Kali ini saya akan membahas sebuah film yang sempat menjadi sensasi karena berhasil menjadi peringkat pertama dalam peringkat tayangan Netflix tertinggi periode 12-18 Desember 2022. The Big 4 merupakan film bergenre action, comedy dan dirilis pada 15 Desember 2022 oleh rumah produksi Frontier Pictures. The Big 4 menceritakan tentang beberapa tokoh yang bernama Topan, Jenggo, Pelor, dan Alpha. Mereka merupakan sekelompok orang yang berusaha mengentas kejahatan yang dilakukan oleh sindikat penjual dan penyalur organ tubuh ilegal. Diketahui bahwa sindikat tersebut diketuai oleh petinggi. Dalam misinya, mereka telah membunuh banyak orang. Diketahui tujuan utamanya adalah untuk membebaskan anak-anak yang hampir saja menjadi korban penjualan organ tubuh.
Saya pribadi jujur masih memberikan review 5/10 untuk film ini di twitter, herannya ada beberapa orang yang menghujatku katanya selera filmku aneh, saya juga dibilang kalau cari film yang realistis ya gak usah nonton film. Saya sendiri orang Indonesia, tapi saya pribadi berusaha sebisa mungkin tidak bias atau overpride terhadap film-film Indonesia. Kalau kualitasnya memang kurang, bakal jujur kubilang kurang. Tapi memang selama ini orang Indonesia terkenal di dunia sebagai orang yang terlalu overpride dengan negara mereka sendiri. Akibatnya banyak juga yang jadi sangat bias dengan film-film buatan Indonesia. Bahkan tidak jarang mereka menjadi buzzer dari film-film tersebut dengan cara menghujat orang-orang yang memberikan review jelek. Saya sendiri menjadi korban hujatan netizen akibat memberikan review jujur atas film ini.
Kembali dengan film The Big Four ini, hal yang patut kuacungi jempol dari film ini adalah visual efeknya yang oke punya. Efek-efek gore-nya yang sadis bisa dibilang gak kalah dengan film-film buatan Hollywood sekalipun. Yang sangat disayangkan ini tidak diimbangi dengan hal-hal lain, seperti contohnya senjata-senjatanya yang kelihatan seperti mainan. Sedangkan untuk aksi pertarungan dan tembak-tembakannya saya gak ada hal yang bisa terlalu dikritik. Masih cukup bagus untuk ditonton, walaupun gak bisa dibilang ada yang spesial juga. Hal yang cukup bikin film ini unik dibanding film-film Indonesia pada umumnya tentu saja bahasa-bahasanya yang kasar dan tingkat kekerasannya yang tergolong cukup tinggi. Saya yang bukan tergolong kelompok orang yang anti akan hal ini tentu saja oke-oke aja.
Karena film ini adalah film komedi, maka sisi komedinya lah yang menjadi keunggulan utama dari film ini. Bicara masalah komedi ini biasanya sih balik lagi ke masalah selera. Komedi seringkali tidak cocok ke beberapa kelompok orang yang budayanya jauh berbeda, tapi karena saya orang Indonesia dan gambaran kondisi serta latar belakang yang ada di film ini memang sama dengan kehidupan sehari-hariku maka sebenarnya menurutku bukan ini masalahnya. Bagiku komedi dalam film ini memang terasa cringe dan sama sekali gak menghibur. Mungkin satu-satunya adegan yang berhasil menggelitikku Cuma bagian akhirnya di mana tokoh utamanya bilang "Sumarto".
Bagian yang menurutku sangat-sangat kurang dari film ini terletak pada plot ceritanya serta dialog-dialognya yang terkesan agak asal-asalan. Saya masih belum terlalu merasakan ini di 15 menit pertama, tapi masuk ke pertengahan film sampai akhir, film ini benar-benar kewalahan menghadirkan sesuatu yang membuatku betah untuk menonton. Ditambah lagi durasi film ini juga tergolong panjang untuk film tipe ini. Jadinya saat menonton saya memang agak merasa bosan, terutama mulai adegan si Topan yang kedatangan si Dina di penginapan yang dikelolanya. Sebenarnya ide dasarnya cukup oke, sayangnya eksekusinya benar-benar lemah, sehingga terasa plot satu sama lainnya terasa tidak nyambung ditambah lagi dengan humor-humornya yang sama sekali gak lucu.
Overall... ini adalah film yang terlalu panjang, ribet dan lemah.
Komentar