Daftar Tempat Wisata yang dikunjungi di hari kedua :
- Grand Palace
- Wat Pho
- Wat Arun
- Khaosan Road
Setelah tertunda, akhirnya hari ini, kami akan menuju tempat destinasi wisata wajib dari kota Bangkok yaitu kawasan Grand Palace dan sekitarnya. Kayaknya kalau ke Bangkok memang belum lengkap kalau belum ke tempat ini. Soalnya ini adalah tempat yang memang menjadi ciri khas dari kota Bangkok. Kalau sampai tidak ke sini mungkin ibarat seperti anda pergi ke Bali tapi tidak ke pantai Kuta atau pergi ke Yogyakarta tapi tidak ke candi Borobudur.
Grand Palace ini sendiri lokasinya dekat dengan sungai Chao Praya yang menjadi sungai terbesar yang melintasi kota Bangkok. Oleh karena itu pilihan transportasi yang paling banyak digunakan untuk menuju tempat ini adalah dengan menggunakan perahu. Penggunaan perahu sebagai sarana transportasi umum ini mungkin akan jarang anda temui di negara-negara lain, selain di Thailand (khususnya Bangkok).
Di area sekitar Grand Palace, ada beberapa tempat wisata lain yang bisa dikunjungi. Selain Grand Palace, ada juga Wat Pho, Wat Arun, National Museum dan Kao Shan Road, dll. Biasanya sih semua tempat ini sangat cocok bila dikunjungi semua dalam hari yang sama. Tapi ada 1 hal yang patut diperhatikan di sini yang mungkin tidak banyak disebutkan oleh para traveller, yaitu cuacanya yang luar biasa panas. Saat saya datang ke sini, beberapa anggota keluarga saya tidak tahan dengan panas yang begitu menyengat selama di area ini. Apalagi bila anda memutuskan untuk masuk ke area Grand Palace yang luar biasa luas. Karena tidak ada tempat yang teduh, dan waktu berkunjung biasanya adalah pada siang hari, maka banyak orang yang tidak tahan panas tidak akan kuat berlama-lama di sini.
Sebelum menuju ke Grand Palace, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu di daerah dermaga Saphan Taksin. Untuk menuju ke dermaga ini, kita bisa mengambil BTS Silom Line dan turun di stasiun Saphan Taksin. Kami makan di sebuah depot vegetarian lokal yang berjarak sekitar 500 meter dari stasiun BTS. Ada sedikit kejadian lucu di sini. Karena kami makan di tempat yang mungkin cukup jarang dikunjungi turis luar negeri, penjaga depotnya pun tidak bisa berbahasa Inggris. Akhirnya kami pun memesan dengan cara menunjuk dan menggunakan bahasa tubuh.
Hari ini saya mencoba mie kuah ala Thailand. Rasanya lumayan, cuma terus terang saya tetap lebih suka dengan mie buatan Indonesia. Hehe…
Selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Grand Palace. Dermaga Saphan Taksin ini lokasinya persis setelah Exit 1 atau Exit 2 dari stasiun BTS Saphan Taksin (persis setelah turun tangga).
Di Saphan Taksin ini sendiri dibagi menjadi 2 jalur, yaitu jalur yang menuju ke Asiatique (ada jalur tunggu yang belok kiri) dan jalur yang menuju ke utara yaitu ke tempat-tempat seperti Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun, Khaosan, dll (jalur tunggu yang ada tepat di belakang loket). Bila anda menuju ke Asiatique, tarifnya gratis. Sedangkan untuk ke Grand Palace dan tempat wisata lainnya ada tarifnya.
Perahu yang menuju ke Grand Palace sendiri ada 2 jenis, yaitu perahu bendera orange, dan perahu bendera biru. Sebenarnya kedua perahu ini sama saja. Cuma karena tarif perahu bendera biru yang lebih mahal maka perahu bendera biru relatif lebih sepi. Jadi kalau anda ingin lebih nyaman tidak berdesak-desakan saat naik perahu, anda bisa naik perahu dengan bendera biru. Tarifnya adalah 40 Baht / orang. Tiketnya dapat anda beli di loket yang ada di dermaga. Sedangkan bila ingin naik perahu bendera orange, anda bisa langsung menunggu di jalur tanpa perlu membeli tiket, karena pembayaran dilakukan saat berada di dalam perahu. Harga tarif untuk perahu bendera orange ini adalah 15 Baht / orang.
Selain di Grand Palace, perahu ini juga bisa mengantarkan kita bagi yang ingin ke titik-titik lain, seperti contohnya Chinatown, Wat Pho, Kaoshan Road, dll. Untuk lebih lengkapnya anda bisa melihat peta perhentian kapal berikut ini :
Pada akhirnya kami naik perahu berbendera biru karena adik saya ternyata sudah membeli tiket dan dia belum mengerti kalau ada pilihan lain yaitu menggunakan perahu berbendera orange dengan tarif jauh lebih murah. Tapi memang lebih enak juga sih naik perahu berbendera biru karena perahunya agak kosong, sehingga kita bisa duduk dengan nyaman dan menikmati pemandangan.
Entah kenapa, perahu yang kita naiki akhirnya turun di Maharaj (seharusnya turun di Tha Chang). Turun dari perahu, kita melewati semacam pertokoan dan keluar ke jalan raya. Karena turun di Maharaj, maka kita harus berjalan kaki lagi sekitar 500 meter menuju ke pintu masuk dari Grand Palace.
Dan setelah berjalan menuju ke pintu masuk Grand Palace, alangkah kecewanya kami ternyata tempat itu tutup. Hari itu ternyata bertepatan dengan Visakha Bucha (Buddha Day). Pada saat perjalanan ke sini, sebenarnya kami bertemu dengan seorang pria yang merupakan warga lokal Thailand di stasiun transit BTS Sala Daeng dan dia telah memberitahukan kepada kami bahwa Grand Palace hari ini tutup. Tapi karena sebelumnya saya mendapatkan banyak informasi bahwa para penipudi Bangkok (umumnya adalah para supir tuk-tuk) biasanya mencari mangsa dengan bilang bahwa Grand Palace tutup, maka kami pun tidak mempercayainya. Karena hal itulah kami jadi merasa bersalah telah menuduh yang bukan-bukan kepada bapak tersebut.
Karena Grand Palace tutup, kami pun langsung menuju ke Wat Pho yang berjarak sekitar 1 km dari Grand Palace. Karena cuacanya yang sangat terik dan jarak yang lumayan, beberapa dari anggota keluarga saya mulai kepayahan. Kami akhirnya sampai ke Wat Pho sekitar jam 12 siang. Untungnya tempat ini tidak ditutup seperti Grand Palace hari itu. Sebelum masuk ke Wat Pho, saya menyempatkan untuk membeli ice coconut seharga 50 Baht yang dijual di pinggir jalan. un… rasanya biasa aja sih. rasanya tidak terlalu istimewa. Setelah menghabiskan es, kami pun masuk ke dalam Wat Pho (The Temple of Emerald Buddha).
Wat Pho (The Temple of Reclining Buddha)
Cara ke sana : Naik BTS dan turun di BTS Saphan Taksin. Dari BTS Saphan Taksin menuju Dermaga. Naik perahu dan turun di dermaga N8 (Tha Thien)
Wat Pho ini adalah kuil yang terkenal dengan patung Buddha tidur raksasa di dalamnya. Selain itu tempat ini bisa juga menjadi tempat-tempat untuk bersembayang bagi para umat Buddha. Selain patung Buddha raksasa, ada juga beberapa kuil-kuil dengan dekorasi khas Thailand yang unik. Karena yang lain masih kecapekan akibat berjalan dari Grand Palace, saya dan adik saya saja yang berkeliling di area Wat Pho ini.
Dari Wat Pho, seharusnya kami ingin menuju ke Wat Arun, tapi karena saat naik perahu tadi kami melihat Wat Arun sedang dipugar dan beberapa dari kami sudah kecapekan, maka kami memutuskan untuk langsung kembali ke hotel untuk beristirahat dulu. Kami pulang menggunakan perahu lagi menuju ke Saphan Taksin dan kembali ke hotel menggunakan BTS. Bila ingin menuju ke Wat Arun dari Grand Palace / Wat Pho, anda bisa menggunakan perahu kecil dengan tarif hanya 3 Baht saja untuk menyeberang.
Kami sampai di hotel jam 16:00. Dan saat itu sao2 (kakak ipar) dan adik ipar saya tampaknya belum puas dengan hasil berbelanja kemarin di Platinum Fashion Mall. Oleh karena itu mereka ingin pergi ke sana sekali lagi. Dan kami pun memutuskan untuk berpencar. Saya dan adik saya pergi traveling sendiri kembali ke area Grand Palace tadi, tapi tujuan kami adalah ke Khaosan Road. Karena menggunakan perahu memakan banyak waktu, kami memutuskan untuk naik bis supaya pulangnya nanti tidak sampai terlalu malam.
Untuk menuju ke Khaosan Road, kami pergi mencegat bis yang melewati Sukhumvit Road. Halte bisnya ada di seberang jalan dari Terminal 21. Untuk memastikan bis yang dinaiki benar, kami bertanya ke petugas bis apakah benar bis ini melewati Khaosan Road. Ternyata benar, dan akhirnya kami naik bis No 2. Bis umum di Thailand ini kurang lebih mirip seperti di Indonesia. Bisnya cukup tua, kurang terawat dan tidak ada AC. Bagi yang ingin kenyamanan, mungkin memang tidak disarankan naik ini. Tapi saya pribadi adalah orang yang suka traveling dengan mencoba semua hal, termasuk naik kendaraan umum seperti ini. Dan tidak disangka ternyata bis ini melewati daerah Siam, termasuk juga Big C, Platinum Mall, Pratu Nam, dll. Karena pada saat itu adalah jam yang cukup sibuk, maka kami pun terjebak macet di daerah shopping ini, dan baru sampai di Khaosan Road sekitar jam 18:30 (sekitar 45 menit perjalanan).
Khaosan Road
Tempat ini sering disebut sebagai surga kaum Backpacker. Setelah sampai di sini, kami tidak heran dengan sebutan tersebut. Tempat ini ternyata cukup ramai dan suasananya cukup romantis. Dan orang yang berlalu lalang di sini kebanyakan adalah turis. Suasana begini mirip seperti di Legian, Bali. Ada banyak sekali penginapan, penjual makanan dan barang-barang dengan harga terjangkau di sini. Satu-satunya kekurangan dari Khaosan mungkin adalah tidak adanya BTS / MRT stasiun yang dekat.
Asyiknya lagi di daerah ini ternyata banyak sekali depot vegetarian. Dan kami pun memutuskan untuk makan malam di sini. Dan dari beberapa depot yang ada pilihan kami jatuh ke Maykaidee’s Restaurant. Lokasi depotnya ini sendiri cukup tersembunyi dan jalannya cukup sepi. Tapi di jalan ini ada 3 depot vegetarian yaitu, Ethos, Number One dan Maykaidee’s.
Karena agak bosan dengan makanan seperti mie dan nasi, saya pun kali ini mencoba menu Seaweed New Roll sebagai makan malam. Sedangkan adik saya memesan Tempura dan nasi goreng. Rasanya cukup lumayan, meskipun tidaklah istimewa. Setelah makan, kami pun lanjut berjalan-jalan mengelilingi daerah Khaosan Road ini.
Setelah puas berkeliling selama 1 jam lebih, kami pun pulang. Tidak beruntungnya, pada saat itu ternyata mulai gerimis. Dan kami menunggu di halte yang ada di jalan besar Ratchadamnoen Klang Road. Karena agak lama menunggu bis yang bisa langsung turun di daerah Asok, maka kami pun naik bis yang melewati daerah Siam, dan memutuskan untuk pulang menggunakan BTS ke Asok. Akhirnya kami naik bis no 15. Ada kejadian lucu di sini. Pada saat kami naik bis, kami sedikit bingung karena tidak ada petugas yang menarik bayaran untuk karcis bis seperti waktu kami berangkat sebelumnya. Dan saya dan adik saya pun saling bingung dan terus bertanya-tanya, berapa tarif bis ini bila nanti turun, dan bayarnya harus ke supirnya langsung atau bagaimana. Kami pun menunggu sampai ada penumpang yang turun dan memperhatikannya. Ternyata yang turun saat itu adalah seorang biksu. Dan kami pun bertanya-tanya lagi apakah biksu memang tidak perlu membayar bis bila bepergian di Thailand. Dan kami pun terus menunggu penumpang untuk turun supaya tahu apakah bis itu bayar atau tidak. Dan ternyata penumpang berikutnya yang turun adalah seorang biksu lagi (Ohhh… Tidakkk). Dan hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Di jalan sebelum Siam, akhirnya ada orang yang bukan Bikshu yang turun. Dan ternyata dia tidak bayar juga. Nah. Saat bisnya melewati Siam, kami terjebak macet luar biasa. Karena posisi bis saat itu sudah tidak jauh dari stasiun BTS Siam, akhirnya saya bersama penumpang lain yang kebetulan bule memutuskan untuk turun.
Dan setelah kami turun, barulah kami memperhatikan. Ternyata di bis tersebut ada plat biru di daerah kacanya yang bertuliskan BRK. Dan saat kami cari di internet, ternyata memang bis berlogo BRK ini memang gratis. Dan berakhirlah rasa penasaran kami sepanjaang perjalanan pulang tadi.
Komentar