Tanggal 18 Agustus 2024 kemarin bertepatan dengan tanggal 15 bulan 7 Imlek, yang dalam bahasa mandarin disebut 七月半 Qi Yue Ban (Ji Yue Pan). Sebuah istilah yang terasa familiar bila ada sanak famili kita yang masih menjaga tradisi turun temurun dari leluhur. Qi Yue Ban sendiri juga dikenal dengan nama Zhongyuan Festival atau Ghost Day atau kadang disebut Ghost Festival. Hari ini diyakini menjadi hari dibukanya pintu neraka (地狱 diyu atau preta) sehingga para hantu dan roh, termasuk roh para leluhur yang telah meninggal keluar dari alam bawah. Oleh karena itu biasanya keluarga-keluarga yang masih menjaga tradisi ini akan mempersembahkan makanan dan akan membakar dupa serta kertas di rumah masing-masing. Di rumah saya, Papa dan Mama saya masih melakukan tradisi ini sehari sebelum tanggal 15 imlek-nya, yaitu tanggal 17 Agustus 2024 kemarin (bertepatan dengan hari kemerdekaaan Indonesia). Hari qi yue ban ini merupakan kebalikan dari hari Qingming Jie (Hari Membersihkan Kuburan Leluhur) di mana saat Qingming, keturunan leluhur yang meninggallah yang berkunjung ke kuburan leluhur untuk memberi penghormatan. Sementara itu saat Qiyue Ban, diyakini leluhurlah yang datang berkunjung ke para keluarga yang masih hidup.
Perayaan Qi Yue Ban di Indonesia
![]() |
Persembahanan Makanan pada saat Qi Yue Ban di rumah saya |
Qi Yue Ban menurut Agama Buddha
Dalam agama Buddha, kisah asal-usul Festival Hantu ini berasal dari India kuno, yang berasal dari kitab suci Mahayana yang dikenal sebagai 盂蘭盆經 Yulanpen atau Sutra Ullambana. Sutra ini mencatat waktu ketika Maudgalyayana mencapai abhijñā dan menggunakan kekuatan yang baru ditemukannya untuk mencari orangtuanya yang telah meninggal. Maudgalyayana menemukan bahwa ibunya yang telah meninggal terlahir kembali ke alam preta atau alam hantu kelaparan. Dia berada dalam kondisi yang menyedihkan dan Maudgalyayana mencoba membantunya dengan memberinya semangkuk nasi. Sayangnya, sebagai seorang preta, dia tidak dapat memakan nasi tersebut karena nasi tersebut berubah menjadi batu bara yang terbakar. Maudgalyayana kemudian meminta Buddha untuk membantunya; kemudian Buddha menjelaskan bagaimana seseorang dapat membantu orang tua yang masih hidup dan orang tua yang telah meninggal di kehidupan ini dan di tujuh kehidupan lampaunya dengan memberikan persembahan makanan, dan lain-lain, kepada sangha atau para bikhu selama Pravarana (akhir dari musim hujan atau vassa), yang biasanya terjadi di hari ke-15 dari bulan ketujuh dimana para bikhu akan melimpahkan jasa-jasa kepada orang tua yang telah meninggal.
Bentuk-bentuk perayaan Theravada di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Pchum Ben di Kamboja) jauh lebih tua, berasal dari Petavatthu, sebuah kitab suci dalam Kanon Pali yang mungkin berasal dari abad ke-3 S.M. Kisah Petavatthu secara garis besar mirip dengan yang kemudian dicatat dalam Yulanpen Sutra, meskipun kisah ini lebih banyak menyangkut murid Sāriputta dan keluarganya daripada Moggallāna.
Komentar