Sebenarnya buku ini sudah aku beli sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Tapi karena banyak kesibukan, buku ini tidak sempat terbaca sampai saat ini. Tahun ini saya mempunyai target untuk bisa membaca lebih dari 30 buku dalam 1 tahun. Dan beberapa bulan terakhir saya fokus mulai membaca semua buku-buku yang dulu saya sempat beli. Dan buku terakhir yang selesai saya baca adalah buku yang berjudul Blink * The Power of Thinking Without Thinking ini. Buku ini ditulis oleh Malcolm Gladwell, seorang penulis yang menulis buku The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference yang juga sudah selesai saya baca bertahun-tahun yang lalu. Untuk bukunya yang ini, sebenarnya topiknya gak terlalu menarik-menarik amat. Mungkin itulah sebabnya buku ini terlewat kubaca setelah kubeli beberapa tahun lalu. Buku ini membahas mengenai Blink yaitu semacam kekuatan pikiran yang didapatkan sebelum kita mulai berpikir atau menganalisa. Istilah Blink ini kalau dalam bahasa sehari-hari orang Indonesia mungkin adalah semacam insting atau feeling sekejap pada saat kita melihat sesuatu beberapa detik pertama. Jadi biasanya kita akan mempunyai semacam kecenderungan pada sesuatu berdasarkan apa yang ada di bawah sadar kita dengan pikiran-pikiran yang sekejap.
Ada cukup banyak cerita yang diceritakan dalam buku ini yang sebenarnya cukup oke, paling tidak itu tidak membuat buku ini terlalu membosankan. Beberapa di antaranya adalah cerita di awal buku yang menceritakan tentang pembelian barang seni oleh Paul Getty Museum di California, di mana ada seseorang pakar seni yang bisa mengetahui bahwa suatu karya seni itu asli atau bukan tanpa menelitinya terlalu lama. Pakar tersebut bahkan punya semacam feeling akibat profesinya yang telah dijalaninya bertahun-tahun sehingga melahirkan semacam kemampuan yang disebut sebagai Blink yang dapat mengalahkan kemampuan analisa menyeluruh dan lengkap orang-orang yang tidak punya kemampuan insting tersebut. Kemampuan blink ini juga ada pada seorang pelatih tenis ternama bernama Vic Braden yang bisa mengetahui pemain akan melakukan double fault bahkan pada saat pemain akan memukulkan raketnya.
Buku ini dipenuhi dengan hasil-hasil penelitian yang saya yakin tentu membutuhkan passion yang besar dan usaha yang tidak mudah, tapi jujur saya tidak terlalu mendapatkan banyak manfaat dari hasil-hasil penelitiannya. Sejauh ini yang saya rasakan bahwa Blink (semacam insting) ini tidak selalu diandalkan untuk mengambil keputusan, karena dalam banyak kasus, ada insting yang keliru ada juga yang ternyata benar. Buku ini pun menyanjikan cerita-cerita saat blink itu bekerja dengan baik, seperti contohnya apa yang dilakukan John Gottman, apa yang dilakukan oleh Van Riper pada uji coba Millenium Challenge yang diadakan Pentagon, apa yang dilakukan Brendan Rielly di RS Cook County Hospital. Tapi juga ada kesalahan-kesalahan insting yang terjadi seperti pada terpilihnya Presiden Warren Harding, sulit suksesnya musisi rock bernama Kenna, dan kasus terbunuhnya seorang pria kulit hitam bernama Diallo oleh 4 polisi Amerika akibat salah mencurigainya.
Diungkap pada buku ini di bab 6, bahwa pada kasus Diallo terjadi yang dinamakan split second syndrome, sebuah kondisi orang mencapai state of arousal yang terlalu tinggi hingga kesadarannya dan otaknya seolah-olah tidak bekerja. Kondisi ini sama seperti cara orang autis memandang sesuatu. Ini biasanya terjadi pada saat kita mengalami sesuatu yang sangat menegangkan, sesuatu yang sangat mencekam, atau hal-hal yang kita shock, bisa terjadi saat kita naik panggung pertama kali, saat polisi bertugas dengan senjata untuk pertama kalinya, dll.
Secara keseluruhan, saya gak terlalu banyak mendapatkan manfaat dari membaca buku setebal 316 halaman ini. Ya, saya mendapatkan beberapa pengetahuan mengenai contoh-contoh hal di dunia di mana terkadang Blink bekerja baik, tapi ada juga contoh-contoh di saat Blink tidak bekerja. Tidak ada hal konstruktif atau pelajaran penting yang bisa diaplikasikan dalam hidup yang saya dapat dari buku ini. Satu-satunya pelajaran yang saya dapat dari buku ini adalah bahwa kita bisa melatih atau mempersiapkan diri agar jangan sampai terkena split second syndrome dengan cara melatih diri membiasakan diri berada di kondisi di mana kita biasanya merasa blank.
Komentar