Ini adalah buku akademis kedua yang secara eksklusif membahas tentang Yiguandao selain buku The Transformation of Yiguan Dao in Taiwan Adapting to a Changing Religious Economy karya Lu Yunfeng yang pernah saya baca. Sebenarnya ada banyak buku yang membahas Yiguandao yang telah saya baca. Tapi biasanya buku-buku lain membahas agama atau sejarah secara umum dan Yiguandao hanyalah salah satu bagian dari topik yang dibahas dalam buku-buku tersebut. Memang tidak banyak buku akademis yang membahas secara khusus tentang Yiguandao saja. Secara keseluruhan, buku ini bagi saya cukup menarik. Penulisnya sendiri saya sudah tidak asing, karena dialah yang menulis buku mengenai sejarah Yiguandao di Indonesia dengan cukup detail dalam bukunya yang berjudul 從臺灣到世界:二十一世紀一貫道的全球化 yang belum selesai kubaca. Buku Reclaiming the Wilderness ini melengkapi dan membahas sisi lain yang tidak dibahas oleh Lu. Bagi saya pribadi, bagian yang paling menarik dalam buku ini ada di Bab 2 dan Bab 4. Bab 2 tentang bagaimana masyarakat Yiguandao membangun karisma dalam diri para pemimpinnya dan bab 4 tentang perkembangan dan strategi Yiguandao yang berusaha untuk diterima di daratan Tiongkok.
Bagian pertama dari buku ini mengeksplorasi bagaimana proses para pengikut Yiguandao dari awal Qiudao (memohon Tao) sampai bisa menjadi seorang misionaris yang terlibat dalam pengembangan kelompok. Karena saya pribadi dulunya adalah umat Yiguandao, saya bisa menkonfirmasi bahwa tulisan dalam buku ini benar adanya. Proses paling penting setelah qiudao agar umat bisa mulai terdoktrinisasi adalah menghadiri yang namanya sidang dharma (法會 fahui). Salah satu teknik dari Yiguandao yang saya pribadi akui cukup hebat, brilian dan efektif adalah bagaimana kelas tersebut dikemas sedemikian rupa agar bisa membuat yang ikut menjadi mempertanyakan arti hidup serta dibuat terketuk dan terharu dengan tema Vegetarian dan Berbakti. Kelas kemudian ditutup dengan pengucapan ikrar para murid-murid yang telah tersentuh secara emosional dengan pengucapan ikrar sebagai ikatan agar semangat dan tekad mereka bisa bertahan lama. Kelas ini memang berperan sangat penting untuk mengukuhkan iman umat-umat yang baru agar bisa berubah menjadi kader-kader yang ikut mengembangkan kelompok.
Bagian kedua buku ini membahas tentang kepemimpinan para-para tokoh Yiguandao dan secara khusus menjelaskan bagaimana kelompok Yiguandao khususnya grup Fayi (yang kebetulan dijadikan study case) mempertahankan kharisma para pemimpin mereka bahkan ketika mereka telah meninggal dunia. Bagian ini juga membahas secara rinci tentang sosok Zhang Tianran, yang tentu saja di vihara-vihara Yiguandao tidak akan pernah dijelaskan sedetail di buku ini.
![]() |
Hagiografi yang biasanya diceramahkan di vihara Yiguandao biasanya berdasar pada buku ini |
Hal yang paling mengejutkan saya adalah tiga kali pernikahan Zhang Tianran, penolakan para murid patriark Lu atas pengangkatan dirinya sebagai patriark berikutnya, penggambaran dirinya dalam dokumen resmi pemerintah China yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dijelaskan buku-buku Yiguandao, penjeblosan dirinya ke penjara, keterlibatannya dalam dunia politik, versi kematian lain dari Zhang yang dihukum mati oleh pemerintah, serta kisah tragis keluarga-keluarganya yang dihukum mati dan dipenjara. Saya bisa memaklumi mengapa Yiguandao cenderung menyembunyikan beberapa fakta mengenai Zhang Tianran ini. Karena fakta-fakta tersebut akan sangat mempengaruhi image yang susah payah dibangun dengan teknik-teknik hagiografi yang mendewakan sosok beliau yang dicitrakan seperti dewa yang sempurna di vihara.
Bagian ketiga membahas bagaimana kelompok yiguandao menggunakan ajaran Konghucu dan ajaran Berbakti kepada orang tua untuk memperbaiki image yang kurang baik di masa lalu serta meredakan ketegangan antara kelompok mereka dan kelompok luar termasuk pemerintah China daratan yang sangat anti dengan mereka di masa lalu. Saya harus mengakui bahwa strategi Yiguandao untuk mulai menggunakan Konfusianisme sebagai ajaran utama yang dominan sebagai doktrin mereka adalah strategi yang tepat. Justru saya pribadi menyarankan agar semua grup kalangan Yiguandao bisa meniru cara-cara grup Fayi yang lebih memprioritaskan ajaran Konfusius dan sebisa mungkin mulai mengurangi atau bahkan meninggalkan doktrin akhir jaman dan ajaran-ajaran Buddhisme yang sering disorot dan memicu perdebatan akibat banyak ajaran-ajaran mereka yang sangat berbeda dan melenceng dari ajaran-ajaran Sang Buddha. Sayang sekali strategi ini tidak digunakan oleh vihara kelompok saya dulu dan mereka masih saja bersikukuh mempertahankan cara-cara kuno di mana banyak ceramah-ceramah di vihara masih didominasi dengan tema-tema bencana akhir jaman dan tema-tema hagiografi tokoh-tokoh senior yang cenderung berlebihan.
Bab terakhir, bab 4, membahas strategi organisasi Yiguandao untuk membuka ladang baru agar bisa masuk kembali ke daratan Tiongkok. Bab ini adalah tema yang secara khusus membahas judul dari buku ini yaitu Reclaiming the Wilderness, yang artinya merebut kembali wilderness (hutan belantara), yang maksudnya mencoba untuk bisa membuka ladang baru (membuka cabang baru) di China daratan yang dulunya merupakan asal usul Yiguandao, sebelum akhirnya diberantas habis oleh pemerintahan Komunis di tahun 1949. Strategi yang digunakan oleh kelompok-kelompok Yiguandao adalah mempromosikan ajaran-ajaran Konfusius dan ajaran Berbakti dalam bentuk kelas-kelas pembelajaran kitab Konfusius dan kitab 100 Bakti (百孝經). Walaupun strategi ini belum sampai membuat Yiguandao menjadi legal dan diperbolehkan disebarkan di Tiongkok, hasil nyatanya sepertinya mulai tampak di mana sudah mulai ada komunikasi yang terjalin antara petinggi-petinggi Yiguandao dengan para pejabat China daratan. Tapi beberapa waktu lalu saya masih mendengar berita mengenai senior-senior Yiguandao yang ditangkap di China, salah satunya adalah link berikut ini. Menurut Billioud yang saya juga sepakat, usaha-usaha Yiguandao agar bisa diterima lagi di China memang sangat cantik, tapi sepertinya hasil akhirnya tidak akan banyak berubah dalam waktu dekat sampai adanya perubahan besar dalam dunia politik negeri China.
Komentar