddhisme. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya adalah seorang pengikut Yiguandao sejak usia 13 tahun. Dan saya cukup setia dan menjadi misionaris aktif di vihara Yiguandao (fotang 佛堂) selama lebih dari 30 tahun, sampai saya mulai berhenti datang ke fotang secara total sekitar mulai pertengahan tahun lalu. Terakhir kali saya datang ke fotang adalah bulan Maret 2024. Saya waktu itu mengikuti kelas 人才班 Ren Cai Ban, kelas untuk pendalaman bagi para kader. Terhitung sebelum mulai ketidakhadiran saya tersebut,  saya tidak ingat pernah melewatkan satupun kelas besar yang diadakan fotang saya sejak didirikan sampai pertengahan tahun lalu. Satu-satunya tahun di mana saya absen adalah waktu saya sedang berada di luar negeri tahun 2010. Bagi saya selama berpuluh-puluh tahun, datang di fotang memang sudah menjadi semacam kewajiban dan hal yang tidak dapat ditawar. Pikiran saya waktu itu masih berpandangan bahwa datang ke fotang itu adalah hal terpenting di dunia. Itu karena sejak kecil, sudah ditanamkan di fotang kalau sebagai umat itu harus memprioritaskan rohani daripada duniawi. Itu adalah salah satu ikrar saat para umat mengikut Sidang Dharma. Jadi karena dulu saat ikut sidang dharma, saya mencentang ikrar tersebut, maka di dalam pikiran saya selama bertahun-tahun adalah bila sampai saya tidak datang ke vihara maka saya seperti melakukan dosa besar dan beranggapan bahwa saya bakal mendapat hukuman berat entah dari hutang karma yang menagih atau ada hukuman dari Lao Mu. Yang ada di benak pikiran saya selama bertahun-tahun, biasanya batin saya lebih dipenuhi perasaan takut kena azab / hukuman dan rasa sungkan/rasa bersalah bila tidak datang ke vihara ketimbang perasaan benar-benar pingin datang ke vihara. Menjalankan keyakinan dengan cara seperti itu ternyata secara tidak langsung merubahku menjadi seseorang berperilaku yang melawan keinginan hatiku sendiri selama bertahun-tahun. Secara tidak sadar, saya juga mempunyai kecenderungan menjadi seorang yang munafik, di mana ucapan dan pikiran saya sering kali sangat jauh berbeda hanya karena saya melakukan segala sesuatu karena takut dan merasa itu kewajiban saja daripada memang benar-benar dari keinginan hati karena tersadar. Tapi mulai tahun lalu, saya dengan mantap memutuskan untuk tidak lagi melawan hatiku dengan berhenti untuk datang ke fotang bila saya memang tidak ingin. Setelah saya mendalami dharma Buddha yang benar, saya akhirnya mengerti banyak kebenaran yang selama puluhan tahun ini saya yakini dengan salah. Hasilnya, saya benar-benar sudah tidak takut lagi dengan ancaman-ancaman azab yang sudah bertahun-tahun saya takuti dulu. Bahkan, saya pribadi merasa hati saya selama satu tahun terakhir menjadi kondisi batin paling damai dan merasa seperti sangat terbebaskan seumur hidup saya. Saya merasa seperti meletakkan beban psikologis yang bertahun-tahun saya pendam.  Jujur, saya belum pernah merasa serileks dan setenang seperti setengah tahun terakhir ini.  Saya menjadi jauh lebih bahagia dari dalam. Kebahagiaan ini muncul bukan karena kondisi dari luar, tapi lebih karena kondisi batin saya seperti terasa jauh lebih ringan sehingga merasa jauh lebih bahagia dibandingkan dulu. Ajaran Buddha yang disebutkan bisa memberikan kebahagiaan ternyata bukan cuma teori dan memang benar-benar nyata saat dipraktekkan dengan benar. Ada banyak ajaran-ajaran dari Buddha yang benar-benar membuka mata saya. 

Oleh karena itu mulai hari ini, saya ingin untuk mulai menulis dharma-dharma yang telah saya pelajari ke dalam bentuk tulisan di blog ini. Sebenarnya tulisan ini lebih saya peruntukkan untuk diri saya sendiri agar bisa memahami dan lebih mendalami ajaran-ajaran Sang Buddha. Saya selalu percaya bahwa belajar dengan cara menulis dan berpura-pura seperti ingin menjelaskan ke orang adalah cara belajar yang paling efektif. Dan memang itu tujuan utamaku dalam menulis secara rutin di blog ini. Untuk postingan pertama ini, saya ingin sharing kepada pembaca mengenai salah satu inti paling penting dari ajaran Sang Buddha. Inti dari ajaran Sang Buddha ini menurutku adalah yang terpenting dari semua ajaran yang terkandung dalam puluhan kitab Tripitaka Buddha. Ajaran yang begitu penting ini herannya tidak saya temukan selama belajar dharma selama puluhan tahun di Yiguandao yang mengaku sebagai agama Buddha di Indonesia. Padahal memahami inti ajaran Sang Buddha bagian ini benar-benar bisa merubah seluruh cara berpikir kita dan bisa sangat membantu pembinaan diri secara drastis. Inti dari ajaran Sang Buddha ini juga menjadi dasar dari semua bentuk pelatihan diri, termasuk meditasi, pengembangan batin serta praktik-praktik kehidupan. Jadi apakah inti ajaran dari Sang Buddha yang saya maksud? Ada Tiga Kata.

Anicca, Anatta, Dukha 

Saya akan bahas ketiganya satu persatu. Di postingan kali ini saya akan membahas mengenai Anicca dulu.

Anicca (Ketidakkekalan)

Anicca adalah bahasa Pali yang berarti ketidakkekalan, atau bisa juga diterjemahkan sebagai perubahan. Buddha mengajarkan bahwa semua yang ada di dunia ini sifatnya adalah anicca (tidak kekal). Lebih spesifik lagi, semua realitas yang berkondisi (sankhara) sifatnya hanyalah sementara, tidak kekal, dan pasti akan berlalu.

Anicca ini sebenarnya punya kaitan erat dengan Anatta. Dan sebenarnya agak sulit menjelaskannya secara terpisah. Tapi anatta akan saya jelaskan lebih jelas di postingan selanjutnya. Di postingan ini, saya akan lebih fokus membahas mengenai Anicca. Mengapa Anicca ini begitu penting? Berdasarkan pengalaman saya pribadi, ada beberapa kekotoran batin yang sangat sulit bahkan mustahil dihilangkan bila kita belum memahami mengenai Anicca ini. Saya pribadi tentu masih jauh dari baik dan sempurna, tapi dengan menerapkan pandangan ini dan melatihnya setiap hari, saya beberapa kali mulai bisa merasakan keadaan batin di mana kemarahan, kebencian, dan keserakahan itu bisa menurun. Dengan dilatih terus menerus, maka harapan saya semoga di kemudian hari kelak kekotoran-kekotoran batin tersebut bisa terus berkurang atau bahkan bisa hilang sepenuhnya. Mengapa pandangan Anicca ini begitu penting untuk pengembangan batin? Kalau kita masih mempunyai pandangan bahwa diri ini adalah kekal, ini akan mempunyai dampak sistemik kepada cara pandang kita terhadap kehidupan secara keseluruhan.

Salah satu pandangan yang diyakini oleh banyak sekali orang adalah pandangan bahwa dalam diri kita itu ada yang namanya Roh yang kekal. Sejujurnya, sebelum mendalami ajaran Buddha, saya juga berpandangan seperti itu. Karena di Yiguandao sendiri juga mengajarkan bahwa manusia itu mempunyai roh yang sifatnya kekal. Dalam doktrin mereka, dijelaskan bahwa roh ini adalah yang sejati, sementara badan kasar ini adalah yang palsu karena bisa rusak (tidak kekal). Tujuan membina diri di ajaran Yiguandao adalah untuk menyelamatkan roh yang sejati ini agar dapat pulang ke Nirwana. Itulah pandangan yang saya yakini selama berpuluh-puluh tahun.

Karena sifatnya yang kekal, maka dikatakan bahwa dalam diri manusia ada suatu entitas yang selamanya tidak akan berubah dan tetap. Jadi kalau dalam pandangan yang disebut Eternalisme ini, roh kita dalam kehidupan ini dianggap sama dengan roh kita di kehidupan sebelumnya maupun dengan roh kita di kehidupan yang akan datang. Jadi ceritanya, kita ini hanya pindah dari satu raga ke satu raga berikutnya. Roh ini dianggap sebagai sebuah entitas yang tetap, kekal dan tidak berubah. Lalu apa pengaruhnya bila kita berpandangan seperti itu dalam kaitan dengan proses untuk mencapai kebebasan dan kesucian? Karena kita menganggap bahwa dalam diri kita itu ada yang tetap dan kekal, maka kita akan sangat sulit bisa menerima ajaran Sang Buddha yang menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti berubah dan tidak kekal. Karena diri kita ini ada sesuatu yang kekal, maka kita akan merasa bahwa roh dalam diri kita itu terkesan seolah-olah seperti abadi dan tidak pernah berubah. Yang artinya kita akan menolak pandangan bahwa diri kita di kehidupan ini, itu berbeda dengan diri kita di kehidupan berikutnya. Kita juga akan sulit menerima pandangan bahwa diri kita di kehidupan lampau itu juga berbeda dengan diri kita di kehidupan sekarang. Kalau sudah berpandangan seperti itu, mungkinkah kita bisa merasa bahwa kehidupan ini hanyalah sementara? Bisakah kita memahami bahwa diri kita itu sifatnya hanyalah sementara? Bisakah kita berpandangan bahwa setelah kehidupan ini selesai, kita sudah berubah menjadi mahluk lain yang sepenuhnya baru? Jawabannya jelas tidak mungkin. 

Sang Buddha menyebutkan pandangan seperti itu adalah salah satu pandangan salah yang dikenal dengan istilah Sassatavāda (Pandangan Eternalisme). Pandangan ini juga banyak diyakini oleh beberapa kelompok di masa Buddha Gautama masih hidup. Lantas, apa dampaknya bila kita tidak bisa berpandangan bahwa diri kita ini sifatnya hanyalah sementara? Dampaknya jelas kita akan menjadi sangat melekat dengan diri kita sendiri. Kita akan merasa memiliki sesuatu yang sifatnya kekal. Karena diri kita ini kekal, maka akan sangat mustahil untuk bisa memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal. Kita menjadi punya rasa memiliki dan ingin segalanya itu berjalan baik pada diri kita, bisa menguntungkan diri sendiri, bisa mengenakkan diri sendiri, bisa memberi kepuasan pada diri sendiri. Dan karena punya rasa memiliki pada suatu yang kekal, maka kita akan cenderung melindungi mati-matian, menjaganya mati-matian, punya semacam kebanggaan dan harga diri dalam taraf tertentu, sehingga kita akan punya kemelakatan yang sangat tinggi pada diri kita sendiri. Diri kita akan selalu kita anggap sebagai sesuatu hal mutlak yang terpenting di dunia. Karena diri kita ini kita anggap entitas yang sama, terkadang kita akan sering berpikiran untuk ingin terus meningkatkan kualitas dari diri kita, ingin mendapatkan raga yang baik, ingin mendapakan nasib yang selalu baik, ingin selalu mendapakan jodoh yang baik dan segala sesuatu yang baik dalam setiap kehidupan yang akan kita lalui. Karena cara pandang yang tidak bisa melihat bahwa segala di dunia ini tidak kekal, kita juga akan melihat bahwa segala kesenangan-kesenangan indrawi itu sebagai sesuatu yang indah, seperti contoh: melihat wanita cantik/pria tampan, melihat barang bagus, mencium bau yang harum, makan makanan yang enak, mendengarkan lagu yang merdu, hubungan seksual, dst. Itu semua ingin selalu kita dapatkan dan kita tidak akan pernah menyadari bahwa semua kesenangan-kesenangan itu sifatnya cuma sementara dan tidak kekal. Karena pola pikir seperti inilah, maka secara alami akan muncul Moha (Keserakahan). Segala kenikmatan indrawi di dunia ini akan selalu kita anggap sebagai sesuatu yang menarik dan menggoda. Akibatnya, semua kesenangan-kesenangan indrawi itu akan selalu kita kejar dan cari, sehingga kita seringkali lupa bahwa semua itu sifatnya tidak kekal. Kita seringkali tidak menyadari, bahwa kesenangan yang sekuat apapun itu tidak ada satupun yang bisa bertahan selamanya. Dan anehnya sebesar dan sesering apapun kita mendapatkan kesenangan-kesenangan indrawi tersebut, seringkali itu juga tetap tidak dapat membuat kita terpuaskan. Maka ada kata-kata yang mengatakan bahwa "sekaya apapun seorang manusia, mereka tetap tidak akan pernah merasa cukup". Yang terjadi biasanya adalah pada saat kita sudah mendapatkan suatu kenikmatan, maka kita cenderung akan menginginkannya lagi, sehingga membuat kita berusaha untuk mendapatkannya lagi dan lagi. Yang terjadi juga, bila kita sudah terbiasa dengan suatu kenikmatan tertentu, maka kita juga bisa akan sangat menderita sekali bila suatu hari kenikmatan itu sudah tidak bisa kita dapatkan lagi. Inilah yang disebut oleh Sang Buddha sebagai kemelekatan. Karena sifatnya yang tidak kekal maka sulit juga kalau mengatakan segala kesenangan-kesenangan indrawi itu sebagai kebahagiaan. Seperti contohnya bila dalam kehidupan ini kita mempunyai seorang pasangan yang sempurna, seberapa lama kesenangan itu bisa bertahan? Bisakah anda tetap bisa mempunyai perasaan dan kesenangan yang sama dengan pasangan setelah bertahun-tahun menikah seperti pada saat anda awal berpacaran?  Andaikan pasangan kita itu sangat baik dan memanjakan kita seumur hidup kita pun, apakah hubungan dengan pasangan tersebut sifatnya kekal abadi? Suatu hari salah satunya juga pasti akan meninggal lebih dahulu dan mau tidak mau kehidupan yang seharmonis dan sebaik apapun tetap harus berakhir juga. Saat kita mempunyai sebuah mobil baru, bisakah kesenangannya bertahan seperti saat hari-hari awal kita membelinya? Dan apakah mobil tersebut juga tidak akan rusak? Bila kita bisa makan sebuah makanan yang sangat enak, apakah kita bisa terus-menerus menikmati makanan tersebut seperti pada saat kita pertama kali memakannya tanpa  merasa bosan sedikitpun? Bila kita merasa tidak bosan pun, apakah jadinya bila pada saat kita sangat ingin makan makanan itu, ternyata kita tidak bisa makan makanan tersebut karena suatu hal? Apa jadinya bila suatu hari karena suatu hal depotnya tiba-tiba tutup? Bila kita di kehidupan ini kita kaya raya, apakah kekayaan tersebut bisa bertahan seumur hidup? Dan bila bertahan seumur hidup pun, apakah itu mampu membuat kita terpuaskan? Bila memang kita terpuaskan, apakah kekayaan itu akan kita bawa pada saat meninggal nanti? Dan masih banyak sekali contoh-contoh ketidakkekalan lainnya yang sering sekali tidak orang pahami. 

Yang masih sangat sulit dipahami oleh kebanyakan orang termasuk dari umat-umat yang mengaku beragama Buddha adalah memahami bahwa diri kita sendiri ini tidak kekal, karena kebanyakan memang masih salah dalam memahami Anicca dan Anatta sehingga masih beranggapan bahwa dalam diri manusia itu ada roh yang kekal. Orang kebanyakan sulit menerima anggapan bahwa diri kita di dalam kehidupan kali ini sebenarnya sudah berbeda dengan diri kita di kehidupan yang akan datang. Kalau kita bisa memahami bahwa diri kita yang kehidupan ini berbeda dengan diri kita di kehidupan yang lain, maka barulah kita benar-benar akan memahami apa itu Anicca (Ketidakkekalan) secara jelas. Selama kita masih berpandangan bahwa diri kita dengan diri kita di kehidupan selanjutnya masih sama, maka akan sangatlah sulit memahami Anicca secara benar, karena kita masih berpandangan bahwa di dunia ini masih ada yang kekal, yaitu diri kita sendiri. Maka PR pertama dari menembus kesadaran menuju pencerahan adalah membenarkan pandangan salah kita mengenai ini. Bila kita sudah benar-benar memahami bahwa semua itu selalu berubah dan tidak kekal, maka lama-lama kita akan kehilangan ketertarikan dengan hal-hal yang ada di dunia ini. Kita akan mengalami pengalaman yang dialami Sang Buddha yang merasa muak dengan segala ketidak kekalan yang ada di dunia ini, dan mulai secara serius melatih diri mencapai kesucian. Dalam istilah Buddhis, disebutkan bahwa salah satu titik awal, orang mulai sadar dan berjalan mengarah ke jalan pembebasan adalah saat mulai muncul Nibida (rasa muak), yang awalnya memunculkan kegandrungan, kemelekatan kemudian menjadi tidak tertarik lagi. Setelah nibida muncul, kita sudah tidak lagi menggandrungi, kecanduan. Kalau batin sudah tidak lagi tertarik, maka sudah tidak ada lagi nafsu (raga). Dalam diri manusia mulai tidak merasa bahwa segala kesenangan-kesenangan indrawi itu sebagai sesuatu hal yang menarik. Akibatnya, batin tidak ada lagi nafsu-nafsu indrawi, sehingga batin ini menjadi terbebas. Batin yang sudah terbebaskan itulah yang disebut yang sudah mencapai tingkat kesucian Arahat.

Nibida (rasa muak) ini akan sangat sulit sekali muncul, bila kita masih merasa bahwa diri kita ini sama dengan diri kita di kehidupan lain. Sang Buddha mengajarkan bahwa setelah manusia meninggal, sebenarnya tidak ada roh yang berpindah atau melanjutkan perjalanan ke kehidupan berikutnya. Saat seorang manusia meninggal, pada dasarnya tidak ada entitas ataupun roh yang berpindah. Tapi keseluruhan manusia yang meninggal tersebut sebenarnya telah hilang dan tidak ada lagi. Yang ada hanyalah karma-karma dan kesadaran yang dibuat oleh manusia tersebut selama kehidupannya sebelum meninggal dan kehidupannya sebelum-sebelumnya, yang selanjutnya akan menjadi faktor pembentuk dari elemen-elemen yang baru, membentuk jasmani baru, membentuk kesadaran baru berdasarkan kesadaran sebelumnya, menciptakan lingkungan-lingkungan baru pada saat terlahir kembali menjadi mahluk yang baru. Mahluk baru di kehidupan selanjutnya itu adalah mahluk yang sama sekali baru dan berbeda dengan manusia tersebut di kehidupan sebelumnya. Tapi mahluk di kehidupan baru tersebut, segala kecenderungan pikiran, batin, lingkungan, dan banyak sekali elemen-elemen lain dalam kehidupannya akan terbentuk dari apa yang ditanam (karma-karma) dari kehidupan-kehidupan dia sebelumnya. Mahluk tersebut sudah bukanlah orang yang sama dengan manusia yang ada di kehidupan sebelumnya. Ini adalah perbedaan besar cara pandang antara orang yang sudah benar-benar memahami ajaran Sang Buddha mengenai Anicca+Anatta dan yang tidak. Bukti nyata yang sangat jelas adalah melihat kehidupan kita yang sekarang. Sangat jelas sekali kita lahir di dunia sudah punya kecenderungan-kecenderungan tertentu, punya bakat-bakat tertentu, punya sifat bawaan tertentu, terkadang punya trauma tertentu, suka makanan tertentu, kesukaan tertentu, dan juga akan mengalami hal-hal tertentu yang kadang sulit dijelaskan. Itu semua sebenarnya terbentuk dari karma-karma dan kesadaran yang lampau. Tapi diri kita ini sudah orang yang baru dan berbeda dengan kelahiran kita terdahulu. 

Banyak orang berimajinasi dan berkeyakinan bahwa ada kehidupan setelah kematian di mana rohnya akan mengalami begini dan begitu, akan masuk ke alam ini dan itu. Tapi coba renungkan saja kehidupanmu saat ini. Tiba-tiba kamu sudah terlahir kembali jadi manusia yang sekarang ini tanpa tahu kehidupanmu yang dulu. Bagaimana bila setelah kematianmu dari kehidupanmu yang sekarang ini, tiba-tiba kamu sudah langsung lahir kembali jadi mahluk yang baru lagi. Kalau ini yang terjadi maka segala imajinasi dan teori-teori yang meyakini bahwa roh akan pergi ke alam mana setelah kematian itu tidak akan pernah terjadi. Dan kalau kita merenungkan dharma dari Sang Buddha, ya memang itu realitas yang selalu terjadi. Saat kita membayangkan akan ada kehidupan setelah kematian, tiba-tiba kita sudah terlahir kembali menjadi mahluk yang baru. Dan ini berulang terus menerus sampai sudah tidak terhingga. Inilah yang disebut roda samsara. 

Salah satu tujuan praktik meditasi di dalam Buddhisme seperti mengamati nafas itu salah satunya adalah juga untuk membangkitkan kesadaran mengenai Anicca ini, untuk menyadari bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Saat bermeditasi, kita akan mengamati nafas itu ditarik dan dihembuskan, kita akan merasakan bahwa nafas itu ada dan kemudian hilang, di saat meditasi sering juga muncul pikiran tapi kemudian hilang. Saat meditasi kita juga terkadang bisa merasa kesemutan, tapi juga lama-lama menghilang. Semua bentuk fenomena tersebut, biasanya dijadikan perenungan untuk benar-benar memahami bahwa pada dasarnya di dunia ini tidak ada yang abadi/kekal. Ini yang juga seringkali tidak dipahami oleh umat Buddha pada umumnya, sehingga masih banyak sekali orang yang sering mempraktikkan meditasi tapi tidak benar-benar tahu fungsinya untuk apa. Saat kita sudah benar-benar melatih batin ini dalam mengamati bahwa segala fenomena di dunia ini sifatnya tidak kekal, maka lama lama dalam diri kita akan timbul Nibida (rasa muak) yang merupakan awal dari langkah kita untuk serius berlatih mempraktikkan apa yang diajarkan Sang Buddha.

Salah satu perenungan yang luar biasa yang saya pernah dengar dari salah satu banthe adalah bagaimana memahami Anicca dan membuat kita tersadar bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal ternyata tidak melulu hanya didapatkan dari meditasi, tapi juga bisa melalui pengamatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Seperti contohnya: Pada saat kita melihat sebuah besi di sebuah tempat. Besi tersebut saat dilihat lagi besoknya tampak sama. Kebanyakan dari kita akan menganggap besi itu tetap. Tapi sebenarnya pandangan itu adalah salah. Apa yang terjadi pada besi tersebut setelah 500 ribu tahun lagi? Apakah besi itu masih besi yang sama? Pengamatan lain juga bisa diamati pada diri kita sendiri. Kita sering beranggapan bahwa diri kita sekarang dengan diri kita di saat kecil itu adalah diri yang sama. Ini sendiri sebenarnya juga bertentangan dengan Anicca itu sendiri. Pernahkah anda sadari bahwa seringkali kita lupa sama sekali dengan pengalaman-pengalaman kita di saat kecil? Pernahkah kita melihat sifat-sifat dan karakter seseorang menjadi berubah setelah berkeluarga? Pernahkah kita melihat bahwa ada banyak sekali orang yang bisa berubah 180 derajat setelah mengalami kejadian yang sangat besar dalam hidupnya. Sebenarnya itu pun adalah bentuk Anicca yang sangat riil. Kita seringkali tidak menyadari bahwa diri kita di satu kehidupan ini saja itu ternyata bisa berbeda. Diri kita di masa kecil bisa jauh berbeda dengan diri kita di masa dewasa. Inilah pembuktian dari Anicca. Maka dikatakan bahwa diri kita hari ini sebenarnya adalah diri kita yang berbeda dengan diri kita kemarin. Pemahaman-pemahaman ini memang harus sering direnungkan dan didalami agar kita benar-benar mengerti inti dari ajaran Sang Buddha yang memang sangat mendalam.

Sebelum saya pribadi mendalami ajaran Sang Buddha, sebenarnya saya juga banyak mendengar konsep ketidakkekalan ini di ceramah-ceramah Yiguandao. Kalau dibandingkan, sebenarnya ceramah di  Yiguandao sendiri memang ada sedikit mengandung konsep Anicca, seperti contohnya yang ada di dalam salah satu ceramah berjudul Hakekat Kehidupan Manusia (人生真諦) yang biasanya dicermahkan pada saat Sidang Dharma (法會). Di tema tersebut, diajarkan supaya kita menyadari bahwa kehidupan ini cuma sementara. Ini sebenarnya mirip dengan ajaran Sang Buddha, sayangnya ajaran di sana tidaklah lengkap, karena tidak menceritakan Anatta (Tidak ada Inti/Atma) atau Kesunyataan. Lagipula motivasi yang dibangun dari kesadaran itu, biasanya diarahkan ke arah yang berbeda. Di fotang Yiguandao, setelah tersadar bahwa semua kehidupan ini adalah sementara, kita biasanya akan dituntut supaya lebih rajin cari umat dan sering datang ke vihara. Karena menurut pandangan Yiguandao, kesucian itu memang bukan dilatih tapi diberikan dan diturunkan, yaitu pada saat qiudao. Di sana diyakini, dengan dititik satu titik itu kita sudah dianggap mencapai tingkat kesucian yang sama dengan tingkat kesucian para Buddha. Penentuan masuk surga atau tidaknya tinggal ditentukan dari bagaimana kita melunasi hutang karma, di mana cara satu-satunya melunasinya adalah dengan aktif di vihara. Karena konsepnya seperti itu, pengembangan dan pelatihan batin terkesan bukan syarat wajib untuk bisa mencapai kesempurnaan walaupun secara teori memang juga tidak jarang ada materi-materi ceramah oleh para penceramah yang menyebutkan bahwa seorang pembina harus melakukan pembinaan ke dalam (内功 Nei gong) dan bisa menjadi teladan bagi yang dilintasi. Mendengarkan penjelasan itu, saya merasa seperti disuruh "Kamu harus punya sifat A, B, C, D, E ya", tapi sama sekali tidak dikasih tahu caranya. Karena di Yiguandao, menghilangkan kekotoran batin bukanlah faktor terpenting dalam mencapai kesucian, ditambah dengan pemisahan yang jelas antara duniawi dan rohani, maka tidak jarang juga kita melihat ada banyak sekali umat yang mempunyai karakter yang sama sekali berbeda pada saat mereka di vihara dengan pada saat di dunia luar. Dan karena fokusnya hanyalah mencari umat dan aktif mengikut segala aktivitas vihara saja sebagai jalan mencapai kesempurnaan, sejujurnya saya juga tidak pernah menemukan umat yang sampai memiliki kesadaran Nibida (rasa muak) dengan kesenangan-kesenangan indrawi walaupun sudah aktif selama puluhan tahun di vihara. Saya pribadi juga tidak pernah memiliki kesadaran seperti itu, bahkan tahu saja tidak, karena saya dulu tidak pernah benar-benar paham apa itu yang disebut dengan Anicca atau ketidakkekalan. 

Saya pribadi selama berpuluh-puluh tahun juga sama seperti orang pada umumnya yang menganggap bahwa dalam diri saya ada roh yang kekal yang secara tidak sadar sangat saya lekati. Mengejar kesenangan-kesenangan indrawi saya anggap adalah sesuatu yang alami dikejar selama kehidupan, karena memang di Yiguandao selalu diajarkan bahwa membina rohani dan duniawi memang bisa dilakukan bersamaan. Mempunyai ambisi, mengejar ketenaran dan kekayaan serta masih mempunyai banyak kemelakatan tetap dianggap bisa mencapai kesempurnaan dan jadi Buddha asalkan rajin dan aktif di segala aktivitas vihara untuk melunasi segala hutang karma. Sementara itu bila kita sudah menyadari Anicca (ketidakkekalan) secara penuh, kita akan menyadari bahwa mengejar semua kesenangan, ketenaran, kesuksesan, kekayaan dan segala hal di dunia ini itu sebenarnya sudah bukan hal yang menarik untuk dikejar mati-matian. Karena pada akhirnya kita pun juga akan tua dan mati. Dan juga setelah selesai di kehidupan ini, kita akan melanjutkan kehidupan selanjutnya sebagai seorang mahluk yang baru. Semua yang dilalui di kehidupan ini hanyalah sementara saja. Kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita ini sebenarnya tidak penting-penting amat. Bahkan orang-orang super terkenal dan super hebat, itu juga tidak kekal. Contoh saja: Marilyn Monroe, Michael Jackson, Pele, Maradona. Generasi alpha sudah banyak yang tidak mengenal mereka semua. Kita di dunia ini cuma datang dan pergi. Begitu seterusnya. Kalau sudah menyadari bahwa kita ini cuma sebentar saja di dunia dan nantinya sudah berganti menjadi mahluk yang baru, masih pentingkah kita berpikir orang lain kenapa kok tidak memperhatikan saya? Kenapa orang lain kok tidak memuji saya ya? Kenapa orang tersebut melakukan hal tersebut ke saya? Saya harus lebih kaya dari dia. Saya harus bisa menjadi orang yang lebih sukses dari dia. Mengapa kok istri saya tidak melakukan begini dan begitu? Coba renungkan. Setelah kita meninggal, setelah lewat 100 tahun, apakah ada orang yang masih mengingat kita? Ya. Tapi memang begitulah hukum ketidakkekalan. Setelah menyadari itu, maka segala ego-ego-an itu menjadi tidak penting lagi. Dan karena kita merasa bahwa hidup ini cuma sementara, kita juga tidak akan merasa harta itu harus dijaga mati-matian dan merasa sedih sekali saat kita kehilangannya, kita akan menjadi jauh lebih tidak baper saat mendapatkan uang dan kehilangan uang, akibatnya kita juga tidak akan merasa kehilangan saat berdana dan menyumbangkan harta kita untuk kebaikan. Kita juga akan lebih ringan dalam berbuat kebajikan karena kita sudah tidak lagi mementingkan balasan dan memiliki ekspetasi ke orang lain harus bersikap seperti apa kepada kita setelah kita melakukan kebaikan. Semua ego pribadi itu bisa dikikis dengan memahami Anicca, Anatta dan Dukha ini. 

Catatan:

Walaupun segala kesuksesan, kekayaan, kemampuan tidak kekal, tapi bukan juga berarti kita bisa bermalas-malasan dan tidak melakukan apa-apa selama hidup. Kalau kita berpandangan seperti itu maka kita akan terjebak pada pandangan Nihilisme, sebuah pandangan yang juga ditolak oleh Sang Buddha. Pandangan benar menurut Sang Buddha adalah Jalan Tengah, di mana kita melakukan apa yang perlu dilakukan dengan sebaik baiknya, tapi jangan sampai kita melekat atau memegang semua yang ada di dunia ini terlalu erat, sampai-sampai kita tidak bisa lepas dari semua itu. Kalau diibaratkan seperti di postingan saya sebelumnya, kehidupan kita yang sementara ini kita ibaratkan seperti kita memainkan sebuah peran dalam drama pentas ataupun film. Peran itu cuma sementara, tapi bukan lantas kita berakting asal-asalan dan bikin drama/filmnya jadi hancur dan gak bagus. Kita tetap berperan, belajar dan mendalami peran kita sebaik-baiknya, tapi kita tidak melekat pada peran tersebut, merasa seolah-olah peran itu kekal. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjemahan dan Penjelasan 彌勒救苦真經 Mi Le Jiu Ku Zhen Jing (Sutra Buddha Maitreya Menyelamatkan dari Penderitaan)

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan terjemahan bahasa Indonesia dari kitab suci  彌勒救苦真經  Mi Le Jiu Ku Zhen Jing, salah satu kitab suci yang paling sering dibaca oleh para pengikut Yiguandao di vihara mereka. Terjemahan ini adalah hasil terjemahan saya pribadi dengan mengacu dari arti huruf per huruf-nya dan tentunya dibantu dengan referensi beberapa hasil terjemahan dari beberapa kalangan Yiguandao. Terjemahan dan penjelasan saya di sini bukanlah apa yang saya yakini secara pribadi, melainkan adalah arti dan makna dari kalimat per kalimatnya berdasarkan apa yang diyakini oleh kalangan Yiguandao. 

Studi tentang Yiguandao (Bagian 1) - Tiga Masa Pancaran 三陽

Di kalangan Yiguandao (di Indonesia lebih dikenal dengan Aliran Maitreya), kita sering mendengar kata-kata " 道真理真天命真 " yang artinya adalah Tao sejati, Kebenaran sejati dan Firman Tuhan sejati . Karena 理真 kebenaran sejati sering disebutkan di banyak ceramah yang diadakan di vihara kalangan Yiguandao, para umat Yiguandao akan beranggapan apa yang diceramahkan adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak mungkin salah.  Saya pun menyakini demikian selama puluhan tahun. Saya pribadi sebenarnya sudah sejak dulu hobi membaca dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa kalau disuruh menelan mentah-mentah sebuah ajaran dan langsung mengyakininya sebagai dasar keyakinan tanpa melakukan crosscek terlebih dahulu. Masalahnya dulu kita punya keterbatasan dalam hal akses sumber literasi. Jaman dulu satu-satunya cara untuk mendapatkan akses ke buku-buku literasi adalah dengan menemukan buku-buku fisiknya. Belum ada internet dan belum ada device-device canggih seperti sekarang. Mendapatkan b...

Terjemahan dan Penjelasan Daodejing 道德經 (Bab 1) Tao dan Nama

Sudah cukup lama, saya tertarik belajar mengenai Tao Te Cing dan baru tahun ini saya mulai serius mempelajarinya. Sebenarnya saya pernah mendengar beberapa kali penjelasan tentang Dao De Jing ini di vihara Yiguandao tempat saya sembayang dulu, tapi saya tidak pernah benar-benar mengerti penjelasannya karena sepertinya apapun bunyi baitnya, penjelasannya selalu diarahkan dengan narasi dan doktrin versi mereka sendiri. Karena itu saya memutuskan untuk belajar sendiri mengenai Tao Te Cing ini langsung dari teks aslinya. Karena saya sudah menguasai sedikit bahasa mandarin, saya mengartikan tiap kata-katanya langsung dari bahasa mandarinnya dibantu dengan kamus untuk memahami lebih dalam per katanya. Untuk membantu pemahaman, saya membaca beberapa buku penjelasan mengenai Tao Te Cing yang bagus salah satunya adalah buku Dao De Jing Kitab Suci Agama Tao tulisan Dr. I. D. Like Msc dan Dao De Jing The Wisdom of Laozi tulisan Andi Wang . Ada juga beberapa buku terjemahan Dao De Jing berbahasa I...